Bjork

Bjork: Sang Ratu Pop Nyentrik dari Islandia

  • By: NND
  • Jumat, 22 March 2019
  • 937 Views
  • 9 Likes
  • 5 Shares

Björk Guðmundsdóttir, atau yang biasa dipanggil Björk, terkenal sebagai penulis lagu macam "Hyperballad" dan "Human Behaviour" yang sudah mendunia. Selain melalui karier solo; musisi, penulis lagu, dan aktris ini juga memantapkan namanya di kancah permusikan melalui grup musiknya, Sugarcubes. Selain itu, dia juga kerap berkolaborasi dengan sejumlah musisi lain. Bahkan kita juga bisa lihat seorang Björk di layar besar.  Sosok Björk juga tak lekang dari kostum-kostum aneh yang tak jarang dia kenakan. Melalui tulisan ini, SUPERMUSIC akan mengupas akar-akar dan laju hidup dari seorang gadis yang dipenuhi dengan talenta. Ya, benar-benar seorang gadis yang multi-talenta, Björk itu.

Sang Ratu yang Masih Menjadi Putri

Björk Guðmundsdóttir, yang sekarang sudah berumur 53 tahun, lahir di Islandia pada tanggal 21 November 1965. Terlahir di keluarga musik, bukan hal yang janggal bahwa kedepannya Björk akan merambah dunia musik. Berkarya dari umur yang sangat muda, gadis yang nantinya juga kerap menggemparkan dunia fesyen ini sudah merilis album pertamanya semenjak berumur 11 tahun. Album perdananya merupakan kompilasi lagu-lagu folk tradisional asli Islandia.

Tumbuh menjadi remaja, Björk berkelana mengitari sejumlah band-band punk anarkis. Salah satu grup yang cukup ternama, dan juga krusial untuk karir Björk kala itu adalah KUKL, unit punk/post-punk/experimental yang mengemas musik-musik janggal nan menghantam jiwa. KUKL menjadi grup musik jebolan bawah tanah Islandia yang tidak main-main. Sayangnya, KUKL hanya memiliki karir yang seumur jagung.

Di selang nafasnya itu, KUKL berhasil meloloskan dua album. Album pertama, bertajuk The Eye, dirilis pada tahun 1984. Nama itu diambil dari buku favorit Björk, "Story of the Eye" yang dipenakan oleh Georges Batallie. Album kedua, Holidays in Europe (The Naughty Nought), menyusul dua tahun kemudian. Setelah kedua album tersebut KUKL pun tutup usia pada tahun 1986. Beberapa anggota dari KUKL, bersama Björk, membentuk project baru yang dinamakan Sykurmolarnir, yang kemudian diterjemahkan menjadi Sugarcubes. 

Di tahun yang sama dengan terbentuknya Sugarcubes, Björk melahirkan anak pertamanya, yang adalah buah pernikahan dari dirinya dengan Eldon Jónsson, yang nantinya akan masuk ke grup Sugarcubes sebagai gitaris. Namun sangat disayangkan, pernikahan ini tidaklah tahan oleh godaan waktu. Björk dan Jónsson bercerai.

Gula yang Manis, dan Maju Seorang Diri

Melalui grup Sugarcubes dan debut full-length albumnya pada tahun 1988, Life's Too Good, nama Björk perlahan terdengar ke Amerika, Britania Raya, bahkan Eropa secara meluas. Berbeda dengan KUKL dan pernikahannya, Sugarcubes bertahan cukup lama. Band yang didirikan pada tahun 1986 itu baru bertemu "ajalnya" pada tahun 1992. Album terakhir dari Sugarcubes yang dirilis pada tahun 1992 bertemakan remix-remix musik dansa dari sejumlah materi sebelumnya. Hal ini bermuara dari ketertarikan Björk terhadap genre musik tersebut.

Usai berkarya dengan Sugarcubes, barulah Björk merintis karier solo. Pada tahun 1993, kedewasan Björk diantarkan oleh album perdananya yang tajuknya pun jujur, Debut, menjadi gerbang pertama memasuki karya-karya solo milik Björk yang magis. Album perdana itu mendapatkan tanggapan postif yang kemudian terus mendorong kariernya. Selang dua tahun. Post, album kedua Björk dimajukan olehnya. Album yang menampilkan kolaborasi apik dengan Graham Massey, Howie B, dan Tricky sebagai nama-nama besar dalam kemajuan musik techno; menjadi resep andalan untuk mengatarkan album ini untuk memperoleh penjualan yang baik. Terbukti, penjualan album kedua mengalahkan penjualan album pertama besutan Björk.

Sambutlah, Ratu Es yang Fenomenal

Setelah itu, hadirlah Björk sebagaimana yang kita kenal. Semenjak dia bermusik seorang diri, Björk lebih terbuka untuk berkolaborasi dengan sejumlah musisi lain. Hal tersebut memberikan gambaran segar terhadap musikalitasnya dari tiap-tiap albumnya. 

Pada tahun 2000, Björk tampil di layar besar. Hal ini cukup menggemparkan dunia, mengingat Björk lebih dipandang sebagai seorang mega bintang musik pop kala itu. Björk tampil dalam film yang kemudian menjadi sukses, Dancer in the Dark, yang disutradarai oleh Lars Von Trier (The House That Jack Build, Dogville) memperoleh sambutan yang positif dari para kritik dan penonton. Selain berperan di dalamnya, Björk juga mengerjakan scoring film tersebut. Pada akhirnya, film tersebut mengantarkan Björk untuk menerima penghargaan aktris terbaik dalam Cannes Film Festival, dan masuk nominasi Golden Globe untuk penghargaan serupa.

Selanjutnya, karir Björk terus berkilau. Dapat dikatakan bahwa Björk merupakan seorang musisi yang sangat produktif. Album-albumnya menumpuk, baik itu album solo, atau proyek kolaborasi. Hingga dewasa ini, Björk masih terus menyajikan kita dengan musik-musik yang enggan dipaku oleh kewajaran. Pada tahun 2015, beliau menjadi artis ke-4 yang diundang dan dibuatkan pameran oleh Museum of Modern Art (MoMA) di New York, melanjutkan obor tersebut dari nama-nama seperti David Bowie, Kraftwerk, dan Sonic Youth untuk menampilkan dirinya sebagai seni di dalam salah satu museum paling berpengaruh di dunia.

Berbekal luasnya ketertarikan terhadap banyak jenis musik, Björk menghasilkan album demi album yang memiliki ciri khas dan keunikannya masing-masing. Karya-karya seperti "Hyperballad", "Venus As A Boy", "Hunter", hingga "Blissing Me" dari rilisan album teranyarnya pada tahun 2017; masing-masing memiliki sentuhan yang berbeda, menempatkan Björk sebagai sang ratu es bagi kancah permusikan.

1 COMMENTS
  • Christianseanl

    Like

Info Terkait

superbuzz
249 views
supericon
684 views

Chuck D: Public Enemy Number One

supershow
1014 views
superbuzz
1009 views