CHRIS CORNELL: Sang 'Spoonman' yang Tak Terselamatkan

  • By: NTP
  • Minggu, 21 May 2017
  • 5238 Views
  • 3 Likes
  • 0 Shares

“In my time of dying, want nobody to mourn

All I want for you to do is take my body home

Well, well, well, so I can die easy..”

“In My Time of Dying” adalah lagu terakhir yang dibawakan Chris Cornell. Sebelum ia meninggal di kamar hotelnya usai tampil bersama Soundgarden di Fox Theatre, Detroit, potongan lagu itu menyelip di antara bait dan riff  “Slaves and Bulldozers”, nomor penutup konser mereka rabu malam lalu.

Nomor gospel tersebut pertama kali direkam oleh Blind Willie Johnson di tahun 1927, dan dipopulerkan kembali oleh Led Zeppelin sebagai lagu terpanjang di album Physical Graffitti (1975). Walau bukan pertama kalinya dibawakan Soundgarden, “In My Time of Dying” kali ini bak sebuah sirene sunyi. Ia berusia 52 tahun saat ditemukan sudah tak bernyawa.

Mungkin kita tidak akan pernah tahu mengapa Cornell memutuskan untuk mencabut nyawanya sendiri. Cornell memang pernah mengidap depresi di beberapa fase hidupnya, pada masa remaja setelah perceraian kedua orangtuanya. Sebelum bergabung dengan Soundgarden di tahun 1984, Cornell sempat tidak keluar rumah selama dua tahun akibat depresi.

Fase kedua adalah saat ia bercerai dengan istrinya, yang merangkap manajer Soundgarden dan Alice In Chains. Dalam proses perceraian yang memakan waktu empat tahun (2004-2008) tersebut, Cornell mulai mengonsumi “hampir semua obat terlarang”, setelah abstain dari berbagai substansi ilegal dan narkotika selama Soundgarden masih kokoh berdiri. Terutama Oxycontin, pil opiate penghilang rasa sakit.

Kabar terbaru dari Vicky Cornell, istri almarhum, menyatakan kecurigaan terhadap dosis Ativan yang dikonsumsi suaminya di malam itu. Saat berbicara lewat sambungan telfon, cara bicara Cornell terdengar tidak jelas. Ativan adalah obat anti-kecemasan (anxiety) yang biasa dianjurkan oleh dokter pada para mantan pecandu narkotika yang ingin sembuh. Namun, konsumsi berlebihan justru dapat memantik ketidakstabilan mental, salah satu cirinya adalah gaya bicara yang tidak jelas.

Para vokalis Seattle Big Four punya caranya sendiri-sendiri dalam mencerna kegelapan yang mendidih di lantai dasar kehidupan Amerika Serikat era 80 dan 90-an. Cobain mencoba menghancurkan sisi gelapnya, Staley berusaha bernegosiasi dengannya selama mungkin (ia kalah di tahun 2002), Vedder memilih melihat hidup perspektif positif, sementara Cornell seringkali berjalan di ambang kegelapan.

Ketimbang memperhitungkan bunuh dirinya sebagai bagian fundamental dari kepribadian Cornell, mengingat masa jayanya bersama Soundgarden, Audioslave, bahkan paruh awal karier solonya, tentu lebih penting. Sebuah apresiasi terhadap kualitas musik yang ia hasilkan. Pada sebagian besar periode kariernya, Cornell memang mahir berkelindan dengan kegelapan dalam bait liriknya.

Lirik-lirik gelap macam “Like Suicide” dan “Black Hole Sun” bersanding dengan semangat berjuang “The Day I Tried To Live” dan “Rusty Cage”. Cornell dengan lihai mengisahkan isi koridor tergelapnya. Sementara di sisi lain, ia mencoba merebut kembali kekuatan dari sisi gelap, dan mencoba hidup sepenuhnya. Langkah tersebut ‘terdokumentasi’ dalam lirik-lirik Soundgarden.

Tiap bait Soundgarden dinyanyikan Cornell dengan vokal empat oktaf yang melengking tinggi. Gaya vokal Cornell adalah, jika bukan aspek dominan, salah satu aspek yang membedakan Soundgarden dengan kompatriot mereka. Vedder terkenal dengan cengkoknya yang menghasilkan deretan peniru, sementara suara parau Staley serta Cobain memuntahkan amarah, maka lengkingan vokal Cornell hampir tanpa pesaing.

Suara multi-oktaf Cornell adalah ciri khas Soundgarden, sebuah instrumen kelima. Gaya vokal Cornell lebih dekat dengan blues dan hard rock lawas ketimbang sound hardcore dan heavy metal yang mendominasi palet grunge. Cornell masuk dalam jajaran vokalis beroktaf empat seperti Robert Plant, Steven Tyler, dan Axl Rose.

Di awal kemunculan Soundgarden, era album Louder Than Love (1989) dan Ultramega OK (1988), mereka disebut sebagai penerus Led Zeppelin dan Black Sabbath. Lewat dua album tersebut, Soundgarden membuktikan mereka mampu menggabungkan Zep dan Sabbath. Sintesis tersebut bisa dicapai lewat vokal Cornell, dan instrumentasi Thayil (gitar), Cameron (drum), dan Yamamoto (bass).

“Sebagai anak Amerika, kita tidak mungkin tak terpengaruh oleh Led Zeppelin, Black Sabbath, dan The Rolling Stones, karena lagu-lagu mereka selalu diputar di radio.”

“Tapi dari umur 17 sampai 19, saya hanya mendengarkan Elvis Costello dan The Beat. Kami masih jadi anak post-punk ketika membentuk Soundgarden, menurut saya kami cukup nyentrik. Kemudian entah bagaimana kami memainkan musik pyschedelic rock, neo-Sabbath, yang ternyata cukup cocok dengan keinginan kami,” ujar Cornell.

Bersama Cornell, Soundgarden adalah band asal kancah Seattle pertama yang menekan kontrak dengan major label. Setelah merilis Ultramega OK lewat SST Records, label milik Greg Ginn (gitaris Black Flag), Soundgarden juga menjadi band yang kerap mendorong batasan sound alternative rock, dan grunge, mencampurkan sejumput elemen progressive rock dan psikedelia (cek intro sitar di lagu “Flower”) ke dalam musik mereka.

Elemen melodik Soundgarden menggerakkan distorsi agresif dan komposisi heavy metal. Pola ini nampak di dua single album Badmotorfinger, “Outshined” dan “Rusty Cage”, yang sempat menyelinap ke tangga lagu Billboard 200. Lewat melodi seperti band-band hard rock kawakan, Badmotorfinger disertifikasi double platinum oleh RIAA di tahun 1992.

Musik Soundgarden semakin melodik dari album ke album, gaya ini akhirnya terdengar jelas di album terpopuler mereka, Superunknown, yang rilis di tahun 1994. “Black Hole Sun”, single dari album tersebut, bahkan sempat memanjat tangga lagu dunia dan meraih Grammy untuk Best Hard-Rock Performance.

Kesamaan Soundgarden dengan band-band grunge lain berhenti di sound mentah dan sederhana. Aspek pembeda Soundgarden adalah kemahiran kuartet ini merangkai komposisi dan bereksperimentasi dengan format pop dan pola tak lazim (7/4 dan 9/8 time signature).

“Musikalitas kami berbeda dengan band-band lain. Ketika gaya tersebut dinamai grunge, kami dianggap sebagai bagian penting dari sound tersebut, seperti Nirvana dan Pearl Jam, kami disamakan hanya karena kami memainkan musik yang berbeda dibanding mereka di luar sana. Tidak masuk akal bagi saya.”

“Maksud saya, ini bukan persoalan spesifikasi genre, satu-satunya hal yang menyatukan kami adalah sekumpulan band-band muda yang berasal dari daerah yang sama, dan terpengaruh budaya punk serta post-punk,” jelas Cornell.

Namun, tak ada band yang tak retak. Kesuksesan Soundgarden membuahkan konflik internal yang akhirnya meledak dan membubarkan kuartet ini. Tak butuh waktu lama, Cornell langsung memulai karier solonya, yang masih aktif hingga kematiannya. Sejak tahun 1999, Cornell sudah merilis lima album solo, berselingan dengan beberapa album Audioslave dan Soundgarden pasca reuni.

Sementara kariernya bersama Audioslave juga meninggalkan beberapa pencapaian yang mengesankan. Lirik-lirik Cornell penuh pesan tentang optimisme, dan semangat hidup, hal ini tampak di barisan lirik hit single seperti “Show Me How To Live”, "Be Yourself", dan "Doesn't Remind Me". Tak mengejutkan bila pesan tersebut muncul di era Audioslave, Cornell akhirnya bisa mengalahkan kecanduan narkotika lewat rehabilitasi.

Salah satu pencapaian lain Audioslave bahkan tak sekadar mengguncang kancah rock dunia, tapi juga hubungan politik dua negara, AS dan Kuba. Pada 5 Mei 2006, Audioslave menjadi salah satu dari segelintir grup musik asal AS yang tampil pada konser ruangan terbuka di Kuba. Konser gratis tersebut dihadiri 70 ribu penonton dan mencatatkan sejarah baru dalam hubungan bilateral AS dan Kuba (yang akhirnya dipulihkan oleh Barack Obama di tahun 2015). Cornell mengatakan ia berharap bahwa konser tersebut dapat membuka ‘perbatasan musik’ kedua negara tersebut.

Pasca reuni Soundgarden dan rekaman album King Animal, Cornell juga disibukkan sesi rekaman serta tur promosi album solonya. Sulit membayangkan di antara kesibukan dan kesembuhan Cornell, ia justru tiba-tiba berpulang, terlebih dengan cara yang masih samar.

Kepergian Cornell tanpa peringatan, serupa “One Minute Silence”, nomor penutup  Ultramega OK. Di lagu berdurasi semenit lebih sekian detik itu, musik tiba-tiba alpa, kabel gitar dicopot, dan amplifier dimatikan. Selesai begitu saja.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
124 views
supericon
454 views
supergears
705 views
superbuzz
424 views
superbuzz
523 views