mitch lucker

Mitch Lucker: The Fallen Prince of Deathcore

  • By: NND
  • Selasa, 28 April 2020
  • 3133 Views
  • 3 Likes
  • 9 Shares

Mitchell Adam Lucker, atau yang biasa dikenal sebagai Mitch Lucker, adalah sosok prominen dalam kancah deathcore di era 2000-an akhir. Pria kelahiran 20 Oktober 1984 ini merupakan lead vocalist dan penulis lagu untuk grup deathcore kenamaan asal Amerika, Suicide Silence, sebelum akhirnya tutup usia di tahun 2012 karena kecelakaan.

Bersama Suicide Silence, Mitch Lucker terlibat dalam album debut The Cleansing--sebuah album jebolan tahun 2007 yang kala itu menjadi penjualan terbaik label mereka, Century Media. Adapula album nomor dua, No Time to Bleed yang mendarat 30 Juni 2009, hingga album ketiga mereka The Black Crown di pertengahan tahun 2011.

Ketiga album ini menjadi anugerah Mitch Lucker untuk kancah deathcore dan dunia musik secara umum; juga sebagai karya-karya yang meneruskan lantangnya death growl dan high-pitched scream milik sang mendiang vokalis, bahkan hingga sekarang--lepas delapan tahun usai kepergiannya.  

Merekam jejak, Suicide Silence lahir pada tahun 2002 di California, Amerika. Pada saat itu, grup ini hanyalah sebuah proyek sampingan dari beberapa musisi yang sudah memiliki band-nya masing-masing. Formasi awalnya diisi oleh Chris Garza (gitar), Rick Ash (gitar), Mike Bodkins (bass), Josh Goddard (dram), serta Mitch Lucker dan Tanner Womack sebagai vokalisnya.

Posisi Tanner tidak bertahan lama, meninggalkan Mitch seorang diri sebagai lead vocal. Formasi awal ini pun berhasil melahirkan demo Death Awaits serta demo kedua yang memuat track kenamaan “Stand Strong” dengan vokal Mitch Lucker seorang diri. Semasa perilisan demo inilah mereka mulai menemukan identitas mereka, dan maju dengan nama Suicide Silence. Mereka sempat merilis EP debut self-titled mereka di tahun 2005, yang kemudian di tahun berikutnya mengganti drummer Josh dengan Alex Lopez dari The Funeral Pyre.

Berkat konsistensi di dalam studio dan di atas panggung, Suicide Silence mampu menjadi sebuah band utuh yang berprospek. Prospek itu bahkan menempatkan mereka di dalam radar Century Media, yang kemudian merilis debut album mereka, The Cleansing. Album ini membuktikan kebolehan mereka, menjadi sebuah penjualan yang sukses hingga berhasil menembus angka tujuh ribu keping penjualan dalam minggu pertamanya. Album tersebut ditulis, direkam, dan diselesaikan pada tahun 2007 di Los Angeles bersama engineer John Travis dan produser Tue Madsen. Setelahnya, mereka angkat koper dan menggarap tur Amerika dan Eropa.

Terkait album debutnya itu, Mitch angkat bicara; menyatakan kepada The AU bahwa The Cleansing terinspirasi dari band-band macam Deftones, Slayer, Slipknot, Korn dan Sepultura. “Apapun yang dibeli dan dibawa pulang oleh ayah saya, dan apa yang direkomendasikan oleh kakak saya,” sambungnya.

Selanjutnya adalah album kedua. No Time To Bleed mulai dikerjakan pada awal 2009 dan berhasil dirilis pada tanggal 30 Juni 2009 melalui Century Media. Segi penjualan terus membaik, dengan 14 ribu keping terjual di minggu pertama, dan berhasil mendarat di nomor 32 dalam tangga lagu Billboard 200. Suicide Silence pun melanjutkan aksi turnya usai merilis No Time To Bleed sebagai penampil di rangkaian Vans Warped Tour 2010.

Tiba tahun 2011, Mitch cs. sudah mulai mempersiapkan album nomor tiga bersama Steve Evetts selaku produsernya. Awal tahun tersebut mereka menampilkan beberapa lagu baru dan mengumumkan bahwa albumnya akan dijudulkan The Black Crown. Kepada Kerrang!, Mitch menyatakan bahwa tema lirik album itu akan lebih personal ketimbang tema-tema kontroversial yang ada di album debut.

“Saya masih punya kepercayaan yang sama seperti saat saya merilis The Cleansing, namun sekarang saya lebih terbuka. Sekarang saya tidak melihat apa yang baik dari membuat orang membenci dirimu melalui apa yang kamu utarakan, ” terangnya. “Album ini (The Black Crown) adalah album untuk semua orang.” Album tersebut rilis di bulan Juli 2011, dan berhasil terjual sebanyak 14 ribu keping di Amerika pada minggu pertamanya. Lebih baik dari sebelumnya, kali ini The Black Crown mencapai peringkat 28 di Billboard 200.

Namun awan gelap kemudian menyelimuti Suicide Silence. Mitch Lucker meninggal dunia pada dini hari tanggal 1 November 2012, di California, Amerika akibat kecelakan motor yang terjadi semalamnya. Diumumkan oleh pihak resmi rumah sakit bahwa ia meninggal akibat luka dari kecelakaan tersebut. Beberapa laporan menyatakan bahwa kecelakaan itu terjadi pada pukul 21.00 malam di tanggal 31 Oktober 2012.

Selain karirnya dalam dunia musik, Mitch Lucker juga dikenal sebagi sosok yang memiliki banyak rajah. Tubuhnya dipenuhi oleh beragam tato--mulai dari lengan, badan, leher, hingga tangan dan jari--bahkan mukanya. Satu-satunya bagian tubuh dikosongkan adalah punggungnya. “Saya suka dengan tato karena mereka adalah seni, dan saya suka melihat seni. Memiliki tato di punggung sama saja seperti membeli lukisan mahal namun tidak bisa melihatnya.”

Salah satu tato signature dari seorang Mitch Lucker adalah barisan hitam yang ada di setiap jemarinya, yang awalnya merupakan tato bertuliskan “FORXEVER”--sebuah kata yang digunakan oleh komunitas straight edge. Tulisan tersebut kemudian ditimpa, menjadi barisan hitam yang ikonik setelah Mitch menyatakan berhenti dari gaya hidup tersebut pada tahun 2007.

Selepas meninggalnya Mitch Lucker, rekan sejawatnya dalam Suicide Silence menggelar sebuah acara tribute bertajuk Ending is the Beginning pada tanggal 21 Desember 2012, yang bertempat di Fox Theater Ponoma, Californa, Amerika. Acara tersebut digelar sebagai penggalangan dana untuk biaya edukasi anak perempuan sang vokalis, Kenadee Lucker. Suicide Silence juga mendirikan Kenadee Lucker Education Fund dan terus mempromosikan donasi untuknya.

Kepergian Mitch Lucker tidak membuat semangat Suicide Silence padam. Mereka terus bermusik dengan bantuan dari vokalis baru Eddie Hermida yang bersama Suicide Silence, berhasil menelurkan tiga album: You Can’t Stop Me (2014), Suicide Silence (self-titled, 2017) serta album anyar Become The Hunter yang rilis pada tanggal 14 Februari 2020 kemarin. Rest in power, Mitch.

0 COMMENTS