Arian 13

Arian 13: Serigala Menolak Tua

  • By: NND
  • Kamis, 1 August 2019
  • 5834 Views
  • 9 Likes
  • 75 Shares

Arian Arifin, atau yang lebih dikenal sebagai Arian13, adalah vokalis Seringai, unit rock oktan tinggi yang tidak pernah gagal menciptakan musik keras berkualitas. Disukai oleh massa berjumlah besar, Seringai seakan berbicara dalam satu bahasa dengan keresahan dan kegembiraan pendengarnya. Semuanya pun dijembatani oleh kekuatan lirik dan vokal Arian.

Bersama Seringai, Arian telah berhasil merilis tiga keping album dan dua EP. Mereka juga sempat menyusun sebuah dokumenter berjudul Generasi Menolak Tua (disutradarai Sammy Bramantyo) terkait sejarah berdirinya Seringai.

Namun karya Arian tidak hanya bergema dari bermusik, ia juga merupakan seorang penulis dan seorang ilustrator. Karya-karya visualnya dapat terlihat mewajahi ketiga album Seringai, berbagai poster gigs, atau desain produk-produk Lawless—sebuah brand yang ia kelola. Arian adalah seorang dengan multi-talenta yang menjalani hidupnya dari musik.

Legenda yang Masih Berisik

Saat ini, nama Arian dan Seringai sudah melekat, dulu langkah besar pertamanya bermusik di sebuah band underground yang lantang berkarya di era 90-an hingga awal 2000-an. Puppen, sebuah unit hardcore asal Bandung adalah band pertama yang melambungkan nama Arian.

Saat itu, nama Puppen sangat beredar di kalangan skena musik bawah tanah Bandung dan Jakarta. Dibesut oleh Marcell (drum) dan Robin (gitar) pada tahun 1992, Arian yang kala itu tergabung dalam Maximum Deaf Impact dirangkul untuk mengisi posisi vokalis. Tak lama, masuk juga Prima sebagai pemain bass. Ajo (gitaris kedua) masuk sebagai personil resmi usai merilis mini album pertama Puppen.

Puppen (sumber foto)

Sepanjang karirnya, Puppen berhasil merilis tiga rilisan: dua studio album, (MKII – 1998) dan PUPPEN – 2000) dan satu EP/mini album (Not A Pup – 1994). Mini album pertama mereka itu, Not A Pup berhasil mengamankan predikat sebagai rilisan fenomenal, bahkan berhasil terjual hingga 10.000 keping saat dirilis. Setelahnya, di penghujung di awal 2000-an langkah Puppen semakin terjal. Terjadi sejumlah pergantian personil hingga akhirnya mereka membubarkan diri di tahun 2002.

Meski sudah tutup buku, nama dan karya Puppen masih menggelegar. Atas kecintaan dan sebagai penghormatan untuk Puppen, “Atur Aku” dikemas ulang oleh unit metal kawakan Burgerkill di album Beyond Coma and Despair (2006).

Musik Oktan Tinggi dan Lawless

Usai bubarnya Puppen, Arian yang menjadi editor majalah musik di Jakarta akhirnya mengajak Ricky Siahaan (gitar) untuk membentuk Seringai. Edy ‘Khemod’ Susanto (drum) dan Toan (bass) yang sering mengisi latihan pun akhirnya memutuskan bergabung. Tak lama disana, Toan hengkang dan langsung digantikan oleh Sammy Bramantyo. Lineup mereka tidak berganti hingga sekarang, setelah berhasil merilis tiga album dan dua EP.

Seringai menjadi unit rock yang berhasil menembus pasar musik nasional. Melalui musiknya, mereka mampu menjaring banyak penggemar, sekaligus bernama besar dan berpengaruh dalam perkembangan musik rock/metal independen lokal. Pencapaian besar lainnya adalah menjadi band tunggal yang membuka konser Metallica di Indonesia.

Fanbase yang besar pun terbentuk seiring melambungnya nama Seringai. Serigala Militia menjadi salah satu fanbase dominan di kancah musik rock independen. Narasi yang diangkat Seringai, dijembatani oleh lirik Arian dapat mengokohkan pengaruhnya. Relevansinya dengan kehidupan di Indonesia—di wilayah urban, atau upaya-upaya pahit pemerintah, hingga miskonsepsi dan cara pikir negatif dalam bermasyarakat—semuanya diolah dengan rock beroktan tinggi. Namun di saat bersamaan, memberikan pesan positif bagi pendengarnya. Muda dan bijak.

Seringai (Foto: Rendha Rais)

Tidak hanya dengan Seringai, Arian juga menjadi sosok yang prominen dalam tumbuh kembang Lawless. Di tahun 2011, Arian, Gofar Hilman, Sammy, dan Yusuf ‘Ucup’ sepakat untuk mendirikan Lawless karena suka terhadap banyak hal yang sama. Lahirnya Lawless bermuara dari penggabungan dua toko berbeda: Pistone (jual plus modifikasi motor) dan Howling Wolf (toko merch band plus studio tattoo).

Sebagai sebuah kumpulan kreator berbasis di Jakarta, Lawless menyuguhkan beragam produk—mulai dari pakaian, tattoo, bengkel motor, hingga label rekaman. Lawless Burger Bar menjadi salah satu jebolan terbaru sekaligus menjadi cabang baru dari sektor-sektor Lawless, yaitu food and beverages. Melalui Lawless, karya-karya Arian—baik dalam musik, atau dalam seni visual—seolah memperoleh ruang yang lebih luas.

Bersama Seringai ataupun Lawless, Arian mampu merefleksikan hal yang ia cintai: musik. Terasa sekali benang merah dan unsur tematik yang saling terikat. Semuanya jelas bermuara dari musik kesukaannya. Entah rock, metal, hardcore, punk; Seringai dan Lawless setia dengan taste mereka.

Tengkorak dan Tombak, Serigala dan Burung Gagak

Menilik karir dan perjalanan seorang Arian, tidak lengkap rasanya jika hanya membahas teriakan gahar atau lirik tajamnya. Terlepas dari musiknya, Arian adalah seorang seniman visual yang handal. Karya-karyanya berkutit dalam tema gelap—sama dengan musiknya. Tak jarang tengkorak, tombak, burung gagak, serigaladan menjadi fokus utama dalam karyanya.

Estetika seorang Arian dalam merupa tidak jauh dari musiknya. Namun, karyanya seakan berimplikasi pada perspektif kita saat memaknai musik Seringai. Karyanya yang menjadi sampul diskografi Seringai seakan memberikan gambaran akurat saat menikmati musik mereka. Penyebabnya tentu adalah karakter.

Karakteristik dan ciri khas Arian dalam seni visual sudah matang, sehingga kita langsung bisa mengindentifikasi dan menerimanya secara utuh. Hal serupa terasa di tiap merchandise Lawless yang turut menampilkan visual besutannya—baik kaos, patch, atau produk lainnya.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

#seringai #sepertiapi #serigalamilitia

A post shared by arian13 | arian arifin (@aparatmati) on

Arian mengaku mulai menggambar semenjak usia belia. Kegemarannya ini turut berkembang seiring dengan berjalannya eksplorasi musiknya. Sampul-sampul album musik tentu sering menjadi referensinya, begitu juga dengan artwork atau desain berestetika punk/hardcore, metal dan segala di antaranya.

Tidak hanya terlibat di Lawless, Seringai, dan penggarapan poster, karya visual Arian juga kerap hinggap di berbagai brand-brand kenamaan lain. Arian dapat menumpahkan bakat menggambarnya menjadi sebuah pengakuan, bahwa karya visualnya tidak kalah dengan tulisan dan barisan lirik yang ia lantangkan saat berada dalam formasi musik rock oktan tinggi.

2 COMMENTS
  • Christianseanl

    Like

  • dephythreehandoko

    generasi menolak tua

Info Terkait

superbuzz
7933 views
superbuzz
6431 views
superbuzz
9543 views
supernoize
9573 views
superbuzz
5002 views