Efek delay

Sejarah Penggunaan Efek Delay di Musik

  • By: Mardial
  • Senin, 16 December 2019
  • 1020 Views
  • 8 Likes
  • 5 Shares

Siapa yang tidak mengenal lagu Underworld - Born Slippy? Lagu yang melegenda karena menjadi salah satu soundtrack di film yang sangat fenomenal, Trainspotting, ini memiliki alunan dentuman drum elektronik yang terdengar sangat megah dan sound synthesizer yang dibalut dengan banyaknya efek delay, sehingga menghasilkan nuansa rave yang sangat iconic pada jamannya.

Efek delay adalah sebuah proses pengulangan sinyal suara yang terrekam dan dikeluarkan kembali dengan penundaan waktu sehingga menciptakan efek suara yang umumnya disebut sebagai gema. Efek delay ini merupakan hal yang sangat umum digunakan dalam berbagai macam jenis genre musik. Selain berfungsi untuk memberikan kesan dimensi ruang yang luas, efek delay juga sangat efektif untuk diaplikasikan dalam berbagai macam track audio seperti vokal, drum, bahkan bassline sekalipun.

Namun musik elektronik bukanlah jenis musik pertama yang menggunakan efek delay dalam teknik produksi maupun penampilan. Bila kita tarik jauh kebelakang, tepatnya di tahun 1950-an di mana efek ini mulai ditemukan, efek delay pun sudah mulai diaplikasikan dalam berbagai macam genre musik yang ada pada era ini walaupun penggunaannya masih sangat terbatas. Pada awalnya efek ini masih diaplikasikan menggunakan metode yang jauh lebih tradisional yaitu menggunakan pita atau tape yang yang diimprovisasi pada sistem perekaman magnetik reel-to-reel. Dengan memperpendek atau memperpanjang loop rekaman, panjang pendeknya suara delay yang dihasilkan pun dapat dikontrol.

Reel-to-reel analog delay

Beralih ke era 1960-an, terdapat sebuah pergerakan skena musik baru di Jamaika yang melibatkan penggunaan efek sebagai pondasi utamanya. Sebuah sub-genre baru bernama "dub" ini tercipta akibat beberapa engineer studio yang gemar memainkan berbagai macam perangkat efek di studio. Mereka mengaplikasikan perangkat efek spring reverb yang merupakan perangkat efek sederhana untuk menghasilkan suara gaungan dan juga menggunakan banyak sekali jenis efek delay untuk kemudian diaplikasikan pada rilisan musik reggae yang sudah ada, sehingga menciptakan nuansa atmosfer yang baru dan memiliki kesan mengawang-awang. Mungkin ini adalah pertama kalinya sebuah perangkat efek menjadi hal yang utama dalam terbentuknya sebuah sub-genre baru.

Mad Professor, produser dan engineer musik dub

Masuk ke era 1970-an, unit perangkat efek delay ini pun menjadi semakin banyak  tersedia di pasaran dan teknologinya semakin berkembang dengan menggunakan sirkuit bucket brigade delay (BBD). Teknik ini merupakan perpaduan dari metode analog dan digital karena selain menggunakan perangkat magnetik, metode ini juga menggunakan perangkat digital dalam proses pengolahan sinyal suara yang ada. Kemudian sinyal suara yang dilewatkan sepanjang garis kapasitor akan terpecah, satu routing langsung ke output suara asli atau biasa disebut dry dan yang lainnya melewati kapasitor yang disebut wet, kapasitor akan memperlambat sinyal sebanyak hitungan micro second dan kemudian dicampur dengan sinyal dry sehingga menciptakan efek suara yang menggema.  Kedua sinyal tersebut baik dry maupun wet bisa dikontrol juga secara individual sehingga besar kecilnya gema dapat diatur. Walaupun bucket brigade delay (BBD) ini merupakan teknologi yang lawas, masih banyak produsen gear musik yang memproduksi jenis efek ini karena memiliki karakteristik yang unik dan sound yang vintage

Bucket brigade delay (BBD)

Ketersediaan perangkat digital signal processing yang sudah terbilang murah pada akhir 1970-an dan 1980-an menyebabkan lahirnya era efek delay digital yang tidak lagi meggunakan perangkat magnetik atau analog. Awalnya, perangkat-perangkat ini hanya tersedia dalam unit yang dipasang dalam panel rak studio yang mewah, tapi seiring tumbuhnya industri perangkat elektronik, efek delay mulai tersedia dalam bentuk yang lebih kecil dan compact seperti foot pedal. Efek delay pertama yang diproduksi secara massal dalam bentuk foot pedal adalah boss DD-2 yang diproduksi pada tahun 1984. Teknologi efek delay digital ini pun berevolusi menjadi unit efek reverb digital dan terus ke unit multi-efek digital yang mampu menghasilkan efek yang lebih canggih dari hanya sekadar efek delay, seperti reverb dan audio timescale-pitch modification effects.

Efek digital delay

Efek delay dalam DAW

Kembali ke era sekarang, dunia produksi musik yang semakin dikuasai oleh teknik produksi dengan berbasis software pun juga memiliki banyak sekali metode dalam penggunakaan efek delay. Hampir di setiap digital audio workstation (DAW) yang ada di pasaran hari ini, pasti menyediakan efek delay secara native atau tanpa harus mengunduh tambahan plug-ins. Panel efek berbasis algoritma dalam software ini memiliki cara kerja yang mensimulasikan berbagai macam perangkat efek delay, baik yang analog, hybrid, maupun digital. Dengan menggunakan metode algoritma audio processing berbasis software, segala kemungkinan dalam penggunaan efek delay pun menjadi semakin luas dan tak terbatas. Sinyal suara yang telah diproses menggunakan efek delay dapat diatur secara otomatis menggunakan metode automation. Dengan penggunaan automation yang umumnya terdapat dalam berbagai macam DAW ini, kamu dapat merangkai value dari tiap fungsi panel dalam efek delay sehingga mampu menciptakan alur efek yang diinginkan.

Feature photo: sumber

1 COMMENTS
  • cimoloriginal@gmail.com

    Kodokkk efekk