JOHN LENNON: Musisi Sekaligus Sang Juru Damai

  • By: OGP
  • Kamis, 16 February 2017
  • 6463 Views
  • 3 Likes
  • 1 Shares

Bagi penggila masif The Beatles, tentu sosok John Lennon dianggap bak dewa di dalam anatomi kuartet ikonis itu selain Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr. Komposisi musik serta lirik yang ia ciptakan mempunyai daya magis tersendiri. Maka tak heran bahwa Lennon dianggap sebagai roh bagi jiwa The Beatles itu sendiri.

Sulit dibayangkan jika Beatles berdiri tanpa Lennon, mungkin saja Beatles tak bakal menjadi sehebat dan selegendaris seperti saat kini. Terlalu naif mengikrarkan dirinya, tetapi itulah kenyataannya. Tak dapat dipungkiri bahwa Lennon merupakan sosok paling penting di dalam kubu The Fab Four dibandingkan kolega lainnya.

Terlalu klise rasanya membicarakan kisah dongeng kesuksesan Lennon bersama The Beatles. Mari kita kesampingkan sejenak. Lebih dari itu, ia merupakan seorang figur musisi berpredikat aktivis sosial ternama, yang mampu berkontribusi dalam menegakkan perdamaian walau hanya lewat sebatas karya musik.

Lennon terlahir dengan nama lengkap John Winston Lennon pada 9 Oktober 1940 di dataran Liverpool, Inggris Raya, dari pasangan Julia Stanley dan Alfred Lennon. Ayahnya adalah seorang pelaut yang sering berpergian. Sedari kecil hingga remaja Lennon diasuh oleh sang bibi, Mimi Smith, yang merupakan seorang yang tegas dan skeptis dalam mendidik Lennon kecil.

Namun kejadian menyedihkan dialami Lennon remaja ketika ibunya tewas secara tragis di depan matanya sendiri, akibat tertabrak mobil di dekat rumah Mimi. Julia meninggal dunia akibat kecerobohan seorang polisi yang mengendara dalam keadaan mabuk, meskipun demikian polisi tersebut lepas dari segala tuntutan. Sejak peristiwa tersebut, Lennon mulai menunjukkan sikap anti pemerintahan. Perlahan di dalam dirinya mulai bersemayam jiwa pemberontak dan sinisme.

Takdir pula yang mempertemukan Lennon dan musik. Karier Lennon di The Beatles begitu cemerlang di jagat rock dunia saat itu. Nyaris semua single mereka mencapai podium teratas di tangga lagu Inggris. Salah satu lagu ciptaannya, “I Wanna Hold Your Hand” terlahir menjadi katalisator bagi band-band Britania Raya lainnya untuk menembus pasar musik Amerika Serikat, sekaligus menyebarkan misi British Invasion di seantero dunia.

Awal mula kemunculan jiwa ‘pemberontak’ Lennon, sebenarnya sudah tertuang di lagu “Revolution” di opus White Album. Secara subversif Lennon mulai berani membicarakan hal tabu seperti halnya ranah politik. Ia menentang tegas Perang Vietnam dan segera memikirkan langkah revolusi. Lennon pernah mengungkapkan kalau sang manajer Brian Epstein selalu melarang kreativitasnya untuk menciptakan karya berbau politik. Namun dasar si bengal, ia tetap berontak dan memaksakan lagu idealisnya itu tetap rilis. Boom! lagu “Revolution” pun melepaskan serangan sarkasme kepada pihak penguasa kala itu.  

Pasca kematian Epstein di tahun 1967, akar permasalahan di kubu internal Beatles mulai terusik. Lennon secara frontal tak senang dengan tindakan McCartney yang mengambil alih kepemimpinan band yang dibentuknya itu. Dirinya pun sebenarnya membenci proyek-proyek yang digencarkan oleh McCartney, seperti penggarapan film Magical Mystery Tour dan Let It Be. Terlalu banyak prahara yang dilewati oleh The Beatles. Mereka pun dengan berat hati memilih bubar di tahun 1970 setelah berkarier selama satu dekade lamanya. Perseteruan antara McCartney dan Lennon berbuntut panjang dengan pembubaran band paling berpengaruh di dunia itu.

Menjelang The Beatles bubar, Lennon kerap tampil bareng bersama belahan jiwanya, Yoko Ono. Lennon rela meninggalkan istri pertamanya Cynthia Powell demi seorang Ono. Lennon dan Ono bertemu untuk pertama kalinya pada 9 November 1966 di Indica Gallery ketika Ono sedang mengadakan ekshibisi seni kontemporernya. Sebelum memutuskan hengkang dari The Beatles, keduanya sempat menetaskan tiga opus kontroversial, yakni Unfinished Music No. 1: Two Virgins, Unfinished Music No. 2: Life with the Lions dan Wedding Album.

Keduanya menikah resmi di tahun 1969 silam selang hanya beberapa bulan sebelum Beatles berpisah. Jika pada umumnya mayoritas pasangan baru bakal memilih berbulan madu dengan memadu kasih, lainnya halnya Lennon. Ia bersama Ono memutuskan untuk merubah malam pertamanya dengan segelintir aktivitas sosial. Pria berkaca mata ikonis tersebut mengkampanyekan aksi perdamaian lewat gerakan Bed-In for Peace di Hotel Hilton, Amsterdam, Belanda.  Mereka memilih tak beranjak dari ranjang selama 7 hari berturut-turut, terhitung dari tanggal 25 hingga 31 Maret 1969.

Aksi uniknya itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap tindakan kekerasan yang terus melanda seantero dunia, terutama Perang Vietnam. Sebuah sindiran tegas digencarkan oleh Lennon. Ia berpesan kepada dunia: “Daripada ikut perang lebih baik di tempat tidur dan panjangkan rambutmu, demi perdamaian,” ujarnya. Lewat manuvernya itu, ia menyita perhatian dunia. Baginya Bed-In for Peace adalah cara terbaik untuk melancarkan protes terhadap kekerasan dan menebarkan benih-benih kedamaian.  

Lepas dari bayang-bayang Beatles, kefanatikan Lennon terhadap nilai humanisme malah semakin mekar dan bersarang di dalam benaknya. Tak hanya sekedar menjadi musisi, ia pun perlahan menapaki dirinya sebagai aktivis elit. Deretan album vital nan klasik sebut saja, John Lennon/Plastic Ono Band, Imagine dan Some Time in New York City jadi trilogi terbaik Lennon selama meniti karier sebagai solois.

Track-track berkelas macam “Imagine”, “Gimme Some Truth”, “Working Class Hero”, “Happy Xmas (War Is Over), “Power to the People”, “Remember”, “Woman Is the Nigger of the World” hingga “Give Peace a Chance” terlampau memberi dampak yang luas di seluruh dunia. Seolah mengetuk kembali nurani kita sebagai individual untuk saling mencintai sesama dan bebas mengutarakan pendapat.

Hari kelabu yang tak diharap akhirnya tiba. Dunia pun menangis. Kejadian tragis menimpanya secara keji. Pada 8 Desember 1980, Lennon meninggal dunia setelah ditembak beruntun dengan timah panas sebanyak empat kali oleh si penggemar gila, Mark David Chapman. Insiden terjadi di sekitaran lorong apartemen The Dakota, New York, Amerika Serikat. Kematiannya mengingatkan kembali publik kepada figur prominen pembawa kedamaian seperti Mahatma Gandhi dan Martin Luther King Jr. yang lebih dulu wafat dibunuh dengan kejam.

Dunia beruntung pernah disinggahi Lennon. Ia meletakkan nilai perdamaian setinggi-tingginya. Dirinya mengajari kita semua untuk melawan rasa kebencian yang tertambat di lubuk hati. Lewat karya-karyanya pula, kita diajak belajar untuk menjadi sebagaimana manusia seutuhnya. Lennon membenci perbedaan. Ia pun tak suka peperangan yang tentu berdampak kepada kehancuran.

Seperti yang tertuang di lagu “Imagine”, Lennon begitu memimpikan seluruh umat manusia hidup secara damai dan berdampingan. Ya, tentu kalian bakal sependapat. Lennon tak hanya sekedar musisi semata, ia juga mutlak seorang inisiator perdamaian.

1 COMMENTS
  • ffergusan

    legend!!!

Info Terkait

superbuzz
129 views
supernoize
817 views
superbuzz
349 views
superbuzz
9963 views