MAX CAVALERA: Duta Metal Dunia Ketiga

  • By: NTP
  • Jumat, 3 March 2017
  • 9229 Views
  • 2 Likes
  • 3 Shares

“Bernyanyi bersama mereka dan melihat mereka berteriak bersamaku, dan juga melihat teman-temanku bermain. Perasaan seperti ini terasa nikmat, membuatku tak sabar segera tampil. Sebetulnya saya benci menunggu waktu naik panggung, karena saat-saat itu sangat membosankan.”

- Massimiliano ‘Max’ Antonio Cavalera

Bocah lelaki berumur sembilan tahun itu meratapi kematian sang ayah. Adik kecilnya, Igor Graziano, juga merasakan hal yang sama.

Kepergian seorang diplomat, Graziano Cavalera, di umur 40 tahun akibat serangan jantung meninggalkan lubang yang dalam di benak kedua anak lelakinya, terutama sang kakak. Terdorong oleh tragedi dan pengaruh besar album seminal Black Sabbath Vol. 4, kedua bocah itu akhirnya sepakat membentuk band. “Dancing On Your Grave”, sebuah lagu Motörhead, menjadi inspirasi nama yang menaungi duo ini. Sejak saat itu, bendera Sepultura mulai berkibar di Belo Horizonte, Brazil, dan duo Cavalera pun mulai serius mengasah bakat mereka.

Awalnya, Max dan Igor terpengaruh beberapa grup rock papan atas seperti Led Zeppelin, Deep Purple, Black Sabbath, dan band heavy metal yang populer di awal dekade 80-an seperti Iron Maiden, Motörhead, AC/DC, serta Judas Priest.

Namun, akses musik rock dan metal Brazil kala itu bak keran kosong, pasalnya negara ini sedang dikuasai kediktatoran militer. Selain tingkat kesejahteraan yang rendah, produk impor pun sulit masuk ke pasaran dan dibanderol selangit. Max bersama para sahabatnya, harus membeli album-album tersebut di sebuah toko di Galeria do Rock, São Paulo (tujuh jam dari Belo Horizonte). Jalan lain yang ditempuh Max adalah via kancah pertukaran kaset metalheads atau komunitas punk Brazil atau mancanegara, ini adalah salah satu keunikan kancah musik bawah tanah Brazil.

Setelah berusaha keras, Max dan Igor akhirnya menemukan extreme metal. Nama-nama berpengaruh seperti Celtic Frost/Hellhammer, Megadeth, Sodom, Kreator, dan Exodus sampai ke telinga mereka. Venom, grup thrash metal asal Inggris, adalah nama terpenting bagi kakak beradik ini. Sejak berhasil mendengarkan album Venom, Max dan Sepultura seperti mendapat cetak biru musik mereka.

Pada tahun 1984, Max dan Igor memutuskan drop out untuk fokus pada Sepultura, di tahun yang sama, personil lain pun mulai datang dan pergi. Paulo Jr mengisi pos bassis, Jairo Guedes mengisi pos gitaris, dan posisi vokal diisi Max, karena vokalis Wagner Lamounier mundur di tahun 1985 (Lamounier kemudian membentuk unit black metal pertama di Brazil, Sarcófago). Di tahun ini, Sepultura merilis Morbid Visions via label Cogumelo. Sound thrash, death, dan black metal yang kental terdengar jelas di album tersebut, bahkan lagu “Troops of Doom” menjadi ‘lagu wajib’ di konser Sepultura hingga kini.

Setelah merilisi Morbid Visions, ketiganya menetap di São Paulo, dan setahun kemudian, gitaris Andreas Kisser pun bergabung, mengisi posisi yang ditinggalkan Guedes. Tak butuh waktu lama, album yang menandai pergerakan Sepultura pada sound thrash, Schizophrenia, dirilis. Di titik krusial ini, Sepultura justru tak bisa tampil di panggung karena tak ada promotor dan pemilik klub/bar yang berani menyediakan tempat bagi mereka untuk menggelar konser. Jikalau kesempatan tersebut datang, konser Sepultura pun mungkin saja dibubarkan oleh aparat, fenomena ini kerap terjadi, bahkan hingga kini.

Momentum ini justru dimanfaatkan betul oleh Max, dengan etos Do It Yourself yang gigih, dia mengirim kaset Schizophrenia ke beberapa radio di AS dan mendapat respon positif. Album ini pun menjadi barang buruan metalheads Eropa dan AS, bisa dibilang inilah pertama kalinya album extreme metal asal Amerika Selatan menembus dua pasar tersebut. Akhirnya label metal asal Belanda, Roadrunner Records, mendistribusikan Schizophrenia dengan cakupan internasional, tanpa pernah sekalipun menonton Sepultura. Di tahun 1987, Schizophrenia  terjual sebanyak 10.000 kopi.

Terjalinnya kontak antara beberapa kancah extreme metal AS dengan Sepultura tidak disia-siakan oleh Max. Kala itu, Max memutuskan untuk memajukan langkah Sepultura dengan ‘kabur’ dari Brazil dan mencari kesempatan di AS.

“Kondisi di Brazil sangatlah menyulitkan kami, hampir tidak mungkin sebuah band extreme metal dikontrak label major, karena penggemar metal umumnya adalah orang-orang tak berpunya. Kalaupun ada kesempatan dan uang untuk menggelar konser besar, penggemar kami tak mampu membayar tiketnya!,” tegas Max.

Akhirnya, pada tahun 1988, Max (mewakili Sepultura) terbang ke New York dan bertemu dengan beberapa label rekaman, pertemuan tersebut menghasilkan kontrak sepanjang tujuh album dengan Roadrunner Records. Perjalanan Sepultura menguasai kancah extreme metal dunia pun dimulai, tanpa rehat, kuartet ini mulai menggodok Beneath the Remains bersama produser Scott Burns (Death, Obituary, Morbid Angel) di Nas Nuvens Studio, Rio de Janeiro pada paruh akhir Desember 1988.[pagebreak]

Perlahan tapi pasti, kekuatan Sepultura berhasil membentuk kekuatan extreme metal lain di belahan bumi selatan, perlahan menyeimbangkan dominasi Eropa dan AS dalam kancah ini. Beneath the Remains, selain berhasil menyelinap di nomor 9 UK Indie Chart, juga memperkenalkan sound gitar yang bersih dan presisi (kelak diteruskan Gothenburg Sound di Swedia), sebuah perspektif baru dalam death metal. Tanpa mengorbankan kebuasan riff, kecepatan maksimum, dan produksi ‘kotor’ khas death metal 80-an, Sepultura sukses mengembangkan komposisi, dan menancapkan pengaruh dalam subgenre tersebut. Max menganggap Sepultura berhasil menemukan sound khas mereka di Beneath the Remains; sebuah album death metal dengan intensitas hardcore punk.

Usai merilis Beneath the Remains, Sepultura merekrut manajemen baru yang dikepalai Gloria Bujnowski, lalu  hijrah ke kampung halamannya di Phoenix, AS di tahun 1991. Tahun ini adalah masa spesial, tidak hanya bagi Max dan Sepultura, tapi juga bagi death metal. Kebrutalan death metal yang tadinya hanya bergema di bawah tanah, kini mulai mengisi festival-festival rock kenamaan seperti Rock in Rio di Rio de Janeiro, Brazil, dan Donnington di Leicestershire, Inggris.

Pada tahun ini Sepultura juga didapuk sebagai salah satu penampil di festival Rock In Rio II, di hadapan 100.000 penonton. Dalam film Global Metal (2009), Max merasa bahagia bahwa akhirnya Sepultura diakui di kancah rock Brazil. Pada penampilan spesial itu, Sepultura membawakan beberapa lagu dari album yang melayangkan reputasi mereka di kancah extreme metal dunia, Arise.

Arise direkam pada tahun 1990 di Morrisound Studio, dapur rekaman pribadi milik Scott Burns di Tampa, AS. Album ketiga Sepultura ini mulai bergerak ke luar dari zona death metal dengan memasukkan sound industrial (grup seperti Einsturzende Neubaten, The Young Gods, dan Ministry jadi konsumsi harian Sepultura) hardcore, dan perkusi Latin.

Komposisi Arise banyak mengandalkan ritme tribal dan permainan Max-Kisser yang makin padu dengan meningkatnya kemampuan mereka menggubah lagu. Arise memiliki nuansa tribal yang sanggup melengkapi intensitas sound death dan thrash metal Sepultura, di saat bersamaan, musik Sepultura menjadi melodik lewat suplai riff-riff tebal Max.

Faktor lain yang menjadikan Arise sangat otentik adalah lirik dan gaya vokal Max. Suara parau Max dengan lantang meneriakkan cerita jalanan dari dunia ketiga dan kondisi distopia negara-negara berkembang. Tema-tema politik-sosial di Brazil seperti kelaparan, penyakit, kebrutalan aparat, kekecewaan terhadap agama, dan kematian menjadi nyawa Arise.

Perspektif Max dan Sepultura memandang kondisi sosial-politik dengan kemarahan yang jujur. Igor bahkan menyatakan bahwa mereka membuka kemungkinan metalheads di dunia ketiga untuk meniti jalan serupa. Suara mereka ternyata mewakili kondisi banyak anak muda kala itu, tidak mengherankan mengingat album ini mendapat sertifikasi platinum global dan emas di Indonesia. Arise juga  merupakan album pertama Sepultura yang berhasil memanjat tangga lagu Billboard Charts. Namun, di luar dugaan, potensi Max dan Sepultura ternyata masih sangat besar, hal ini terlihat di album mereka berikutnya, Chaos A.D.

Di album ini, kepiawaian Max dan Sepultura mencapai titik terbaiknya, baik saat menggubah lagu, menyeimbangkan keberagaman berbagai elemen (tribal, industrial, groove metal, thrash metal, dan hardcore), maupun saat bereksperimentasi dengan komposisi lagu. Sepultura melangkah keluar kecepatan tinggi di tiga album mereka terdahulu dengan mengutamakan variasi ritme dan bertumpu pada groove. Materi-materi tersebut dikerjakan di Phoenix secara gotong-royong selama empat bulan, mengharuskan semua personil berpindah rumah.

Eksperimentasi Chaos A.D. juga melibatkan produser baru, yaitu Andy Wallace (Nirvana, Slayer, Rage Against the Machine), di studio rekaman baru, Rockfield Studios di Wales Selatan. Selain itu, mereka pun mengubah setelan gitar ke D standar, yang memicu perdebatan sengit antara Max dan Kisser.

 “Saya harus bertengkar dengan Andreas soal itu karena dia seorang purist. Saya ingin setelan kami diubah ke D, sementara materi-materi Sepultura ada di E standar. Alasan saya adalah karena Black Sabbath bermain di setelan D, maka kita pun harus mencobanya!,” tegas Max.

Komposisi Sepultura semakin rapat, meninggalkan kecepatan tinggi, mengutamakan part-part progresif dan nada-nada disonan, bertujuan menciptakan tekstur yang khas. Kecenderungan ritmik Amerika Latin juga berperan besar dalam membentuk tulang punggung Chaos A.D. Semua aspek tersebut dibungkus dengan agresi groove metal, seperti yang sedang dirintis Pantera.

Denyut eksperimental Sepultura yang dipompa Max ternyata menghasilkan album berkualitas tinggi, yang menghasilkan komposisi beragam. Hasilnya sudah terdengar sejak nomor pembuka antemik, “Refuse/Resist” yang berlandaskan groove ketimbang kecepatan. Sementara riff-riff lambat muncul di “Nomad”, agresi berkecepatan penuh menghantam lewat nomor hardcore “Biotech Is Godzilla”. Lagu pamungkas “Kaiowas” bisa dibilang puncak eksperimentasi di Chaos A.D., komposisi tribal instrumental ini direkam di kastil tua Chepstow, atas keinginan Max.

Chaos A.D. tak hanya menempati urusan teratas soal penjualan (mencapai nomor 32 di Billboard Charts dan terjual sebanyak setengah juta kopi di Amerika Serikat) di diskografi Sepultura, tapi juga yang paling politis. Di album ini, Sepultura semakin keras berbicara tentang kondisi sosial-politik Brazil. Pasalnya, sedang terjadi demonstrasi besar-besaran di Brazil saat album ini digarap. Peristiwa ini menyebabkan lirik Max semakin tajam mengkritik kekerasan yang terjadi di berbagai belahan dunia, serta perilaku korup pemerintah Brazil pada saat itu.

“Kaiowas” adalah penghormatan Sepultura bagi bunuh diri massal suku indian Guarani Kaiowá karena terancam digusur dari tanah leluhur mereka. Nomor “Biotech Is Godzilla”, yang menampilkan Jello Biafra (vokalis Dead Kennedys) berkisah tentang teori konspirasi uji coba bakteri dan kuman oleh pemerintah Amerika Serikat terhadap warga Brazil. “Amen” adalah tanggapan terhadap pembantaian pengikut gereja David Koresh di Waco, Texas. Sementara lagu kedua, “Territory”, mengecam pendudukan Israel di Palestina. Namun, pernyataan paling keras Sepultura justru hadir di lagu “Refuse/Resist” dan “Manifest”.

“Lagu ‘Refuse/Resist’ adalah sisi gelap Sepultura, sebuah lagu anti-polisi, bentuk anarki yang sesungguhnya. Anda bisa menyebut album ini sebagai ‘musik kerusuhan’, ia dipenuhi tema-tema berisiko, tapi seperti itulah keadaan saat itu. ‘Manifest’ juga sangat berarti bagi saya, lagu ini bercerita tentang pembantaian tahanan di penjara São Paulo, sebanyak 110 napi dibunuh. Salah satu teman saya ada di sana dan memotret peristiwa itu, kami pun menggunakannya sebagai artwork album,” papar Max. Tak hanya lirik dan artwork, video klip juga digunakan Sepultura sebagai medium protes, “Refuse/Resist” menampilkan rekaman kerusuhan dan kekerasan aparat di seluruh dunia.

Langkah konkrit juga ditempuh Sepultura untuk menjumpai metalheads di negara dengan kondisi serupa Brazil, seperti Indonesia. Mereka sempat menyambangi Indonesia dan tampil di Stadion Tambaksari, Surabaya pada 1992. Walau arek-arek metal saat itu tidak bisa menikmati Sepultura dengan maksimal karena dipukuli tongkat bambu oleh tentara di tengah-tengah konser karena moshpit mereka dianggap terlalu liar.

Foto: nadatjerita.wordpress.com

Menurut Max, Sepultura dan para penggemar mereka bersatu dalam rasa frustasi terhadap kritik atas gaya hidup mereka (berambut gondrong dan bertato) yang dianggap tak sesuai norma. Max menganggap mereka sudah terlalu muak akan ketidakadilan, korupsi, kejahatan, dan kemiskinan, juga terhadap pemerintah yang tidak peduli pada nasib mereka. Di titik ini, Sepultura adalah megafon yang meneriakkan kemarahan orang banyak.

Mode berkarya dan kritik seperti itu tak berlangsung lama bagi Sepultura. Roots, album terakhir Max bersama band yang didirikannya ini, justru mengungkap wajah Brazil yang terlupakan dan menggunakannya sebagai instrumen kritik. Jika album-album Sepultura sebelumnya menitikberatkan kritiknya pada penindasan di Brazil, maka Roots menampilkan Brazil sebagai sumber inspirasi. Album ini adalah dobrakan terbesar Sepultura, dan lewat album ini, Max ingin memperlihatkan sisi artistik masyarakat Brazil.

“Satu hal yang ingin kami hindari adalah mengulangi karya sendiri. Bisa saja sebetulnya kami membuat Arise Part 2 atau  Part 3, dan menurut saya para penggemar kami akan tetap menyukainya. Namun, sebagai musisi langkah itu tidaklah baik. Bagi saya, Roots membuka jalan terhadap banyak kemungkinan; yang dulu dianggap tidak mungkin, sekarang menjadi sangat mungkin”, tutur Max.

Meneruskan penekanan Sepultura akan kebaruan sound dan eksperimentasi, mereka menggandeng produser spesialis nu-metal, Ross Robinson (KoRn, Fear Factory) untuk sesi rekaman Roots, di Mato Grosso, kediaman suku Xevante dan Indigo Ranch, di California. Pemilihan Robinson sebagai produser didasari hasil produksinya di dua album, yaitu KoRn (1994) dan Life is Peachy (1996), Max menyatakan bahwa Sepultura kala itu terpengaruh sound gitar downtuned KoRn.

Selain menjelajahi sound baru, Sepultura kali ini benar-benar menyelami musik tradisional Brazil. Pendekatan ini terlihat dari kolaborasi mereka dengan suku Xavante dan Carlinhos Brown, perkusionis asal Bahia yang mengarahkan Sepultura untuk bagian perkusi di sepanjang album. Kuartet ini terinspirasi permainan perkusi  Olodum, grup samba reggae asal Salvador, Bahia.

Salah satu faktor yang mendorong eksperimen Sepultura dengan elemen tradisional adalah mimpi yang dialami Max. Pria berambut gimbal ini bermimpi mengunjungi hutan hujan Amazon untuk rekaman. Selain itu, para personil Sepultura tumbuh besar memainkan musik tradisional Brazil, terutama Cavalera bersaudara yang sempat mempelajarinya di sekolah samba. Walaupun, materi kolaborasi ini tergolong asing bagi personil Sepultura, Roots adalah pertemuan dua dunia; akar musik tradisional dari hutan hujan dan agresi metal di perkotaan.

Kolaborasi dengan suku Xavante tersebut bukan semata bertujuan menambah aksen eksotis di album Roots, langkah ini bisa disebut sebuah usaha penggalian ilmu dari sesama warga Brazil. Roots padat dengan ritme dan instrumentasi yang belum pernah muncul di musik metal. Album ini datang di waktu yang tepat, karena pada masa Roots dirilis, (awal triwulan 1996) perkembangan musik metal secara umum terbilang mandek.

Hasilnya, adalah eskperimen sound yang mengalir sepanjang album, dipenuhi kemarahan dan agresi, serta diselingi petualangan sonik yang menambah daya gedornya. Setelan gitar Max dan Kisser juga diturunkan menjadi E rendah atau B dan D, strategi ini mampu menciptakan atmosfer penuh tekanan dan klaustrofobik, Frekuensi rendah ini bersahutan dengan sound bising drum Igor. Sementara, vokal Max konsisten melewati distorsi, menambah nuansa penuh tekanan sepanjang Roots.

Elemen dan instrumen tradisonal Afro-Brazilian kerap memperkaya nuansa Roots. Contohnya seperti Berimbau, instrumen senar yang mampu terdengar jelas di antara kekuatan  distorsi “Attitude”. Sementara instrumen perkusi karnaval Salvador seperti djembe, lateria dan surdo berpadu alami dengan sound death metal di “Ratamahatta”. Tak ketinggalan juga kolaborasi Sepultura dengan suku Xavante yang menghasilkan dua lagu, “Born Stubborn” dan “Itsari”. Musisi lain yang bertamu di album ini mencakup David Silveria, Jonathan Davis (KoRn), DJ Lethal (Limp Bizkit), dan Mike Patton (Faith No More, Mr. Bungle).

Sedangkan, tema dan topik di lirik Roots berkesinambungan dengan musik yang kaya, berbicara soal budaya dan kondisi sosial-politik Brazil. Esensinya adalah kekuatan tradisi dan perjuangan tanpa henti, juga penindasan dan rasa sakit di sepanjang sejarah Brazil. Lirik-lirik Roots  juga menyentuh kekuatan kediktatoran militer yang kian mengendur di Brazil. Walhasil, album berkekuatan besar yang memiliki lirik bertenaga tinggi ini terjual sebanyak 500.000 kopi di AS (bersertifikasi emas RIAA di tahun 2004).

Namun, respon positif serta teriakan lantang tentang persatuan dan tegak dalam menghadapi tantangan ternyata tidak cukup untuk mencegah perpecahan di tubuh Sepultura. Pada bulan Desember 1996 kuartet ini mendadak bubar, alasannya adalah ketegangan antara Max-Gloria (manajer sekaligus istrinya) dengan para personil lainnya. Musibah lain yang menimpa Max adalah kematian anak angkatnya, Dana Wells, akibat tabrakan mobil di tahun yang sama.

Pasca keluar dari Sepultura, Max akhirnya memutuskan untuk kembali bermusik, melanjutkan format penggabungan instrumen tradisional dan extreme metal bernama Soulfly. Gitaris ini mengaku menggunakan musik sebagai terapi atas depresi yang ia derita di periode ini.

“Masa-masa itu merupakan saat yang sangat berat di hidup saya, karena saya tak menduga akan mundur dari Sepultura. Di bulan-bulan awal, saya bahkan tak ingin bermain musik lagi, saya hanya ingin teler, mabuk dan tak mempedulikan semuanya. Namun, perlahan saya mulai menulis lagi dan proses ini terasa menyenangkan karena banyak elemen di album sebelumnya yang saya teruskan. Struktur lagu, riff dan chorus-nya sangat mirip. Masa-masa itu sangatlah sulit dan saya tak ingin mengulanginya lagi. Banyak orang yang menyukai debut Soulfly, mungkin karena di album itu ada sedikit keputusasaan. Ketika kamu kehilangan segalanya, makan kita harus mulai lagi dengan apapun yang kita punya.” jelas Max.

“Saya benci menganggur, saya benci tak melakukan apapun, itulah sebabnya saya tak bisa membanyangkan masa pensiun. Saya ingin terus bekerja, karena saya merasa lebih baik tiap kali saya mengerjakan sesuatu. Menggagas banyak proyek membuat saya merasa baik,” imbuhnya

Semangat Max yang pantang menyerah dan terus berinovasi jelas terasa di proyeknya yang paling singkat, Nailbomb. Sebelum mundur permanen dari band yang didirikannya, bersama Alex Newport, gitaris band noise-rock/industrial Fugde Tunnel, Max membentuk unit industrial metal bernama Nailbomb. Unit industrial metal ini hanya merilis satu album studio, Point Blank (1994) dan hanya sekali tampil di panggung (Dynamo Open Air, Belanda, tahun 1995). Nailbomb bisa dibilang adalah puncak kreativitas Max di luar Sepultura.

Proyek singkat ini mempertemukan dua spektrum extereme metal, dan terbukti mampu menghasilkan album berkekuatan tinggi, lebih tinggi dari Sepultura. Nailbomb menciptakan sound death/thrash repetitif yang dipadati nuansa industrial via sampling dan drum machine. Debut mereka, Point Blank merupakan salah satu buldozer yang membuka jalan popularitas industrial metal dan rock ke kancah extreme metal. Album ini pantas disebut sebagai salah satu percik jenius terakhir Max. Pengaruh album tersebut bahkan terasa hingga unit post-metal seperti Neurosis.

Selain Soulfly, tangan gatal Max tidak cukup menghuni hanya satu band saja. Bersama Igor (yang keluar dari Sepultura di tahun 2006), Max membentuk band death/thrash bernama Cavalera Conspiracy, yang sudah merilis tiga album yaitu Inflikted (2008), Blunt Force Trauma (2011), dan Pandemonium (2014). Tak hanya itu, Max juga membentuk unit groove/sludge/metalcore bersama Troy Sanders (bassis Mastodon), Juan Montoya (eks-gitaris Torche), Ben Koller (drummer Converge) dan Greg Puciato (vokalis The Dillinger Escape Plan, bernama Killer Be Killed, yang sudah merilis satu album di tahun 2014.

Walaupun ke dua band tersebut tidak mampu menyaingi kualitas Sepultura di masa Max atau bahkan Nailbomb sekalipun, tapi kini Max justru merasa lebih bahagia. Di samping banyaknya proyek musik yang ia lakukan, kini Max juga sudah berhenti total mengonsumsi alkohol dan narkotika.

 “Sepuluh tahun lalu mungkin kondisi saya masih berantakan, saya masih minum alkohol dan mengonsumsi banyak obat-obatan, hal-hal itu memengaruhi penampilan saya saat tur. Saya adalah tipe orang yang ekstrim, jadi ketika saya melakukan satu hal, saya akan sangat serius. Saya berhenti minum dan mengonsumsi narkotika, di saat itu juga saya semakin mencintai metal, dan mulai mendengarkan band-band baru. Rasanya seperti candu,” ungkap Max.

Tanpa disengaja, Max adalah figur penting bagi metalheads di negara-negara berkembang, semacam juru bicara bagi para penggemar atau musisi metal yang tak seberuntung metalheads Eropa atau Amerika Serikat. Bersama Sepultura, Max memperlihatkan pentingnya berjuang sekuat tenaga demi mencapai tujuan, dan juga betapa krusialnya eksplorasi di dalam hidup. Secara nyata, karya-karya Max meredefinisikan ulang bagaimana agresi metal bisa berpadu dengan nafas tradisional, dan yang lebih penting lagi, Sepultura dapat hadir sebagai kekuatan dominan di kancah extreme metal dunia. Mereka adalah salah satu dari kita yang mampu menancapkan pengaruh begitu dalam dan terasa hingga sekarang, apa jadinya extreme metal tanpa Beneath the Remains, Arise, Chaos A.D., dan Roots? Mungkin saja extreme metal masih mengalami kemandekan artistik, tak mampu berbicara banyak soal inovasi.

Sepanjang karirnya, Max Cavalera adalah bukti nyata bahwa kita mampu menjadi lebih baik, dengan mengubah kesedihan menjadi keinginan kuat untuk mencapai kebebasan. 

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
339 views
superbuzz
1420 views
superbuzz
1118 views
superbuzz
2011 views

Soulfly Siap Garap Album Terbaru

superbuzz
1386 views