Phil Spector: Si Eksentrik Pencipta ‘Wall of Sound’

  • By: OGP
  • Rabu, 31 January 2018
  • 3246 Views
  • 5 Likes
  • 1 Shares

Aku merasa berkewajiban untuk mengubah musik menjadi sebuah seni, dengan cara yang sama dilakukan seperti Galileo, dengan membuktikan bahwa bumi mengelilingi matahari dan matahari tak berdiri sendiri.” – Phil Spector

Di orbit rock dunia, nama Phil Spector bisa jadi tak sebesar jasanya dalam mengubah cara pandang di  industri musik. Mungkin beberapa dari kalangan milenial, kerap mengagung-agungkan jajaran nama produser tersohor masa kini seperti Dr. Dre, Mark Ronson, hingga Paul Epworth, ketimbang Spector sendiri.

Namun bagi kalangan pelaku musik, nama Phil Spector selayaknya seorang ‘dewa’ di industri musik. Melalui tangan dinginnya, Spector mampu memberikan sentuhan emas pada karya-karya artis binaannya agar tak lekang ditelan zaman. Namanya pun abadi sejajar bersanding dengan elit produser legendaris seperti George Martin sebagai konduktor musik paling disegani. Berkat kepiawaiannya, tak jarang segelintir produser muda serta band-band rock menyematkan dirinya sebagai sosok panutan dalam bermusik.

Phillip Harvey Spector, dilahirkan di lingkungan kumuh Bronx, New York, AS pada 26 Desember 1939. Ia tumbuh besar di keluarga Yahudi taat. Sang ayah, merupakan seorang buruh bangunan. Namun malang tak dapat terhindar. Si ayah kemudian memutuskan untuk bunuh diri ketika Spector masih menginjak usia 9 tahun. Tak ingin berlama-lama dirundung duka lara, Spector pun memilih musik sebagai pelampiasan kesedihannya. Namun siapa sangka, musik turut menghantarkan dirinya menjadi salah satu orang paling berpengaruh di peta musik dunia.

Terjun ke belantara musik, Phil Spector sepakat membentuk grup vokal bernama The Teddy Bears di penghujung dekade 50-an. Bersama grup vokal bentukannya itu, karier Spector tak bertahan lama. Kurun waktu setahun, ia lalu memutuskan bubar. Sebelum menyatakan bubar, The Teddy Bears sempat merilis satu single jagoan berjudul “To Know Him Is to Love Him”. Lagu ciptaan Spector ini bertengger kokoh di peringkat satu tangga lagu Billboard di tahun 1958, serta menempati posisi kedua di tangga lagu NME.

Insting musikal Spector kian tajam. Sadar akan potensinya dalam mengaransemen sebuah lagu, ia pun mulai menawarkan ‘jasa’ untuk membina artis-artis muda berbakat. Langkah pertama, ia menuntun sebuah proyek musik bernama The Top Notes. Spector turut memproduseri hit andalan mereka berjudul “Twist and Shout”, yang kelak dipopulerkan oleh empat pemuda fenomenal asal Liverpool, The Beatles.

Mulai menapaki karier sebagai produser musik handal di Benua Amerika, Phil Spector dan rekannya, Lester Sill akhirnya sepakat untuk mendirikan label rekaman Philles Records (diambil dari kombinasi nama Phil dan Lester) di penghujung tahun 1961. Pundi-pundi uang serta popularitas mulai didapatinya. Lantas, artis pertama yang diorbitkan adalah sekelompok grup vokal wanita potensial bernama The Crystals.

Lewat sentuhan emas Spector, The Crystals sukses disulap jadi salah satu grup vokal wanita paling tersohor di sepanjang dekade 60-an. Merekan sukses menelurkan deretan hit andalan, mulai dari "There's No Other (Like My Baby)", "Uptown", "He's Sure the Boy I Love", "He's a Rebel", "Da Doo Ron Ron (When He Walked Me Home)" sampai "Then He Kissed Me".

Namun kisah manis antara The Crystals dan Phil Spector pun berujung dengan perpisahan. Tensi kian memanas seiring kemunculan grup vokal wanita binaan baru Spector, The Ronettes. Hubungan mereka kian merenggang, dikarenakan singgasana The Crystals mulai perlahan diduduki oleh The Ronettes. Tanpa disadari, Spector mulai mengalihkan fokus kepada The Ronettes yang terlihat lebih menjual ketimbang The Crystals. Tak lama kemudian, The Crystals pun memutuskan bubar setelah merasa dianaktirikan oleh Spector.

Ia pun semakin sukses dengan grup The Ronettes lewat single-single legendaris seperti “Be My Baby”, “Baby, I Love You”, “(The Best Part of) Breakin’ Up” dan “Walking in the Rain”. Nama Phil Spector dikancah musik makin populer di kalangan artis. Segelintir dari mereka tentu penasaran untuk dibesut tangan seorang profesional seperti Spector.

Sebagai salah satu produser paling disegani, Phil Spector selalu menerapkan cara yang tak konvensional dalam penggarapan sebuah album. Selaku produser perfeksionis, ia juga bertanggung jawab memilih lagu serta menentukan aransemen. ‘Wall of Sound’ adalah warisan paten darinya untuk lanskap musik. Ia membuat sebuah orkestrasi yang rumit, melakukan manipulasi dengan berlapis-lapis bunyi instrumentasi.

Masuk ke dekade 70-an, Phil Spector mendapati klien megabintang sekaliber The Beatles. Ia dengan senang hati menggarap album terakhir bertajuk Let It Be (1970) menjadi salah masterpiece di kancah rock dunia. Selang setahun kemudian, Spector dan John Lennon sepakat untuk menggarap album solo fenomenal bertajuk Imagine (1971).

Lewat sentuhan Spector, beberapa kritikus musik pun menyematkan bahwa Imagine adalah salah satu album solo terbaik milik mendiang Lennon. Beturut-turut di sepanjang era 70-an, Phil Spector juga menangani Leonard Cohen untuk album kontroversial, Death of a Ladies’ Man (1977) serta kuartet punk rock legendaris, Ramones untuk album End of the Century (1980).

Selama berkarier kurun waktu lima dekade, nama Phil Spector akhirnya tercoreng di media massa. Ia dinyatakan terbukti bersalah atas pembunuhan yang melibatkan seorang penyanyi bernama Lana Clarkson di tahun 2003. Setelah enam tahun dan melalui dua kali proses pengadilan, pada tanggal 13 April 2009 lalu Phil akhirnya dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 19 tahun karena terbukti melakukan pembunuhan dengan penggunaan senjata api. Hingga kini, Spector harus rela mendekam di balik jeruji besi di usianya yang kian senja.

Wall of Sound adalah cara menuju kesempurnaan karya dari seorang Phil Spector. Namun lebih dari itu, ia mampu menerobos batas bahwa produser musik bisa menjadi lebih terkenal daripada artis bersangkutan.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
197 views
supernoize
870 views
superbuzz
356 views
superbuzz
10668 views