Malcolm McLaren: Sang Propagandis Punk

  • By: NTP
  • Senin, 12 February 2018
  • 2264 Views
  • 5 Likes
  • 7 Shares

Malcolm Robert Andrew McLaren tidak pernah memikirkan soal kegagalan.

“Pada akhirnya kita semua akan gagal. Tapi setidaknya buatlah kegagalan yang indah dan luhur. Kalau jadi orang sukses yang jinak, semua orang pun bisa,” ujar McLaren.

Atas nasihat itu (yang diberikan oleh seorang guru seninya), ia mendirikan butik pakaian fetish SEX bersama perancang busana sekaligus kekasihnya saat itu, Vivienne Westwood, memanajeri dan merancang propaganda/pemasaran Sex Pistols serta New York Dolls, kemudian maju sebagai walikota London.

Kegagalan McLaren memang mengesankan.

**

McLaren meninggal di samping kekasihnya, Young Kim dan putranya, Joe Corre. Ia meninggal dalam umur 64 tahun di sebuah rumah sakit di Ticino, Swiss.

Layaknya anak pasca Perang Dunia II, ia dibesarkan neneknya setelah sang ayah kabur dari rumah saat McLaren masih berusia dua tahun. Ia keluar dari rumah neneknya saat menginjak usia remaja, menghidupi diri lewat berbagai pekerjaan serabutan.

Di dekade 60-an, McLaren sempat mengenyam pendidikan seni di Goldsmiths, Central Saint Martins, dan Harrow School of Art.

Setelah ditendang dari berbagai kampus, McLaren membuka butik Let It Rock (kemudian berganti jadi Too Fast to Live, Too Young to Die) bersama Vivienne Westwood di King’s Road, London. Butik ini menjual koleksi pakaian bergaya subkultur Teddy Boy.  

Di tahun 1971, misi butiknya adalah “menyelamatkan fesyen dari komodifikasi.”

“Kegagalan adalah niatan saya di bisnis ini, tapi untuk gagal dengan secemerlang mungkin,” ucap McLaren.

Visi McLaren dan Westwood menjadi kenyataan saat mereka berkunjung ke National Boutique Fair di New York pada 1973. Di sana McLaren berhasil membujuk New York Dolls untuk berada di bawah manajemennya, sekaligus menjadi pemasok busana panggung mereka. Permainan simbolis dan taktik mengejutkan McLaren di mulai bersama New York Dolls; ia memasang simbol palu arit di pakaian mereka.

Taktik McLaren adalah pembacaan jitu atas hubungan antara musik, identitas visual dan kondisi sosial-politik. Baginya musik dan fesyen berada dalam satu paket identitas yang menyatu. Ia menggunakan simbol (palu arit untuk Marxisme, lingkar A untuk Anarki dan swastika terbalik untuk Nazisme) sebagai informasi visual dan penampang ide.

Pada 1975, akhirnya strategi ini mengubah butiknya menjadi toko S&M bernama SEX (kemudian Seditionaries). Butik ini menjadi titik temu di kancah punk rock London.

McLaren merangkai Sex Pistols dari tiga pelanggan utama tokonya: Steve Jones, Paul Cook, dan Glen Matlock. ‘Johnny Rotten’ Lydon, yang berambut hijau dan memakai kaus “I Hate Pink Floyd” datang paling terakhir.

Bersama Sex Pistols, McLaren menemukan medium idenya. Keempat pemuda penuh amarah ini mengencingi tatanan industri musik saat itu, seperti menghina label mereka EMI, merilis single “God Save the Queen” dengan sampul yang mencoreng foto Ratu Elizabeth II (sekaligus mencapai nomor dua di tangga lagu Britania Raya pada ulang tahun ke-25 koronasinya), tampil di atas perahu di sungai Thames (di hadapan gedung Parlemen Inggris) menggunakan perlengkapan bondage, menyebut pembawa acara Bill Grundy “bajingan kotor” dan menjadi penutur kata “fuck” pertama di siaran langsung televisi.

Sex Pistols merilis letupan berjudul Never Mind the Bollocks, Here's the Sex Pistols pada Oktober 1977. Mereka tampil terakhir kali di Britania pada penghujung tahun itu dan memulai rangkaian tur AS pada Januari 1978. Sengketa manajemen dan royalti di tubuh Sex Pistols pun dimulai. Menurut McLaren, kondisi ini sudah ia rencanakan dari awal.

Kontroversi Sex Pistols mencapai puncaknya saat Matlock (bass) dipecat lantaran dituduh menyukai The Beatles dan digantikan oleh Sid Vicious (John Beverley) pada 1977. Vicious akhirnya meninggal karena overdosis pada 1978. Sex Pistols akhirnya meledak, bubar dan menuntut McLaren atas mismanajemen serta macetnya royalti.

Pasca tragedi ini, Lydon menjuluki McLaren sebagai “manusia paling jahat di bumi” karena memerlakukan orang lain seperti “proyek seni atau sumur uang.” Bukan McLaren namanya jika tidak bisa menggunakan ironi semaksimal mungkin, ia berperan sebagai Sang Penipu di dokufiksi, The Great Rock'n'Roll Swindle (1980). Ia akhirnya kalah dalam sengketa kontrak dan royalti melawan Lydon di tahun 1987. Sejarah Sex Pistols versi para personel ini muncul dalam dokumenter The Filth and the Fury (2000).

“Punk menjadi fenomena budaya terpenting di akhir abad ke-20. Kemurniannya melawan budaya ‘karaoke’ hari ini, di mana semua hal dan orang bisa dijual,” papar McLaren.

Bagi McLaren segala “teatrikal” ini merupakan caranya untuk menyebarluaskan ide punk rock. Ia memang seorang figur penuh paradoks; membenci komodifikasi dan komersialisasi tapi ahli strategi pemasaran yang jitu. McLaren berjalan di jejak ‘manajer band’ eksentrik seperti Andrew Loog Oldham (The Rolling Stones), dan Alan Klein (The Beatles).

Bakatnya sebagai konseptor dan ahli strategi pemasaran, ia mengubah musik dan tampilan grup Adam and the Ants. Mereka menggunakan gaya pakaian glam ala Bowie dan menyuntikkan sound post-punk. Tak lama kemudian McLaren mendorong tiga personel The Ants membentuk band baru bernama Bow Wow Wow, dengan vokalis Annabella Lwin (kala itu berumur 13 tahun) yang ia temui di jasa mesin cuci umum.

Selain memanajeri berbagai grup seperti The Slits dan Jimmy The Hoover, ia menggarap album new wave/world music Duck Rock (1983), yang turut memengaruhi tumbuhnya hip hop, serta single “Madam Butterfly” di tahun 1984. Di penghujung dekade ini McLaren juga merilis album funk/orkestra Waltz Darling (1989). Sementara medio 90-an, ia merilis Paris di tahun 1994 bersama Catherine Deneuve.

Pada millenium baru, McLaren menulis lagu untuk soundtrack Kill Bill Vol. 2 (2004) dan menjadi konseptor serta pengembang ide untuk Steven Spielberg. Pada periode ini McLaren merambah dunia film, ia menjadi produser dokumenter Fast Food Nation (2006), salah satu kritik paling tajam terhadap industri daging dan burger.

Langkah McLaren yang paling kontroversial pada dekade ini adalah pencalonannya sebagai walikota London melalui jalur independen di tahun 2000. Berikut adalah manifesto McLaren yang diterbitkan harian New Statesman:

“Saya tidak pernah memilih partai politik manapun atas alasan yang sudah saya utarakan di atas. Walikota London adalah peran yang penting. Mari kita jaga peran ini dari para politisi,” tulis McLaren.

Ini adalah definisi rock n’ roll bagi McLaren.

Pengaruh konsep kontroversial dan permainan simbolis McLaren dalam menyatukan elemen visual dengan musik bisa dideteksi dari era post-punk hingga britpop (Oasis) dan band garage rock revival seperti The Libertines. Sebaliknya, komodifikasi simbol dan semangat punk rock ke dalam budaya populer arus utama hingga penjualannya sebagai produk pakaian ritel, juga terpengaruh oleh karya McLaren.

“Rock n’ roll tidak harus berarti sebuah band. Tidak harus berarti seorang vokalis, dan lirik. Rock n’ roll adalah usaha untuk mencapai keabadian,” ucap McLaren.

1 COMMENTS
  • yukeren

    Mantap

Info Terkait

supericon
896 views
supericon
936 views
supericon
1161 views
supericon
1357 views
supericon
1532 views