Chuck Schuldiner: The Godfather of Death Metal

  • By: OGP
  • Rabu, 7 November 2018
  • 235 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Berbicara tentang lanskap permetalan dunia, tak lengkap jika tak memasukkan nama keramat Death. Dedengkot kancah death metal itu jadi salah satu band metal paling berpengaruh, kendati sudah tak aktif lagi di ingar-bingar industri musik.

Death takkan bisa sebesar dan selegendaris saat ini, jika bukan karena sosok frontman bernama Chuck Schuldiner. Dia adalah dalang di balik kesuksesan Death. Tak heran ia pun disematkan sebagai ‘The Godfather of Death Metal’.

Terlahir dengan nama Charles Michael Schuldiner pada 13 Mei 1967, Long Island, New York, AS. Chuck memiliki garis keturunan Yahudi dari sang ayah yang merupakan berkewarganegaraan Austria dan ibu dari Amerika Selatan, yang menganut paham Yudaisme. Ia menghabiskan masa kecil di Florida bersama dua saudaranya, Frank dan Bethann.

Di usia yang menginjak 9 tahun, Schuldiner mulai belajar memainkan dawai gitar. Pasca kematian tragis kakak lelakinya, kedua orang tuanya sengaja menghadiahi instrumen gitar dengan harapan Chuck bisa melupakan rasa dukanya akibat ditinggal pergi sang saudara.

Lambat laun Schuldiner pun telah tumbuh remaja. Ia begitu menggandrungi dan memuja sederet elit rock dan heavy metal seperti Metallica, Iron Maiden, Slayer, Kiss, Celtic Frost hingga Billy Idol. Tak cuma itu, Chuck juga menaruh perhatian lebih pada musik jazz klasik.

Chuck juga sangat tertarik dengan gerakan kancah metal NWOBHM (New Wave of British Heavy Metal) yang merebak pada penghujung dekade 70-an. Selain menggemari musik metal dan jazz, Chuck juga menyenangi komplotan shoegaze seperti Lush.

Seiring berjalannya waktu, Chuck mulai membentuk band bernama Mantas–cikal bakal Death ketika ia berusia 16 tahun. Saat itu formasi mereka masih dihuni trio Chuck (gitar), Rick Rozz (gitar), dan Kam Lee (drum/vokal). Selang beberapa tahun kemudian, Chuck memutuskan pindah ke Toronto, dan sempat bergabung dengan grup heavy metal asal Kanada, Slaughter.

Chuck akhirnya kembali memutuskan fokus dengan Mantas yang perlahan bertransformasi menjadi Death. Di masa ini, ia pun merekrut drummer belia berbakat, Chris Reifert yang saat itu masih berusia 17 tahun. Bersama Reifert, Chuck telah menghasilkan satu demo dan satu album studio, yakni Mutilation (1986) dan Scream Bloody Gore (1987) di bawah naungan Combat Records.

Hebatnya, di masa itu Chuck mengerjakan sesi take gitar, vokal, dan bass secara bersamaan. Di album perdananya itu, Chuck untuk pertama kalinya bekerja sama dengan ilustrator ternama, Ed Repka, yang sebelumnya terkenal menciptakan maskot ikonis milik Megadeth, Vic Rattlehead.

Perlahan tapi pasti, nama Death mulai jadi buah bibir di kalangan metalhead. Setahun melepas Scream Bloody Gore, Chuck kembali menelurkan album sophomore bertitel Leprosy (1988) via Combat/Relapse Records. Di album ini, Death kembali dengan formasi terbaru mereka. Untuk posisi gitar, Rick Rozz memutuskan kembali bergabung, dengan tambahan dua personel baru, yakni Bill Andrews (drum) dan Terry Butler (bass). Sampai saat ini, opus Leprosy masih dianggap sebagai salah satu cetak biru di kancah death metal dunia.

Berlanjut ke album Spiritual Healing (1990), Death kembali mengotak atik formasi mereka. Kali ini, posisi Rick Rozz digantikan oleh James Murphy. Album ini juga karya perpisahan bersama ilustrator, Ed Repka, setelah beberapa artwork album sebelumnya digarap eksklusif oleh Ed.

Sejak dari perilisan album Spiritual Healing, Chuck akhirnya sepakat untuk berhenti menggunakan personel penuh waktu. Chuck cenderung bekerja dengan musisi tambahan maupun live. Karena memiliki hubungan tak harmonis dengan personel-personel terdahulu, Chuck mulai mendapat reputasi sebagai seorang perfeksionis di kancah metal. Chuck juga sempat memecat manajernya, Eric Greif, tetapi memperkerjakannya kembali di rilisan selanjutnya.

Selang setahun kemudian, Death melepas album Human (1991). Tak seperti karya-karya sebelumnya, Human menampilkan style yang lebih teknikal dan progresif. Di album ini, Chuck mempertontonkan semua skill individualnya dibandingkan album terdahulu. Tak ayal lewat sabetan kebutnya ini, Human dicap sebagai pembentuk sub genre baru bernama technical death metal.

Berturut-turut Death sukses mengeluarkan deretan album seperti Individual Thought Patterns (1993), Symbolic (1995), dan yang terakhir The Sound of Perseverance (1998). Selama kiprahnya di jagat musik, Chuck tak segan-segan menyuntikan lirik bertema kontroversial, yakni tema anti-narkoba (“Living Monstrosity”) bahkan hingga tentang topik sensitif seperti aborsi (“Altering the Future”).

Di luar kegiatan bersama Death, Chuck Schuldiner sempat banyak terlibat dalam beberapa proyek musik cadas lainnya. Sebut saja proyek progressive metal bernama Control Denied dan supergrup Voodoocult bersama Dave Lombardo (Slayer) dan Mille Petrozza (Kreator).

Bersama Control Denied, Chuck berhasil menetaskan satu album studio, The Fragile Art of Existence (1999). Selain itu, Chuck juga pernah mengisi vokal tamu di proyek heavy metal Dave Grohl, Probot. Di masa-masa puncak kejayaannya itu, Chuck mulai lekat dengan gelar ‘The Godfather of Death Metal”.

Pada Mei 1999, Schuldiner mulai mengeluhkan sakit hebat di bagian atas lehernya. Awalnya ia mengira hanya mengalami saraf kejepit. Belakangan setelah berkonsultasi dan menjalankan pemeriksaan MRI, Chuck harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya didiagnosa pontine glioma, yakni sejenis kanker otak yang menyerang saraf di sekitar kepala.

Beberapa bulan kemudian, pihak keluarga Chuck mengonfirmasi jika tumornya yang diidapnya mulai perlahan mengecil dan ia dalam masa-masa penyembuhan. Selang setahun kemudian, Chuck melakukan pembedahan untuk menghilangkan sisa-sisa tumornya. Operasi tersebut berjalan sukses meski keluarganya menanggung seluruh beban finansial yang lumayan besar. Tak tinggal diam, beberapa komunitas metal mengumpulkan dana bantuan untuk pengobatan Chuck.

Dua tahun setelahnya, pada Mei 2001, kanker mulai kembali menggerogoti Chuck. Banyak dari rekan sesama musisi rock, di antaranya Korn, Red Hot Chili Peppers, hingga Kid Rock berkumpul untuk melelang barang pribadi mereka. Lantas Chuck akhirnya mendapat penanganan kemoterapi secara intensif. Tapi efek sampingnya malah berujung pada Pneumonia (penyakit infeksi paru-paru). Tak lama setelahnya, Chuck Schuldiner meninggal dunia pada 13 Desember 2001 di usia 34 tahun, dan jasadnya dikremasi. Sekali lagi kancah permetalan dunia harus merelakan kehilangan sosok berpengaruh.

Saat upacara pemakamannya dilangsungkan, sederet musisi metal ternama seperti Dave Grohl, Max Cavalera, Mike Patton, King Diamond, Corey Taylor hingga Jason Newsted hadir memberikan penghormatan terakhirnya pada sosok Chuck Schuldiner. Dikutip melalui obituarinya yang dimuat oleh majalah Kerrang! di tahun 2002, menyatakan bahwa “Chuck Schuldiner adalah salah satu sosok paling signifikan dalam sejarah metal.”

Di awal karier bersama Death, Schuldiner menggunakan teknik vokal death growl. Di album terakhir Death, The Sound of Perseverance, Chuck menggunakan suara yang lebih tinggi dan gaya vokalnya lantas banyak ditiru oleh bermacam band pengusung death metal saat itu. Malah menurut Guitar World, Chuck Schuldiner menempati urutan posisi ke-20 sebagai ‘100 gitaris metal terbaik’. Benar-benar sosok legenda serba bisa. Hail Schuldiner!

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
341 views
superbuzz
354 views
superbuzz
2229 views