Janis Joplin: The First Lady Rocker

  • By: OGP
  • Rabu, 19 September 2018
  • 426 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Di masa awal kemunculan rock n’ roll, tak bisa dipungkiri bahwa peran kaum adam masih dianggap paling dominan. Namun seiring berjalannya waktu, sederet musisi-musisi wanita berpengaruh pun mulai bermunculan di jagat musik. Sebut saja nama-nama diva antik seperti Billie Holiday, Ella Fitzgerald, sampai Etta James. Kehadiran mereka tentu bagai oase di tengah-tengah gurun di antara hegemoni musisi pria.  

Berbicara soal musik rock dekade 60-an, tak sah rasanya jika tak memasukkan nama Janis Joplin di dalamnya. Kendati di era ‘summer of love’ ini memunculkan beragam mega bintang seperti Jimi Hendrix, The Grateful Dead, Jefferson Airplane dan Santana, Joplin tetap dianggap sebagai sosok vital di dalam penyebaran musik penuh kebebasan dan cinta tersebut. Musisi multi-instrumentalis eksentrik ini dikenal juga sebagai ‘The Queen of Psychedelic Soul’. Beragam kisah menarik dan kontroversial sempat hinggap di dalam lika-liku kehidupannya.

Janis Lyn Joplin lahir pada 19 Januari 1943, di Port Arthur, Texas, AS. Ia merupakan putri dari pasangan Seth Ward Joplin dam Dorothy Bonita East. Cikal bakal potensi musik Joplin perlahan terlihat manakala ia sering ikut menyumbangkan nyanyian gospel di gereja tempat lingkungannya berada.

Mengenyam pendidikan di Jefferson High School, jiwa pemberontak Joplin mulai perlahan muncul di dalam dirinya. Di masa remajanya tersebut, Joplin dikenal sebagai pelajar yang bandel. Namun efek pubertas mulai mempengaruhi fisiknya, wajahnya bermunculan jerawat dan sedikit mengalami kelebihan berat badan. Tak ayal ia pun jadi target bullying bagi sebagian teman-teman semasa sekolahnya. Joplin pernah berkata, “Aku dulunya anak yang canggung. Aku senang membaca dan melukis. Aku tak membenci orang berkulit hitam.”

Sewaktu pencarian masa jati dirinya, ia berteman akrab dengan sekelompok berandalan di sekolahnya menimba ilmu. Para berandalan ini lalu memperkenalkannya karya-karya milik musisi blues semacam Bessie Smith dan Leadbelly. Kedua musisi tersebut kelak menjadi inspirasi bagi Joplin untuk menjadi seorang penyanyi. Di masa sekolahnya, Joplin senang dengan kegiatan melukis, dan kerap menyanyikan tembang blues dan folk bersama teman-temannya di waktu senggang.

Setelah  lulus sekolah menengah, Joplin sempat melanjutkan kuliah walau pada akhirnya tak sampai tamat. Mulai dari masa tersebut Joplin memutuskan untuk fokus terjun berkarier di belantika musik. Janis Joplin sempat merekam karya pertamanya, “What Good Can Drinkin’ Do” dalam format kaset.

Janis Joplin merantau ke San Francisco pada 1963, tinggal di kawasan ‘hippie’ Haight-Ashbury. Pindah ke lingkungan baru membuat Joplin makin tenggelam akan kegemarannya terhadap heroin. Selain itu ia juga dikenal gemar mengonsumsi minuman beralkohol. Beberapa kali ia manggung di beberapa gig kecil, meski pada akhirnya karier musiknya tak langsung menerima tanggapan positif.

Bersama gitaris Jorma Kaukonen (Jefferson Airplane), ia berhasil menghasilkan enam materi blues, yakni “Typewriter Talk”, “Trouble In Mind”,  “Kansas City Blues”, “Hesitation Blues”, “Nobody Knows You When You're Down And Out”, “Daddy, Daddy, Daddy”, dan “Long Black Train Blues”. Keenam lagu tersebut nantinya rilis dalam versi album bootleg, The Typewriter Tape.

Pada tahun 1966, Janis Joplin memutuskan bergabung dengan Big Brother and the Holding Company, sebuah band yang cukup tenar di kalangan hippie di sekitaran Haight-Ashbury. Ia direkrut oleh Travis Rivers dalam sebuah audisi. Saat itu Big Brother and the Holding Company dihuni oleh James Gurley, Peter Albin, Dave Getz, dan Sam Andrew. Band sejawat yang tengah naik daun di kancah psychedelic/blues kala itu adalah The Grateful Dead.

Tak lama kemudian Janis Joplin dan Big Brother and the Holding Company bergabung ke label independen Mainstream Records serta sukses melepas album debut berjudul sama dengan nama band. Di masa awal dengan Big Brother, ia hanya mendapat porsi minim dengan menyanyikan sedikit lagu dan mendendangkan tamborin. Tetapi kesuksesan masif mulai direngkuh Joplin setelah tampil pada Monterey Pop Festival di tahun 1967. Festival musik legendaris ini juga menampil beragam band/musisi kenamaan seperti Jefferson Airplane, The Who, The Grateful Dead, sampai Jimi Hendrix.

Big Brother and the Holding Company memainkan beberapa track andalan, termasuk membawakan ulang tembang klasik “Ball and Chain” dari legenda r&b Big Mama Thornton. Yang menjadi magnet dari penampilan Big Brother adalah gaya vokal Joplin yang begitu mengesankan dan berbeda dengan penyanyi-penyanyi wanita kala itu. Pujian banyak dialamatkan langsung kepada Joplin lantararan gaya bernyanyinya yang terkesan bebas dan slengean. Puluhan ribu penonton yang hadir dibuat terkesima oleh penampilan yang ia suguhkan.

Tak lama setelah dibuat terpukau oleh penampilan magis Janis Joplin di Monterey Pop Festival, direktur Columbia Records, Clive Davis langsung melirik Big Brother. Setelah melepas album kedua Cheap Thrills di bawah naungan Columbia, Joplin akhirnya memutuskan hengkang dari band yang membesarkan namanya tersebut. Ia merasa frustrasi berada di bawah tekanan label yang menaunginya.

Pasca keluar dari Big Brother, Joplin membentuk support band bernama Kozmic Blues Band. Bersama Kozmic, Joplin berhasil menelurkan album debut I Got Dem Ol' Kozmic Blues Again Mama! (1969). Di tahun yang sama, wanita bersuara unik ini tampil menjadi salah satu headliner di festival musik legendaris, Woodstock. Masih tak puas dengan band pendukungnya, ia pun lantas membubarkannya dan membentuk lagi band The Full Tilt Boogie Band serta menetaskan album terakhir Pearl. Album ini menjadi karya terlarisnya selama Joplin berkarier dan turut menghasilkan single andalan “Me and Bobby McGee”.

Namun takdir berkata lain. Pada prosesi rekaman album Pearl di tahun 1970, Janis Joplin dinyatakan meninggal dunia di Motor Hotel, Hollywood, tempat di mana ia tinggal, pada 4 Oktober 1970 dalam usia 27 tahun akibat dari overdosis heroin. Kematiannya pun hanya berselang sebulan sebelum Jimi Hendrix mangkat pada 18 September 1970. Ia pun akhirnya bergabung ke dalam daftar keramat ’27 Club’ bersama musisi-musisi yang meninggal di usia 27. Jasad Joplin dikremasi di Westwood, California dan abunya disebar ke lautan Pasifik.

Janis Joplin merupakan satu dari sekian solois langka yang ada di jagat musik. Mungkin kita takkan pernah lagi mendengar bakat hebat dan seorisinal dirinya. Penampilan memukaunya di Monterey Pop Festival dan Woodstock begitu membekas hingga saat ini di hati kalangan penikmat musik. Beragam penghargaan telah diraihnya meski hanya tergolong singkat berkarier di lanskap musik. Di tahun 1995, Joplin dilantik Rock and Roll Hall of Fame. Selain itu berkat sisi unik musikalnya, Janis Joplin menempati posisi urut ke-28 dalam ‘100 Greatest Singers of All Time’ versi Rolling Stone.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
122 views
superbuzz
248 views
superbuzz
387 views
superbuzz
220 views
superbuzz
499 views