Morrissey: Sang Flamboyan Tukang Protes

  • By: OGP
  • Kamis, 12 July 2018
  • 2216 Views
  • 2 Likes
  • 2 Shares

Di tiap dekadenya, tanah Inggris seolah tak pernah kehabisan stok bintang di lanskap musik. Di era 60-an, publik Inggris dengan bangga memiliki sosok ikonis seperti John Lennon dan Paul McCartney. Maju ke dekade berikutnya, Freddie Mercury datang dengan menebar pesona luar biasanya. Menuju transisi ke era 80-an, Britania Raya lagi-lagi tak henti memasok eksponen berpengaruh. Dekade 80-an, umat Britania Raya bersuka ria memiliki seorang ikon flamboyan bernama Morrissey.

Bersama The Smiths, nama Morrissey menjulang di kancah musik internasional. Ia dikenal sebagai salah satu penulis lirik terbaik di generasinya. Lirik yang ia tulis memiliki gaya khas tersendiri. Subjek-subjek relevan di sekitaran kehidupan masyarakat, seperti kritik sosial, satir, sinisme, emosional, rasisme, narkoba, sampai disabilitas pun jadi bumbu pada tema penulisan lagu yang dibuat.

Moz tak sekadar benyanyi dengan tingkah kefemininannya. Lebih dari itu, ia adalah sosok idealis nan jenius yang brilian. Ia mampu menciptakan suatu keadaan reversal, baik dalam musik ataupun kepribadian. Jika berbicara tentang sumbangsih yang Moz berikan pada kancah rock alternatif, maka takkan ada habisnya untuk diperdebatkan. Hebatnya lagi, Moz mampu menciptakan demam fandom di segala penjuru dunia. Ia dipuja-puja bak nabi dan dikelilingi wangi bunga Gladiol di sekelilingnya.

Steven Patrick Morrissey lahir di Davyhulme, Lancashire, Inggris pada 22 Mei 1959. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga Katolik yang taat dan sederhana. Sang ayah, Peter Morrissey adalah seorang pekerja buruh imigran asal Dublin, Irlandia. Sementara itu sang ibu, Elizabeth bekerja sebagai asisten pustakawan.

Sedari remaja, Morrissey perlahan mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia literatur. Ia begitu menggilai karya-karya sastra milik Oscar Wilde. Filosofi ‘aesthetic’ yang diusung Oscar ternyata menjadi inspirasi utama Moz dalam segi penulisan lirik sampai puisi yang dibuatnya. Selain literatur, Morrissey juga seorang penggemar musik. Kala itu, Inggris tengah mewabah demam glam rock. T.Rex, David Bowie, dan Roxy Music adalah segelintir musisi glam pujannya.

Seperti kebanyakan remaja-remaja Inggris di kala itu, Moz begitu terinspirasi dengan gencarnya revolusi punk di dunia. Dalam beberapa kesempatan, ia menyempatkan untuk menyaksikan konser elit-elit punk idolanya, seperti New York Dolls, Talking Heads, Ramones, dan Blondie. Sampai pada akhirnya bersama sang teman, Billy Duffy, Moz memutuskan untuk membentuk band punk bernama The Nosebleeds, pada 1976.

Di sini ia menjabat sebagai vokalis, dan sempat manggung di beberapa konser musik, serta muncul beberapa kali di kolom majalah musik. Meski demikian, tak satupun karya The Nosebleeds masuk ke dapur rekaman, hingga akhirnya mereka memutuskan bubar pada 1978. Kisah Morrissey dan The Nosebleeds pun berakhir.

Lepas dari The Nosebleeds, Morrissey tetap menjaga asanya untuk menjadi penulis profesional. Karier dunia kerja pertamanya adalah sebagai jurnalis musik di sebuah media. Selama paruh waktu bekerja menjadi jurnalis, ia telah mencetak beberapa buku musik untuk penerbit Babylon Books. Pada 1981, Moz merilis buku tentang salah satu band favoritnya The New York Dolls, serta aktor idolanya, James Dean, yang dituangkan ke dalam buku berjudul James Dean is Not Dead. Kecintaan Moz pada aktor era 50-an itu ditunjukkannya dengan memajang kolase foto Dean di seluruh bilik dinding kamarnya.

Di awal tahun 1982, Moz bertemu dengan seorang pemuda berbakat bernama Johnny Marr. Keduanya pun ternyata memiliki chemistry yang kuat, memiliki pikiran yang sejalan dan bertekad untuk membentuk sebuah band. Setelah merekam beberapa demo mentah bersama, Morrissey akhirnya merekrut dua personel lain, yakni Mike Joyce dan Andy Rourke. Mereka sepakat untuk membentuk The Smith, kuartet alternative rock yang memiliki etos semangat punk di dalamnya.

Tak perlu menunggu lama, karier Morrissey bersama The Smiths langsung melambung. Band asal Manchester itu mulai menarik atensi publik. Musik yang mereka bawakan dinilai punya karakter unik yang tak sekadar ikut-ikutan tren punk, glam, hingga new wave yang kala itu jadi musik arus utama. Mengendus segala potensi yang dimiliki The Smiths, label independen legendaris, Rough Trade tak pikir panjang untuk mengontrak kuartet elegan tersebut.

Di bawah naungan Rough Trade, The Smith produktif menelurkan sebanyak empat album studio, yakni The Smiths (1984), Meat Is Murder (1985), The Queen Is Dead (1986), dan album terakhir Strangeways, He We Come (1987). Semua single-single di dalam album mereka tersebut mampu merajai tangga lagu Inggris kala itu. Tak pelak, The Smiths ditasbihkan sebagai salah satu talenta terbaik yang dimiliki oleh Inggris kala itu.

Empat album The Smiths ini turut melahir nomor-nomor penting di khazanah kancah alternative rock sampai saat ini. Sebut saja “There Is a Light That Never Goes Out”. “How Soon is Now”, “This Charming Man”,  “Please, Please, Pleasem Let Me Get What I Want”, “Girlfriend in a Coma”, “Bigmouth Strikes Again”, hingga “Heaven Knows I’m Miserable Now”.  Kemunculan The Smiths jadi cikal bakal ledakan kancah britpop di dekade selanjutnya.

Namun seiring tinggi pohon, maka semakin kuat juga terpaan angin. The Smiths akhirnya berada di titik kulminasi mereka. Saat proses pembuatan album terakhir, Strangeways, He We Come, Morrissey mulai perlahan merasakan frustasi pada The Smiths. Ironisnya, karier mereka tengah berada di puncak saat itu. Sang gitaris, Johnny Marr juga merasa lelah, monoton dan berada di tingkat kecanduan alkohol yang cukup serius. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk bubar di tahun 1987. Lepas The Smiths bubar, Strangeways, He Come akhrinya rilis. Seakan hal tersebut menjadi penanda bahwa era The Smiths telah berakhir selamanya.

Karier bermusik Morrissey tak serta-merta berakhir sampai di situ saja. Ia ternyata memiliki ambisi lain setelah bubarnya The Smith. Moz akhirnya mantap memutuskan untuk berkarier solo. Banyak dari penggemar fanatiknya yang menyayangkan keputusannya tersebut. Segelintir fans tak sepenuhnya yakin Moz bisa berjalan sendirian tanpa andil seorang Johnny Marr, yang juga merupakan ‘nyawa’ dari The Smiths.

Namun siapa yang menyangka, lepas dari The Smiths, nama Morrissey malah kian meroket di jagat musik. Tanpa basa-basi Morrissey langsung melepas album solo debut  impresif bertajuk Viva Hate (1988). Album ini sempat menuai kontroversi di dataran Britania. Track provokatif “Margaret on the Guillotine” ternyata mampu menyulut api di kalangan pemerintahan Inggris.

Lagu tersebut adalah bentuk kebenciannya terhadap Perdana Menteri Inggris kala itu, ‘The Iron Lady’ Margaret Thatcher. Moz secara blak-blakan menganggap jika Thatcher telah menghancurkan industri manufaktur Inggris, dia membenci buruh, seniman, hingga membenci warga miskin Inggris. Bagi Moz, Thatcher adalah seorang wanita yang tak memiliki nurani dan keramahan.

Alhasil pasca perilisan Viva Hate, Morrissey sempat diciduk oleh pihak berwenang. Namun beruntungnya, ia lolos dari sangkaan tersebut, karena dinilai tak memiliki bukti yang konkret. Media sekelas Rolling Stone menyebut Viva Hate sebagai “A tight, fairly disciplined affair”. Sementara Pitchfork menyebutnya sebagai “One of Morrissey’s most interesting records, and certainly his riskiest.

Kesuksesan Morrissey berlanjut di album-album selanjutnya, seperti Kill Uncle (1991), Your Arsenal (1992), Vauxhall and I (1994), Southpaw Grammar (1995), Maladjusted (1997), You Are the Quarry (2004), Ringleader of the Tormentors (2006), Years of Refusal (2009), World Peace Is None of Your Business (2014), dan yang teranyar Low in High School (2017).

Di jajaran karyanya, Moz juga berhasil mencetak jajaran nomor-nomor cemerlang. Sebut saja “Suedehead”, “Everyday Is Like Sunday”, The Last of the Famous International Playboys”, “The More You Ignore Me, the Closer I Get”, “Let Me Kiss You”, hingga ”First of the Gang to Die”. Kendati sudah tak muda lagi, nyatanya Morrissey masih produktif dalam menelurkan karya musik.

Tak melulu soal musikalitas, di luar dunia tarik suara, Moz juga dikenal sebagai sosok aktivis. Ia kerap aktif berkampanye untuk menegakkan hak asasi hewan, dan sempat mendukung kampanye yang dibuat oleh organisasi hak asasi hewan, People of the Ethical Treatment of Animals (PETA) dan veganisme yang dianutnya. Bahkan, ia melarang daging hewan berada dalam area konsernya.

Bagaimanapun Morrissey tetap menjadi salah satu primadona musik Inggris. Tak berlebihan rasanya jika menyematkan Morrissey sebagai salah satu figur paling ikonis dan berpengaruh di belantara musik. Ia adalah seorang yang berpendirian keras, memiliki misi, dan berani untuk memaparkan pendapat-pendapat personal yang dirasanya benar.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
759 views
superbuzz
1897 views