Daniel Johnston: Menerawang Imajinasi Liar Si Jenius Pengidap Skizofrenia

  • By: OGP
  • Jumat, 31 August 2018
  • 848 Views
  • 0 Likes
  • 9 Shares

Ada yang bilang jika jenius itu beda tipis dengan gila. Begitu juga halnya dengan para musisi yang disebut ‘outsider musician’. Istilah outsider music merujuk pada seni musik yang lazimnya diciptakan oleh sejumlah musisi idealis yang mengidap penyakit mental ataupun disabilitas. Namun siapa sangka di balik segala kelemahan mental mereka, sejumlah musisi ini mampu menghasilkan karya musik yang mengagumkan dan ‘murni’.

Di antara deretan outsider musician, nama Daniel Johnston seringkali dianggap sebagai tokoh vital di kancah musik terpinggirkan ini. Namun bagi sebagian awam, mungkin tak banyak yang tahu mengenai sosok dirinya. Tapi di kalangan musisi ranah alternative rock/lo-fi, pelantun single “True Love Will Find You in the End” itu adalah salah satu penulis lirik terbaik yang pernah ada.

Bagi yang mengikuti perjalanan karier Kurt Cobain, tentu pernah melihat foto ikonis di mana Cobain memberi tos ke arah kamera. Dengan bangganya Cobain mengenakan kaos berwarna putih bergambar katak aneh bernama Jeremiah the Innocent, lengkap dengan tulisan “Hi, How Are You”, yang mana merupakan sampul dari album Daniel Johnston yang rilis pada 1983.

Daniel Dale Johnston lahir di Sacramento, AS pada 22 Januari 1961. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan William Dale ‘Bill’ Johnston dan Mabel Ruth Voyles Johnston. Dia tumbuh dari keluarga Kristen yang taat. Sedari remaja ia sudah divonis mengidap skizofrenia dan gangguan bipolar. Mendapati vonis penyakit mental, nyatanya tak sedikitpun meruntuhkan semangatnya untuk menjadi seorang musisi hebat seperti The Beatles. Tak bisa dipungkiri jika dirinya memang terobsesi dengan band legendaris asal Liverpool itu.

Daniel Johnston kian bulatkan tekad dengan membeli alat musik seadanya, yakni berupa boombox dan piano mini, serta sebuah tape recorder. Di masa ini, Daniel mulai merekam karya-karyanya hanya dengan bermodalkan alat-alat ala kadarnya. Segalanya ia kerjakan secara individual, tanpa bantuan dari orang lain.

Karier musikal amatirnya dimulai ketika ia pindah ke Austin, Texas sembari bekerja paruh waktu menjadi pramusaji di McDonald’s. Daniel Johnston terbilang rajin menciptakan karya-karya musik. Bakat bermusik Daniel perlahan mulai terendus pihak pers, tatkala kebiasaannya membagikan kaset rekaman kepada tiap orang-orang yang ditemuinya.

Dari mulut ke mulut, karya musiknya pun tersebar dan jadi buah bibir. Sampai pada akhirnya program acara MTV, The Cutting Edge memasukkan Daniel Johnston ke dalam salah satu episodenya di tahun 1985. Menariknya, di tahun yang bersamaan Daniel juga tampil di gelaran akbar Woodshock, dan masuk ke dalam rockumentary Woodshock karya sutradara kenamaan, Richard Linklater.

Di tahun 1988, perlahan karier Daniel mulai menemui titik terang. Dia berhasil merilis album kolaborasi bertajuk It’s Spooky bersama Jadi Fair (Half Japanese). Tak lama berselang, ia mengunjungi New York City dan melakukan proses rekaman profesional pertamanya bersama Kramer, produser sekaligus musisi pendiri label Shimmy Disc. Di masa-masa ini, kesehatan mentalnya kian memburuk selama pembuatan album 1990. Tak heran jika ia mengaku seringkali dikejar roh-roh jahat yang kerap menghantuinya.

Ada cerita menarik di balik gangguan mental yang diidapnya. Ketika dalam perjalanan kembali ke West Virginia, selepas manggung di sebuah festival musik di Austin, Daniel menggunakan pesawat pribadi yang dikemudikan sang ayah. Di atas ketinggian puluhan ribu kaki, penyakit mentalnya pun mulai kambuh.

Dengan keadaan setengah sadar, Daniel berkeyakinan bahwa dia adalah Casper (tokoh kartun hantu populer) dan dengan ia sengaja mengambil dan melempar kunci pesawat keluar. Nasib mujur, sang ayah dulunya adalah mantan pilot Angkatan Udara, dan mampu mendaratkan pesawat, kendati dengan cara sedikit ekstrem ke daratan. Pesawat yang ditumpangi mengalami kerusakan yang hebat, untungnya Daniel dan ayahnya hanya mengalami luka ringan. Atas kejadian tersebut, Daniel dilarikan ke rumah sakit jiwa.

Sosok Daniel Johnston perlahan mulai mendapat status cult di antara jajaran musisi kancah alternative rock. Kurt Cobain secara terang-terangan menyebut bahwa album Yip/Jump Music adalah salah satu album favoritnya yang ditulis di jurnal di tahun 1993.

Terlepas dari situasi Daniel yang kala itu mendekam di rumah sakit jiwa, ada perang penawaran antara label raksasa yang tertarik untuk mengontraknya. Elektra Records yang kala itu tertarik, ditolak mentah-mentah olehnya, lantaran percaya bahwa Metallica (band naungan Elektra) adalah kumpulan setan yang akan menyakitinya. Dia juga sempat memecat manajernya setelah gangguan mentalnya kambuh saat jadi musisi pembuka untuk konser Butthole Surfers.

Selang beberapa tahun kemudian, Daniel Johnston akhirnya dikontrak oleh Atlantic Records pada 1994 dan merilis album berjudul Fun yang dilepasnya pada September di tahun yang sama. Tak disangka-sangka album ini malah menuai respons negatif, dan gagal secara komersial. Akhirnya di tahun 1996, Atlantic pun memutus kerja samanya dengan Daniel.

Seiring berjalannya waktu, kini Daniel Johnston lebih sering menghabiskan waktu di rumah. Di sela-sela aktivitas bermusik, ia juga gemar menggambar yang merupakan salah satu hobinya. Sejauh ini dirinya telah mengeluarkan karya sebanyak 18 album studio, yang diantaranya melibatkan sejumlah musisi maupun band.

Terlepas dari penyakit mental yang diidapnya, pria paruh baya ini merupakan salah satu unsung hero di jagat alternative rock. Nama-nama tenar mulai dari Kurt Cobain, Beck, Tom Waits hingga Lana Del Rey mengaku terinspirasi olehnya. Beragam tribute telah dipersembahkan untuk menghormati sosok Daniel Johnston.

Di antaranya mural Hi, How Are You di Austin, Texas, dua track yang masuk ke dalam soundtrack film kontroversial Kids (1995), serta album cover bertajuk The Late Great Daniel JohnstonL Discovered Covered (2004) yang diisi oleh Teenage Fanclub, Mercury Rev, The Flaming Lips, Eels, Death Cab for Cutie, Beck, hingga Tom Waits. Tak hanya itu, kisah imajinasinya pun dituangkan ke dalam rockumentary berjudul The Devil and Daniel Johnston (2005) yang disutradari oleh Jeff Feuerzeig.

Daniel Johnston adalah sosok inspiratif dan mampu mendobrak batas. Seringkali penderita gangguan jiwa jadi bahan cemoohan dari lingkungan sekitar, karena dinilai tak waras dan tak berguna di dunia. Namun tak bisa dipungkiri, di balik musiknya yang cenderung aneh, Daniel Johnston telah memberi esensi pada karya-karyanya. Musik yang ia ciptakan dinilai begitu emosional, jujur, dan murni, tak seperti kebanyakan musisi arus utama yang karyanya telah terkontaminasi dengam ketenaran dan uang. Sekali lagi, Daniel Johnston telah memberikan contoh mad genius di lingkar outsider music dalam artian sebenarnya.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
529 views
superbuzz
1249 views
superbuzz
480 views
supershow
5209 views
superbuzz
1754 views
superbuzz
1352 views