CHESTER BENNINGTON: Sang Juru Suara Generasi Milenium Telah Tiada

  • By: NTP
  • Jumat, 21 July 2017
  • 10861 Views
  • 3 Likes
  • 3 Shares

“Saya marah jika kesuksesan disamakan dengan kebahagiaan.”

- Chester Bennington

Charles Chester Bennington ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di Palos Verdes Estates, California, pada pukul 9 pagi tanggal 20 Juli. Diduga kuat Bennington meninggal akibat gantung diri. Bennington wafat di usia 41 tahun, serta meninggalkan satu istri dan enam orang anak.

Walau kini Bennington dan Linkin Park tak sepopuler era Hybrid Theory (2000) dan Meteora (2003), kematiannya tetaplah sebuah peristiwa yang mengejutkan. Baru beberapa bulan lalu ia menyanyikan nomor terpopuler Leonard Cohen, “Hallelujah”, di pemakaman Chris Cornell. Sulit mengira bahwa Bennington juga akan pergi dengan tangannya sendiri.

Vokalis kelahiran 20 Maret 1976 ini pernah mengatakan bahwa Linkin Park memang terkenal, tapi mereka bukan sekumpulan selebritis. Pernyataan ini cukup tepat mengingat kehidupan pribadi para personelnya, khususnya Bennington, memang baru terkuak pasca demam nu-metal selesai. Meski demikian, Bennington tak sungkan membagi beberapa bagian terkelam hidupnya kepada wartawan sekalipun.

Perjalanan terjal Bennington dimulai di kampung halamannya, Phoenix, Arizona. Sebelum orangtuanya bercerai saat ia berumur 11 tahun, Bennington lebih dulu mengalami pelecehan seksual dan penganiayaan fisik saat ia berumur tujuh tahun. Pelecehan ini berlangsung hingga ia berumur 13 tahun. Ia mengaku takut untuk mengadukan pelecehan tersebut pada siapapun, termasuk ayahnya, yang notabene adalah seorang anggota kepolisian. Bennington merasa pelecehan tersebut telah menghancurkan kepercayaan dirinya.

“Pelecehan itu dimulai dari sentuhan kecil hingga penganiayaan total, saya dihajar dan dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak saya inginkan. (Pelecehan) itu menghancurkan kepercayaan diri saya. Seperti korban pelecehan pada umumnya, saya terlalu takut untuk mengakuinya. Saya tidak mau orang lain mengira saya berbohong atau saya dikira seorang gay. Pengalaman itu sangatlah mengerikan,” ujar Bennington.

Bennington kemudian mencoba memendam rasa sakit psikisnya dengan mengonsumsi narkotika secara berlebihan. Pada Metal Hammer ia mengaku rutin menyalahgunakan lsd, opium, amfetamin, kokain, alkohol, dan ganja. Berat badannya kala itu turun hingga sekitar 40 Kg, Ibunya bahkan menyebut Bennington seperti tahanan kamp konsentrasi Auswitch.

Dalam kondisi tersebut, Bennington akhirnya mencoba berhenti pada tahun 1992, ia dan temannya dirampok sekelompok mafia Meksiko saat sedang teler. Bennington kemudian menyeriusi hobinya menulis puisi dan menggambar.

Puisinya lama-kelamaan ditulis dalam format lirik lagu, lengkap dengan bait dan chorus. Semuanya ia lakukan untuk mencerna perasaannya sendiri, sembari diiringi alunan Depeche Mode dan Stone Temple Pilots. Lirik-lirik tersebut akhirnya tercurahkan menjadi lagu bersama band pertamanya, Grey Daze.

Bennington merasa mendapatkan kembali percaya dirinya lewat pertemanan yang ia jalin dengan Grey Daze. Diluar dugaannya, Grey Daze berhasil merilis dua album dan didapuk menjadi band pembuka tiap band rock/metal yang tampil di Phoenix. Saat itu, Bennington berumur 22 tahun, ia bekerja purna waktu di sebuah firma layanan digital. Ia  juga sudah memiliki seorang istri dan anak.

Pada ulang tahunnya yang ke-23, Bennington menerima panggilan telepon yang menjungkirbalikkan hidupnya. Jeff Blue, saat itu A&R Zomba Music Publishing, menawarinya demo dari sebuah band asal Los Angeles bernama Xero.

Bennington pun segera mengirim balik demo vokalnya, dan tak lama kemudian ia terbang ke Los Angeles untuk bertemu Blue dan Xero (saat audisi berganti nama menjadi Hybrid Theory). Ia terkejut lantaran harus terlebih dulu mengikuti audisi dan hampir memutuskan untuk pulang ke Phoenix. Namun sejarah berkata lain, ia akhirnya lolos audisi untuk menjadi vokalis band rock/hip-hop tersebut.

Setelah berhasil mendapatkan posisi vokalis, langkah Bennington tak serta-merta menjadi lancar. Hybrid Theory pun ditolak label rekaman hingga 50 kali karena dianggap remeh para petinggi label, sampai akhirnya Warner Records mengontrak mereka. Sampai di titik ini pun, Hybrid Theory harus mengganti nama mereka karena dianggap mirip dengan band Warner lainnya, Hybrid. Mereka akhirnya memilih nama Linkin Park sebagai identitas baru.

Hybrid Theory dirilis di akhir tahun 2000, era puncak ledakan nu metal, dan berhasil memanjat tangga lagu Billboard dengan cepat. Single “One Step Closer”, “Crawling”, dan “In the End” merajai berbagai tangga lagu global, tiga single tersebut mencapai sertifikasi emas RIAA. “Crawling” bahkan meraih Grammy Award untuk kategori Best Hard Rock Performance.

Mayoritas tema lirik Hybrid Theory berbicara tentang trauma dan rasa sakit psikis Bennington, cerita yang akhirnya menghubungkan banyak pendengar dengan Linkin Park. Motif lirik tersebut berlanjut ke album Meteora (2003), yang tanpa basa-basi meraih platinum dengan single “Numb”. Lagu tersebut bercerita tentang perasaan Bennington yang merasa terasing dari dunia luar saat Linkin Park menjalani tur. Di saat yang sama, hubungannya dengan sang istri pun tak akur.

“Pada tahun 2006, saya dihadapkan pada dua pilihan: berhenti minum alkohol atau mati. Akhirnya saya ikut konseling bersama Linkin Park dan mereka membuka diri dengan sangat jujur. Saya tak tahu bahwa perilaku saya sangatlah buruk. Saya tahu saya bermasalah dengan alkohol dan narkotika. Bagian hidup saya yang itu memang cukup gila, tapi saya tak sadar bagaimana perilaku saya memengaruhi orang-orang lain, sampai mereka berkata apa adanya. Saya terkejut. Mereka bilang saya memiliki dua wajah, Chester dan orang itu. Saya tidak mau menjadi orang itu.”

“Perlahan saya berubah menjadi orang lain. Inilah saya yang sebenarnya, orang baik dan ramah yang selalu terjebak di balik seekor monster. Monster itu adalah seorang anak yang kesakitan,” papar Bennington. Ia akhirnya terbebas dari substansi terlarang pada tahun 2006.

Di masa itu Bennington juga membentuk Dead by Sunrise, sebuah proyek yang ia rasa cocok memainkan materi yang lebih gelap dan moody ketimbang Linkin Park. Selain Dead by Sunrise, Bennington juga ditunjuk untuk menggantikan posisi Scott Weiland di Stone Temple Pilots pada tahun 2013. Walau ia akhirnya mundur dari Stone Temple Pilots pada tahun 2015 agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarganya, dua proyek tersebut adalah cerminan semangat Bennington untuk terus maju dan tak mengulang masa lalu.

“Ketika kita tiba-tiba muncul dengan album seperti Hybrid Theory, sangatlah bodoh untuk tidak terus-terusan merilis karya seperti itu jika dilihat lewat sudut pandang bisnis. Namun kami bukanlah pabrik, kami adalah sekumpulan seniman dan secara filosofis kami kini sudah kembali ke titik awal, di mana kami bersemangat bukan karena penjualan,” ujar Bennington pada The Guardian pada tahun 2011.

Sulit menghapus teriakan Bennington di memori kolektif kita, bahkan ketika anda tidak menyukai Linkin Park sekalipun. Teriakannya mengubah rasa sakit menjadi kekuatan baru, dari tangisan ke headbanging. Sangat mudah untuk menyukai nyanyian dan teriakan Bennington, terlebih jika kita pernah berada di posisi yang sama, terasing dan terisolasi tanpa bisa dipahami oleh orang lain. Lewat teriakan Bennington kita bisa memahami bahwa untuk menyembuhkan rasa sakit, ia tidak bisa terus dipenjara dan harus dibagi bersama orang lain.

Mungkin, dari semua rasa sakit yang telah ia bagi, satu-satunya kesalahan Bennington adalah menganggap bahwa upaya kita pada akhirnya tak berarti apapun, karena in the end, it does matter.

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    REST IN PEACE BROTHER