gerard way

Gerard Way: Frontman Emo Multitalenta

  • By: NND
  • Rabu, 22 April 2020
  • 8025 Views
  • 1 Likes
  • 1 Shares

Mulai aktif kembali dalam beberapa waktu kebelakang, nama Gerard Way yang tadinya besar di era 2000-an kembali naik ke radar musik global. Komik-komik apik dan adaptasinya menjadi serial Netflix, reuni band-nya My Chemical Romance (MCR), serta merilis single solo baru; aman dikatakan bahwa Gerard way is on his way back!

Selaku frontman karismatik grup MCR, Gerard Way adalah salah satu sosok yang mengantarkan musik emo dan punk ke ranah mainstream di era 2000-an. Aksinya dengan MCR di mulai pada paruh akhir tahun 2001, dan musiknya yang memadukan pop-punk, goth, dan emo mampu menjaring banyak pengikut serta mendorong nama mereka menjadi salah band paling besar di masa kejayaanya. Debut major label mereka hadir di tahun 2004 melalui album Three Cheers for Sweet Revenge, yang mampu jadi album berpredikat platinum. Lanjut, adalah album seminal The Black Parade di tahun 2006, yang kemudian digiring menjadi lebih “ringan” dalam narasinya di tahun 2010 dengan Danger Days: The True Lives of the Fabulous Killjoys. Album tersebut menjadi album terakhir yang dirilis oleh Gerard cs., yang kemudian hiatus di tahun 2013. Menjauh dari panggung, Gerard menyibukan dirinya melalui karir penulis komik untuk DC, meski masih memberi ruang untuk musik, di mana ia mampu membuka ruang untuk persona glam rock-nya di solo album pertama, Hesitant Alien (2014).

Merekam jejak, Gerard Way lahir pada tanggal 9 April, 1977 di Newark, New Jersey, Amerika Serikat. Neneknya, Elena (inspirasi besar dalam hits MCR, “Helena”) merupakan sosok yang penting dalam perkembangan kreatif seorang Gerard. Beliau memperkenalkan Gerard ke dunia tarik suara, menggambar, dan serta dunia performance;  dengan penampilan panggung pertamanya sebagai Peter Pan di drama sekolah sewaktu SD. Uniknya, Gerard kecil lebih memilih menggambar komik ketimbang masuk klab drama kala itu.

Masa kecilnya banyak dihabiskan di dalam rumah bersama sang adik (bassist MCR, Mikey Way) karena lingkungan tempat tinggalnya yang tidak aman. Hal tersebut memancing imajinasinya untuk menciptakan dunia khayalan sebagai pelarian, menjadi modal besar dalam karirnya sebagai komikus nanti. Tumbuh remaja, ia merupakan seorang yang canggung, berbeda dengan sang adik yang ramah dan mudah bergaul. Gerard lebih memilih menghabiskan waktu menyendiri, menggambar dan mendengarkan band-band seperti Iron Maiden, the Smiths, the Cure, the Misfits, dan Queen.

Gerard mendaftar masuk ke School of Visual Arts di New York untuk belajar ilustrasi dan menggambar kartun selepas tamat SMA. Ia juga sempat magang di DC Comics, dan setelah berhasil menjadi sarjana, ia merintis karir sebagai seorang desainer mainan dan animasi. Meski begitu, Gerard selalu ingin memulai band-nya sendiri semenjak sempat hadir dan menonton langsung gigs Smashing Pumpkins di tahun 1997 bersama Mikey. Walaupun sempat hilir mudik di beberapa band, barulah di tahun 2001 ia termotivasi untuk melakukan perubahan dalam hidupnya. Tragedi 911 di Amerika saat itu menjadi momen reflektif yang memacu perubahan secara ekstrem dari dalam dirinya sendiri. Darinya, lahirlah lagu pertama yang ia tulis, “Skylines and Turnstiles” yang mengisahkan tragedi tersebut.

Adanya urgensi baru dari dalam diri membuat Gerard semakin terpacu untuk mendirikan band-nya sendiri. Ia mengajak teman semasa SMA, Matt Pelissier dan Ray Toro (gitaris MCR) untuk bermain musik bersama. Embrio MCR pun mulai terbentuk saat itu. Gerard kemudian mendapuk adiknya sendiri untuk bermain bass, yang juga turut memberikan nama “My Chemical Romance” untuk grup baru mereka itu. Terakhir masuk ke dalam armada mereka, adalah gitaris kedua Frank Iero. Dengan begitu, lahirlah MCR. Tidak butuh waktu lama bagi mereka, tiga bulan setelah terbentuk, album debutnya langsung meluncur di tahun 2002 melalui label indie lokal, Eyeball Records, dengan bantuan produser Geoff Rickly dari grup Thursday—yang mana Gerard sempat menjadi desainer untuk kaos merch-nya.

Konsistensi musik dan panggung dari MCR menggiring popularitas yang terus meningkat stabil. Label major pun tertarik dengan MCR, dan album nomor dua mereka, Three Cheers for Sweet Revenge (yang cover-nya digambar sendiri oleh Gerard), dirilis via Reprise Records. Album tersebut berhasil menjadi breakthrough untuk gerombolan muda dengan musik yang “baru” ini.

Popularitas dan kesuksesan MCR yang kian meroket justru menjadi rintangan bagi Gerard. Ia terus berjuang melawan depresi, alkohol, dan ketergantungan narkoba atas meninggalnya sang nenek; sorotan media seakan memperburuk keadaan duka itu. Menulis lagu “Helena” diakuinya sebagai salah satu cara untuk melawan rasa depresi yang ada di dalam dirinya. Setelah perjuangan yang panjang, Gerard berhasil sober di pertengahan tahun 2004, dan di tahun 2006, MCR pun melanjutkan diskografi gemilang mereka dengan concept album kenamaannya, The Black Parade.

Di masa itu, Gerard tampil lebih bugar, dengan rambut pirang yang terasa kontras dengan pakaian-pakian berwarna hitam yang selalu ia gunakan. Perihal itu, Gerard mengaku tampilannya merupakan refleksi bawah sadar untuk memproyeksikan “karakter utama” di The Black Parade, serta tema yang diangkat melaluinya; yakni seputar kehidupan dan kematian.

Di tengah kesuksesannya dalam musik, Gerard tidak pernah meninggalkan kecintaannya terhadap seni rupa dan komik. Ia terjun kembali ke dalamnya, mulai menghasilkan sketsa-sketsa di waktu luang saat tur. Pada akhirnya, ia pun berhasil menciptakan sebuah serial komiknya sendiri bernama The Umbrella Academy yang kemudian tembus cetak pada tahun 2007 melalui Dark Horse Comics. Gerard menulis kisahnya, dipilah menjadi beberapa episode, dan mendesain karakter-karakternya secara seorang diri. Ia kemudian mempercayakan dua seniman lain untuk menggambarnya menjadi sebuah komik yang utuh. Sekarang, The Umbrella Academy sudah tayang di Netflix.

Tidak hanya meluncurkan komik, tahun 2007 menjadi salah satu tahun yang penting untuk Gerard Way. Pada bulan Maret, sang adik Mikey Way menikah, yang kemudian disusul oleh pertunangannya sendiri dengan Lyn-Z—bassist grup Mindless Self Indulgence. Gerard dan Lyn pun akhirnya menikah pada tahun yang sama. Tiga tahun setelah pernikahannya, My Chemical Romance kembali dengan album terakhir sebelum menyatakan hiatus; Danger Days: The True Lives of the Fabulous Killjoys rilis pada tahun 2010 bersama dengan sejumlah EP yang dijudulkan Conventional Weapons, menjadi materi-materi terakhir MCR sebelum akhirnya injak rem di tahun 2013.

Karier solo seorang Gerard Way dimulai pada tahun 2014 dengan merilis album Hesitant Alien, sebuah album yang kental dengan musik-musik glam rock. Hesitant Alien mampu mendarat di peringkat 16 dalam tangga lagu Billboard Top 200. Di tahun 2016, ia tengah mengerjakan komik Doom Patrol, serial komik baru yang akan diterbitkan oleh DC Comics. Tak hanya itu, ia juga didapuk menjadi co-author dalam komik Cave Carson Have a Cybernetic Eye bersama dengan Jon Rivera. Untuk mempromosikan proyek tersebut, ia bersatu dengan gitaris Ray Toro dan menulis lagu “Into The Cave We Wander,” yang rilis dalam format kaset dan beredar di Comic Con 2016. Tahun 2018 hadir dengan materi solo baru dari Gerard, yakni single bertajuk “Baby You’re a Haunted House” yang lebih pop, namun dengan bumbu noise dan distorsi gitar yang gurih.

Akhir 2019 kemarin, MCR resmi menyatakan reuninya. Konser reuni tersebut pun sudah digarap di The Shrine, Los Angeles, Amerika Serikat. Tak hanya konser reuni, tur reuni juga sudah masuk agenda. Naas, perkembangan pandemi Coronavirus mengharuskannya menunda tur tersebut sampai kondisi membaik. Di tengah masa swakarantina ini, Gerard Way juga hadir dengan beberapa materi solo baru. Ia merilis materi-materi tersebut melalui kanal Soundcloud pribadinya, baca selengkapnya di sini.

Tentu tahun 2020 ini menjadi sebuah halaman baru yang menyegarkan bagi Gerard Way dan keseluruhan keluarga My Chemical Romance. Sejauh ini, belum ada indikasi bahwa punggawa emo 2000-an itu akan merilis album baru, namun kabar reuni sudah cukup membahagiakan bagi para fansnya, bukan begitu? Pantau terus Gerard Way dan My Chemical Romance, hanya di SUPERMUSIC!

 
0 COMMENTS