Ian Curtis: Menyelisik Potret Kelam Si Bintang Muram

  • By: OGP
  • Jumat, 6 July 2018
  • 2778 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Existence is.. well.. what does it matter? I exist on the best terms I can. The past is now part of my future. The present is well out of hand.” – Ian Curtis

Tanah Britania Raya seakan tak pernah henti menghasilkan eksponen-eksponen terbaiknya dalam orbit musik. Dari sekian banyak nama, Ian Curtis adalah salah satu dari ‘produk’ dari ranah rock yang paling dikenang. Kendati karier musikalnya tergolong singkat, tetapi siapa sangka pria puitis nan muram ini mampu memberikan dampak signifikan bagi kelangsungan kancah rock di masa depan.

Term rock n roll tak lagi seutuhnya penuh gelimangan duniawi. Ian lantas menenggalamkan rock n roll ke dalam dimensi paling pekat yang pernah ada. Isolasi, depresi, hingga alienasi, ia baur dan tuangkan ke dalam cetak biru musikal bersama Joy Division.

Tak seperti lazimnya kehidupan para rock star ‘slebor’, bilik kehidupan seorang Ian Curtis penuh kekangan dengan segala kerumitan. Namun di luar itu, tak ada yang menyangkal bahwa Ian Curtis adalah sosok jenius di bidang musik.

Ian Kevin Curtis lahir di sekitaran pemukiman Stretford, Lancashire, Inggris pada 15 Juli 1956. Sedari kecil, Ian merupakan seorang kutu buku dan anak yang cerdas. Kecintaannya pada dunia literatur dituangkannya ke dalam puisi. Tak ayal, benih-benih seorang penyair pun tumbuh berkembang di dalam dirinya. Beranjak usia remajanya, ia mulai menjejali subjek ‘berat’ seperti filsafat.

Ian Curtis remaja diam-diam mulai tertarik pada dunia musik. Ia begitu mengidolai musisi-musisi rock panutan sekaliber Jim Morrison dan David Bowie. Baginya, kedua musisi tersebut memiliki pengaruh kuat dalam hal berkeseniannya. Dari Morrison dan Bowie pula, vokal bariton muram khas Ian Curtis tercipta. Sisi sensitif Ian kian merekah seiring bergulirnya waktu.

Di masa-masa tersebut, Ian Curtis akhirnya memutuskan berhenti sekolah. Ia berusaha fokus mewujudkan cita-citanya di bidang seni, literatur dan musik tanpa campur tangan akademik. Bahkan Ian sempat bekerja paruh waktu sebagai penjaga toko musik, dan pegawai pemerintahan, walau pada akhirnya ia mantap memilih untuk mengundurkan diri. Pada 23 Agustus 1975, Ian menikah muda dengan teman semasa sekolahnya, Deborah. Kala itu umurnya masih tergolong hijau, yakni 19 tahun.

Perkenalan Ian dengan entitas rock layaknya sebuah takdir. Kehidupan ‘normal’ Ian berubah 180 derajat, saat ia menonton konser Sex Pistols pada 1976, di Lesser Free Trade Hall, Manchester. Di tengah-tengah hiruk pikuk crowd, ia bertemu dengan Bernard Sumner dan Peter Hook. Tanpa berpikir panjang, Ian lantas mengajukan diri menjadi vokalis kepada mereka, setelah mereka membuka audisi band baru. Ian begitu terinspirasi dan terpacu oleh revolusi punk yang kian menggaung di dataran Britania kala itu.

Singkat kata, band amatir bernama Warsaw pun lahir (nama band diambil dari salah satu lagu milik David Bowie). Namun malangnya nama band ini telah lebih dulu digunakan oleh band antah berantah lainnya. Lalu Ian akhirnya mengusulkan nama grupnya menjadi Joy Division, yang terinspirasi dari cerita fiksi dalam sebuah novel bertema Nazi, The House of Dolls (1955), karangan Yehiel De-Nur. Diceritakan dalam novel bahwa Joy Division merupakan sekelompok perempuan Yahudi yang ditahan di kamp dan disimpan untuk menjadi budak seksual para tentara Nazi.

Meski tergolong masih baru di ranah musik, bakat dan potensi Ian Curtis dkk mulai perlahan terendus, kendati baru pertama sekali merilis album mini, An Ideal for Living (1978). Joy Division berhasil menarik atensi musik produser eksentrik, Tony Wilson, yang kala itu baru saja mendirikan label Factory Records.

Pada akhirnya, Joy Division memutuskan untuk berada di bawah naungan Factory, demi melebarkan sayap mereka di belantika. September 1978,  Joy Division tampil perdana di program musik So It Goes, di saluran televisi Granada, yang dipandu oleh Wilson sendiri. Mereka membawakan lagu “Shadowplay”, dan tak disangka-sangka setelah tampil di televisi, nama Joy Division mulai jadi buah bibir di publik kancah punk Inggris.

Selang setahun kemudian, Joy Division menelurkan magnum opus bertajuk Unknown Pleasures. Album ini diklaim sebagai salah satu album studio debut terbaik di generasinya. Bahkan pengamat musik Jon Savage dari Melody Maker mendeskripsikan album ini sebagai ‘manifesto buram’. Unknown Pleasures bukan sembarang album musikal, melainkan representasi dari sisi emosional kelam yang Ian rasakan di sekelilingnya. Setelah melepas mahakarya tersebut, Joy Division kembali menelurkan album sophomore bertajuk Closer (1980).

Ian Curtis mempunyai sisi gelap namun jenius. Lirik-lirik powerful yang ia rangkai menggambarkan bagaimana keadaan gundah emosi melanda dirinya. Tema-tema tabu seperti isolasi, kematian, dan keterasingan berasal dari literatur-literatur favorit yang dibacanya. Seperti karya-karya klasik milik W.S Burroughs dan J.G Ballard. Seorang penulis lirik tentu paham menarasikan makna-makna tersirat di balik larik yang ditulis. Ian memiliki kepribadian yang cenderung fluktuatif, dia bisa menunjukkan sisi yang berbeda pada waktu yang bersamaan.

Berada di puncak karier ternyata tak semudah yang dibayangkan Ian. Ironisnya, ia makin tenggelam dalam pekat yang ia ciptakan di benaknya. Masalah hidup tak kunjung padam. Ian harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya didiagnosis mengidap epilepsi. Kambuhnya kejang-kejang mengharuskannya meminum obat secara konstan, dan secara tak langsung membuat mood-nya  mudah berubah dengan drastis.

Kadang akibat dampak penyakit yang dideritanya itu, membuat Joy Division tak mampu melanjutkan performa mereka di atas panggung. Terhitung beberapa kali konser terpaksa dibatalkan karena kondisi memprihatinkan Ian. Epilepsi yang menggerogotinya akhirnya menjadi inspirasi dalam single berjudul “She’s Lost Control”.

Hal ini belum lagi ditambah dengan masalah kehidupan pribadi yang menghampirinya. Kelahiran putri pertamanya ternyata tak mampu menguatkan mentalnya. Pelariannya kini berujung ke pelukan wanita lain. Menurut penuturan sang istri, Ian diam-diam sempat melakukan perselingkuhan dengan seorang jurnalis musik, Annik Honore, ketika Joy Division menggelar konser di negeri Belgia kala itu. Kehidupan pribadinya mulai terusik. Ian Curtis lantas menuangkan kisah cinta segitiganya tersebut ke dalam single kelam tapi ikonis berjudul “Love Will Tear Us Apart”.

Ian Curtis terakhir kali tampil bersama Joy Division pada 2 Mei 1980, kala menggelar konser di Birmingham University. Saat itu ia membawakan lagu “Ceremony” serta “Digital” sebagai lagu persembahan terakhirnya.

Akumulasi dari depresi itu mulai perlahan mengganggu mental Ian Curtis. Tepat pada 18 Mei 1980, dua bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-24, Ian memutuskan bunuh diri dengan gantung diri di rumahnya yang berlokasi di pemukiman Barton Street, Macclesfield, Inggris. Ian mengeratkan tali mesin cuci ke lehernya di dapur rumah.

Sebelum tewas mengenaskan, Ian dikabarkan sempat mendengarkan karya Iggy Pop bertajuk The Idiot dan menonton film Stroszek (1977), serta merangkai indah surat panjang untuk sang istri. Tubuh tak bernyawanya pun ditemukan Deborah sekembalinya pulang ke rumah. Sehari sebelum Ian bunuh diri, mereka terlibat pertengkaran sengit, karena Deborah tengah memproses gugatan cerai.

Jasad Ian dikremasi dan abunya dikubur dalam makam. Sebagai tanda cinta dan bentuk penghormatan, batu nisannya bertuliskan “Love Will Tear Us Apart” terpampang di tempat persinggahan terakhirnya.

Ian Curtis memang telah tiada. Namun warisan yang ditinggalkannya tak berhenti sampai disitu. Band-band baru seperti The Cure, Depeche Mode, Nine Inch Nails, hingga Radiohead menjadikan sisi kelam Ian Curtis sebagai sumber inspirasi. Berlanjut ke dekade-dekade setelahnya, sejumlah revivalis post-punk seperti Interpol dan Editors pun menempatkan Ian sebagai panutan.

Perjalanan Joy Divison belum sepenuhnya berakhir. Trio anggota yang tersisa, yakni Bernard Sumner, Peter Hook, dan Stephen Morris membentuk aliansi baru bernama New Order. Tak jauh berbeda dengan Joy Division, mereka tetap mengusung post-punk tetapi dengan sentuhan elektronik yang kentara, dan kelak menjadi garda depan genre new wave. New Order mempersembahan lagu tribute berjudul “Elegia” yang ditujukan untuk sang eks vokalis.

Lika-liku pelik kisah Ian Curtis sempat diadaptasi ke layar lebar. Salah satunya adalah 24 Hour Party People (2002) garapan Michael Winterbottom, dan film biopik epik berjudul Control (2007) garapan Anton Corbijn. Sosok Ian pada film Control diperankan oleh aktor berkebangsaan Inggris, Sam Riley.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
324 views
superbuzz
1076 views
superbuzz
429 views
supericon
677 views
superbuzz
877 views