supericon john mayer

John Mayer: Sang Pangeran Bergitar

  • By: NND
  • Rabu, 20 November 2019
  • 382 Views
  • 8 Likes
  • 4 Shares

Bagi mereka yang menyukai jazz, pop atau blues, tentu John Mayer sudah tidak asing di telinga. Musisi serba bisa asal Amerika Serikat yang pertama kali dikenal dengan materi akustiknya (Room for Squares, 2001) ini sekarang telah menjadi mega bintang jagad musik dunia.

Mayer terbukti handal menggabungkan sensibilitas pop, teknik blues, tangga-tangga jazz, hingga genggaman soul kontemporer. Gitar—baik itu elektrik ataupun akustik—menjadi senjata utamanya dalam memikat hati dan telinga pendengarnya.

Legenda jazz dan blues seperti Buddy Guy, Eric Clapton, BB King, hingga Herbie Hancock bahkan sempat menjadi rekan tur dan rekamannya. Mayer berhasil memantapkan pondasi songwriting dalam pendar pop/rock, blues, dan jazz.

Ia kini dikenal sebagia musisi dengan visi luas, yang menebar karya di tangga lagu arus utama hingga segmen ekslusif soul, blues, dan jazz.

Kali ini, SUPERMUSIC akan mengupas habis John Mayer secara jelas dan ringkas. Penasaran?

Atlanta Over Berklee!

Lahir di Bridgeport, Connecticut, tapi tumbuh besar di Fairfield, Mayer mulai terpapar musik semenjak meranjak remaja. Di tahun 1997, keahliannya memainkan gitar listrik mengantarkannya ke kampus prestisius Berklee School of Music.

Namun, ternyata sekolah musik ternama itu bukanlah yang ia cari. Mayer hanya bertahan dua tahun, dan hengkang untuk menempa kemampuan songwriting di Atlanta. Di sana, ia sempat membentuk duo bersama Clay Cook dan menjadi musisi reguler di sirkuit coffee shop lokal.

Sayangnya, duo tersebut tak tahan lama. Cook angkat kaki untuk bergabung dengan Marshall Tucker Band, lalu Mayer resmi jadi musisi solo. Mayer kemudian merekam beberapa materi duonya, ditambah dengan sejumlah lagu orisinal, dan merilisnya menjadi EP debut, Inside Wants Out.

EP itu berhasil memantapkan Mayer berkarir solo. Ia mampu mengamankan kontrak dengan Aware Records di awal tahun 2000, dan melaluinya mendapati sesi rekaman untuk pengerjaan album debut dengan bantuan dari tangan dingin John Alagia (Dave Matthews, Ben Folds Five) sebagai produser.

Mayer’s Wonderland

Hadir cukup berbeda dibanding Inside Wants Out yang didominasi sound akustik, debut Room for Squares dirancang lebih luas dengan pendekatan matang. Di album tahun 2001 tersebut, Mayer menyertakan beberapa lagu lama yang digubah ulang secara radio friendly, dan tentu sejumlah lagu baru.

Room for Square yang dirilis via Aware dan Columbia terbukti laku dan berhasil melambungkan karirnya. Kombo dua single “No Such Thing”, dan “Your Body is a Wonderland” menjadi top hits yang duduk manis di tangga lagu Top 20.

Akar blues milik Mayer mulai kembali menancap saat ia menggelar tur guna promosi album debutnya. Ia melepas sejumlah solo yang kental dengan skema blues, yang kemudian bermuara menjadi album live Any Given Thursday (2003. Di tahun 2003, ia juga berhasil menyabet Grammy pertamanya untuk trek “Your Body is a Wonderland”.

Sophomore albumnya, Heavier Things dirilis tahun 2005. Album ini menampilkan Mayer dan spektrum materi yang melebar, menyelam lebih dalam ke sound blues dan jazz favoritnya. Di Heavier Things, ia berkolaborasi dengan musisi blues legendaris macam Buddy Guy, BB King dan Eric Clapton, serta legenda jazz John Scofield dan Herbie Hancock.

Album tersebut juga melahirkan John Mayer Trio, format panggungnya yang menjauh dari sensibilitas pop dan menyajikan rentetan nomor blues rock.

Fighting Against Gravity

Album Mayer berikutnya, Continuum jebol di tahun 2006 dan diterima dengan baik oleh penikmat musik global dan para kritikus musik. Selain itu, Continuum juga menghadirkan perubahan musik yang cukup signifikan. Kali ini giliran musik soul kontemporer dan blues yang diberikan ruang, contohnya di hit single “Gravity”.

Meski begitu, pop masih dimuat di dalamnya, hal ini dapat dibuktikan melalui “Waiting on the World to Change”—sebuah trek soul yang berhasil berlaku baik dalam tangga lagu arus utama dan kembali memenangkan Grammy. “Say”, bersama “Gravity” juga berhasil memenangi Grammy di tahun 2009.

Sepak terjangnya di dapur rekaman kembali berlanjut saat merilis Battle Studies di tahun 2009, yang menampilkan single “Heartbreak Warfare”. Album ini kembali mempertajamkan sound kontemporer yang ia majukan di Continuum, tapi lebih digiring ke arah pop ketimbang soul.

Era album ini merupakan cobaan bagi musisi yang handal bermain gitar itu. Kehidupan pribadinya menjadi sorotan atas sejumlah masalah dengan pasangannya, baik itu musisi Jessica Simpson, ataupun aktris Jennifer Anniston. Mayer kemudian rehat sejenak dari sosmed dengan menghapus sejumlah akunnya.

Momen kembalinya ke atas radar terasa tak pas jika tidak bersamaan dengan peluncuran album. Seperti Kanye menghidangkan My Beautiful Dark Twisted Fantasy saat keluar dari pengasingan, Born and Raised pun demikian. Menggarap album country-influenced ini, ia sempat menjalankan treatment medis untuk granulomas yang terletak dekat dengan vocal cord-nya.

Meski begitu, album ini tetap rampung dan dirilis tahun 2011. Ia menampilkan single seperti “Shadow Days”, sebuah pembadanan akurat dari sound album yang lebih mengakar ke arah folk dan country. Album ini berlaku baik dengan publik, menjadikannya album pertama Mayer yang berhasil duduk di posisi nomor satu Billboard Top 200 selama lebih dari dua minggu.

Back to the Roots

Di tahun 2013, John Mayer meluncurkan album keenam yang bertajuk Paradise Valley. Kali ini, Mayer tampaknya lebih memfokuskan terhadap apa ia dalami di album sebelumnya. Album ini terus melanjutkan perjalanan Mayer dalam pendar country dan folk.

Tak disangka, ia pun digaet sebagai gitaris tur para musisi senior eks-Grateful Dead yang sekarang mendirikan band renkarnasi bernama Dead & Company. Tur dengan para legenda itu berlangsung selama tahun 2016, dan di tahun yang sama The Search of Everything pun dirilis.

Album yang sudah rampung di tahun 2016 itu dibuka rilisnya dengan EP The Search for Everything: Wave One, yang mendarat pada Januari 2017 silam. EP kedua, Wave Two, menyusul di Februari. Tiba pada bulan April 2017, barulah The Search of Everything LP resmi dirilis ke publik luas.

Sisa tahun 2017 diisi dengan kesibukan tur bersama Dead & Company, yang pada bulan Desember sempat ditunda karena Mayer harus kembali masuk rumah sakit untuk penanganan appendectomy.

Sementara pada Mei 2018, ia sempat merilis sebuah single lepas bertajuk “New Light”, yang baru dilanjutkan di tahun ini dengan dua buah single lagi, yakni “I Guess I Just Feel Like” dan “Carry Me Away” yang kembali menampilkan sisi akustik Mayer.

Writing on the World to Change

Selain aktif musik, Mayer juga aktif menulis. Ia memiliki sebuah kolomnya sendiri dalam Esquire yakni Music Lessons with John Mayer. Ia juga merupakan seorang blogger handal, ia memiliki empat blog; Myspace, blog laman resminya, sebuah akun tumblr, dan juga sebuah photoblog di StunningNikon.com.

Medsos juga menjadi ruang yang tempatnya tampil, hal ini terbukti dari show barunya di IGTV berjudul Current Mood yang memulai debutnya di tahun 2018. Melalui siaran tersebut, ia mengaku sudah sober untuk tiga tahun terakhir, ia berhenti minum akibat mengalami hangover panjang selama enam hari setelah menghadiri acara ulang tahun ke-30 Drake.

Musisi yang kerap dicap sebagai seorang playboy ini belum pernah menikah. Namun, ia sempat menjalin hubungan romantis dengan nama-nama besar macam Jennifer Love-Hewwit dan Jennifer Aniston, serta penyanyi Katy Perry, Taylor Swift, Jessica Simpson, serta masih banyak lagi.

Itulah biografi musisi pop, blues, jazz, dan soul favorit ini. Tentu, karya-karya seorang John Mayer berlaku baik dengan generasi millennials karena berkembang dan tumbuh bersamaan dengannya.

Kalian termasuk yang mengikuti tumbuh kembang penyanyi-penulis lagu/gitaris kece ini? Apa pendapat kalian tentangnya? Album John Mayer mana yang jadi favorit kalian? Suarakan semuanya di kolom komentar, di bawah ini!

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
208 views
supernoize
432 views
superbuzz
215 views
superbuzz
192 views
superbuzz
182 views
supergears
137 views