Jeff Buckley: Memoar Pilu Di Balik Album Grace

  • By: OGP
  • Sabtu, 19 November 2016
  • 4179 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Somebody asked me what I wanted to do. I just said I wanted to… just to give back to it what it’s given me. And to meet all the other people that are doing it… just to be in the world, really...”

 

Jika ada seseorang yang iseng bertanya, siapakah sosok musisi yang paling murni dan emosional dalam mengintrepretasikan musik? Mungkin tak ada salahnya bila kita melontarkan satu nama, Jeff Buckley!

Melihat sosok tampan Jeff Buckley, mungkin kita tidak bisa membayangkan kisah pilu yang ia jalani. Dicap sebagai salah satu solois terbaik di generasinya, sosok sentral yang mengilhami banyak individi ini juga pantas kita sebut sebagai ‘musisi sejati’.

Tepian area California yang riuh menjadi saksi bisu kelahiran Jeffrey Scott Buckley pada 17 November 1966. Ia merupakan putra dari seorang penyanyi folk kenamaan dari era 60’an Tim Buckley. Sayangnya, ia tidak pernah mengenal secara intim sosok kedua orang tuanya. Tim ditemukan tewas mengenaskan di usia yang tergolong muda, 28 tahun pada 1975. Figur ayah yang terlalu cepat hilang dari dirinya.

Beranjak remaja, Buckley junior mulai menaruh minat besar untuk beralih profesi menjadi seorang seniman. Seperti kiasan ‘buah tidak jatuh jauh dari pohonnya’, Buckley mewarisi bakat bermusik dari ayahnya. Walau dirinya berusaha keras tidak mau berkesan mendompleng nama besar ayahnya, ia berusaha keras mencari ciri khasnya sendiri.

Petualangan karir bermusik Buckley dimulai saat dirinya sering mengisi sesi pentas di sebuah bar kawasan pusat New York. Pojok musik Sin-é (yang diambil dari Bahasa Irlandia yang berarti that’s it) menjadi panggung tempat Buckley mempertontonkan kemahirannya dalam bermusik. Tak tanggung-tanggung, dirinya memproklamirkan sosok musisi kontemporer asing Nusrat Fateh Ali Khan - penyanyi unik aliran sufi qawwali berkebangsaan Pakistan. “He is my Elvis,” ujar sang gitaris kepada penonton di panggung saat dirinya manggung dengan tatapan berbinar.

Tak cuma Khan, Buckley juga gemar mengulik ensiklopedia peta musik. Nama-nama antik seperti Nina Simone, Billie Holiday, Bob Dylan, Edith Piaf hingga Leonard Cohen turut menjadi pedoman utama yang ia pegang dalam bermusik. Seringkali Buckley memainkan repertoar hasil daur ulang lagu milik para musisi pujaannya. Di sela-sela periode manggung kafe ke kafe, Buckley akhirnya mendapat tawaran merekam kaset demo dari Herb Cohen, eks kolega sang Ayah. Maka tak lama lahirlah track katalisator seperti “Eternal Life” dan “Last Goodbye”.

 

Produser rekaman kenamaan Amerika dan petinggi label A&R – Clive Davis – mencium potensi besar dari Buckley. Dirinya langsung mengontrak Buckley untuk bergabung dengan label rekaman Columbia Records. Perlahan namun pasti, impian Buckley mulai menjadi kenyataan, jerih payah yang kelak terwujud ke dalam album mahakarya melankolis bertajuk Grace.

Album debut Grace yang dirilis pertengahan tahun 1994 langsung bertengger di jajaran teratas tangga lagu industri musik modern. Hal ini terbukti dengan sertifikasi platinum yang diraihnya. Diproduseri langsung oleh produser bertangan dingin sekelas Andy Wallace, Grace seolah membuktikan kualitas yang diusung Buckley. Di mana dirinya juga menunjukkan komitmen untuk tidak tenggelam dalam gaya hidup para bintang.

Single “Hallelujah” yang sebelumnya digubah oleh penyanyi puitis Leonard Cohen meledak di pasaran. Lagu daur ulang ini tayang di berbagai channel, dari televisi hingga radio dan melambungkan nama Buckley hingga posisi teratas. Posisi single yang juga didukung track kuat lainnya, seperti  “So Real”, “Grace”, “Eternal Life” hingga “Last Goodbye” yang menjadi track muram wajib bagi kawula di masa itu. Di saat gelombang musik grunge serta semua media musik menyuguhkan kedigdayaan sound of Seattle, Buckley mencoba mematahkan dominasi tersebut seorang diri. Dengan membawakan musik rock yang terdengar depresif, inspirasi yang ia dapatkan dengan mengulik detil rentetan simfoni klasik dari para pendahulunya.

Walau penjualan album Grace tidak sekuat karya unit grunge yang rilis pada masa itu, kesuksesan Buckley junior terbukti lewat berbagai pujian yang ia terima. Bahkan sosok pujaan Jimmy Page menganggap album Grace sebagai album favoritnya. Belum lagi legenda hidup sekelas Bob Dylan secara terang-terangan menyatakan Buckley sebagai penulis lagu terbaik di generasinya. Sementara Mr. Ziggy Stardust alias David Bowie mengaku Grace adalah album yang wajib ia bawa ketika sedang berlibur ke pulau tropis.

Segera Buckley kembali masuk ke dapur rekaman untuk mulai memproduksi album keduanya, setelah menjalankan rangkaian tur dunia untuk album Grace. Album My Sweetheart the Drunk yang dikerjakan di tahun 1996 harus tertunda oleh sisi perfeksionis dirinya. Buckley secara terang-terangan menganggap belum puas dengan materi-materi yang ia buat. Dia masih mencari-cari formula kesempurnaan komposisi seperti yang terdapat di pusaka Grace. Buckley memilih untuk rehat sejenak sembari mencari angin segar untuk menyegarkan otaknya yang sudah dilanda rasa jenuh.

Sayangnya, cahaya terang yang menyinari Buckley tidak berlangsung lama. Pada tanggal 29 Mei 1997, Buckley bersama rombongan band-nya terbang ke Memphis untuk lanjut menyelesaikan materi musik yang baru ia tulis. Di malam yang sama, Buckley berinisiatif untuk pergi berenang seorang diri di tepian Wolf River Harbor, Missisipi. Sebagai tempat favorit Buckley untuk melepas penat, siapa yang mengira lokasi ini menjadi tempat terakhir dirinya.

Maju ke tanggal 4 Juni, secara mengejutkan dua penduduk lokal menemukan jasad Buckley terkapar di dekat kapal air. Persis seperti lirik “Asleep in the sand with the ocean washing over,” yang ditulisnya di lagu “Dream Brother”, Buckley seperti memprediksi kematiannya sendiri. Kejadian tragis yang membuat para fans setianya terpukul, terlebih dengan usia yang terbilang muda di 29 tahun. Seakan mengikuti jejak sang Ayah yang meninggal muda, figur Jeff Buckley menginspirasi banyak musisi dunia lainnya. Vokalis Cocteau Twins, Elizabeth Fraser menuliskan lagu tentang sosok Buckley bersama unit elektronik Massive Attack lewat track andalan “Teardrop”. Single yang menjadi penghormatan untuk mengenang dirinya sebagai sosok sahabat karib. Penyanyi wanita PJ Harvey turut menyumbang lagu “Memphis” sebagai bentuk respons terhadap kematian Buckley yang terlalu dini. Bahkan band populer semacam Coldplay pun menyatakan Jeff Buckley sebagai inspirator di awal karir Chris Martin Cs bersama meniti karir bermusik.

 

Sebagai seorang ikon kultur pop dunia, usia Jeff Buckley yang singkat menjadi penuh makna lewat karya yang ia torehkan untuk para pendengar musik. Karya abadi yang sedikit menggambarkan kisah manis-pahit yang ia jalani. Kekuatan emosi yang membekas serta menyentuh hati banyak orang. Kerinduan yang untungnya dapat sedikit terobati, karena Columbia Records dan Legacy Recordings merilis album You and I—Extended Edition— tanggal 17 November ini, yang akan menjadi ulang tahun Buckley ke 50. Album yang awalnya dirilis pada bulan Maret 2016 lalu ini juga memasukkan percakapan Buckley di studio, versi mentah “Everyday People,” “Calling You,” “Dreaming of You and I,” “The Boy with the Thorn in His Side,” dan “Night Flight.” Awalnya album ini dirilis pada bulan Maret 2016. Singkat kata, dunia harus merasa bersyukur atas keberadaan Buckley, dan mengucap dengan lantang ‘hallelujah’.

19 COMMENTS
  • rikysubagza31

    Terus dan terus maju

  • dimasgie

    Ciayoo band rock indonesia!!

  • taufikmauhawa

    Ciptakan musik rock yang keren keren ya

  • arifsutanto

    Rock paling keren

  • yuwanda

    Ntaps

  • agusdwi

    Terus perbanyak musisi musisi rock indonesia biar go internasional

  • juju

    Mantap soul

  • alvanmaulana

    Hidupppp

  • christianlorens

    Maju terus pantang mundur

  • firmans77

    Rock sahabat kita

Info Terkait

supericon
1839 views