Benny Soebardja: Sang Pelopor Progressive Rock Indonesia

  • By: NTP
  • Rabu, 30 August 2017
  • 8167 Views
  • 4 Likes
  • 15 Shares

Benny Soebardja adalah banyak hal; vokalis, gitaris, penulis lagu, pemilik restoran dan pedagang furnitur. Ia juga bagian penting dari Shark Move, band pertama yang merekam, merilis, dan mendistribusikan album secara mandiri di tahun 1971. Melalui Benny dan Shark Move, penggemar musik di Indonesia di era itu mengenal progressive rock, sound baru yang keluar dari dominasi pop dan rock Britania.

Uniknya, Benny ternyata juga datang dari akar musik pop Britania. Pria asal Tasikmalaya kelahiran 1949 ini memulai karir musiknya dari grup pop The Peels pada tahun 1966. Tak butuh waktu lama untuk dikenal, The Peels diikat kontrak dengan suatu label rekaman dari Singapura dan tampil di konser Panggung Negara pada tahun 1967.

Setelahnya, The Peels pun merekam album perdana semata wayang berjudul The Peels By Public Demand in Singapore. Pasca album ini, The Peels kerap merilis single dan EP (The Peels - Indonesia, The Peels - Bandong Indonesia dan The Peels At Hotel Singapura). Namun The Peels tak berumur lama, usai tampil di Makasar, Palembang, Semarang, Yogyakarta, Surabaya dan Bandung, Benny dan Soman Loebis (kibor) membentuk Shark Move. Menurut catatan Denny Sakrie, The Peels pun bubar di tahun 1969.

“Waktu kami pulang ke tanah air saya dan Soman mengsulkan ke Butje dan Deddy untuk mulai menciptakan lagu sendiri dan berani tampil dengan lagu sendiri, tapi usulan kami tidak diapresiasi, maka akhirnya saya bersama Soman memutuskan untuk keluar dari Peels dan membentuk Shark Move dan mulai menampilkan lagu ciptaan saya ‘My Life’, ‘Evil War’ dan ‘Butterfly’, dan ‘Insan’. Soman menciptakan lagu ‘Bingung’,” jelas Benny dalam wawancara dengan Manunggal Kusuma Wardaya, dosen FH Unsoed.

Bersama  Soman Loebis (kibor), Janto Diablo (bass), Samy Zakaria (drum) dan Bhagu Ramchand (vokal/produser), Shark Move merilis Gede Chokra’s (1971) secara mandiri, atas nama private press. Gede Chokra’s memberikan dampak besar yang baru terasa di dekade setelahnya, yaitu sound progressive rock dan distribusi album independen.

Shark Move termasuk generasi awal progressive rock Indonesia, yang nantinya populer di era 90-an hingga 2000-an awal. Di album Gede Chokra’s, terdengar pengaruh King Crimson dan Emerson, Lake and Palmer, yang kala itu belum populer di Indonesia. Gede Chokra’s adalah angin segar yang terlanjur terkubur terlalu lama. Pasalnya album ini awalnya hanya dicetak sebanyak 100 keping (piringan hitam) dan baru dicetak ulang oleh Shadoks Record (asal Jerman) di tahun 2007. Gede Chokra’s akhirnya bisa dinikmati secara lebih luas lagi saat dirilis ulang dalam format piringan hitam, CD, dan digital oleh label Strawberry Rain (asal Kanada) pada 2014.

Selain sound segar, metode distribusi album Shark Move juga terbilang berada di luar pakem era tersebut. Mereka menjadi pelaku awal distribusi album secara independen, lepas dari rantai produksi label rekaman di tahun 1971. Dibiayai oleh Bhagu, Sharkmove menjual album mereka dari toko ke toko dengan sistem konsinyasi. Menghadapi pembajakan (dari piringan hitam ke kaset) yang mulai marak, Shark Move mengakalinya dengan merilis Gede Chokra’s versi kaset dengan jumlah terbatas.

Di ujung pencapaian tersebut, Shark Move tidak bertahan lama pasca ditinggal Soman Loebis yang hengkang ke God Bless. Pada tahun 1974, peristiwa naas pun menimpa Soman. Ia dan Fuad Hasan (drummer God Bless) meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan motor.

Pada periode ini Benny membentuk Benny Soebardja and The Lizard bersama Harry Soebardja dan Triawan Munaf, serta Giant Step bersama Deddy Dores. Jika Giant Step sudah diakui sebagai legenda progressive rock Indonesia, maka Benny Soebardja and The Lizard adalah proyek psychedelic/art rock Benny yang terbang di bawah radar.

Terinspirasi dari judul album King Crimson, Benny and The Lizard merilis tiga album yang memuat hampir seluruh visi artistik Benny di era ini, yaitu Benny Soebardja & Lizard (1975), Gimme A Piece Of Gut Rock (1977) dan Night Train (1978). Ketiga album ini masing-masing dirilis ulang dan dikumpulkan dalam kompilasi The Lizard Years (2011).

Sound psychedelic muncul di Benny Soebardja & Lizard; terdengar bunyi tabla di lagu pembuka “18 Years Old”, instrumen asal India yang digunakan musisi dangdut, atau penggunaan efek vokal dan kibor di lagu “In 1965”.  Album berikutnya, Gimme A Piece Of Gut Rock memiliki komposisi inovatif dan variatif, seperti “Gut Rock” yang kental dengan funk, atau balada psikedelik “The End of The World”. Sementara, progresi sound dari rock, folk dan psikedelia menjadi sound utama di album Night Train, dan terdengar jelas di lagu “Night Train” serta “A Signal From Outer Space”.

Album-album itu Benny kerjakan pada masa keemasan Giant Step, grup yang namanya sejajar dengan God Bless, The Rollies dan AKA. Band yang namanya terinspirasi album John Coltrane ini kerap berganti personel. Formasi Giant Step yang paling dikenal adalah Albert Warnerin (gitar), Adi “Sibolangit” Harjadi (bass), Janto Soedjono (drum), dan Deddy Dorres (kibor). Formasi ini menelurkan album Mark I (1975) dan Giant On The Move (1976), album progressive rock populer yang mampu menyeimbangkan kompleksitas komposisi dengan nada-nada pop.

Giant Step adalah band Benny yang paling produktif. Selama berdiri dari tahun 1971 hingga 1985 mereka merilis delapan album: Mark I (1975), Giant On The Move (1976), Kukuh Nan Teguh (1977), Persada Tercinta (1978), Tinombala (1979), Volume I (1980), Volume III (1980) dan Geregetan (1985). Berbeda dengan Shark Move dan Benny and The Lizard, musik Giant Step menyesuaikan selera pasar yang didominasi musik pop.

Transisi berikutnya dalam karier bermusik Benny adalah saat ia diminta membawakan dua hits hasil Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors pada 1978 oleh Jockie Surjoprajogo, yaitu “Apatis” dan “Sesaat”. Pada periode ini, Benny juga merilis dua album solo, yaitu Setitik Harapan (1979) dan Lestari (1981). Walau komposisi dan sound dua album tersebut lebih condong ke ballad dan folk, Benny mengeksekusinya dengan jitu.

Di medio ini juga Benny berpisah dengan Giant Step, band ini akhirnya bubar setelah ia mengundurkan diri pasca merilis Geregetan. Benny menolak mengisi vokal untuk single “Geregetan” karena baginya lagu ini tidak sesuai dengan karakter Giant Step. Setelah absen dari video klip “Geregetan”, Benny pun mundur dari Giant Step dan dunia musik sekaligus.

Lama tak tampil baik bersama Shark Move atau Giant Step, Benny baru aktif kembali ke panggung pada tahun 2010. Pada festival Java Rockin’ Land 2010, Benny bermain dengan nama Shark On The Move, membawakan beberapa lagu Shark Move dan Giant Step.

Setelahnya, album Benny and The Lizards pun dirilis ulang pada 2012, tahun yang sama ketika Benny berkolaborasi dengan The Sigit pada Djakarta Artmosphere. Akhirnya, pada Maret 2017, Giant Step merilis album baru berjudul Life’s Not The Same dengan menyisakan Benny sebagai personel asli. Kegigihan Benny dalam bermusik, meski kerap berganti gaya dan sempat absen selama dua dekade, baginya adalah panggilan hati.

“Mengalir saja. Saya masih punya kesempatan menyenangkan orang,” ujar Benny.

*Artikel ini merupakan rangkaian tulisan tentang musik rock Indonesia dekade 70-an, era di mana musik rock mulai marak dimainkan anak muda Indonesia dan bermunculan nama-nama yang kini jadi legenda.

Simak pula:

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    ROCK INDONESIA

Info Terkait

superbuzz
7123 views
superbuzz
7145 views
superbuzz
15824 views