Chino Moreno

Chino Moreno: The Voice of Alternative Metal

  • By: NND
  • Kamis, 4 July 2019
  • 581 Views
  • 3 Likes
  • 2 Shares

Camilo Wong Moreno; atau yang biasa dikenal sebagai Chino Moreno, merupakan seorang penyanyi-penulis lagu dan musisi asal Amerika yang menjadi tenar melalui perannya sebagai vokalis dan gitaris dari grup alternative metal kenamaan, Deftones. Selain itu, ia juga tergabung dalam beberapa proyek musik seperti Team Sleep, Crosses, Saudade dan juga Palms.

Dikenal melalui suara scream-nya yang cukup unik, dan juga melalui vokal tenornya yang dramatis dan lembut; Ia berhasil menjadi salah satu vokalis paling prominen dalam dunia metal, terutama dalam lembaran kancah alternative metal, seperti yang diusung oleh band-nya, Deftones.

Lahir di Sacramento, California, Amerika; ia merupakan anak kedua dari lima bersaudara—dimana ibunya adalah seorang keturunan Mexico dan China, sedang ayahnya merupakan seorang Meksiko murni. Nama tengahnya yang identik dengan nama asia, diambil dari kakek ibunya, Don Wong.

Moreno menjajaki masa kecilnya di Oak Park, dan bersekolah di SMA McClatchy. Sewaktu SMA inilah ia dipertemukan dengan Abe Cunningham dan Stephen Carpenter; dimana ketiganya kemudian membentuk Deftones pada tahun 1988. Skena skateboard lokal di daerah mereka menjadi ruang bagi pertemanan ketiganya untuk mekar, dan atas dorongan kecintaan musik, mereka pun mulai mengangkat instrumen.

Terbentuknya Deftones

Menapak masuk ke tahun 1988, Moreno dan dua kawan SMA-nya, Abe (drum) dan Stephen (guitar), mulai jamming secara reguler; dari jamming-jamming ini, terbentuklah Deftones. Untuk melengkapi keutuhan band tersebut, mereka merangkul Chi Cheng sebagai bassis dan merekam demo yang kemudian akan mengantar mereka ke gigs yang akan membuka jalan mereka di masa depan.

Mengemban musik metal yang cukup eksperimental, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk bisa mulai mengepakan sayapnya; wajar saja, musik mereka sedikit-banyak mirip dengan nu-metal, dan kala itu, nu-metal sedang berada di atas angin. Masuk akal juga rasanya, jika Deftones dijadikan salah satu founder atau nama paling prominen dalam subgenre baru tersebut. Dua tahun pasca terbentuknya Deftones, mereka sudah mulai mengisi panggung di klab-klab sekitar.

Aksi-aksi panggung mereka membawakan titik terang dan berhasil menyetir pergerakan musik mereka kearah yang lebih suportif terhadap kehidupan mereka; Deftones berhasil mengunci lirikan mata Maverick Records ketika salah seorang perwakilan label tersebut datang ke acara mereka di Los Angeles. Masuklah mereka ke roster-nya, dan dengan itu, Deftones mendapatkan bantuan yang mereka perlukan untuk mencetak langkah pertamanya dalam kancah permusikan: Rilisan pertama.

Nu-Metal Mati, Tapi Tidak Untuk Deftones.

Adrenaline berhasil diluncurkan pada 3 Oktober 1995. Album debut mereka itu turut serta menggandeng produser Terry Date, yang nantinya akan menjadi produser mereka untuk tiga album kedepan. Melalui album debut mereka ini, Deftones berhasil menjaring fan base yang cukup besar—yang membantu penjualan albumnya, mengingat single-single-nya tidak memiliki jam tayang yang cukup.

Dua tahun kemudian, Chino cs berhasil melepas album kedua mereka, Around The Fur, pada 28 Oktober 1997. Album ini merupakan sebuah album dimana Deftones mulai menemukan jati diri mereka, Deftones diberikan ruang untuk bereksperimen secara liar dan mengembangkan karakteristik mereka. Chino menyatakan bahwa, "Ketika menyusun rekaman ini, kami tidak memiliki seperangkat ide untuk mengetahui arah dan tujuan album ini." Meski begitu, Around The Fur berhasil melontarkan Deftones menjadi sebuah nama yang besar dalam industri rock, mengamankan mereka sebagai sebuah aksi yang patut diwaspadai.

Memasuki abad ke-21, Deftones merilis album ketiganya, White Pony, yang resmi dilepas pada 20 Juni 2000. Chino mengubah caranya menulis lagu ketika memasuki penggarapan album White Pony, hal ini dikarenakan tidak adanya tema dan benang merah dalam lirik yang ia temukan ketika hendak merekam album ini. Berangkat dari hal tersebut, ia mencoba meniulis lirik fiktif dan deras dengan fantasi. "Saya tidak bernyanyi tentang diri saya sendiri pada album ini. Saya membuat banyak cerita dan dialog untuknya; bahkan, saya benar-benar mengeluarkan diri saya darinya dan menulis hal yang benar-benar lain," tuturnya menjelaskan. Sekali lagi, album yang direkam dengan arahan Terry Date ini menjadi sebuah rekaman yang sukses. Meski terkesan menginjak rem ketimbang dua rilisan sebelumnya, mereka melalukan itu dengan cara yang benar—terutama ketika turut mempertimbangkan kemampuan Moreno dalam menulis lirik, dan eksperimentasi dari Deftones yang semakin menggila.

Frank Delgado, seorang kolaborator dalam beberapa album terakhir dari Deftones, resmi menjadi personil tetap dan menggarisbawahi eksperimentasi mereka melalui keyboard dan DJ set-nya. Tidak hanya itu, Moreno pun juga sudah mulai mengangkat gitarnya dalam album ini, meluaskan suara mereka ke arah yang baru.

Dirilisnya White Pony menguatkan tancapan batu nisan subgenre nu-metal, yang bagi kebanyakan penikmat metal semenjak awal insepsinya ke dalam perkembangan musik rock, dibenci. White Pony merupakan sebuah album dari salah satu nama prominen dibalik subgenre tersebut, yang secara utuh melepaskan dirinya dari benang merah nu-metal. Melalui album ini, Deftones menelanjangi apa yang mereka dapatkan melalui nu-metal, dan hip-hop; lalu mencampurnya kembali dengan aksen thrash metal—menjadikannya sebuah album yang justru menyorakkan kecintaan Moreno terhadap nama-nama macam My Bloody Valentine dan The Cure (alternative rock, shoegaze, new wave). Lebih pelan, memang; tapi tidak berada pada kiblat nu-metal. Di sinilah mereka benar-benar memeluk unsur alternative metal.

Vokal Rusak, Bassis Meninggal, dan Kelanjutan Deftones

Setahun semenjak rilisnya White Pony yang cukup genre-defining bagi Deftones, Moreno mengalami cedera leher akibat scream berat yang ia jalankan ketika tur untuk mendukung White Pony. Pada kala itu, Cheng, sang bassis, mengambil alih mic untuk bagian scream pada sisa acara-acara mereka dalam tur tersebut; dengan Moreno hanya bernyanyi vokal, meski dianjurkan dokter untuk sepenuhnya menjauh dari vokal untuk beberapa waktu.

Melewati musibah tersebut, 2003 menjadi tahun dimana album self-titled mereka resmi dirilis. Hal ini menjadi statement mereka bahwa ketika nu-metal telah mati, mereka tidak; mereka telah berhasil memisahkan dirinya sebelum ajal menjemput subgenre tersebut. Di antara badai yang tengah menenggelamkan kolega-kolega semusik mereka, Deftones, dirilis dengan pujian oleh kritik dan pendengar.  Moreno sempat melepas pernyataan berkenaan dengan dirilis keempat mereka ini, "Semua ini terekam. Kita sudah bilang kepada mereka untuk tidak menempatkan kita dalam kategori nu-metal. Ketika mereka semua berjatuhan, kita tidak demikian."

Menjaga produktivitas mereka, Deftones sempat merilis kompilasi rarities dan b-sides pada tahun 2005, yang kemudian disusul dengan album kelima mereka, Saturday Night Wrist, pada tahun 2006. Dalam pengerjaannya, Deftones mengalami kondisi mental yang tidak seimbang karena permasalahan pribadi milik para personil—Moreno sendiri bahkan menyatakan hampir keluar dari band tersebut usai merekamnya. "Sebuah pengalaman yang sangat tidak sehat" dan "Tidak yakin akan kembali" merupakan kata-kata yang ia lontarkan kala itu, namun semua kembali pada tempatnya, dan Deftones pun berhasil melalui salah satu masa terkelamnya.

Menyambut tahun 2008, Deftones tengah mempersiapkan album berikutnya. Direncanakan akan rilis dengan judul Eros, penggarapan album tersebut harus terhenti ketika Cheng terlibat dalam sebuah kecelakan mobil yang parah, yang mengakibatkannya berada pada kondisi semi-sadar hingga meninggalnya pada tahun 2013. Semenjak kecelakaan tersebut, Cheng digantikan oleh Sergio Vega (bassis Quicksand) dan menyatakan penundaan tak berdurasi mereka terhadap album Eros.

Bersama Vega, Deftones mulai melangkahkan pijakan merekan ke arah yang baru. Bukan Eros, namun Diamond Eyes-lah yang akhirnya keluar dari kantong mereka. Dirilis pada 4 Mei 2010, Diamond Eyes merumahi sejumlah trek apik seperti "Diamond Eyes" dan "Rocket Skates". Materi-materi ini kerap dibandingkan dengan sound mereka pada era album Around The Fur. Koi No Yokan—album ketujuh mereka, menyusul pada 12 November 2012.

Pada April 13, 2013, Cheng—mantan bassist dari Deftones, meninggal akibat serangan jantung. Setelah 4 tahun lebih dari kecelakaan yang menyebabkannya tidak sadar, ia mengembuskan napas terakhirnya di kampung halamannya, Sacramento, Amerika. Setahun dari kematiannya, Deftones kembali merilis album; Gore, album kedelapan dari Deftones, keluar kandang pada 8 April 2016, menjadikannya album teranyar dari jajaran diskografi Deftones.

Moreno dinyatakan mulai menulis materi baru semenjak tahun 2017 silam, dan pada tahun lalu, ia menyatakan bahwa materi terbaru dari Deftones terdengar "lebih berat" ketimbang rilisan terakhirnya, Gore.

Inspirasi dan Proyek Lainnya.

Mengambil inspirasi dari suara-suara alternative macam The Cure, The Smiths, Cocteau Twins dan Smashing Pumpkins, serta jajaran musisi lainnya yang bergerak dalam genre tersebut; vokal dan gaya menulis lirik dari Moreno terasa memiliki sensibilitas yang sebenang dengan mereka. Meski begitu, Moreno juga mendapat inspirasi dari hip-hop, seperti Public Enemy. Melihatnya, terasa bahwa meski mengusung musik metal, Moreno kerap menyuntikkan musik non-metal ke dalam karya-karyanya.

Selain dengan Deftones, Moreno juga merupakan bagian dari Team Sleep—side project besutannya yang membawakan musik-musik beragam, mulai dari dream pop, trip-hop, indie rock, post-rock, hingga shoegaze dan semacamnya. Ada juga Crosses, yang ia gawangi bersama Shaun Lopez (Far) dan Chuck Doom. Dengan Crosses, Moreno menyajikan musik yang lebih tenang.

Palms juga merupakan salah satu nama dari grup yang ia tangani sebagai proyek sampingnya bersama mantan personil dari Isis. Bukan hanya bermain-main dengan kreativitasnya dalam bermusik, Moreno juga menjadi bagian dari supergroup Saudade, sebuah grup apik yang berisikan musisi-musisi kawakan lintas genre; seperti Dr. Know dan Mackie Jayson dari Bad Brains, John Medeski dari grup jazz Medeski, Martin, and Wood; serta Chuck Doom dari Team Sleep.

***

Sekian adalah biografi dari Chino Moreno—vokalis bersuara unik yang terkenal dari lagu-lagunya yang kerap menyuarakan keresahan dan kesedihan yang mudah di-relate oleh semua orang. Musik yang susah dipaku genre menjadi hidup dengan eksplorasi selera Moreno, dan itulah yang membuatnya menjadi sebuah nama yang penting dalam perkembangan musik 90an akhir, 2000an awal, hingga sekarang. Apa momen-momen favorit kalian dari sepanjang karir Moreno? Suarakan di kolom komentar di bawah!

1 COMMENTS
  • Christianseanl

    Like

Info Terkait

superbuzz
346 views
superbuzz
550 views
supershow
305 views