George Harrison: Si Beatle Pendiam yang Berbakat

  • By: OGP
  • Kamis, 26 April 2018
  • 1904 Views
  • 0 Likes
  • 1 Shares

Di antara jajaran fondasi ‘The Fab Four’, tak bisa dipungkiri jika duo Lennon-McCartney adalah sosok yang paling dominan dan populer bagi kalangan fans Beatles. Semua orang tentu menyukai John Lennon, begitu juga halnya dengan McCartney. Kalau Lennon dianggap visioner dan lugas dengan segala cara pandangnya, maka McCartney adalah ‘wajah’ kejayaan duniawi bagi Beatles.

Tanpa disadari kita sejenak dibuat lupa dengan keberadaan si nomor tiga, George Harrison. Tak seperti kedua rekannya tersohornya itu, George tak sedikit pun memiliki dorongan keinginan untuk menjadi dominan. Bagi dirinya ia tetaplah seorang George, sang beatle yang kalem, pendiam, sederhana dan paling spritual. Tak ayal George pun selalu berada di dalam bayang-bayang koleganya tersebut.

Permainan gitar George mungkin tak serumit Jimmy Page ataupun Eric Clapton, tetapi ia mampu menciptakan melodi indah dan sederhana. Lewat teknik slide khas miliknya, gaya permainan George cukup mudah dikenali. Tapi percayalah, George Harrison adalah salah satu gitaris terbaik di seantero planet.

George Harrison dilahirkan pada 25 Februari 1943, di sekitaran pemukiman Wavetree Area, Liverpool, Inggris. Ia adalah bungsu dari pasangan Harold Harrison dan Louise French. Sedari kecil, George sudah akrab dengan dunia musik. Lewat sebuah radio tua, ia mulai mengenal karya-karya musikal milik musisi pop kenamaan Bing Crosby, penyanyi tenor Josef Locke, dan grup idolanya bernama Shenanaggy.

Kecintaan George terhadap musik makin menjadi ketika sang kakak, Harry, membelikannya sebuah tape portabel di awal dekade 50-an. Lewat pemberian tersebut, George mulai mengulik karya-karya milik dedengkot dari ranah blues dan country, seperti Jimmie Rodgers dan Slim Whitman.

Seiring waktu bergulir, takdir pun perlahan mempertemukan George dengan entitas musik. Di tahun 1958, saat masih berstatus sebagai siswa di London Institute, George diajak Paul McCartney untuk bergabung dengan sebuah band bernama The Quarrymen. Di sana George berkenalan dengan John Lennon, pria ambisius namun karismatik.

Singkat kata, ketiganya pun memutuskan untuk membentuk The Beatles. Bersama formasi awal bassis Stuart Sutcliffe, band asal Liverpool ini mulai menjelajahi kafe-kafe yang bertebaran di kota Hamburg, Jerman. Lucunya, George baru menginjak usia 19 tahun kala itu. Dan gara-gara hal sepele tersebut, George terpaksa harus dideportasi keluar negeri Bavaria lantaran dianggap tak cukup umur untuk bekerja di klub malam.

Tak lama setelahnya, The Beatles bertemu dengan produser legendaris, George Martin. Tak disangka-sangka, album debut Please Please Me (1963) meledak di jagat hiburan internasional. Dalam waktu sekejap The Beatles menjelma menjadi band idola para penggemar, terutama kaum hawa. Lantas keempat personel The Beatles memiliki julukan masing-masing. George mendapat julukan ‘The Quite Beatle’ lantaran sikapnya yang begitu introvert.

Selama perjalanan kariernya bersama Beatles, George telah mendapati segalanya. Mulai dari harta, tahta, hingga wanita telah dimiliknya semua. Namun tidak untuk ketenangan batinnya. Di tahun 1965, George diam-diam mulai menaruh minat pada kebudayaan timur. Ketertarikannya itu bermula semenjak ia membaca sebuah buku berjudul The Illustrated Book of Yoga, yang berisikan informasi tentang seluk beluk kebudayaan Asia. 

Pasca menggelar tur di Asia pada tahun 1966, George memanfaatkan waktu cutinya dengan perjalanan spiritual ke India. Semasa di India, George mempelajari banyak hal dalam aspek kehidupanya. Mulai dari kepercayaan Hindu, sampai belajar memainkan sitar dari ahlinya, Ravi Shankar (ayah dari solois jazz Norah Jones). Sebenarnya sebelum mengunjungi India, George telah menaruh hasrat untuk belajar sitar sejak ia menonton penampilan Ravi Shankar di London di tahun yang sama. Di masa ini, George juga memutuskan untuk menjadi vegetarian.

Bekal ilmu ‘spiritual’ dirinya mulai ditularkan kepada rekan-rekannya. George lantas mengenalkan John Lennon dan Paul McCartney ke sosok pemuka agama Hindu bernama Maharishi Mahesh Yogi. John dan Paul begitu antusias dengan perkenalan singkat tersebut, dan mereka tertarik lebih jauh mengenali ajaran yang ditawarkan Maharishi. Alhasil ketiganya terbang ke India untuk belajar meditasi transedental di bawah bimbingan Maharishi.

Kepergian George ke negeri India tak sia-sia. Ia mengimplementasikan gaya musik India di nomor “Within You Without You” yang terdapat dalam album legendaris The Beatles, Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band (1967). Formula raga rock disuntikkan secara intens oleh George di dalam beberapa karya Beatles.

Ketika tengah menggarap album Let It Be (1969), ia sempat bersitegang dengan rekan-rekannya di band. George mengancam akan keluar dari The Beatles. Ia kerap berselisih dengan Paul soal konsep album. Selain itu George juga tak merasa suka dengan kehadiran sosok Yoko Ono yang dianggapnya sebagai perusak hubungan mereka di internal band. Namun sebelum memutuskan hengkang, George merasa memiliki andil besar untuk menutaskan proyek penggarapan Let It Be.

Setelah The Beatles bubar, George beralih karier menjadi solois. Kiprahnya di jagat musik kian meroket. Album solo perdana miliknya All Things Must Pass (1970) laris di pasaran internasional. Di album ini memuat single andalan berjudul “My Sweet Lord”. Lagu ini terinspirasi dari sisi spiritual George selepas melakukan perjalanan spiritual di India. Terdapat pujian ‘Hallelujah’ dan ‘Hare Krishna’ di dalam liriknya.

Selama menjalani karier solonya, George Harrison telah merilis sebanyak 12 album studio. Selain itu, ia juga sempat mendirikan supergrup bernama Traveling Willburys bersama legenda-legenda musik lainnya seperti Roy Orbison, Bob Dylan, Tom Petty, dan Jeff Lynne. Bersama Traveling Wilburys ia melepas dua album penuh.

Beragam pujian setinggi langit serta berbagai penghargaan telah diterima George. Rolling Stone menempatkan George Harrison ke dalam daftar urutan 11 sebagai salah satu gitaris terbaik sepanjang masa. George memang tak memberi banyak sumbangsih lagu dalam diskografi The Beatles. Tetapi dia berjasa melahirkan dan menulis lagu andalan seperti “Something”, “Taxman”, “Within You Without You”, dan “Here Comes the Sun”. Track “Something” dianggap menjadi lagu The Beatles kedua yang paling banyak dinyanyikan ulang setelah “Yesterday”.

Di medio dekade 90-an, George sempat didiagnosa menderita kanker. Kebiasaannya mengonsumsi rokok ditengarai jadi penyebab utama penyakit kankernya. Pada tahun 2001, George menjalani operasi untuk mengobati kanker di paru-parunya.

Namun, nyawanya sudah tak dapat lagi tertolong. George Harrison meninggal dunia pada 29 November 2001. Jenazah George dikremasi di Hollywood Forever Cemetery. Abunya disebar di sungai Gangga dan Yamuna, India, dengan upacara tradisi Hindu. Ia meninggalkan seorang anak, yang juga seorang musisi bernama Dhani Harrison, dari pernikahannya dengan Olivia Trinidad Arias.

Tak heran sampai ajal menjemput, ia abadi menyandang gelar ‘The Quite Beatle’. Walau kenyataannya statement itu sebenarnya pernah dibantah oleh sahabat sekaligus rekan band di supergrup Traveling Wilburys, Tom Petty. “Dia tak pernah diam. George adalah sosok teman paling menyenangkan yang pernah kau bayangkan,” ucap Tom Petty.

0 COMMENTS

Info Terkait

supericon
104 views
supericon
836 views
supericon
525 views
supericon
795 views
supericon
1693 views
supericon
1162 views