Kevin Shields

Kevin Shields: Penemu dan Penjelajah Bunyi Shoegaze

  • By: NND
  • Rabu, 15 May 2019
  • 63 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Kevin Shields adalah musisi, penyanyi-penulis lagu, komposer, produser, yang dikenal di kancah musik internasional bersama My Bloody Valentine (MBV) sejak akhir 80-an. Sebagai gitaris dan salah satu vokalis MBV, Shields adalah gitaris visioner dan pionir yang berhasil membuka jalan masuk shoegaze ke kancah rock alternatif.

Melalui permainan gitar evolusionernya, Shields mengubah cara pandang dan cara dengar khalayak luas terhadap bebunyian yang bisa dihasilkan gitar. Dia mengandalkan bebunyian bertekstur dan eksperimentasi pitch melalui tremolo. Shields menciptakan istilah glide guitar yang menjadi sebuah titik tumbuh krusial bagi perkembangan peran gitar dalam eksperimen musik.

New York, Long Island dan Kembali ke Dublin

Kevin Patrick Shields berdarah Irlandia yang lahir di Queens, New York, pada 21 Mei 1963. Dia adalah kakak tertua lima bersaudara, tinggal bersama kedua orang tuanya yang pindah ke AS semenjak keduanya masih remaja. Shields tinggal di sana hingga umur empat tahun, kemudian mereka pindah ke Long Islang hingga ia beranjak pada usia yang kesepuluh.

Tahun 1973, keluarga mereka harus angkat koper dan kembali ke Irlandia. Mereka meinggalkan AS untuk Dublin karena permasalahan ekonomi dan agara bisa berdekatan dengan keluarga besar.

Perpindahan itu membuatnya merasa terasing, culture shock. Menurutnya, perubahan paling signifikan adalah sikap orang musik. Melalui perubahan inilah, Shields merasa benar-benar tertarik ke dunia musik.

Gerbang: Punk dan Post-Punk

Pada 1979 saat masih berusia 16 tahun, Shields memperoleh gitar listrik pertamanya sebagai hadiah natal. Sebelumnya ia telah menjalin persahabatan dengan seorang drummer, Colm Ó Cíosóig, kerabatnya yang kemudian akan terus bermain musik bersama hingga saat ini. Keduanya sempat tergabung kedalam band punk bernamakan The Complex.

Meski berusia singkat, mereka mendapatkan sejumlah pengalaman gigs, memainkan cover Sex Pistols dan Ramones; serupa kebanyakan remaja di era itu. Yang lebih pentingnya, pada masa-masa ia bermain di band inilah Shields mulai bereksperimen dalam pitch bending, sebuah awal dari terobosan besarnya di kemudian hari.

Setelah berjalan tiga tahun, The Complex akhirnya memutuskan untuk berpisah ketika sang vokalis hengkang untuk membentuk Hothouse Flowers. Paska bubarnya The Complex, Shields dan Ó Cíosóig membentuk A Life in the Day, sebuah band yang secara utuh memainkan musik post-punk, sebuah pendekatan baru setelah melepas The Complex yang memainkan musik yang setia pada punk rock.

Shields dan band barunya berhasil merekam demo tape, yang memuat eksperimentasi permainan gitar Shields. Naasnya, A Day in the Life tidak mampu bertahan lama, grup tersebut bubar ditahun yang sama.

Pionir dan My Bloody Valentine

Selepas A Day in the Life, Shields dan Ó Cíosóig merangkul David Conway sebagai lead vocal untuk membentuk My Bloody Valentine pada 1983. Melalui koneksi yang dimiliki Shields, mereka dijadwalkan tampil di Tilburg, Belanda, kontan tahun berikutnya, mereka semua pindah ke Belanda.

Namun, kurangnya kesempatan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, mereka hanya bertahan sembilan bulan, kemudian pindah ke Berlin, Jerman Barat di akhir tahun 1984. Di sanalah mereka merekam debut album mini mereka yang bertajuk This Is Your Bloody Valentine. Debut mereka dirilis pada 1985, dengan Shields menempati bassis. Lantaran rilisan tersebut kurang mendapat eksposur, mereka kembali ke Belanda untuk sementara dan kemudian menetap di London, Inggris di tahun 1985.

Di Inggris, mereka merekrut Debbie Googe sebagai bassis baru, dengan Shields sebagai gitaris. Kali ini mereka merilis sebuah EP bertajuk Geek!, tapi hasilnya tak jauh berbeda dari debut This Is Your Bloody Valentine.

Mereka enggan menyerah; di dua tahun berikut mereka berhasil merilis dua materi yang cukup sukses; The New Records by My Bloody Valentine (1986) dan Sunny Sundae Smile (1987). Pertengahan tahun 1987, Conway menyatakan keluar dari MBV karena penyakit yang dideritanya dan keinginannya menjadi seorang penulis. Conway digantikan oleh Bilinda Butcher, yang kemudian berbagi vokal dengan Shields.

Dengan formasi baru ini, Shields dan MBV berhasil melepas dua rilisan. Single “Strawberry Wine” dan album mini kedua, Ecstasy (1987), yang direspons cukup baik oleh kritikus-media dan pendengar musik independen. Saat menggarap tur untuk Ecstasy, MBV menekan kontrak dan ikut bergabung dengan label rekaman independen Creation Records—sebuah langkah krusial dalam karier mereka.

Melalui Creation Records, MBV kemudian merilis dua album seminal, yang berpengaruh bagi sound musik independen hingga saat ini. Setelah melepas EP You Made Me Realise (1988), album perdana mereka, Isn’t Anything diluncurkan di tahun yang sama. Album ini penuh dengan eksperimentasi gitar Shields yang sudah matang, album ini akhirnya turut membentuk sound sebagai subgenre dari alternative rock.

Pada 1989, Shields dan MBV kembali masuk dapur rekaman untuk menggarap album sophomore mereka. Proses penggarapan album ini menimbulkan konflik antara Shields dengan Creation Records, pihak label menyatakan bahwa rekaman terlalu diulur dan memakan waktu yang sangat lama. Akhirnya, Shields dan Creation menyetujui untuk merilis dua EP sebagai jembatan, Glider (1990) dan Tremolo (1991) dirilis secara berurutan.

Akhirnya, studio album kedua mereka, Loveless, resmi dirilis pada November 1991. Meski secara dominan direspon positif, album tersebut tidak bisa dikatakan sukses sepenuhnya, terutama dari segi penjualan. Tidak lama setelah Loveless dilepas Alan McGee, founder Creation Records, melepas MBV dari roster mereka. Duo Isn’t Anything dan Loveless menjadi sebuah tapak awal yang membuka jalan bagi sebuah genre baru. Keduanya disebut sebagai titik awal kemunculan shoegaze—berkat permainan gitar Shields.

Memasuki tahun 1992, MBV menandatangani kontrak dengan Island Records. Namun musibah terus datang, sengketa label kembali bermunculan, ditambah halangan kreatif yang dirasakan Shields berujung pada pengunduran diri Googe dan Ó Cíosóig di tahun 1995. Hanya bersisakan dua personil, Shields dan Butcher mencoba merekam album ketiga MBV yang diklaim akan rilis pada 1998. Naasnya, MBV resmi bubar pada tahun 1997—tidak dapat menyelesaikan album ketiga mereka.

Bertahan Sendiri

Setelah kisahnya dengan MBV ditutup, Shields tetap menjadi seorang musisi. Ia tetap bermusik dengan berkolaborasi bersama sejumlah musisi kenamaan yang muncul dari berbagai era. Kontribusinya bisa didengar di balik studio, ataupun secara live. Kolaborasi dengan Dinosaur Jr. serta frontman-nya, J Mascis, terlibat dalam John Peel Session, serta menjadi musisi tur Primal Scream adalah beberapa contoh dari keterlibatannya lewat cara kolaborasi. Tidak hanya itu, ia juga merambah dunia produser dan turut berkontribusi dalam karya-karya dari musisi macam Yo La Tengo, Mogwai, The Pastels, dan masih banyak lagi.

Pada tahun 2003, Shields menemukan titik terang baru. Dia ditunjuk oleh Brian Reitzell, koordinator musik film Lost in Translation (2003) yang disutradarai Sofia Coppola dan dibintangi Scarlett Johanson serta Bill Murray. Sesi jamming bersama Reitzell di studio berhasil menghasilkan empat buah lagu yang menempatkan namanya dalam sejumlah daftar nominasi dari ajang penghargaan film bergengsi.

Berikutnya pada Agustus 2007, penggemar MBV mendapatkan kabar baik: MBV akan reuni sebagai penampil utama Coachella 2008. Shields kemudian angkat bicara dan menyatakan kebenaran kabar itu, sembari menyatakan bahwa album ketiga mereka akan segera rilis. Setelah tampil di dua konser di London—penampilan pertama MBV selama 16 tahun—mereka memulai tahun 2008 dengan tur yang ketat. MBV menyambangi sejumlah festival besar seperti Oyafestivalen, Electric Picnic dan Fuji Rock Festival. Sampai akhirnya, pada 2 Februari 2013, m b v resmi dirilis.

Tahun 2019 ini, Shields juga berjanji akan merilis sejumlah materi remastered dari katalog analog MBV. Dia juga menyatakan bahwa tahun ini ia akan merilis dua album.

Berawal dari seorang anak kecil yang memainkan musik punk, lalu kemudian jatuh dan berkecimpung pada sisi-sisi artistik yang tersemat dalam kajian musik post-punk, Shields adalah musisi pencetak jejak baru laju perkembangan musik independen dan eksperimental. Lewat permainan gitarnya yang tebal, penuh tekstur dan mengawang, Shields berhasil membuka sebuah jalan baru. Musiknya berhasil menginspirasi berbagai generasi, baik generasinya sendiri, atau para penerusnya.

Dua album pertama MBV hingga sekarang tetap menjadi album yang terus dirujuk musisi. Dewasa ini, nampaknya lakon-lakon shoegaze sedang kembali naik ke permukaan. Slowdive berhasil melepas album baru, sama halnya dengan Ride—band yang belum lama ini datang ke Indonesia. Dari generasi baru, DIIV juga akan segera merilis album baru mereka, begitu juga dengan perwakilan muda dari Indonesia—Noirless, yang sajikan debut album mereka akhir tahun lalu.

Akankah dua album yang dijanjikan Shields bisa dirilis pada tahun ini? Tentunya momentum untuk merilis sebuah materi shoegaze sedang berada pada momen yang tepat. Tunggu saja kabar kelanjutannya melalui SUPERMUSIC!

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
112 views
superbuzz
209 views
superbuzz
258 views
superbuzz
334 views
superbuzz
414 views