Mark Hoppus

Mark Hoppus: Si Blink Asli yang Tersisa

  • By: NND
  • Senin, 18 March 2019
  • 1891 Views
  • 0 Likes
  • 0 Shares

Sebagai seorang bassis, vokalis, dan penulis lagu Blink-182, nama Mark Hoppus juga sudah tidak asing lagi. Sudah bermusik semenjak belia, pria yang terlihat tidak pernah bertambah umur ini sudah menjadi ikon pop-punk. Mulai dari keusilan dan kejahilan yang tidak jarang dia lakukan saat sedang tampil, ataupun saat menggarap video klip.  Saat ini, Mark adalah satu-satunya personel Blink-182 asli yang tersisa.

Merambah Dunia Musik

Penyandang nama asli Mark Allan Hoppus ini terlahir di Ridgecrest, California, pada tanggal 15 Maret, 1972. Masa kecilnya datar-datar saja, tapi hal itu berubah ketika kedua orang tuanya bercerai saat usianya masih delapan tahun.

Setelah perceraian itu, Mark kerap berpindah-pindah tempat tinggal antara ayah dan ibunya selama dua tahun. Semasa duduk di bangku SMP, Mark mulai bermain skateboard dan mendengarkan musik-musik punk. Pada masa-masa inilah sikap Mark mulai membelot terhadap keluarga dan masyarakat.

Di awal masa SMA, Mark bersekolah di Fairfax, Virginia. Di saat inilah dia memiliki bass dan menonton konser pertamanya, kala itu Mark terpapar oleh musik They Might Be Giants di 9:30 Club.

Bass itu ia dapatkan sebagai hadiah dari ayahnya, yang kemudian ditambahkan amplifiers yang ia beli dari uang hasil menyelesaikan pekerjaan rumah untuk ayahnya. Mark tidak pernah mengambil kelas musik, ia mempelajari musik secara otodidak dengan lagu-lagu dari Descendents, The Cure, dan Bad Religion.

Kelahiran Blink-182

Di tahun 1992, Mark diterima kuliah di daerah San Diego, saat inilah dia bertemu dengan Tom DeLonge saat liburan musim panas. Mereka diperkenalkan melalui adik perempuannya, sontak Mark dan Tom pun langsung bersahabat karena kemiripan sifat serta kesamaan musik favorit.

Kisah yang melegenda tentang persahabatan kedua remaja ini adalah saat Mark memanjat lampu jalanan di depan garasi Tom untuk mendapat pengakuan darinya. Pada akhirnya, kedua pergelangan kaki Mark saat mendarat.

Singkat cerita, keduanya sepakat untuk membentuk band punk, maka Tom menarik teman dari SMA-nya dulu, Scott Reynor sebagai penggebuk drum. Terbentuklah Blink-182 dengan nama Blink, tapi harus diganti karena sudah ada band asal Irlandia yang lebih dahulu menyandangnya. Angka "182" yang mengekori nama tersebut merupakan angka yang dipilih secara spontan, tanpa dibekali artian apapun.

Setelah terbentuk, rekaman pertama mereka adalah sebuah demo berjudul Flyswatter, yang direkam secara amatir di kamar Scott. Flyswatter tersebut berhasil mengantarkan musik mereka ke telinga-telinga yang tepat. Lewat demo tersebut, mereka mendapatkan panggung perdana mereka. Setelah itu, mereka merekam demo kedua yaitu Buddha, yang hinggap ditelinga Cargo Music, label indie setempat.

Mendengar nama Blink-182 dan sadar atas potensi mereka. Akhirnya, kontrak rekaman pun berhasil mereka amankan. Melalui bantuan Cargo Music, Blink-182 merampungkan album pertama Chesire Cat. Album perdana yang ikonik ini tidak terlalu menjual, tapi mendapat respons baik dari fans, dan musisi sekalipun.

Di tahun 1996, Mark, Tom, dan Scott melepas album kedua, Dude Ranch—yang ketika dirilis memperoleh hasil yang sangat memuaskan. Hits seperti "Dammit", yang ditulis oleh Mark, diputar terus-menerus di radio. Klimaksnya, Blink-182 mengamankan posisinya sebagai peserta tur Vans Warped Tour.

Naasnya, pada pertengahan tur di tahun 1998, Mark dan Tom harus memecat Scott akibat kecanduan alkohol sekaligus menolak rehabilitasi. Drummer Aquabats yang saat itu ikut Vans Warped Tour, Travis Barker, setuju menggantikan posisinya. Tur berjalan dengan baik meski Travis baru saja masuk, hal ini mendorong mereka untuk menggaetnya secara permanen.

Usai tur tersebut, mereka langsung menggarap album Enema of State. Album ini berhasil menjebol pasar dan segala ekspektasi, mengantarkan Blink-182 menuju ketenaran dengan lagu-lagu seperti "What's My Age Again?", "Adam's Song", serta "All The Small Things".

Setelah bermandikan ketenaran, konflik mulai hadir diantara Mark dan Tom. Tom, untuk memuaskan hasrat musiknya yang tidak tersalurkan dengan Blink-182, merekrut Travis untuk bermain dengannya dalam proyek sampingnya, Box Car Racer. Mark merasa cemburu dan hubungan trio ini semakin diguncang. Permasalahan-permasalahan seperti ini dan perubahan kehidupan karena sudah berkeluarga berujung pada status hiatus dari Blink-182.

Bubarnya Blink-182 dan Proyek Solo

Di tahun 2003, mereka kembali dan segera menggarap album kelima. Materi yang disajikan sudah berubah, meski tetap direspon positif oleh penggemar dan media massa. Musik mereka terdengar lebih “dewasa”.

Usai tur dan jadwal yang berat, serta konflik-konflik diantara Mark dan Tom, mereka kembali menyatakan vakum, dan kali ini tersedia waktu istirahat yang cukup panjang. Selama hiatus, Mark dan Travis tetap menggarap materi baru bersama-sama.

Mereka membentuk grup musik punk yang lebih kental pengaruh elektronik-nya, +44, meski penjualan tidak begitu baik dibandingkan dengan saat bersama Blink-182. Trio Blink-182 baru kembali lagi untuk merekam satu album pada 2011, dan satu EP di tahun 2012. Namun, berselang tiga tahun kemudian, Tom resmi keluar dan digantikan oleh Matt Skiba dari Alkaline Trio.

Sepanjang kariernya, Mark tidak hanya bermain dengan musik. Dia berbagi perusahaan dengan Tom, mengepalai Atticus dan Macbeth. Selain itu, dia juga sempat memiliki acara podcast-nya sendiri, yang diberi nama "HiMyNameIsMark" pada tahun 2005, dan kembali aktif mulai tahun 2012 hingga sekarang. Tahun 2010, Mark juga sempat menjadi pembawa acara di serial TV milik Fuse, "Hoppus On Music".

Mark Hoppus, suami dari Skye Everly yang menikah pada tahun 2000, merupakan seorang vegetarian yang sempat tinggal di London selama tiga tahun, terhitung semenjak 2011. Tahun 2014, barulah Mark dan keluarga kembali pindah ke California. Dewasa ini, ia tengah disibukkan proyek barunya, sebuah duo dengan Alex Gaskarth dari All Time Low. Mereka membawakan musik-musik berirama pop elektronika yang dipadukan dengan sound pop-punk.

0 COMMENTS