Jim Morrison: Menyusuri Jejak Misteri Si Pujangga Rock Terakhir

  • By: OGP
  • Sabtu, 31 March 2018
  • 5434 Views
  • 3 Likes
  • 5 Shares

“Aku menggambarkan diriku sebagai komet besar yang menyala-nyala, sang bintang jatuh. Semua orang berhenti sejenak, menunjuk ke atas, dan menghela nafas: ‘Oh, lihatlah itu!’ Kemudian, wusss… dan aku pun lenyap. Dan mereka tak akan pernah melihat lagi hal seperti itu. Dan mereka tak akan pernah bisa melupakanku, selamanya.”

– Jim Morrison

Nama Jim Morrison adalah salah satu dari sekian banyak frontman kancah rock paling tersohor. Kendati telah lebih dari empat dekade tiada, pria rupawan nan urakan itu masih sahih dianggap sebagai simbol rock abadi. Ia dikenal sukses memadukan elemen-elemen musik, puisi, drama, dan aksi teatrikal liar.

Bersama The Doors, Jim Morrison merengkuh kesuksesan masif. Penjualan rilisan fisik yang meledak, serta menjadi sosok pria yang digilai kaum hawa. Kredo ‘Sex, Drugs, and Rock n Roll’ pun bersemayam di dalam dirinya. Beragam kisah dan kontroversi pun sempat singgah mengitari lika-liku kehidupannya. Tak pelak ia pun bertransformasi menjadi representasi akan kebebasan dan pemberontakan yang nyata.

Terlahir dengan nama James Douglas Morrison, ‘The Lizard King’ menghabiskan masa kecilnya di areal Albuquerque, New Mexico, AS. Masa remajanya dihabiskan dengan berpindah-pindah hunian, lantaran ia adalah putra seorang Angkatan Laut. Beranjak masa puber, Morrison mengenyam pendidikan di UCLA. Ia memutuskan untuk mengambil jurusan sinematografi, yang kelak akan mempertemukannya dengan rekan seband, Ray Manzarek.

Di fase ini, dirinya perlahan tumbuh menjadi remaja berkepribadian ganda yang fluktuatif. Di sisi ‘putih’ dia adalah sosok yang cerdas, sopan, dan mempunyai daya tarik luar biasa. Tapi di sisi ‘hitam’, Morrison merupakan sosok bengal, kasar, dan tanpa kompromi kepada siapapun. Di relung batin Morrison masih menyisakan sekelumit misteri pada dirinya.

Morrison mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Ia menuangkan hobinya dengan mengonsumsi sastra-sastra klasik milik Nietzsche, Jean Paul Sartre, Franz Kafka hingga William Blake. Morrison juga seorang penggila puisi. Tak heran, di dalam karya-karya The Doors memaparkan buah pikirannya akan refleksi kehidupan yang telah dilaluinya.

Takdir telah ditentukan. Morrison dan Manzarek sepakat untuk membentuk sebuah grup rock. Band yang dinamakannya The Doors itu terinspirasi dari penggalan bait dalam puisi William Blake bertajuk The Marriage of Heaven and Hell. Butuh tenaga tambahan lainnya, Morrison lantas merekrut Robby Krieger, seorang gitaris blues handal, serta John Densmore, penabuh drum yang piawai memainkan hentakan musik jazz.

The Doors memulai petualangannya dengan manggung di berbagai klub-klub yang bertebaran di sekitaran Los Angeles. Momen tak terlupakan terjadi di suatu malam. The Doors berbuat onar di sebuah klub legendaris bernama Whiskey a Go Go.

Ketika sedang mengumandangkan lagu kontroversial “The End” di bawah pengaruh jahat LSD, Morrison pun dengan sengaja berimprovisasi hal tak pantas di tengah-tengah lagu. Tak lama kemudian, sang pemilik klub murka kepada pria berambut ikal tersebut. Lantas si pemilik menolak menggunakan jasa The Doors sebagai band penampil.

Penampilan itu ternyata membawa berkah luar biasa kepada Jim Morrison dkk. Paul Rotchild, seorang petinggi label rekaman ternama Elektra menonton aksi teatrikal ‘gila’ dari The Doors. Paul pun akhirnya mengajak para pria bengal tersebut untuk bergabung dengan label tempatnya bekerja. Paul lantas menawarkan dirinya untuk menjadi produser bagi The Doors.

Tak lama berselang, album debut berjudul sama dengan nama band rilis pada pembuka 1967. Nama The Doors kian meroket di lanskap rock setelah melepas single andalan “Light My Fire”. Mahakarya berdurasi panjang sekitar 7 menit itu dominan menyajikan bebunyian kibor yang khas. Lagu ini bercerita tentang pengalaman seks dan drugs yang liar.

Tak butuh waktu lama bagi Jim Morrison dkk. The Doors pun langsung menjelma jadi band populer di seantero dunia, bersanding sejajar dengan deretan pesohor rock seperti The Beatles, The Rolling Stones, dan Jimi Hendrix. Namun dengan segala kesuksesan duniawi yang diperolehnya, hidup Jim Morrison tak pernah lagi sama. Mr. Mojo Risin’ makin tenggelam di lingkaran setan. Ia makin tenggelam dengan obat-obatan haram dan alkohol. Suka tak suka, label superstar yang melekat pada diri Morrison perlahan mulai membawa kehancuran pada dirinya dan The Doors.

Selama masa jayanya, beragam kontroversi sempat mengitari kehidupan pribadi Jim Morrison. Ia sempat bolak-balik ditangkap pihak berwajib lantaran melakukan tindakan liar tak senonoh. Jim Morrison menjadi musisi rock pertama yang ditahan ketika tampil di atas panggung.

Ia pertama kali ditahan pada 9 Desember 1967 oleh polisi setempat sedang berduaan bersama wanita di kamar mandi. Tak hanya itu selang sebulan kemudian, Morrison dilaporkan mabuk serta membuat kegaduhan di depan umum saat dirinya tengah berada di Las Vegas. Jim kedapatan sedang menghisap selinting ganja.

Pada 17 September 1967, sebagai band yang tengah naik daun dan digandrungi, The Doors diundang untuk tampil program acara Ed Sullivan Show. Sebelumnya, Morrison telah diwanti-wanti untuk mengganti salah satu lirik di lagu “Light My Fire” yang terkesan eksplisit. Namun karena lupa atau sengaja, Morrison tetap menyanyikan lirik orisinalnya, dan terpaksa kontrak The Doors dengan pihak terkait dibatalkan secara sepihak.

Belum selesai sampai disitu, pria bersuara bariton itu juga pernah didenda atas kelakuan negatifnya lantaran melakukan masturbasi di hadapan umum saat konser Miami pada 1 Maret 1969. Alhasil Morrison dituntut kurungan penjara selama 6 bulan dan denda karena dianggap berbuat asusila di depan publik luas.

Tak lama setelahnya The Doors menyarangkan album L.A. Woman (1971) dan Morrison pun merilis kumpulan puisi yang ditulisnya berjudul An American Prayer. Setelah album rilis, Jim Morrison sengaja mengambil waktu rehat sebentar dan pindah ke Paris bersama sang kekasih, Pamela Courson. Semasa di Paris, ia menghabiskan waktu berharganya dengan membaca dan menulis puisi bersama Pamela.

Awan kelabu itu pun akhirnya tiba. 3 Juli 1971, secara mengejutkan Jim Morrison dinyatakan telah meninggal dunia. Dirinya ditemukan sudah tak bernyawa oleh sang pacar di bathtub apartemen Rue Beautreillis yang disewanya selama di Paris. Ia meninggal dunia di usia 27 tahun, dan bergabung menjadi anggota di rombongan keramat Club 27. Setahun sebelum Morrison meninggal, Jimi Hendrix dan Janis Joplin telah lebih dulu berpulang ke alam baka, di usia yang sama.

Namun sampai saat ini, kematiannya masih menyisakan sekelumit misteri. Menurut sebuah laporan seorang dokter di Paris menyatakan Jim Morrison meninggal karena serangan jantung. Anehnya, bukti di tubuhnya tak pernah ditemukan, dan tak ada bukti otentik bahwa dirinya meninggal dunia. Beberapa versi lain menganggap Morrison mati karena overdosis heroin. Tapi kalangan kerabat dekat mengaku bahwa Morrison bukanlah pecandu heroin, tetapi pecandu alkohol.

Simpang siur kematian Jim Morrison masih diperdebatkan sampai saat ini oleh penggemar setianya. Empat hari setelahnya, 7 Juli 1971, upacara pemakaman Jim Morrison berlangsung di areal Pere Lachaise, Paris dan hanya dihadiri 5 orang saja tanpa keterlibatan pihak keluarga maupun rekan bandnya di The Doors. Lagi-lagi kejanggalan ditemukan. Keluarga maupun rekan band The Doors mengaku sama sekali tak dihubungi. Pasca enam hari kematiannya mereka mengakui baru dihubungi jika Morrison telah mangkat.

Terlepas dari segala kontroversi yang menyelimuti dirinya, Jim Morrison adalah sosok ikon rock sejati yang berhasil menembus batas lintas generasi. Entah sudah berapa juta anak muda yang terinspirasi oleh dirinya. Ia bak bintang, bak dewa bagi seluruh penggemarnya yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Setelah puluhan tahun semenjak kematiannya, Jim Morrison tetap akan hidup kekal abadi di hati para fans setianya.

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    James Douglas Morrison

Info Terkait

superbuzz
4347 views
superbuzz
22554 views
superbuzz
3115 views