Billy Corgan: Menilik Sisi Depresif si Perfeksionis

  • By: OGP
  • Kamis, 19 July 2018
  • 1464 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Smashing Pumpkins dies when i die, and maybe not even then.” – Billy Corgan

Dekade 90-an tentu jadi puncak bagi kancah alternative rock di orbit musik. Era ini merupakan masa emas bagi sekumpulan elit grunge di dataran Amerika dan pasukan Britpop di Britania Raya. Sama halnya dengan era-era sebelumnya, di masa tersebut kancah rock kerap melahirkan grup-grup vital dan berpengaruh. Salah satunya Smashing Pumpkins.

Dibalik kemudi Smashing Pumpkins, terdapat sosok jenius nan ‘otoriter’ yang menakhodai band kebanggaan Chicago ini. Dialah pria berwatak melankolis tetapi berpendirian keras, ia Billy Corgan. Pria bernama lengkap William Patrick Corgan Jr. itu lahir di Illinois, Amerika Serikat pada 17 Maret 1967, selang sebulan setelah kelahiran sang rival abadi, Kurt Cobain.

Sang ayah, William Patrick Corgan Sr., adalah seorang gitaris blues handal. Seolah takdir telah ditentukan, bakat musikal ayahnya perlahan turun kepada Billy. Namun, masa kecil Corgan barangkali tak seindah kebanyakan anak-anak pada umumnya. Ia adalah korban ‘broken home’ dari perceraian kedua orang tuanya. Sedari kecil, Corgan selalu menerima perlakuan yang tak menyenangkan dari ibu tirinya. Secara psikis dan emosional, stabilitas kejiwaan Corgan mulai terusik oleh sikap kasar yang diperlihatkan sang ibu tiri.

Sebagai bentuk dari pelarian, Billy Corgan belia mulai menaruh atensi pada musik. Ia begitu menggilai jajaran musisi maupun band seperti John Cale, Black Sabbath, Queen, Judas Priest, Boston, Electric Light Orchestra, Rush, hingga Cheap Trick. Di masa mengenyam bangku sekolah menengah, Corgan pun menemukan band-band rock alternatif ‘gloomy’ semacam Bauhaus dan The Cure. Kedua band inilah yang nantinya turut memengaruhi kualitas musikal seorang Billy Corgan.

Di awal karier musik amatirnya, Billy Corgan membentuk sebuah band iseng bernama The Marked. Uniknya, nama ini muncul karena Corgan dan salah seorang temannya memiliki tanda lahir yang sama, yakni berbentuk buah strawberry. Selama periode ‘goth’ Corgan kerap kali mengunci diri di dalam kamarnya seorang diri. Hebatnya ia malah menghasilkan berbagai macam demo orisinal yang mengagumkan.

Di tahun 1988, Corgan bertemu dengan James Iha. Keduanya akhirnya sepakat membentuk band ambisius bernama Smashing Pumpkins yang terpengaruh kuat oleh The Cure dan New Order. Selang setahun kemudian Corgan bertemu dengan wanita ‘cool’ nan eksentrik bernama D’Arcy Wretzky, karena Corgan sedang membutuhkan personel baru di bandnya.

Uniknya, saat itu Corgan meminta D’Arcy untuk mempelajari karya-karyanya dengan memberikan sebuah kaset berisikan 400 lagu karyanya sendiri. Kemudian formasi Smashing Pumpkins akhirnya komplit dengan kehadiran sosok drummer jazz handal bernama Jimmy Chamberlin. Tak perlu menunggu lama, nama Smashing Pumpkins perlahan mulai menyeruak di belantara musik. Saat itu mereka didaulat menjadi band pembuka untuk elit rock alternatif semacam Jane’s Addiction.

Album perdana Smashing Pumpkins, Gish rilis di tahun 1991. Tak disangka-sangka, debut album mereka cukup mencuat di pasaran internasional bersamaan dengan momen invasi grunge di seantero dunia. Gish, album impresif yang diproduseri oleh Butch Vig, memuat kombinasi antara heavy metal, psychedelic, dan dream pop berbaur menjadi satu. Album yang sebagian besar materinya menyuarakan teen angst ini adalah langkah awal bagi Billy Corgan dkk untuk mulai merangkak naik ke belantara musik. Di dalamnya memuat deretan nomor andalan seperti “Siva”, “Rhinoceros”, sampai “I Am One”.

Pasca menelurkan Gish, para personel Smashing Pumpkins mulai menghadapi krisis pribadi. Seperti Chamberlain yang tak bisa lepas dari alkohol dan drugs, Iha yang sempat berpacaran dengan D’Arcy llau memutuskan berpisah. Begitu juga dengan Corgan, ia kembali ‘rapuh’ dengan menghancurkan instrumen miliknya di Reading Festival lantararan merasa tertekan saat dimintai untuk membawakan lagu seteru abadinya, Nirvana. Bahkan terbesit keinginannya untuk membubarkan Smashing Pumpkins. Di masa ini ia pun memasuki fase depresifnya, yang berujung tak bisa menggarap materi untuk melanjutkan album berikutnya.

Dalam kondisi muramnya tersebut, di benak Corgan hanya terlintas satu kalimat yang menjadi inspirasi untuk lagu baru selanjutnya, “Today is the greatest.” Seolah menjadi jawaban atas segala keraguannya, Siamese Dream akhir rilis pada 1993. Magnum opus ini menetaskan sederet nomor penting seperti “Today”, “Cherub Rock”, sampai “Disarm”. Tak lupa juga, sebagai bentuk dedikasi Corgan memasukkan track berjudul “Spaceboy” persembahannya untuk sang adik yang mengalami autisme.

Kesuksesan Smashing Pumpkins kian berlanjut setelah mengeluarkan album ketiga, Mellon Collie and the Infinite Sadness pada 1995. Album ini tak sekadar membuktikan kapasitas seorang Corgan, tapi juga stabilitas mentalnya yang mulai menunjang sisi kreativitasnya. Mellon Collie and the Infinite Sadness dianggap sebagai karya Smashing Pumpkins paling komersil. Penjualan album bahkan mencapai lebih dari 6 juta kopi, serta mendapat sertifikat ‘diamond’. Kemudian berlanjut di album dengan sentuhan elektronik Adore (1998), meski tak sesukses masif layaknya Mellon Collie.

Perlahan karier Smashing Pumpkins mulai menanjak berat ketika Corgan memutuskan memecat Jimmy Chamberlin di tahun 1996. Hal itu terjadi karena insiden kematian sang kibordis, Jonathan Melvoin, yang tewas akibat overdosis heroin di sebuah kamar hotel di New York. Saat itu, Chamberlin juga dalam kondisi mabuk berat bersama Melvoin. Banyak pihak yang mengatakan bahwa sebenarnya Corgan masih berharap Chamberlin untuk sembuh dari rehabilitasi. Namun pada akhirnya Corgan telah mantap membuat sebuah keputusan profesional dengan memecat Chamberlin demi kelangsungan band.

Selama masa kepemimpinannya, Corgan kerap dikritik karena terkesan terlalu ‘otoriter’, senang mendominasi, memaksakan kehendak dan ingin agar semua selalu ia yang kontrol. Konon, seorang Billy Corgan dikatakan sukar percaya dengan apa yang dihasilkan oleh rekan-rekannya. Bahkan ia sering ia mengganti sendiri hasil take dari sesi bass, sesi drum, gitar, dll yang sudah selesai dilakukan rekan-rekannya karena ia merasa ada yang kurang cocok.

Kabar yang berhembus ini membuat banyak penggemar Smashing Pumpkins membenci Corgan atas tindakan dominannya di internal band. Beredar berita burung bahwa ada dua kubu di dalam Smashing Pumpkins. Kubu pertama adalah Corgan dan Chamberlin, sedangkan kubu kedua adalah D’arcy dan Iha. Hal ini dibuktikan dengan tak lama setelah rilisnya double album Machina/The Machines of God (2000). Iha dan D’Arcy memutuskan keluar karena sudah muak dengan segala ego Corgan.

Setelah D’Arcy dan Iha hengkang, Billy Corgan seakan kehilangan arah bersama Smashing Pumpkins. Ia pun seringkali bergonta ganti personel. Tanpa kolega terbaiknya itu, Corgan berhasil melepaskan Zeitgest (2007), Oceania (2012), dan Monuments to an Elegy (2014), namun album-album ini tak bisa lagi mengulangi kesuksesan seperti album-album klasiknya. Sembari menjalankan Smashing Pumpkins, Corgan juga telah melepas dua album studio solo, TheFutureEmbraca (2005) dan Ogilala (2017) dan mendirikan proyek supergroup Zwan. Bahkan ia pun mengisi waktu luang dengan sempat mengakuisisi perusahaan gulat dunia.

Setahun ke belakang, fans Smashing Pumpkins patut bersuka ria, lantaran band idolanya kembali melakukan reuni akbar dan merilis karya terbaru setelah belasan tahun berpisah. James Iha dan Jimmy Chamberlin kembali rujuk dengan Corgan, tetapi tidak halnya dengan D’Arcy. Hubungan keduanya dikabarkan masih memanas. Tentu semua fans berharap yang terbaik untuk Smashing Pumpkins. Kendati Corgan dikenal sebagai sosok otoriter yang memiliki ego tinggi, dibalik itu ia adalah juru kunci di balik kemudi Smashing Pumpkins.

0 COMMENTS

Info Terkait