Eric Clapton: Menyusuri Perjalanan Emosional ‘Mr. Slowhand’

  • By: OGP
  • Jumat, 15 September 2017
  • 7296 Views
  • 3 Likes
  • 2 Shares

Berbicara tentang sosok gitaris, tentu terbayang deretan musisi-musisi handal dalam menggaungkan senar elektrik. Lewat olah jemari mereka, petikan pada senar pun jadi terdengar meraung indah nan melodius. Nama-nama prominen semacam Jimi Hendrix, B.B. King hingga Jimmy Page sampai saat ini kerap kali ditasbihkan sebagai salah satu dewa gitar di lanskap rock.

Di antara deretan profil gitaris tenar, rasanya tak cukup jika tak memasukkan nama Eric Clapton ke dalam barisan suci tersebut. Tak sekadar persoalan teknik gitar solo kelas dewa semata, namun lebih dari itu ia juga dikenal dengan kemurniannya dalam bermusik. Segala bentuk karya musik yang diciptakannya mampu menggugah hati para pendengarnya. Di balik sikapnya yang dingin itu, Clapton sendiri adalah pria lembut yang selalu mencari jati diri tersembunyinya.   

Clapton adalah legenda gitar di belantika, karena kepiawaiannya bermain gitar, bahkan seseorang fansnya bernyali mencoretkan sebuah mural di tembok sekitaran stasiun di Islington Underground dengan guratan bertuliskan “Clapton Is God”, sebagai bentuk penghormatan kepada figur legendaris tersebut. Ia juga merupakan rival sekaligus sahabat bagi mendiang Jimi Hendrix di perorbitan rock.

Eric Patrick Clapton lahir di Ripley, Surrey, Inggris pada 30 Maret 1945, dari pasangan Edward Walter Fryer dan Patricia Molly Clapton. Semasa kecil Clapton dikenal sebagai pribadi pemurung nan pemalu. Sedari kecil, Eric sudah cukup begitu akrab dengan hal berkesenian seperti halnya musik.

Di ulang tahun yang ke-13, Clapton mendapat gitar akustik pertamanya. Dia pertama kali mendengarkan karya-karya milik sang pionir blues, Robert Johnson, yang penuh kegetiran dan kesepian di setiap lapisan lagunya. Sejak dari itu, Clapton pun mempunyai cita-cita menjadi seorang musisi blues kenamaan. Teknik gitar Clapton turut dipengaruhi oleh jajaran gitaris blues jagoan semacam B.B. King, Buddy Guy hingga Muddy Waters.

Memang dasar bengal. Di dalam diri seorang Clapton remaja benar-benar telah bersemayam jiwa pembangkang. Dia memutuskan keluar dari tempatnya menimba ilmu, di jurusan seni Kingston College of Art, lalu memilih fokus di jalur bermusik ketimbang akademis. Selama periode ‘menganggur’, Clapton seringkali tampil di berbagai gigs kecil di klub-klub malam yang bertebaran di pinggiran kota-kota di Inggris.

Di tahun 1963, Clapton bergabung bersama kolektif blues rock berbahaya bernama The Yardbirds. Tak tanggung-tanggung ia berada satu atap bersama figur-figur yang kelak akan menjadi legenda rock bersama dirinya – semisal Jimmy Page dan Jeff Beck. Semasa menukangi awak Yardbirds, julukan ‘Slowhand’ pun disematkan kepada Clapton. Julukan tersebut muncul secara tak sengaja, ketika senar gitarnya terputus di kala berpentas, ia pun langsung menggantinya dengan senar lainnya. Para penonton pun setia menunggunya sembari melakukan slow handclapping (tepuk tangan kecil) selagi Clapton menyelesaikan pekerjaannya. Maka dari itu julukan Mr. Slowhand muncul dialamatkan kepadanya.

Desas-desus tentang kepiawaian Clapton dalam memainkan gitar perlahan mulai menyebar di segala pelosok Britania. Ia seketika jadi buah bibir di kalangan musikus karena permainan gitarnya yang bluesy nan unik itu. Namun seperti tak berjodoh, Clapton pun keluar dari The Yardbirds. Setelahnya ia memutuskan untuk bergabung bersama John Mayall & the Bluesbreakers di tahun 1965. Di band ini ia mendulang ketenaran setelah merilis album penting berjudul Blues Breakers with Eric Clapton (1966).

Namun tak bertahan lama, Clapton akhirnya menyudahi petualangannya bersama John Mayall & the Bluesbreakers. Clapton layaknya musafir, dirinya akan selalu mencari tempat persinggahan baru demi menuntaskan hasratnya mencari jati diri dalam bermusik. Kini ia pun berlabuh dan membentuk aliansi spektakuler lainnya bernama Cream. Bukan sembarang kolektif, Cream merupakan trio yang dijabat langsung oleh drummer legendaris Ginger Baker dan bassis Jack Bruce di dalamnya. Babak perjalanan bermusik seorang Clapton pun baru dimulai.

Cream cukup sukses dengan sejumlah single dan menorehkan empat album penuh. Kesuksesan mereka tak hanya menang di kandang sendiri di negara asalnya, Inggris, tapi juga gaungnya sampai menuju benua Amerika. Rivalitas di kubu blues rock cukup menyita perhatian para insan penikmat musik di penghujung dekade 60-an. Clapton dan supergroup-nya, Cream, yang kala itu jadi fenomena di belantika pun mendapati tantangan dari pria slebor asal Seattle bernama Jimi Hendrix dan grupnya, The Jimi Hendrix Experience.

Dua kelompok musik ciamik ini cukup bersaing ketat, serta saling adu karya di masa itu. Album debut maut The Jimi Hendrix Experience, Are You Experienced? dan album sophomore Cream, Disraeli Gears dirilis hampir berbarengan di tahun 1967 silam. Keduanya seolah mempertegas persaingan di antara mereka dengan saling berebut podium teratas di tangga lagu Inggris. Fokus utama tentu saja tak lain dan tak bukan merujuk kepada dua sosok magis: Clapton dan Hendrix.

Kendati demikian, perseteruan mereka tak sampai bertahan lama. Cream memilih bubar di tengah jalan di kala sedang mengecap kesuksesan pada tahun 1968. Sementara itu, Jimi Hendrix menemui ajalnya selang dua tahun kemudian. Bara api era keemasan rock n’ roll pun terpaksa padam seketika menandai era rock baru yang lebih dinamis. Tak berhenti sampai di situ, Clapton pun tetap berjalan seorang diri sampai menemukan pencarian jati diri musikalisasinya. Tak peduli derasnya arus, ia tetap menatap ke depan dan menuntaskan hasrat terpendamnya itu. Ia lalu mendirikan Blind Faith dan Derek and the Dominos.

Di awal tahun 70-an, Eric Clapton mulai mencoba bereksperimen. Kali ini ia yakin dengan pilihannya sebagai musisi solois. Selama menjalani karier solo, Clapton sukses mengukuhkan namanya sebagai salah satu musisi paling sukses di zamannya. Hal ini dibuktikannya dengan menebar belasan karya-karya solo menakjubkan selama rentang masa kariernya. Ia pun sukses menelurkan deretan lagu ikonis seperti “Layla” (saat bersama Derek and the Dominos) dan “Wonderful Tonight”. Belum ditambah dengan lagu daur ulang milik musisi legendaris, Bob Marley “I Shot the Sheriff” yang karenanya juga turut melambungkan kancah reggae di industri musik internasional.

Namun tak disangka, kegemilangan karier Clapton tak diimbangi dengan kesuksean di kehidupan pribadinya. Seperti halnya bintang rock pada umumnya, Clapton sempat menjadi pecandu obat-obatan terlarang dan alkohol, puncaknya setelah ia bercerai dengan sang mantan istri, Patty Boyd, yang juga merupakan janda dari personel The Beatles sekaligus sang sahabat, George Harrison.

Tak ingin tenggelam dirundung duka, Clapton mulai bangkit serta tetap melanjutkan karier solo yang telah dibangunnya. Ia mulai rajin menelurkan karya musik sebagaimana mestinya musisi sejati. Meski upaya yang digencarkannya tak sepenuhnya disambut hangat oleh fans. Mereka menuding Clapton perlahan meninggalkan gitar dan lebih suka menonjolkan di sisi vokal ketimbang instrumen andalannya itu.

Pelan tapi pasti, Clapton mulai membenahi hidupnya. Lantas ia menemukan pujaan hati baru. Wanita itu adalah seorang model cantik asal Italia, Lory Del Santo. Bersama Del Santo, Clapton pun dikaruniai buah hati bernama Conor yang selalu mewarnai hidupnya. Clapton perlahan mulai menemukan kedamaian hati yang telah lama tak ia rasakan.

Seolah Tuhan ingin kembali menguji batin seorang Eric Clapton. Pada tanggal 20 Maret 1991 tepat jam 11 siang, tragedi pun terjadi. Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun yang diketahui bernama Conor Clapton itu ditemukan tewas setelah terjatuh dari jendela lantai 53 di sebuah bangunan apartemen di New York City. Kematian Conor merupakan duka mendalam bagi Eric Clapton. Pukulan batin yang diterimanya itu mengakibatkan Clapton diselimuti rasa takut serta depresi. Selama 9 bulan lamanya ia tak berkeinginan untuk tampil di panggung hiburan.

Pasca kematian Conor, lalu tercipta hits “Tears In Heaven” yang begitu indah itu. Lagu ini ditulis oleh Clapton bersama Will Jennings. Ia mempersembahkan lagu itu untuk mendiang putra tercinta. Bait demi bait lirik diterjemahkan sempurna oleh Clapton secara emosional dan menyentuh. Maka tak heran nomor ini mampu menggondol berbagai penghargaan musik, salah satunya yang paling prestisius adalah sebagai lagu terbaik di ajang Grammy Awards 1993.

Sosok Eric Clapton telah memberi banyak sumbangsih kepada jagat rock. Namanya pun semakin kuat terpatri di cetak biru dunia musik. Nama besarnya diabadikan di museum Rock and Roll Hall of Fame sebanyak tiga kali yakni sebagai personel The Yardbirds, Cream, dan tentunya karier solonya. Para ekspertis musik memuji dirinya sebagai salah satu gitaris terhebat sepanjang masa. Clapton bertengger kokoh menempati urutan ke-2 dalam Gitaris Terbaik Sepanjang Masa versi Rolling Stone AS, di bawah sang rival Jimi Hendrix.

Kini, Clapton tetaplah Clapton. Ia adalah sang dewa gitar. Namanya takkan pernah padam diterjang zaman. Ia telah melewati masa-masa sulit itu sekalipun. Clapton mampu menyuarakan luka-luka psikologisnya ke dalam rentetan karya-karya musik indahnya.

Sebaik-baiknya karya musik adalah karya yang mampu menggugah emosional sang pendengar. Makna yang terkandung pada lagu juga memberikan isyarat dari lubuk hati terdalam sang musisi. Seperti halnya Clapton, di balik kepiawaiannya dalam menggesek dan meraungkan indah dawai gitar, lebih dari itu, ia tulus mengekspresikan karya-karya musik dari relung nuraninya.   

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    LEGEND

Info Terkait

supergears
716 views
superbuzz
1843 views
superbuzz
784 views
superbuzz
713 views