DAMON ALBARN: Sang Jenius Penuh Eksplorasi dari London

  • By: OGP
  • Rabu, 5 July 2017
  • 7355 Views
  • 3 Likes
  • 1 Shares

Sebagai poros musik dunia, dataran Britania Raya identik dengan seabrek inovasi yang beragam. Sejak era British Invasion mulai mengekspansi, dunia pun turut mengakui kehebatan sosok prominen semacam John Lennon, Syd Barrett hingga Ray Davies. Lewat kejeniusan mereka dalam mendedah karya musik, kurikulum musik pun kini telah berevolusi jauh ke tahap yang bahkan sebelumnya tak pernah terbayangkan. Seolah mereka menjadi tolok ukur eksperimen jiwa seorang musisi sejati. Pada akhirnya obor estafet yang mereka ciptakan pun turun temurun terlahir sakral kembali di generasi selanjutnya.

Berbicara tentang inovasi di dalam musik pada era millenium, rasanya tak banyak musisi yang mampu menantang dirinya sendiri untuk sekadar beradu eksplorasi musikalitas di relung batinnya. Sebagian musisi mungkin merasa cukup nyaman di perorbitan zona aman mereka, tanpa harus bersusah payah mengubah ‘prototipe’ musik yang telah dibangun. Namun bagi segelintir musisi sejati, secara harfiah hal tersebut tentu bertentangan dengan nurani. Sejatinya eksperimen musikal adalah ‘jalan suci’ bagi insan musisi menuju kesempurnaan menciptakan sebuah karya seni.

Di antara jajaran para jenius musik di dekade 90-an, mungkin komplotan Radiohead acap kali disematkan sebagai representasi sahih tentang apa itu arti sebuah inovasi. Namun di balik bayang-bayang Thom Yorke dkk, terdapat satu nama berpengaruh lainnya dari jazirah Britania Raya. Ya, dia adalah Damon Albarn. Namanya tentu tak asing bagi kalangan penggemar musik rock alternatif seantero dunia. Ia juga dikenal luas publik sebagai motor dari band britpop kenamaan Blur sekaligus dalang di balik terciptanya unit virtual Gorillaz.

Mendengar nama besar Damon Albarn tentu memiliki kesan tersendiri di dalam benak. Tepat di dekade 90-an, gong pun berbunyi. Perseteruan intens yang terjadi antara kelompok Oasis dan Blur menyeruak ke publik. Aksi saling adu serang karya tak luput dilakukan oleh Gallagher bersaudara dan Albarn. Perseteruan antara mereka mengingatkan sejenak hegemoni yang sempat terjadi di antara The Beatles dan The Rolling Stones di beberapa dekade silam.

Para cendekiawan musik tentu berpihak pada The Beatles sebagai jagoan mereka, ketimbang The Rolling Stones yang minim manuver dalam bermusik namun memiliki karakter yang begitu kuat. Adu-aduan komparasi antara Beatles dan Stones juga turun temurun terulang kembali di era antara Albarn dkk dan Gallagher bersaudara. Namun jika menilik secara konteks inovasi musikalitas, Albarn tentu lebih diunggulkan dalam hal sisi eksplorasi ketimbang Gallagher bersaudara. Nilai plus dan kredit khusus untuk Albarn dibanding sang rival.

Di awal-awal masa kemunculannya, komplotan Blur mulai perlahan mencoba bertransisi secara olah musikalitas. Jika di album perdana Leisure (1991) Albarn memamerkan kelihaiannya dalam mengadu apik shoegaze dan rock alternatif ala kancah madchester, maka di tiga album berikutnya seperti Modern Life Is Rubbish (1993), Parklife (1994), dan The Great Escape (1995) menyuguhkan muatan-muatan karya jempolan yang terdengar terkesan begitu ‘Inggris’. Albarn secara piawai menggabungkan berbagai referensi manis dari The Kinks sampai The Beatles hingga sentuhan mod ala The Jam. Balutan lo-fi dengan bebunyian fuzz ala grunge yang sedang marak-maraknya kala itu juga tak luput ia suntikkan ke dalam elemen instrumentasi Blur.

Di sisi lain, Albarn juga merupakan figur yang peka terhadap segala kejadian di lingkungan sekitarnya. Pada departemen lirik, tak luput tema-tema sosial yang pelik ia munculkan di dalamnya. Kala itu di sudut-sudut jalanan protokol kota-kota di Inggris seringkali terjadi baku hantam sipil. Para warga Britania Raya menolak dengan tegas sikap monarki yang ditujukan kepada Yang Mulia klan Elizabeth. Etos punk di dalam diri Albarn ternyata masih menggelora. Balutan nuansa sarkasme dikemas sedemikian rapi oleh Albarn sebagai sirine protes kepada rezim pemerintahan yang berkuasa saat itu.

Obsesi Albarn dalam ‘berpetualang’ makin menjadi saat ia dan Blur mengerjakan proyek album Blur (1997) dan 13 (1999). Jiwa musisi Albarn mulai tertantang oleh batin. Dirinya mulai menaruh minat pada tema-tema futuristik yang tak jauh-jauh dari entitas kancah elektronik. Peralihan menuju ke sound yang lebih terdengar modern dan menjanjikan, nyatanya tak sebanding lurus dengan ekspektasi. Bagi sebagian fans militan nan monoton itu mengganggap Blur terlalu buruk dan aneh dengan sound terbarunya saat itu. Jelas menghilangkan pilar pondasi yang telah berdiri kokoh sebelumnya. Tapi sebagian penggemar ‘liberal’ malah memakluminya dan menganggap karya milik sang idola telah menunjukkan peningkatan grafik menuju ketahap kesempurnaan karya.

Seiring berjalannya waktu, Albarn akhirnya pun memilih untuk hiatus sementara bersama Blur. Dirinya pun makin larut ke dalam jejak eksplorasi dan berlabuh bersama proyek grup virtual ambisius bernama Gorillaz. Bersama komikus Jamie Hewlett, Albarn mulai menggeser minatnya ke tahap yang berbeda yakni di kancah hip hop dibumbui dengan unsur elektronik. Albarn tahu betul terdapat jurang gelap pemisah antara dunia rock alternatif dan hip hop. Ia pun memilih jalan untuk mendamaikan kedua entitas musik yang berseberangan itu ke dalam unit virtual yang serasa tak realistis, tapi eksis keberadaannya. Bersama Gorillaz, Albarn pun sukses masif hingga sampai saat ini.

Lepas meraih kejayaan bersama Gorillaz, Albarn kembali ke habitat. Ia menyegerakan proyek bersama Blur dalam rangka menuntaskan opus Think Tank (2003). Tapi kali ini sungguh berbeda. Sang kompatriot sekaligus gitaris Graham Coxon saat itu memilih hengkang dari band yang telah membesarkan namanya itu. Di album dengan sampul buatan seniman Banksy itu, Albarn lagi-lagi secara terampil ikut menyuarakan keresahannya akan perang timur tengah yang kala itu tengah berkecamuk. Beda hal lagi, kali ini ia mulai menggali harta karun berupa musik-musik etnik yang berasal dari Benua Afrika.

Eksotisme Afrika ternyata cukup menyedot antusias pria asal dataran Essex itu. Kecintaan Albarn terhadap musik menyeretnya untuk meninggalkan jauh-jauh zona britpop. Terdapat beberapa proyekan yang sudah ia jalankan setelahnya. Dimulai dari Mali Music yang kental bernuansa Afrika. Di sini ia sempat merilis album penuh berjudul sama dengan nama band (2002) yang ditulis pasca menyelesaikan proyek Gorillaz. Lalu perjalanannya kemudian berlanjut di proyekan supergrup The Good, the Bad & the Queen bersama Paul Simonon (The Clash), Simon Tong (The Verve), serta drummer legendaris Tony Allen. Ia pun tetap produktif dengan menelurkan album bertajuk sama dengan nama band di tahun 2007 silam.

Tak cukup hanya dengan cara konvensional, Albarn juga sempat meluncurkan opera musik di ranah teater. Monkey: Journey to the West tayang perdana di pusat budaya Manchester International Festival pada 2007 silam. Ia mendapuk dirinya sebagai komposer utama di dalamnya. Belum benar-benar usai, sosok Damon Albarn juga sempat iseng mendirikan proyekan supergrup lainnya bernama Rocket Juice & the Moon. Tak tanggung-tanggung ia berkolaborasi bersama bassis kenamaan Flea dan drummer legendaris Tony Allen. Musik funk dan afrobeat jadi benang merah yang ditawarkan Albarn di Rocket Juice & the Moon.

Menyudahi kebosanan yang melanda sebagai kolaborator, Damon Albarn akhirnya lega untuk menyelesaikan album solo pribadinya. Album berjudul Everyday Robots (2014) jadi magnum opus sekaligus kartu as bagi dirinya. Ada begitu banyak kontemplasi yang dirasakan oleh Albarn seorang diri selaku musisi sejati. Ketenaran serta gelora jiwa muda di era britpop, eksotisme Afrika, kemegahan karya dengan supergrup hingga inovasi luar biasa pada Gorillaz sudah pernah ia jelajahi.

Jiwa petualang seorang Damon Albarn membuat banyak orang berasumsi pasca era Blur, Albarn hampir tak pernah tampil jadi dirinya apa adanya. Ia selalu muncul di hadapan publik dengan multi-identitas tergantung proyek musik yang tengah dirinya kerjakan. Albarn bagaikan musafir, ia akan selalu terus mengarungi perjalalan musikalitas yang ada tanpa batas. Ya, seperti itulah harusnya bagaimana seorang musisi menjalankan kehidupan bermusiknya. Perfeksionis namun juga ambisius.

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    JENIUS BOY