JOE STRUMMER: Perjuangan Tanpa Akhir Sang Revolusioner Punk

  • By: OGP
  • Selasa, 24 January 2017
  • 9450 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Jika menyebut frasa punk secara spontan, mungkin sebagian penggila musik akan terlintas dua opsi paling klise. Ya, tentu publik pun sepakat bahwa tiga raksasa ranah punk: Sex Pistols. Ramones, dan The Clash adalah jawaban yang lumrah bagi penggemar setia punk rock. Kalau di nama pertama punya sosok bengal namun ikonis bernama Johnny Rotten, lain halnya di nama ketiga. The Clash memiliki sosok frontman punk rocker pembangkang nan karismatik bernama Joe Strummer.

Joe Strummer terlahir dengan nama lengkap John Graham Mellor pada 21 Agustus 1952 di tepian kota Ankara, Turki. Sang ayah adalah seorang diplomat asal Inggris. Berpindah dari satu negara ke negara lainnya tentu sudah menjadi hal yang biasa bagi Strummer kecil. Berbagai belahan dunia seperti Mesir, Jerman hingga ke benua Afrika telah ia jelajahi sembari menghabiskan seluruh masa kecilnya. Maka tak heran jika Strummer kecil sudah terbiasa hidup mandiri. Sebagian waktunya ia habiskan dengan mengonsumsi bermacam-macam karya musik favoritnya di kala merantau jauh dari rumah, tanda pelepas rindu kepada kampung halaman.

Perkenalan Strummer dan musik rock layaknya sebuah takdir. Sedari remaja ia kerap kali mendengarkan sederetan karya rock klasik milik Little Richard, Woody Guthrie hingga The Beach Boys. Bahkan ia pernah berujar dengan tegas bahwa Wilson bersaudara (The Beach Boys) adalah salah satu alasan utama mengapa dirinya ingin terjun mencicipi ingar-bingar industri musik modern.

Sepulangnya kembali ke Inggris, seiring berjalannya waktu bakat potensial bermusik Strummer kemudian dilirik tajam oleh Mick Jones dan Bernie Rhodes ketika melihat aksi Strummer berpentas bersama band lamanya, 101’ers, di sebuah pub malam. Mereka terkesan dengan penampilan agresif yang dilakoni baik oleh Strummer. Bak gayung bersambut, Mick Jones akhirnya mengajak Strummer untuk membentuk sebuah unit cikal bakal dari elit punk dunia bernama The Clash di tahun 1976.

Pertengahan tahun 70-an adalah masa-masa yang kelam bagi masyarakat dataran Britania Raya. Bagaimana tidak? Jumlah pengangguran, program layanan sosial yang terbengkalai, dan angka kemiskinan kian meroket tajam. Banyak para pemuda Inggris kehilangan harapan dan impian. Mereka yang putus asa itu kemudian beralih menjadi punk rocker jalanan. Jelinya, The Clash masuk di momen yang tepat. Joe Strummer dkk menyuarakan aksi protes dengan nada-nada karya musiknya. Tak jarang berbagai pihak menasbihkan The Clash sebagai sang juru selamat bagi para kalangan minoritas di kala itu.

Tak butuh waktu lama bagi Strummer dan kameradnya menorehkan tinta kesuksesan di jagat musik dunia. Beberapa album punk vital semacam The Clash (1977), Give ‘Em Enough Rope (1978), London Calling (1979), Sandinista! (1980), Combat Rock (1982), hingga terakhir Cut the Crap (1985) seolah menjadi pusaka penting bagi penerus punk generasi selanjutnya. Album-album mereka dianggap melahirkan sebuah ‘peradaban’ punk orisinal yang identik dengan pemberontakan melawan rezim.

Berkat kejeniusan Strummer, ia bersama The Clash juga sukses mencampur berbagai elemen-elemen penting musik dunia dari sentuhan reggae, ska, funk, dub, hingga nuansa rockabilly menyatu menjadi warna khas tersendiri dari musik The Clash. Strummer pun mampu menciptakan lirik jenius sarat nilai politis. Sebagai penulis lagu handal, Strummer secara konsisten tegas menentang sistem kapitalisme, embel-embel imperialisme, dan isu rasisme yang cukup kuat pengaruhnya di saat itu.

Perjalanan karir bermusik sebagai band paling berpengaruh di lanskap rock itu harus terhenti di tahun 1986. Strummer dan rekan-rekannya memilih untuk bubar di tengah jalan ketika sedang berada di puncak karir. Setahun kemudian Strummer pun terlibat berkontribusi sebagai pengisi soundtrack di film Sid and Nancy garapan sutradara Alex Cox. Ia menyumbang nomor-nomor mumpuni seperti “Love Kills” dan “Dum Dum Club” di dalamnya.

Tak cuma itu, Strummer pun turut berpartisipasi dalam mengisi repertoar lagu di film-film arahan Cox seperti Walker dan Straight to Hell yang rilis bersamaan di tahun 1987. Di kedua film tersebut Strummer diajak oleh Cox untuk mencoba beradu akting di dunia layar lebar. Maju beberapa tahun kemudian, sutradara beken Jim Jarmusch juga tertarik mengajaknya menjadi aktor film Mystery Train garapannya. Setidaknya Strummer memiliki bakat akting terpendam di dalam dirinya.

Menjalani fase karier solonya, Strummer tetap produktif di belantika musik dengan mendirikan proyekan solid seperti Latino Rockabilly War dan The Mescaleros. Disela-sela kegiatan padatnya, ia pun menyempatkan diri beraliansi dengan unit celtic punk legendaris The Pogues, meski hanya dalam waktu yang singkat. Jika menilik perjalanan hidupnya, maka tak salah jika menyebut Strummer sebagai figur seniman multi talenta. Telah dibuktikannya sebagai musisi yang merangkap menjadi aktor, membuat scoring film, hingga siaran di radio.

Pria penggemar mobil antik itu juga dikenal sebagai aktivis sosial. Kepeduliannya kepada sesama sering kali ia tuangkan lewat tindakan agresif yang tak biasa. Salah satunya adalah ketika The Clash mengundang pionir hip hop Grand Master Flash and the Furious Five dalam tur Broadway mereka pada 1981. Untuk saat itu aksi yang dilakukan The Clash tentu mengundang kontroversi. Menggabungkan dua jenis komunitas musik yang berbeda kutub jelas bakal memancing konflik isu rasial. Namun menurut Strummer, tujuannya adalah semata-mata untuk menyatukan pesan politik yang lebih bijaksana dan relevan, tanpa adanya kesenjangan satu sama lainnya.

Joe Strummer tutup usia pada 22 Desember 2002 di kediamannya di Broomfield, Somerset, Inggris. Ia meninggal akibat serangan jantung di umur 50 tahun. Tapi perjuangan belum sepenuhnya usai. Warisan tentang ide perjuangan yang ditinggalinya akan selalu tersimpan abadi di artefak rock dunia. Sesaat setelah kematiannya, ia dan The Clash dilantik di Rock and Roll Hall of Fame pada Januari 2003. Strummer juga menjadi obyek film dokumenter bertajuk Joe Strummer: The Future Is Unwritten arahan sutradara Julien Temple di tahun 2007.

Joe Strummer sungguh merupakan salah satu dari sekian banyak figur musik yang tetap konsisten menjaga filosofinya dalam berkarya. Selalu tersirat pesan di setiap diksi pada liriknya. Selalu ada pula bara semangat perlawanan di dalam dirinya. Bagi Strummer, nilai-nilai kemanusiaan adalah di atas segala-galanya.

3 COMMENTS
  • rikysubagza31

  • yohanesalex

    Good

  • rikysubagza31

    Joe strummer merupakan satu dari sekian banyak figur musik yang selalu konsisten menjaga filosofinya dalam liriknya

Info Terkait

superbuzz
252 views
superbuzz
877 views
superbuzz
969 views
superbuzz
11362 views
superbuzz
1368 views