Iwa K

Iwa K: The Grandmaster of Indonesian Hip-Hop

  • By: YAS
  • Kamis, 5 September 2019
  • 95 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Berbicara soal perjalanan panjang sejarah perkembangan musik hip-hop dan rap di Indonesia, semua orang tentu setuju bila menyebut nama Iwa K sebagai salah satu pelaku terpenting. Iwa K dan hip-hop Indonesia adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan.

Iwa Kusuma lahir di Bandung pada 25 Oktober 1970. Meski kini sudah menginjak usia 49 tahun, dengan hebat namanya masih terus relevan di dunia hip-hop Indonesia dari dekade 80-an hingga hari ini.

Ia memulai semuanya di tahun 1984. Saat usianya baru berusia 14 tahun, ia begitu keranjingan dengan breakdance. Tari kejang dianggapnya sebagai media paling jujur untuk berkreasi karena gerakannya yang begitu groovy dan dinamis.

Hidup di kota besar seperti Bandung, membuat masa remaja Iwa cukup berwarna. Saat itu, ia mengaku cukup rajin bolak-balik toko kaset hanya untuk sekedar mencari tahu rilisan dan album terbaru sekaligus update referensi dari para musisi hip-hop favoritnya. Nama-nama itu diantaranya adalah Run DMC, Public Enemy, LL Cool J, hingga Afrika Bambaataa dan X-Clan.

Di tahun 1989, Iwa berkenalan dengan para personil Guest Band. Di titik ini, ia untuk pertama kalinya merasakan masuk dapur rekaman untuk mengisi beberapa bagian rap di lagu Guest Band. Bakatnya kian teruji dari hari ke hari. Hingga di tahun 1993, dengan percaya diri Iwa melabeli dirinya sebagai rapper melalui album penuh pertamanya yang bertajuk Kuingin Kembali.

Peluncuran album ini punya cerita tentang perdebatan panjang antara Iwa dengan labelnya kala itu, Musica Studio. Iwa yang masih belia menolak untuk menampilkan fotonya sama sekali di dalam album, sedangkan pihak label ngotot untuk menampilkan fotonya. Akhirnya jalan tengah di tempuh, satu foto Iwa tersedia di bagian dalam.

Di tahun-tahun ini, Iwa mengakui ia memang melakukan banyak kompromi ke beberapa pihak hanya agar karyanya bisa lebih diterima. Seperti di album Kuingin Kembali yang pendekatannya dibuat sedikit lebih pop, Iwa ternyata ditawari untuk menjalani tur keliling Indonesia mulai berdatangan. Selang setahun kemudian, di tahun 1994 Iwa mulai meraih sukses besar dan menyadari ia bisa hidup lewat musik hip-hop dan rap.

Album Topeng, yang memuat hits-hits legendaris seperti “Bebas,” “Topeng,” “Biarkan,” “Tikus Got” dan “Sabda Alam” mulai mengisi ruang-ruang tongkrongan generasi 90-an. Bahkan, lagu “Bebas” didapuk sebagai salah satu dari 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi majalah Rolling Stone Indonesia.

Bola salju yang terus bergulir membuat popularitas Iwa semakin mentereng. Namanya sering berseliweran di media massa kala itu. Hingga album ketiga yang dinamai Kramotak! rilisan tahun 1996 dan album keempat, Mesin Imajinasi di tahun 1998, masih meraih sukses yang sama.

Setelahnya, Iwa mulai menerima tawaran-tawaran pekerjaan baru. Dari presenter acara sepakbola, hingga menjadi pemain sinetron layar lebar. Ajang bergengsi macam Panasonic Award pernah mencatatkan namanya sebagai pembawa acara olahraga pria terbaik sebanyak tiga kali dari tahun 1998 sampai 2000, dan kehadirannya di sinetron Bung Jenderal dan film Kuldesak di tahun 1998 juga disambut baik oleh publik.

Sebelum memutuskan menghilang sementara waktu dari dunia musik karena kesibukannya, Iwa sempat merilis album Vini Vidi Vunky pada tahun 2002. Di sini Iwa resmi berpisah dengan label Musica Studio dan bergabung dengan pihak Guest Studio.

Kehidupan personalnya mulai mendapat sorotan tajam saat Iwa memutuskan menikahi Selfi Nafilah, salah satu jebolan ajang Kontes Dangdut Indonesia (KDI) di tahun 2007. Ia bersama istrinya membentuk sebuah grup musik eksperimental yang mencampurkan musik rap dangdut, diberi nama Yin Yang. Yin Yang sempat melahirkan satu buah album berjudul Yang Tak Terpisahkan. Pernikahan Iwa dengan Selfi juga hanya berumur pendek, mereka memutuskan untuk berpisah pada tahun 2013.

Tak lama setelah proses perceraiannya, Iwa tidak mau lama-lama terpuruk. Masih di tahun yang sama, ia kembali ke layar lebar lewat kepiawaiannya berakting. Iwa membintangi beberapa film sekaligus, diantaranya adalah Tak Sempurna dan Coboy Junior the Movie.

Satu tahun kemudian Iwa menjajal kembali dunia musik yang dulu membesarkan namanya. Sebuah mini album berjudul Living in the Fast Lane dirilis di tahun 2014. Lagu “Living in the Fast Lane” saat itu dijadikan soundtrack National Basketball League (NBL) Indonesia.

Karir Iwa yang semestinya mulai merambat naik lagi, harus tersandung batu besar di tahun 2017. Ia kedapatan membawa narkoba dan menjadi perbincangan besar kala itu. Iwa akhirnya harus menjalani masa rehabilitasi selama enam bulan.

Beruntungnya ia memiliki teman-teman musisi yang selalu memberikan sokongan moral, dari grup rap Sweet Martabak, NEO, Igor ‘Saykoji’ sampai Yacko terus menyuntikkan semangat untuk Iwa hingga ia bebas pada 29 Oktober 2017.

Tahun lalu, Iwa merayakan perjalanan karirnya yang memasuki usia 25 tahun dalam sebuah konser tunggal bertajuk Batman Kasarung yang digelar pada 4 Maret 2018 di The Pallas, SCBD, Jakarta. Perlahan kemudian namanya pulih dan bangkit lagi. Kini Iwa mulai terlihat lagi di panggung-panggung musik nasional. Dirinya kini dipercaya sebagai salah satu juri di kompetisi hip hop. Nama "Iwa K" dan "Hip Hop Indonesia" memang tak akan pernah bisa dipisahkan.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
237 views
superbuzz
154 views
superbuzz
165 views
superbuzz
167 views
superbuzz
230 views

Balada Latin Ala Elkarmoya

superbuzz
213 views