Henry Rollins: The ‘Hardcore’ Frontman

  • By: OGP
  • Rabu, 28 February 2018
  • 1444 Views
  • 1 Likes
  • 1 Shares

I definitely learned a lesson this time. I know that I can be broken. I am not as tough as I thought. I see it now. At this point, it's the only thing good that came out of all of this. I know myself better now and know what I have to do.” – Henry Rollins

Jika ada sebuah tes tertulis tentang siapa band hardcore paling berpengaruh di orbit rock, maka dijamin nama Black Flag muncul jadi yang terdepan. Tak heran mengingat komplotan bengal ini begitu memiliki peran vital dalam pembentukan serta ekspansi kancah hardcore punk di segala penjutu dunia.

Selama perjalanan karier mereka di jagat punk rock, Black Flag merupakan satu dari sekian banyak band radikal yang lalu lalang berseliweran di kala itu. Bagaimana tidak? grup asal California itu kerap kali menyuarakan tema anti politik di dalam rangkaian materi-materi mereka, diselipi dengan terpaan isu-isu sosial dan personal seperti kemiskinan, paranoia hingga neurosis.

Formasi Black Flag tak pernah bertahan lama, dan cenderung berubah-ubah di tiap album. Bongkar pasang personel telah menjadi sebuah pemandangan lazim di kubu internal. Jabatan penting seperti vokalis, selalu berpindah layaknya tongkat estafet. Di posisi vital ini, sempat hadir beberapa nama vokalis cadas yang pernah menduduki kursi panas tersebut.

Meski demikian, di antara jajaran frontman yang pernah mengisi posisi vokal, tentu nama Henry Rollins adalah yang paling layak diperhitungkan. Berkat dirinya, Black Flag bertransfomasi menjadi sebuah raksasa di kancah hardcore punk. Dilahirkan dengan identitas asli Henry Lawrence Garfield di Washington D.C., pada 13 Februari 1961, sampai saat ini Henry Rollins masih sahih ditasbihkan sebagai ikon hardcore/punk rock sentral.

Kini selain dikenal sebagai eks vokalis Black Flag, Rollins juga merupakan seorang penulis dan aktor minor. Tumbuh kembang di sebuah pemukiman di Washington, D.C., sang ibu, Iris Garfield, bekerja di pemerintahan Amerika Serikat. Sementara itu ayahnya, Paul Garfield, adalah seorang ahli ekonomi. Ketika ia masih menginjak 3 tahun, orang tua Rollins memilih bercerai. Hak asuh Rollins pun jatuh ke Iris Garfield.

Lantas sang ibu mengenalkan Rollins dengan berbagai referensi buku-buku sebelum dirinya masuk sekolah. Ketertarikan pada dunia buku ini berlanjut hingga ke masa-masa ia mengenyam pendidikan sekolah. Seperti yang ia sering utarakan, “Di sekolah, aku tak benar-benar mempelajari matematika atau sains tapi aku menyukai literatur.” Beberapa penulis favoritnya di antaranya Ernest Hemingway, John Steinbeck, dan Truman Capote.

Secara musikal, Rollins tumbuh dengan mendengarkan beragam musik yang eklektik. Di masa remajanya Rollins perlahan mengenal musik klasik dan karya para dedengkot ranah jazz seperti Miles Davis dan John Coltrane, juga para pesohor rock seperti The Doors dan Black Sabbath.

Bersama karibnya yang juga vokalis Minor Threat dan Fugazi, Ian MacKaye, Rollins perlahan mulai memupuk sensibilitas musik punk-nya sedari remaja. Berbekal pengalaman mengunjungi pertunjukan dua band punk rock legendaris, The Clash dan Ramones, diakui jadi pengalaman yang takkan pernah terlupakan. Tekadnya kian bulat dan matang, serta takdir mulai mengarahkannya untuk menggilai punk di benaknya. Ia lalu sempat membentuk band punk State of Alert (S.O.A.), walau tak berusia lama.

Nasib mujur pun berpihak kepada Rollins. Kala itu pria bertubuh kekar yang sempat bekerja paruh waktu di sebuah toko es krim tersebut, mendatangi konser Black Flag di New York. Saat venue kian ‘panas’, lantas Rollins pun spontan melompat ke bibir panggung dan mengambil mic serta memandu acara bersama Black Flag.

Penampilan yang tak disengaja ini ternyata membawa berkah bagi Rollins. Greg Ginn selaku gitaris sekaligus founder Black Flag melayangan sebuah tawaran emas untuk Rollins, agar bersedia menduduki posisi vokal utama. Tanpa pikir panjang lagi, Rollins memutuskan berhenti bekerja dari toko es krim dan fokus berkarier bersama Black Flag.

Selama kurun waktu lima tahun, antara tahun 1981 sampai 1986, Rollins mampu membuktikan kapasitas dirinya sebagai ‘wajah’ kancah hardcore punk. Dengan tubuh kekar penuh tato, serta dipadu dengan aksi agresif di atas panggung, makin memantapkan hegemoni Rollins di jagat rock bawah tanah.

Bersama Black Flag, tak kurang ia telah menelurkan sebanyak enam album studio, di antaranya album debut legendaris Damaged (1981), My War (1984), Family Man (1984), Slip It In (1984), Loose Nut (1985), dan In My Head (1985). Sementara itu album live bertajuk Who’s Got the 10/12? (1986) jadi rekaman terakhir Rollins bersama Black Flag. Dedengkot hardcore punk itu akhirnya memutuskan bubar setelah terlibat tensi panas antar personel serta jadwal tur yang tanpa henti.

Lepas dari Black Flag, Henry Rollins kian produktif dengan menetaskan dua album solo, yakni Hot Animal Machine (1987) dan Drive by Shooting (1987) serta membentuk proyek baru bernama Rollins Band. Bersama band garapannya itu, ia merilis total tujuh album penuh rentang waktu belasan tahun berkiprah di belantika.

Jiwa Rollins bak seorang petualang. Dirinya takkan puas jika hanya berdiam diri saja, ia pun tergolong memiliki sisi idealisme yang tinggi. Menekuni minatnya di bidang literatur, dia pun mendirikan perusahaan penerbitan sekaligus rekaman sendiri, bernama 2.13.61, yang diambil dari tanggal lahir Rollins. Di sini ia menghasilkan serta mendistribusikan karya literatur dan musik miliknya.

Selain melakukan rekaman dan aktif menulis, Rollins mulai terjun ke ranah Hollywood. Dirinya sempat beradu akting di film Johnny Mnemonic (1995) bersama Keanu Reeves dan Heat (1995) dengan aktor gaek Al Pacino, hingga serial televisi Sons of Anarchy. Dia juga rutin melakukan tugas sebagai juru bicara handal. Rollins sempat diganjar penghargaan Grammy Award untuk kategori ‘Best Spoken Word Album’ pada tahun 1995 untuk karya ambisiusnya, Get in The Van: On the Road with Black Flag.

Rollins juga memandu sejumlah program televisi dan radio, seperti The Henry Rollins Show, MTV's 120 Minutes, dan Harmony in My Head.

Di luar hal-hal berkesenian, sosok Rollins juga dikenal sebagai aktivis sosial kenamaan. Ia sering terlibat dalam memperjuangkan hak-hak LGBT, melawan gizi buruk, hingga ikut gerakan perdamaian. Paras sangar seorang Henry Rollins ternyata tak menutup erat-erat segala bentuk kepeduliannya terhadap masalah-masalah sosial di muka bumi. Beberapa tahun lalu, Rollins secara terang-terangan memberikan dukungannya kepada Suriah, dengan mendukung penuh proyek kompilasi band-band punk di seluruh dunia yang bertajuk HARDCORE 4 SYRIA.

Henry Rollins memang sudah tak semuda dulu. Di usianya yang telah menginjak setengah abad lebih ini, ia tak meruntuhkan semangatnya dalam berkegiatan sosial dan musik sekaligus. Sebagai salah satu figur penting di kancah hardcore, ia menunjukkan bagaimana jiwa seorang ‘punk rocker sejati’.

Dilansir melalui wawancara di Billboard beberapa tahun lalu, ia mengungkap banyak hal tentang filosofi hidupnya. “Aku tak memiliki sejumlah pekerjaan lain yang dilakukan. Aku juga tak memiliki pacar, tak memiliki istri, dan tak memiliki kecanduan pada hal-hal lainnya. Aku memiliki banyak ambisi, aku memiliki banyak dendam, banyak rasa amarah yang keluar, tapi dengan cara yang keren.”

0 COMMENTS

Info Terkait

supericon
452 views
supericon
1217 views
supericon
1183 views
supericon
2622 views
supericon
1586 views