BOB DYLAN: The Freewheelin’ Man

  • By: NTP
  • Sabtu, 18 March 2017
  • 4007 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Robert Allen Zimmerman adalah gitaris, penyanyi, dan penggubah lagu yang sudah merilis 38 album sejak 1962 hingga 2017. Zimmerman juga sudah mendapatkan gelar yang sebelumnya dianggap mustahil diraih seorang musisi profesional: Anugerah Nobel Kesusastraan. Zimmerman menerima gelar tersebut sebagai Bob Dylan.

Bob Dylan lahir pada 24 Mei 1941. Dylan adalah pengaruh besar di kancah musik global, sejak gerakan sosial dan kebudayaan yang merebak pada dekade 60-an. Lagu-lagunya kini dianggap sebagai standar emas bagaimana seorang musisi dapat menangkap semangat zaman. “Blowin’ in the Wind” dan “The Times They Are a-Changin” adalah nada pengiring gerakan anti perang dan berbagai gerakan sipil di era 60-an.

Pria berambut keriting ini juga sanggup mengubah ranah musik populer ketika ia memutuskan untuk bermain dengan instrumen elektrik. Lagu “Like  a Rolling Stone” yang direkam pada 1965, adalah langkah Dylan memperluas batas definisi musik populer, dan kebebasan artistik seorang musisi.

Selama setengah abad kariernya, Dylan tak pernah bergerak terlalu jauh dari kekhasan sound-nya, sekaligus tak pernah berdiri terlalu lama di satu genre. Beberapa tradisi musik Amerika Serikat, seperti folk, blues, country, gospel, rock n’ roll, rockabilly hingga folk Inggris, Skotlandia, Irlandia bahkan jazz.

Terlepas dari instrumen yang ia gunakan dan genre yang ia mainkan, kualitas yang selalu muncul dari Dylan adalah keahliannya menggubah lagu dan kekuatannya menulis lirik. Dylan mendekati tema-tema besar seperti politik, kondisi sosial, renungan filosofis dan kesusastraan, dengan bernas dan bebas. Kemampuannya menangkap semangat zaman di beberapa dekade pertama kemunculannya adalah faktor yang membedakan Dylan dari musisi sezamannya.

Mengubah ranah musik populer adalah hobi Dylan, tapi tak ada yang menyangka bahwa ia akhirnya dianugerahi salah satu gelar paling prestius dalam humaniora. Lucunya, Dylan tak dianugerahi Nobel Kesusastraan untuk dua bukunya, Tarantula (1971) dan Chronicles: Part One (2004), ia mendapat gelar ini karena karier musiknya.

Menurut Swedish Academy (lembaga yang memilih penerima Nobel Kesusastraan), Dylan terpilih karena sudah “Menciptakan ekspresi puitik baru dalam tradisi musik Amerika Serikat”. Dengan demikian, Dylan adalah musisi pertama yang dianugerahi gelar Penerima Nobel Kesusastraan sejak anugerah ini dimulai pada tahun 1901.

“Saya mendengar kabar ini dalam perjalanan rangkaian tur, jadi perlu beberapa menit untuk mencerna berita mengejutkan ini. Saya mulai berpikir tentang sosok besar kesusastraan, William Shakespeare. Saya menduga ia menganggap dirinya sebagai penulis drama (dramatist), ia tak menganggap tulisannya sebagai karya sastra. Karya tidak ditujukan untuk dibaca, melainkan dituturkan,” ucap Azita Raji, Duta Besar AS Untuk Swedia, yang membacakan pidato Dylan, sekaligus menerima Nobel Kesusastraan atas nama musisi asal Minnesota tersebut.

“Ketika ia menulis Hamlet , saya yakin ia memikirkan hal-hal lain, seperti ‘Siapakah yang cocok memainkan peran ini?’, ‘Bagaimana memanggungkan naskah ini?’, atau ‘Apakah saya akan melatari kisah ini di Denmark?’. Ia tentu selalu memprioritaskan ambisi dan visi kreatifnya, tapi urusan teknis dan membosankan seperti, ‘Cukupkah pendanaan kali ini?’, ‘Apakah patron saya duduk di tempat yang tepat?’, ‘Dimanakah saya bisa mendapatkan tengkorak manusia?’, juga menjadi penting untuk dipikirkan dan diselesaikan. Saya yakin Shakespeare jarang memikirkan hal seperti ‘Apakah karya saya tergolong sebagai karya sastra?’,” imbuhnya.

Tak pelak, penganugerahan ini dianggap kontroversial, berbagai opini dan kritik pun dilayangkan pada Komite Nobel Kesusastraan. Secara umum, para pendukung dan penolak pun terbelah. Opini kedua belah pihak pun secara garis besar sama-sama kuat.

Pihak-pihak yang mendukung penganugerahan tersebut melihat Dylan sebagai salah satu seniman terbaik, dari era manapun. Multi-instrumentalis ini pantas dianggap secara serius sebagai sastrawan. Penganugerahan Nobel Kesusastraan bagi Dylan adalah konfirmasi resmi dan terlembaga atas kualitasnya sebagai sastrawan besar. Pendapat ini masuk akal dan beralasan bagi para pendukungnya, tak ada anugerah budaya yang terlalu tinggi untuk diserahkan pada Dylan,.

Horace Engdahl, anggota Swedish Academy dan kritikus sastra asal Swedia, berpendapat bahwa keputusan tersebut hanya terasa mengejutkan untuk sekilas dan mudah dimengerti setelahnya. Engdahl berkata, “Tiba-tiba saja teks-teks puisi kita terasa pucat pasi, ketika lagu-lagu Dylan mulai berkumandang di era 60-an.”

“Jika pelaku dunia kesusastraan mengeluh keberatan, maka mereka harus diingkatkan bahwa para Tuhan tak menulis, mereka menari dan menyanyi,” tutup Engdahl.

Dukungan lain datang dari novelis-esais asal India, Salman Rushdie. Dalam wawancara dengan The Guardian, pemenang Man Booker Prize ini menganggap komite Nobel Kesusastraan berhasil mengenali batas-batas terdepan kesusastraan dunia yang kerap berubah. Setali tiga uang, Rushdie juga menganggap Dylan sebagai inspirasi bagi dirinya.

Sementara, Sara Danius (sekretaris Swedish Academy) menyamakan posisi lirik-musik Dylan dengan puisi-puisi Homer dan Sappho. Puisi para sastrawan Yunani Kuno ini dibacakan bersama alunan musik. Menurut Danius, penganugerahan Dylan sebagai penerima Nobel Kesusastraan ke 113 adalah sebuah “keputusan mudah.”

“Alasan kami menganugerahi Bob Dylan adalah kami memberikannya pada seorang penyair besar. Ia adalah seorang penyair besar dalam tradisi kesusastraan (berbahasa) Inggris, sejak Milton dan Blake. Ia juga seorang tradisionalis menarik yang sangat orisinal, tak hanya dalam tulisan tapi juga ucapan. Tak hanya sastra tinggi, tapi juga sastra rendah,” papar Danius.

Dukungan terbesar atas keputusan ini datang dari almarhum Leonard Cohen. Musisi-penyanyi asal Kanada yang banyak dipandang kritikus lebih pantas menerima Nobel Kesusastraan ketimbang Dylan. Pernyataan puitik Cohen bisa dianggap sokongan terbaik bagi Dylan.

“Bagi saya, anugerah itu ibarat menyematkan medali gunung tertinggi untuk Everest,” tutur Cohen.

Namun, titel terbaru Dylan ini juga mengundang opini miring dan perspektif lain. Penganugerahan Nobel Kesusastraan pada Dylan adalah kesalahan kategorisasi. Jelas sudah bahwa anugerah tersebut diberikan untuk karya kesusastraan, dan Dylan adalah seorang musisi pula penyanyi.

Kualitas Dylan sebagai musisi sepertinya lebih cocok bila diapresiasi dengan anugerah musik dan kesenian di tingkat tertinggi (yang sudah diterimanya seperti Special Citation Pulitzer (2008), the National Medal of Arts (2009), dan Ordre des Arts et des Lettres (1990)).

Belum lagi suara miring yang datang dari penulis dan penyair lain. Penulis novel Trainspotting, Irvin Welsh, menyebut ajang penganugerahan tersebut sebagai “anugerah nostalgia yang kacau balau.” Sementara kritik dari Natalie Diaz, penyair asal Amerika Serikat, pada Swedish Academy adalah mengapa Bob Marley tidak dipertimbangkan sebagai penerima Nobel Kesusastraan.

Opini itu juga diperkuat dengan balasan Dylan untuk Danius. Dylan tak lekas mengamini sanjungan Danius yang menyetarakan posisi lagu-lagunya dengan puisi Homer, ia justru melontarkan keraguan.

“Mungkin saja, dalam cara tertentu, beberapa lagu saya seperti “Blind Willie”, “The Ballad of Hollis Brown”, “Joey”, “A Hard Rain”, “Hurricane”, dan yang lainnya, mempunyai nilai-nilai Homeric,” papar Dylan pada The Telegraph. Balasan Dylan selanjutnya tentu lebih lanjut menanam keraguan bagi penganugerahan Nobel Kesusastraan tersebut, ia tak tahu apakah liriknya pantas disebut karya sastra.

“Saya akan biarkan orang lain yang memutuskan hal itu. Para akademisi sepertinya bisa. Saya tak memiliki kompetensi di bidang itu, saya tak punya pendapat apapun soal itu,” tukas Dylan.

Absensi Dylan di gelaran tersebut juga bukan tanpa alasan yang substansial. Sebagai musisi, alasan Dylan meneruskan turnya sangat masuk akal, agaknya ia merasa lebih alami berada di panggung dan bernyanyi ketimbang menerima anugerah tersebut. Pilihan Dylan untuk tak menghadiri penganugerahan tersebut bahkan dinilai arogan dan tidak sopan oleh Swedish Academy.

Lucunya, ketika berbagai pihak melontarkan opini pendukung atau penyerang, sang penerima anugerah justru terlihat setengah cuek. Ini adalah perilaku klasik Dylan, bebas menentukan pilihan sendiri dan sulit dikurung peraturan. Sikap Dylan jelas terlihat dari akhir teks pidato penerimaan Nobel-nya, melalui Dubes AS untuk Swedia ia berterima kasih, sembari tetap kebingungan dan acuh tak acuh.

“Sebagai musisi, saya pernah tampil untuk 50.000 orang dan 50 orang. Saya bisa pastikan, tampil di depan 50 orang jauh lebih sulit. Kumpulan orang sejumlah 50.000 seolah memiliki kepribadian tunggal, tidak seperti 50 orang. Mereka masing-masing memiliki identitas individu yang terpisah dan mereka hidup di dunia masing-masing. Mereka bisa melihat banyak hal dengan lebih jelas, hal-hal seperti kejujuran dan kedalaman bakat anda diuji di hadapan mereka. Saya juga tak lupa bahwa komite Nobel tidak memiliki banyak anggota.

“Namun, seperti Shakespeare, saya terlalu sering disibukkan usaha keras saya mengejar kreativitas dan berurusan dengan hal-hal keseharian yang membosankan. “Siapakah musisi yang tepat untuk memainkan lagu ini?”, “Apakah studio ini cocok untuk saya?”, “Apakah lagu ini sudah dimainkan di kunci yang tepat?” Beberapa hal tak pernah berubah, bahkan setelah 400 tahun berlalu.

“’Apakah lagu-lagu saya tergolong karya sastra?’ Tak pernah sekalipun pertanyaan itu muncul di benak saya. Jadi, saya ucapkan terima kasih pada Swedish Academy karena sudah mengemukakan pertanyaan itu, sekaligus menjawabnya dengan sangat baik.

 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
165 views
superbuzz
800 views
superbuzz
1357 views
superbuzz
6413 views
superbuzz
1097 views