UCOK AKA: Pahlawan Rock Indonesia

  • By: AB
  • Kamis, 3 November 2016
  • 8735 Views
  • 3 Likes
  • 0 Shares

"Rock star are born, not made," istilah ini pantas ditujukkan untuk Andalas Datoe Oloan Harahap alias Ucok AKA. AKA sendiri merupakan nama band rock yang didirikan Ucok pada 1967, singkatan dari Apotek Kaliasin.

Surabaya, apotek, dan kehidupan borju, adalah hal yang tidak bisa dikesampingkan dari hidup Ucok. Lahir dari peranakan Batak - Prancis, Ucok bisa dibilang beruntung. Dia tinggal di kawasan elite kota Surabaya, besar dari keluarga pengusaha yang kaya. Orangtua Ucok mendirikan apotek Kaliasin, sebuah toko obat laris di zamannya. Namun, dasar memang Ucok memiliki DNA rock star, kemapanan tak membuatnya terlena.

Ucok kecil tak ubah anak-anak biasa, sarat kenakalan. Tinggal di rumah gedong, Ucok kerap diam-diam main di perkampungan dekat tempat tinggalnya. Pada saat itu, Ucok tinggal di rumah yang terletak di Jalan WR Supratman 8, Surabaya, sementara playground-nya ada di kampung Kupang, Grudo, dan Pandegiling. Dia kerap mencuri lauk-pauk dari rumahnya, untuk dibagikan ke anak-anak kampung yang  kurang secara finansial.

Ucok belum mengenal nikmatnya nge-band sampai tahun 1966. Kala itu, Ucok yang bekerja di apotek milik orangtuanya, menyisihkan upah untuk membeli satu set alat band di toko musik Koh Jun Sen, yang terletak di Jalan Dempo, Surabaya.

Alat-alat yang dibeli adalah drum Ludwig seharga Rp175 ribu, amplifier Marshall Rp200 ribu, gitar model stratocaster Rp150 ribu, dan keyboard keluaran merk asal Italia, Farfisa Rp400 ribu. Berbekal alat-alat itu, Ucok bertekad mendirikan grup musik. Namun, mencari pemain band bukan hal mudah kala itu. Musisi belum sebanyak sekarang. 

Ucok lantas mengatur strategi, dia berburu musisi di Taman Hiburan Rakyat yang terletak di Jalan Kusuma Bangsa, Surabaya. Lokasi itu dipilih karena menjadi titik temu seniman lintas latar belakang. Upaya Ucok tak sia-sia, di sana dia bertemu beberapa nama top, antara lain Leo Kristie dan Mus Mulyadi. Pergaulan juga membawa Ucok pada Zainal Abidin, drummer dari grup bentukkan Mus Mulyadi, Arista Bhirawa.

Lantas, Ucok menggaet Haris (gitaris), Peter Wass (bassist), dan Soenata Tanjung (gitaris).  Singkat cerita, pada 23 Mei 1967 resmilah lima musisi ini menahbiskan diri sebagai AKA. Nama Apotek Kaliasin dipilih karena memang studio latihan terpusat di apotek itu. 

Formasi awal AKA tak berlangsung lama, Zainal digantikan oleh adiknya, Sjech Abidin. Setelah berganti formasi beberapa kali, AKA menemukan komposisi seimbang, yaitu Sjech Abidin pada drum, Soenata pada gitar, Arthur Kaunang pada gitar, dan Ucok sebagai vokalis dan keyboardist. 

AKA merilis album debut pada 1970, bertajuk  Do What You Love. Produktivitas AKA terbilang tinggi, nyaris tiap tahun mereka tidak pernah absen merilis album. Meski usang, musik AKA tetap relevan didengar saat ini. Aroma psychedelic rock yang kental, berpadu dengan lirik Indonesia yang liar, seperti membuat kita tersadar betapa besar sejarah rock di negeri ini.

Tidak bisa disangkal lagi, Ucok memang memiliki karisma tinggi, di atas panggung Ucok selalu tampil beringas, darah binatang dia minum, sesekali masuk ke dalam peti mayat, dicambuk, juga digantung dengan kepala di bawah.  Aksi teatrikal Ucok tak jarang membawa malapetaka, dia pernah nyaris mati ketika tali yang menggantungnya putus hingga membuat Ucok terjatuh dengan posisi kepala di bawah. Peristiwa itu terjadi saat Ucok tampil di Jember pada tahun 1988. Saat menyanyi dengan cara digantung, posisi kepala di bawah, Ucok melihat ada keris melayang dengan api berwarna merah, mengarah pada tali hingga tali putus. Belakangan diketahui keris dan api itu tak kasat mata, ada yang bilang Ucok kena santet.

Sayangnya, Ucok tak mampu menjaga konsistensi AKA sebagai grup rock paling disegani waktu itu. Akhirnya, nasib AKA tidak jelas dan tiga personelnya memilih mendirikan band baru tanpa Ucok, SAS. Pemilihan nama SAS merupakan singkatan dari tiga personel AKA tersisa, yaitu Sjech, Arthur, dan Soenata.

Meski tak memiliki akhir yang manis, AKA adalah pilar penting musik rock Indonesia. Prestasinya juga tak bisa disepelekan, dengan 12 album studio, grup ini mampu menjadi band yang bukan saja menonjolkan kualitas bermusik, tetapi sebagai performer secara utuh, lengkap dengan aksi panggung yang gila. Prestasi unik AKA salah satunya, mampu menempatkan singel mereka yang bertajuk Crazy Joe ke dalam tangga lagu radio Australia. Sebuah kejadian langka, bahkan untuk era canggih saat ini.

 

Penakluk Panggung, Ditaklukkan Cinta

Meski memegang teguh citra rock star, soal hati siapa yang tahu. Ucok bisa dibilang merana karena cinta. Saat AKA sedang jaya-jayanya, Ucok memilih kabur bersama kekasihnya, Farida, dari Surabaya ke Jakarta. 

Alasannya, Ucok sudah memiliki istri dan empat anak saat memadu kasih dengan Farida,  sehingga restu orangtua tidak dapat mereka kantongi. 

Di Jakarta, Ucok hidup luntang-lantung. Menumpang di sana-sini, tidak punya uang bahkan untuk makan. Ini adalah bukti bahwa Ucok pria nekat. Dia rela meninggalkan popularitas sebagai rock star demi cinta.

Setelah menggelandang di Jakarta, Ucok dan istrinya secara tidak sengaja bertemu sutradara Ali Shahab. Sang sutradara melihat paras cantik Farida, dan menawari peran layar lebar. Atas nama desakkan ekonomi, tawaran itu langsung mereka ambil. Tak butuh waktu lama bagi Ucok dan Farida menjadi bintang film ternama. 

Setelah AKA meredup dan Ucok menapaki karier sebagai aktor, dia bertemu Ahmad Albar. Pertemuan ini lantas melahirkan grup fenomenal, Duo Kribo, pada tahun 1977. Dari Duo Kribo, lahir tiga album studio plus satu single Panggung Sandiwara yang sukses luar biasa.

Kehidupan ekonomi Ucok membaik dengan kesuksesan sebagai aktor dan Duo Kribo. Sebagai gambaran kondisi finansial Ucok saat itu, dia menerima Rp15 juta untuk tiap album Duo Kribo. Angka yang sama juga didapat Ahmad Albar. Karena mendapat respon yang tinggi di pasaran, lahir sebuah gagasan untuk mengangkat Duo Kribo ke layar lebar. Lagi-lagi, film itu meledak di pasaran dan Ucok meraup lebih banyak rupiah.

Ucok bangkit dari keterpurukan ekonomi, tapi tidak kisah cintanya. Ucok ditinggal pergi Farida dan dua anaknya. Inilah titik balik hidup Ucok. Dia depresi, bahkan sempat masuk Rumah Sakit Jiwa. Ucok tak kuasa menahan perih ditinggal begitu saja oleh istri dan anaknya. Menurut buku biografi Ucok, Antara Rock, Wanita & Keruntuhan karya Siti Nasyi'ah, Ucok sempat melakukan bermacam ritual demi bisa menyatukkan kembali keluarganya, di antaranya berjalan kaki dari Banten ke Banyuwangi, juga menemui dukun di pedalaman Kalimantan. 

Di samping sisi musikalitasnya, Ucok punya sisi spiritual yang dalam. Dia pernah menjadi dukun. Bukan tanpa alasan, pahitnya hidup membuat sisi spiritual Ucok tertempa. 

Perjalanan asmara Ucok tidak berakhir di Farida. Setelah Farida, setidaknya Ucok menikah enam kali lagi. Di luar itu, dia tetap sosok vokalis yang digilai perempuan. 

Setelah memendam rindu selama sekitar 27 tahun, Ucok akhirnya bertemu dengan Lia dan Ritchie, anaknya dari Farida. Sayang, pertemuan itu terjadi di ketika keadaan Ucok memprihatinkan di rumah sakit. Ucok memang berupaya mati-matian menemui Farida dan dua anaknya, hingga terus terbayang seumur hidup. Lia dan Ritchie menjenguk Ucok di Rumah Sakit Darmo Surabaya, pada 26 November 2009. Ucok kaget dengan kedatangan dua anaknya itu. Tak lama berselang, tepatnya enam hari kemudian, Ucok meninggal. 

Ucok tutup usia pada 3 Desember 2009. Seperti lagu yang dia populerkan bersama AKA, Badai Bulan Desember, Ucok benar-benar menerjang badai maut kematian di Desember. 

Sepanjang karier musiknya, Ucok setidaknya memiliki lima grup, termasuk AKA dan Duo Kribo. Tiga lainnya bernama Passport, Sweet Opini, dan Ucok and His Gang. Adalah lancang bagi penggemar rock, terlebih musisi rock tak mengenal sosok Ucok. Dia bukan sekedar pahlawan di bidang musik, tetapi tonggak musik rock Indonesia.  

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
6534 views