LOU REED: Sang Penggebrak Tatanan Jagat Rock

  • By: OGP
  • Rabu, 1 February 2017
  • 6208 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

“While the Velvet Underground's debut album sold only 30,000 copies, everyone who bought one of those 30,000 copies started a band..." - Brian Eno

Berbicara tentang peta musik dunia, tentu tak lepas dari pengaruh vital dari para pesohor di dalamnya. Diantara buah pikiran yang brilian, lantas dieksekusi baik oleh sang musikus. Maka tak heran jika fragmen berupa keberagaman entitas subgenre tercipta alami serta tersebar di belantika rock. Inovasi yang dihasilkan oleh sang maestro, seolah menjadi akses pintu masuk bagi kalangan generasi baru yang ingin lebih dalam menyelami musik.

Ibarat sebuah poros, sang pentolan sahih dianggap sebagai penentu kiblat suci bagi kalangan penggiat musik. Diantara deretan para inovator rock, Lou Reed jadi salah satu figur penting di lanskap musik modern. Publik tentu mampu mengidentifikasi dirinya secara baik. Setelan khas dengan kacamata hitam, bergaya slick sembari padu menggunakan jaket kulit berwarna gelap. Tak lupa sambil memegang gitar kesayangan ke atas panggung dengan tatapan beler. Ya, representasi akurat dari sosok Lou Reed.

Lou Reed terlahir dengan nama lengkap Lewis Allan Reed pada 2 Maret 1942 di pemukiman Brooklyn, New York City, Amerika Serikat. Ia dan keluarganya merupakan penganut yahudi yang taat. Kecintaannya terhadap musik mulai bermekaran ketika beranjak remaja saat berusia 16 tahun. Ia bersama kawan dekatnya kala itu sempat membentuk sebuah band bernuansa doo-woop bernama The Jades.

Namun kerentanan jiwa psikis Reed remaja tak bisa terhindar. Dirinya seringkali mengalami perasaan cemas dan depresi secara berlebihan. Walau begitu, Reed sempat mengenyam pendidikan formal di Syracuse University mengambil kuliah jurnalistik, film dan penulisan kreatif di masanya. Maka tak asing baginya dibekali kemampuan sastra yang mumpuni. Ia piawai dalam mengolah diksi lewat konten lirik ciptaannya yang nakal namun tegas tanpa basa-basi.

Di awal periode tahun 1960-an, pertemuan Reed dengan komplotan The Velvet Underground dan sosok seniman eksentrik Andy Warhol, selayaknya sudah menjadi takdir Reed menuju karier puncak kebintangannya di jagat rock dunia. Opus bertitel The Velvet Underground & Nico yang rilis di tahun 1967 silam, diklaim oleh beberapa kritikus musik tenar sebagai salah satu harta karun di jagat rock & roll. Lewat pengaruh vitalnya, oleh sebuah media musik ternama pun berani memasukkan album debut itu ke dalam daftar deretan album terbaik sepanjang massa.

Secara komersial, album perdana The Velvet Underground kalah dari telak dari pelakon-pelakon rock beken lainnya seperti The Beatles, Jimi Hendrix, The Doors, Pink Floyd, hingga The Rolling Stones yang menetaskan karya di tahun yang sama. Namun dari segi gagasan The Velvet Underground banyak memainkan terobosan yang tak biasa di khazanah rock waktu itu.

Progresi eksperimen di dalam materi yang solid serta tema lirikal konten yang tabu seolah menjadi senjata rahasia band asal New York itu. Bukan rahasia umum, kalau Reed selalu menyisipkan plot berupa pembahasan spesifik tentang persoalan relevan seperti penyimpangan seks, narkoba, hingga unsur sadomasokisme ke dalam lembaran lirik.

Lou Reed dan kawan-kawan menyembah pada sisi idealisme yang tak mau berkonfontrasi dengan kebebasan dalam berkarya. Mereka tak menghiraukan cemoohan tentang debut album The Velvet Underground yang hanya mampu meraup jumlah 30 ribu kopi dari segi penjualan. Tentu ekspektasi para publik menetapkan standar tinggi di kala itu, mengingat figur Andy Warhol yang memanajeri langsung gerombolan inisiator ranah rock modern itu.

Tampaknya Lou Reed lebih memercayai akan dampak musik yang telah mereka jalankan menjadi tonggak penyebaran budaya pop, yang kemudian bertransformasi menjadi sebuah prototipe vital. Setelahnya Reed dkk menelurkan album-album penting lainnya. Sebut saja White Light/White Heat, The Velvet Underground, dan Loaded. Sampai pada akhirnya  The Velvet Underground harus bubar di tengah jalan di tahun 1973.

Lepas dari band, Lou Reed mulai mempersiapkan dirinya secara matang lewat proyekan solonya. Album keduanya bertajuk Transformer seakan menjadi titik balik kebangkitan sosok berpengaruh di belantika itu. Tak tanggung-tanggung tokoh sentral seperti David Bowie menawari dirinya sebagai seorang produser sekaligus murid kepada Reed. Hubungan di antara Bowie dan Reed tak cuma sekedar kerabat dekat semata, lebih dari itu mereka merupakan rival selaku inisiator rock terhebat yang pernah ada.

Pada sisi materi, barisan lagu-lagu prominen semacam “Walk on the Walk Side,” “Perfect Day,” “Satellite of Love” sampai “Vicious” mampu menjadi katalisator bagi band-band rock muda lainnya untuk bergerak menuju arah kultur pop di level yang berbeda. Kesuksesan Transformer pun dibuntuti oleh album milik Reed lainnya seperti Berlin. Kedua album istimewa itu masuk ke dalam jajaran album terbaik sepanjang massa. Hal ini menegaskan jika ada atau tanpa The Velvet Underground, Lou Reed mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai musisi yang patut disegani.

Terpaan badai kritik mulai mengguncang karier Reed pasca melepaskan album kontroversial berjudul Metal Machine Music di tahun 1975. Lumuran jejak eksperimentasi yang absurd menjadi hidangan utama pemuas di album itu. Berisi empat bagian repertoar monoton khas instrumental yang dijejali bunyi-bunyian bising feedback gitar, tanpa irama maupun melodi.

Bagi awam, karya milik Reed kali ini sangat sukar untuk dinikmati dengan kuping telanjang. Konon pernah beredar isu, kalau banyak dari para pembeli vinyl tersebut mengembalikan rilisan fisik Metal Machine Music karena mengira ada kerusakan pada material di piringan hitam. Bahkan tak segan hampir semua kalangan kritikus musik—kecuali jurnalis legendaris Lester Bangs yang malah memujinya—kala itu memberikan respons negatif kepada karya tak lazim milik Reed tersebut.

Lewat album anehnya itu, Lou Reed pun mulai dikenal publik luas sebagai pengulik ulung di dataran musik. Ia seringkali mencoba mengkaji serapan musik yang berseberangan arus dengannya. Maju ke beberapa dekade ke depan, Reed sempat berkolaborasi lintas genre dengan unit heavy metal sekaliber Metallica lewat opus Lulu yang rilis di tahun 2011. Serupa tak berbeda dengan yang lalu, karyanya bersama Metallica itu dicaci habis-habisan oleh segelintir awam. Namun Lou Reed tetap tegas menjadi personanya sendiri di umur senja. Ia tetap menatap lurus ke depan, acuh terhadap kritikan pedas yang dialamatkan kepadanya.

Langit tak biasanya kelabu. Kabar duka kembali menyelimuti awan gelap di New York pada 27 Oktober 2013 silam. Reed menghembuskan nafas terakhirnya di usia 71 tahun akibat penyakit hati yang dideritanya. Berpulangnya Lou Reed merupakan salah satu momen paling intim bagi penggila musik. Bebagai respons haru silih berdatangan menjadi doa, berkat jasa-jasa dan warisan pusaka rock yang ditinggalinya tak akan lekang digerogoti waktu.

Sang legenda itu memang telah tiada. Walau beberapa kalangan kerap menyindir kapasitas teknik bernyanyinya yang dinilai sumbang dan biasa saja, tapi segelintir pemuja percaya jika suara Reed memiliki daya tarik nan ekspresif. Selain sosok inisiator ulung, Reed juga berlaku sebagai visioner sejati jika ditelisik. Dampak karyanya mulai begitu terasa pada dekade-dekade belakangan.

Lou Reed merupakan inventor yang percaya jika muatan distorsi gitar berisik nan liar adalah rangkaian suara yang bisa nikmat terdengar. Maju ke beberapa tahun setelahnya, unit-unit seminal seperti The Jesus and the Mary Chain, My Bloody Valentine, Sonic Youth, dan kumpulan band-band shoegaze di awal 90-an mengadopsinya secara gamblang. Ya, Lou Reed memang pantas menjadi sosok panutan. Dirinya adalah salah satu representasi yang tepat sebagai ikon musik rock dalam singgasana jagat musik dunia.

3 COMMENTS
  • rikysubagza31

    Mantap

  • Waridin

    Mantap

  • ozmajoz

    Ini sih legendaris