Lollapalooza

Lollapalooza: Metamorfosis Karnaval Budaya Tandingan

  • By: NND
  • Jumat, 9 August 2019
  • 90 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Saat ini, sudah banyak musisi yang menggelar festivalnya sendiri, seperti Deftones dengan Dia De Los Deftones, Wilco dan Solid Sound Festival, atau Slipknot dengan Knotfest dan masih banyak lagi. Salah satu festival musik besutan musisi terbesar dewasa ini adalah Lollapalooza. Digelar pertama kali tahun 1991, festival ini masih bertahan. Tidak aneh rasanya, mengingat ketenarannya yang bukan main.

Kali ini, SUPERMUSIC akan membedah salah satu festival musik paling sukses di dunia yang didirikan oleh kuintet rock berbahaya, Jane’s Addiction!

Terciptanya Lollapalooza

Festival ini digagas oleh Perry Farrel sebagai pesta selamat tinggal untuk Jane’s Addiction. Ia mulai merencanakan festival ini di tahun 1990. Berbeda festival musik yang digelar dalam satu rentang waktu di suatu tempat, Lollapalooza lebih mirip dengan karnaval atau sirkus keliling. Awalnya, festival tur ini digelar di beberapa kota AS hingga Kanada.

Lollapalooza edisi perdana berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain dan menyuguhkan sederet band/musisi lintas genre. Lineup-nya beragam, mulai dari Siouxsie and the Banshees, Nine Inch Nails, sampai Ice-T. Festival ini digelar dari pertengahan Juli hingga akhir Agustus, dan berhasil terbilang cukup sukses.

Konsep lain yang membedakan Lollapalooza adalah acara-acara non-musik yang mereka hadirkan. Ada sejumlah sirkus, freak show bahkan biksu-biksu Shaolin yang seakan melebarkan subkultur rock era 90-an. Tidak hanya itu, ada tenda pameran seni, games seru dan meja-meja informasi kelompok politik atau organisasi budaya tandingan. Festival ini berhasil menjadi gelaran ‘aneh’ yang menggambarkan betul estetika dekade tersebut.

Keberhasilan dan Kejatuhan

Keberhasilan Lollapalooza edisi perdana dilatari oleh meledaknya sound alternatif. Di tahun 1992 dan 1993, festival ini mulai memuat lebih banyak band grunge dan meningkatkan booth interaktif seperti booth tattoo dan piercing, spoken word, open-mic, serta area “penghacuran televisi”. Tak luput juga penambahan panggung menjadi dua. Di medio ini, Lollapalooza membesar dan berhasil menjadi festival tur yang sangat dinantikan pecinta musik di AS.

Nirvana bahkan sempat menjadi headliner festival ini di edisi 1994. Naasnya, mereka harus keluar dari daftar penampil pada 7 April 1994, tepat ketika jenazah Kurt ditemukan di kediamannya. Alhasil, Courtney Love, mantan istri Kurt, memainkan dua lagu untuk Kurt di setiap kota yang dikunjungi Lollapalooza. Penampilan Courtney saat itu menggunakan alokasi waktu dari Billy Corgan dan Smashing Pumpkins.

Kejatuhan Lollapalooza terjadi di tahun 1996. Farrell, jiwa dari festival ini, memutuskan fokus meproduseri proyek festival terbarunya dan tidak terlibat menggarap gelaran tahun 1996. Masalah besar kali ini adalah Metallica sebagai headliner. Keputusan ini direspon negatif oleh penonton setia, karena dianggap sebagai gestur yang berseberangan dari visi Lollapalooza: menampilkan aksi-aksi non-mainstream.

Ditunjuknya Metallica seakan menggambarkan sikap yang terlalu mementingkan headliner dan tidak menaruh perhatian kepada band-band. Lebih-lebih, Farrell juga merasa bahwa image Metallica yang macho tidak sejalan dengan visi perdamaiannya di Lollapalooza.

Menyikapi blunder Metallica, di tahun 1997 Lollapalooza mencoba membuka panggung band-band eklektik dan beragam. Fokus di sound elektronik, mereka mengundang The Orb dan The Prodigy sebagai ujung tombak festival. Sayangnya, tahun ini menjadi awal dari mati suri Lollapalooza. Mereka tidak berhasil mengamankan headliner di tahun 1998 dan akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Bangkit Kembali

Di tahun 2003, Farrell aktif bersama Jane’s Addiction, dan Lollapalooza. Festival yang terlahir kembali ini digelar di 30 kota, dari Juli hingga Agustus. Meski begitu, festival tahun 2003 ini tidak terlalu berhasil menembus sasaran akibat harga tiket yang mahal.

Tahun berikutnya, Lollapalooza menjanjikan dua hari di setiap kota yang mereka kunjungi. Namun rencana ini harus dibatalkan karena gagal mengamankan jumlah penonton minimum. Menyikapi ini, Farrell menggandeng pihak luar seperti C3 Presents dan William Morris Agency untuk memproduseri Lollapalooza.

Setahun berikutnya, Lollapalooza hadir sebagai sebuah festival satu tempat selama dua hari di salah satu kota favorit Farrell, Chicago. Format ini memungkinkan lebih banyak band dan musisi karena memiliki lima panggung dan 70 penampil.  

Lollapalooza 2005 pun sukses, karena berhasil menghadirkan sekitar 65.000 penonton. Melalui format baru dan momentum ini, festival ini terus berkembang. Sekarang, mereka bisa menghadirkan 100.000 kepala lebih setiap harinya, dengan total 300.000 selama tiga hari. Sekarang, festival ini pun memuat 170 band dan musisi di atas delapan panggung.

Sekarang, penonton tidak lagi disinggahi oleh Lollapalooza, tapi mereka yang angkat koper ke Chicago untuk menyaksikan salah satu festival musim panas terseru di AS. Bahkan, festival ini sudah berkembang dan memiliki "cabang" di sejumlah benua lain, yaitu Amerika Selatan dan Eropa.

Pada Lollapalooza 2019 yang sudah digelar pada 1-4 Agustus, festival ini menampilkan headliner berkelas macam Ariana Grande, Childish Gambino, Twenty One Pilots, The Strokes, Tame Impala, Flume, The Chainsmokers, dan J Balvin. 

Lollapalooza menjadi bukti nyata dari festival musik yang besutan musisi masih bisa bertahan dan awet. Pada akhirnya, festival semacam ini membutuhkan bantuan dana dari korporat-korporat besar, tapi visi Lollapalooza adalah perlawanan terhadap arus utama. Singkatnya: sebuah gelaran yang memungkinkan budaya tandingan merajalela di tengah masyarakat.

0 COMMENTS