IGGY POP: The Godfather of Punk

  • By: EA
  • Kamis, 20 April 2017
  • 5453 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Magnet rock n’ roll buat seorang penggemar musik adalah hasil daya tarik perkawinan elemen primal dan sensual. Cuma bisa dirasakan setelah dihantam gelombang distorsi dan gempuran ritme yang membawa ke teritori ekstrem baru yang selalu menantang. Lalu ada faktor adiksi krusial yang tidak akan didapatkan ketika mendengarkan musik lain: esensi kebebasan dan pemberontakan. Di alam semesta rock n’ roll, tidak ada yang mewakili kedua faktor tadi dengan utuh dan sempurna selain Iggy Pop.

Tanpa Iggy Pop, mungkin kita sekarang akan memandang lanskap musik rock n’ roll modern yang datar, kering, dan membosankan. Walaupun sudah ada Jim Morrison atau agen provokator Dionysian lain dari generasi sebelumnya, yang mendobrak banyak batasan tabu, tapi tidak ada yang melakukannya seliar Iggy. Dan belum ada lagi yang menyamai tingkat kegilaannya sampai sekarang.

Lahir dengan nama James Newell Osterberg Jr. di Kota Detroit, Michigan tanggal 21 April 1947. Iggy (atau Jim, panggilan akrabnya) besar di sebuah trailer dari keluarga kecil (sebagai anak tunggal) yang hangat dan orang tua yang mendukung kegiatan bermusiknya. Semasa SMA ia tergabung dalam band lokal The Iguana sebagai drummer. Nama Iggy diambil dari nama band pertamanya tersebut yang memainkan blues cover dari Bo Diddley dan Muddy Waters. Selepas SMA ia mendaftar sebagai mahasiswa University of Michigan, walaupun akhirnya drop-out setelah hanya beberapa bulan, untuk memulai perjalanan keramatnya mempelajari musik blues ke Kota Chicago.

Sekembalinya dari Chicago tahun 1967, ia membentuk The Psychedelic Stooges bersama teman kecilnya, kakak beradik Ron dan Scott Asheton di gitar dan drum. Lalu ada Dave Alexander pada bass. Terinspirasi penampilan Jim Morrison bersama The Doors yang liar dan ekstrem, Jim langsung membentuk persona Iggy Pop yang lebih primal dan antagonis, siap memprovokasi penonton di setiap penampilannya. Dibantu substansi upper/ downer, Iggy mendorong batas ekstrem dengan terjun ke penonton (aksi stage dive pertama kali dilakukan), terlibat baku hantam dengan penonton dan sesama personel, bahkan ke level masochist dengan menyayat tubuhnya dengan pecahan gelas/kaca dan melumuri dirinya dengan selai kacang.

Di sirkuit band lokal Detroit, The Stooges langsung menjadi sorotan karena blues primitif yang dimainkan, juga aksi panggung Iggy yang lepas kontrol dan tak terduga. Sepak terjangnya langsung menarik perhatian MC5, band lokal yang lebih senior dan tidak kalah rusuh. Dimanajeri oleh seorang aktivis politik counter-culture bernama John Sinclair, MC5 langsung merangkul The Stooges untuk ikut direkrut oleh label Elektra Records pada saat penandatanganan kontrak di tahun 1968. Setahun kemudian, debut album The Stooges yang diproduseri musisi avant-garde John Cale (eks Velvet Underground) dirilis.

Setelah melalui serangkaian tur kecil penuh kegilaan, The Stooges merilis album keduanya, Fun House, di tahun 1970. Walaupun meraih perhatian fans dan publik musik, tapi kedua album awal ini amblas di pasaran. Di periode ini, Iggy sempat pacaran singkat dengan Nico (penyanyi/eks kolaborator Velvet Underground) yang juga memperkenalkan heroin. Bisa ditebak, setelah titik ini semua personel The Stooges langsung menjadi junkie total, yang mengabdikan hidupnya untuk tenggelam dalam limbo narkotik. Semua kegiatan bermusik terhenti. Peralatan digadaikan. Sebagai frontman, Iggy jadi korban klise paling parah yang berujung pada bubarnya The Stooges untuk pertama kali.

Di tahun 1972, dewa penyelamat datang dalam wujud seorang David Bowie. Sebagai penggemar berat dua album pertama, ia ingin memproduseri album The Stooges berikutnya. Bowie memboyong Iggy dan The Stooges ke London untuk merekam album ke-3 berjudul Raw Power yang dirilis Februari 1973.

Album ini terbukti jadi album klasik visioner, melompat jauh dari era awal dekade 70-an yang dipenuhi dengan glam rock kemayu, rock progresif rumit, dan dinosaurus stadium rock seperti The Rolling Stones dan Pink Floyd. Walaupun tidak laku di pasaran, Raw Power jadi blueprint untuk generasi baru yang menggunakannya sebagai bahan bakar melahirkan punk rock dua tahun kemudian. 

Setelah The Stooges kembali rontok di tahun 1974, Iggy masuk rehab dan bahkan sempat dirawat di institusi mental UCLA. David Bowie kembali jadi juru selamat, mengajak Iggy untuk membuat album solo pertamanya di Berlin. Hasil kolaborasi ini (bersama produser Tony Visconti) melahirkan dua album yang menjadi titik terpenting dalam karir Iggy Pop: The Idiot dan Lust For Life, yang dirilis hanya berjarak beberapa bulan satu sama lain di tahun 1977.

Kental dengan dinginnya elemen elektronik dan krautrock, dua album itu menampilkan personifikasi Iggy yang lebih artistik dan gelap. Bersenjatakan single seperti “Sister Midnight”, “Nightclubbing”, dan “China Girl” dari The Idiot, serta “The Passengers”, “Lust For Life”, dan “Turn Blue” dari album Lust For Life membawa nama Iggy Pop menjadi figur artis paling berpengaruh yang membangun pondasi berbagai subgenre mulai dari punk rock, post-punk, gothic, sampai new wave dan heavy metal.

Selepas era tersebut, Iggy melanjutkan perjalanan musikalnya dengan merilis album demi album dengan level artistik dan komersial bervariasi sepanjang sisa dekade 70-an dan pertengahan 80-an. Setelah merilis Zombie Birdhouse (1982), ia terus tenggelam dalam adiksi heroin sampai akhirnya membersihkan diri dan merilis album Blah Blah Blah, album terlaris dalam kariernya dengan single andalan “Real Wild Child” tahun 1986.

Kembali diproduseri Bowie, album ini menyelamatkan kondisi finansial Iggy. Di titik ini, namanya sudah menjadi bukti solid legenda (punk) rock dengan karisma sekelas Ozzy Osbourne atau Frank Zappa, dimana performa panggungnya selalu konstan dengan energi serta aksi impulsif melampaui batas ekstrem. Cedera fisik, berdarah, stage-dive, dan mengekspos kemaluannya sudah menjadi trademark. Menghadiri konser Iggy seperti menjadi ritual pembaptisan dari The Godfather of Punk buat yang menonton.

Tahun 1990, Iggy merilis album penting Brick By Brick dibantu Slash dan Duff McKagan (Guns N’ Roses), dengan single andalan “Candy” (berduet dengan Kate Person dari B-52s) yang menembus chart Top 40 berbagai negara. Sepanjang dekade 90-an, Iggy juga sering terlibat banyak produksi sinema, baik sebagai pengisi soundtrack atau sebagai aktor. Mulai dari cameo di film Cry Baby (1991), Dead Man (1994), Tank Girl (1995) dan The Crow-City of Angels (1996). Tapi secara ironis, yang kembali melambungkan namanya adalah justru lagu lama “Lust For Life” yang ada di film Trainspotting, film tentang kehidupan junkie di Skotlandia karya sutradara Danny Boyle yang meledak tahun 1996. Sementara album demi album juga dirilis dengan karakter berbeda.

Sampai dirilisnya album Skull Ring tahun 2003, dimana Iggy berkolaborasi dengan beberapa musisi muda seperti Sum 41, Peaches, dan Green Day. Tapi yang spesial, di album ini juga hadir Ron dan Scott Asheton berkolaborasi di beberapa lagu. Kolaborasi ini yang akhirnya menyatukan The Stooges reuni di tahun 2004 dan melakukan tur dengan respons sukses besar dari penggemar dan kritikus.

Aktivitas tur berlanjut ke rekaman materi baru The Stooges yang dirilis lewat album The Weirdness tahun 2007. Diproduseri penggemar fanatik mereka, produser tersohor Steve Albini, album ini mendapat mayoritas respons negatif karena dianggap hanya mengulang formula lama The Stooges. Setelah kematian Ron Asheton pada 2009, The Stooges masih merilis album Ready To Die (2013) sebelum akhirnya Scott Asheton juga wafat di tahun 2014.

Eksistensi Iggy Pop masih relevan sampai sekarang sebagai musisi yang total dan tanpa batas. Walaupun formula punk rock didaur berulang kali, belum ada yang intensitas dan keliarannya menyamai momen-momen penting Iggy Pop bersama The Stooges atau sebagai artis solo. Namanya masih menjadi jaminan buat musisi generasi sekarang yang ingin menginjeksi percikan keliaran dan kegilaan Iggy dalam repertoar musik mereka. Album solo Iggy terakhir, Post Pop Depression (2016), masih menyimpan energi setara dengan musisi muda yang membantunya di album itu. Diantaranya Josh Homme dan Dean Fertita dari Queens of the Stone Age, serta Matt Helders dari Arctic Monkeys. Beruntunglah generasi kita masih punya Iggy Pop sebagai kiblat dan titik referensi bagaimana memainkan musik rock dengan totalitas maksimal.

 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
254 views
superbuzz
823 views
superbuzz
405 views
superbuzz
845 views