Joey Ramone: Si Jangkung Pionir Punk Amerika

  • By: GP
  • Rabu, 15 November 2017
  • 10256 Views
  • 4 Likes
  • 3 Shares

“To me, punk is about being an individual and going against the grain and standing up and saying 'This is who I am'.”

- Joey Ramone

Punk rock berterima kasih kepada Sex Pistols untuk nihilisme, Iggy Pop & The Stooges untuk aksi panggung, dan The Clash untuk kritik sosial-politik. Namun faktor penting, yakni musik, berterima kasihlah kepada Ramones. Jurus tiga kunci tanpa tedeng aling-aling digeber bersama dengan lirik jalanan. Ramones menjadi wajah punk Amerika Serikat penghujung 70-an, dan Ramones juga memiliki wajah sendiri, yakni sang frontman Joey Ramone.

Memiliki nama asli Jeffrey Ross Hyman, Joey lahir pada 19 Mei 1951. Ia tumbuh di keluarga Yahudi New York, tepatnya di Queens. Di sana ia bersekolah di Forest Hills High School, juga menjadi tempat bertemunya para anggota Ramones.

Saat remaja, Joey menggemari gerombolan rock papan atas 60-an macam The Beatles, The Who, The Stooges, dan David Bowie, serta grup-grup wanita asuhan Phil Spector. Idolanya adalah Pete Townshend (The Who).

Pada awal meniti karier, Joey tergabung dalam band glam rock bernama Sniper di tahun 1972. Di band itu ia bersama Frank Infante, yang kelak bergabung dengan Blondie. Saat itu Joey menggunakan nama panggung Jeff Starship. Karena mengusung musik glam, tentunya Joey wajib mengenakan kostum gemerlap seperti jumpsuit hitam dan pink, boots dengan hak tinggi, serta sabuk dan sarung tangan kerlap-kerlip. Sniper menjelajahi panggung-panggung Max’s, Club 82, dan tentunya CBGB bersama sejawatnya, New York Dolls.

Pada 1974, Joey memutukan hengkang dan mendirikan band yang lebih ‘jalanan’. Awalnya merupakan band garasi yang didirikan dua bocah SMA bernama John Cummings dan Thomas Erdelyi. Kelak dua bocah itu lebih dikenal dengan nama Johnny Ramone dan Tommy Ramone. Selanjutnya bergabunglah pemuda pindahan asal Jerman bernama Douglas Colvin (kelak lebih dikenal dengan nama Dee Dee Ramone), serta Joey.

Formasi awalnya terdiri dari Joey di posisi drum, Johnny di gitar, dan Dee Dee di posisi vokal dan bass. Dee Dee pula yang menemukan nama Ramones, terinspirasi dari nama samaran Paul McCartney, yakni Paul Ramon. Ia pun membujuk rekan-rekan satu band-nya untuk menggunakan nama alias Ramones.

Ternyata saat band berjalan, Dee Dee kewalahan memegang kontrol vokal dan bass.  Atas saran Tommy – yang saat itu menjabat jadi manajer band, Joey ditunjuk untuk maju menjadi vokalis. Tommy akhirnya mengisi kekosongan posisi penabuh drum.

Dengan formasi yang telah terbentuk, Ramones mulai melaju di klab-klab penting di New York. Penampilan mereka yang ngebut tanpa basa-basi, teriakan khas 1-2-3-4 dari Dee Dee di awal lagu, hingga fashion jaket kulit hitam seketika menjadi perbincangan hangat di kancah underground New York. Ramones menjadi garda depan kancah punk rock yang saat itu mulai marak.

Tahun 1976, album debut Ramones akhirnya lahir lewat Sire Records. Seketika album tersebut jadi perbincangan serta diulas di mana-mana. Joey dkk mulai mencetak nama di belantika rock AS. And the rest is history.

Setelah berjalan selama 20 tahun lebih dengan bongkar pasang drummer, akhirnya pada 1996 Ramones memutuskan untuk bubar. Dalam konser perpisahannya yang berlangsung pada tanggal 6 Agustus 1996, Ramones juga mendatangkan musisi tamu seperti Lemmy Kilmister (Motorhead), Eddie Vedder (Pearl Jam), Chris Cornell (Soundgarden), serta Tim Armstrong dan Lars Frederiksen dari Rancid.

Usai Ramones bubar, Joey masih aktif menjadi produser. Ia sempat memproduseri album mini penyanyi favoritnya, Ronnie Spector (The Ronettes) berjudul She Talks To Rainbow di tahun 1999. Ia bahkan sempat menjadi manajer dan produser band punk The Independents.

Di pembuka milenium baru, Joey menggarap album solo perdananya bersama produser Daniel Rey, yang juga menjadi produser Ramones di akhir kariernya. Album yang kelak berjudul Don’t Worry About Me itu memuat dua lagu cover, yakni “What a Wonderful World” milik Louis Armstrong dan “1969” dari The Stooges.

Namun sayang, setelah tujuh tahun didiagnosis terkena kanker limfoma, Joey akhirnya tak dapat melawannya lagi dan mengembuskan napas terakhir pada 15 April 2001, sebulan sebelum ulang tahunnya ke-50, di rumah sakit New York-Presbyterian. Kabarnya Joey wafat diiringi lagu “In a Little While” dari U2. Dunia musik rock pun kehilangan salah satu frontman terkerennya.

Setelah meninggalnya Joey, album solo perdananya pun dirilis pada 2002. Kemudian banyak cara yang dilakukan untuk mengenang sosok Joey. Yang paling tersohor adalah namanya diabadikan menjadi nama jalan di sebuah blok di East 2nd Street , New York City. Lokasi tersebut adalah tempat di mana Joey dan Dee Dee sempat tinggal bareng, serta berdekatan dengan CBGB. Nantinya papan nama jalan bertuliskan “Joey Ramone Place” itu menjadi papan jalan di New York City yang paling sering dicuri. Ia dan Ramones juga dilantik ke Rock and Roll Hall of Fame pada 2001.

Setiap kali kita mendengar seruan “hey ho let’s go!”, pasti akan selalu teringat vokalis berambut gondrong berponi dengan jaket kulit hitam dan celana jeans belel. Sosoknya yang jangkung dengan vokal-tak-merdu-tapi-khas akan terus dikenang.      

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    PUNK NOT DIE

Info Terkait

superbuzz
115 views
superbuzz
213 views
superbuzz
88 views
superbuzz
152 views