Rick Rubin: Produser Bertelinga Emas dengan Sentuhan Midas

  • By: NTP
  • Senin, 27 November 2017
  • 6239 Views
  • 6 Likes
  • 2 Shares

"I'm just trying to make my favorite music. That's how I work; I just do things based on the way they feel to me. I want to be touched by the music I'm making."

- Rick Rubin

Di laman Discogs Rick Rubin, kredit produksinya mencapai angka 814 rilisan. Jejak Rubin ada di Reign In Blood (Slayer, 1986), Raising Hell (Run DMC, 1986), Blood Sugar Sex Magik (Red Hot Chili Peppers, 1991), hingga 21 (Adele, 2011). Anak semata wayang ini telah menyabet delapan Grammy Awards dan mendirikan dua label berpengaruh, Def Jam (bersama Russell Simmons) dan American Recordings. Pelaku industri musik Amerika Serikat menyebutnya, “guru”.

Karir Rubin di industri musik dimulai saat band-nya diusir dari panggung bar legendaris CBGB dan berubah total semasa ia kuliah di New York University di tahun 1984. Saat itu, Rubin berkenalan dengan Simmons dan mendirikan Def Jam di kamar kosnya.

Dua rilisan pertama Def Jam adalah single LL Cool J dan Beastie Boys. Kala itu hip-hop New York mulai merangsek dari bawah tanah ke tangga lagu populer, dan Def Jam berperan penting dalam pergeseran ini. Di pertengahan 80-an, label ini merilis tiga album berpengaruh: Radio (LL Cool J, 1985), Raising Hell dan Reign In Blood. Di akhir 80-an Def Jam merekrut dua grup legendaris lain, Danzig dan Public Enemy.

Rubin bergerak atas kemauannya sendiri. Inilah faktor terbesar keretakan hubungannya dengan Simmons, yang akhirnya meletupkan Def Jam. Simmons ingin mendulang keuntungan, sementara Rubin ingin tetap independen. Menurut Rubin, keputusan yang ia ambil selalu berpatokan pada elemen manusia dalam sebuah lagu.

“Apapun yang saya lakukan selalu dimulai dari lagu, baik memproduseri album, atau merekrut artis. Saat mendengarkan lagu, saya mencari keseimbangan yang bisa kita temukan di berbagai hal. Baik itu sebuah lukisan yang indah, sebuah gedung, atau saat matahari tenggelam. Kita terpuaskan oleh elemen manusiawi yang alamiah di sebuah lagu yang bagus, rasanya langsung memuaskan. Saya ingin lagu yang bisa menciptakan sebuah mood,” papar Rubin.

Resep kesuksesan grup dan musisi hip-hop yang ia produseri adalah penggunaan struktur lagu pop. Rubin mengaku menyukai The Beatles karena kuartet ini menguasai penulisan lagu pop. LL Cool J dan Beastie Boys adalah eksperimen tersukses Rubin mengubah struktur rap menjadi pop. Elemen ini mendongkrak penjualan Licensed to Ill (Beastie Boys, 1986) mencapai angka empat juta kopi (album hip-hop pertama yang menduduki nomor wahid tangga lagu Billboard), sebelumnya Rubin juga mendalangi hits “Walk This Way”, kolaborasi Run DMC dan Aerosmith dengan formula serupa.

Sebagai produser, Rubin dikenal dengan sound “telanjang” yang memotong strings (orkestrasi), vokal latar dan reverb. Rubin lebih menyukai vokal dan instrumentasi tanpa efek studio berlebihan, walau ia mulai menggunakan dua elemen tersebut sejak dekade 2000. Nama besar Rubin di bidang produksi bukan tanpa cela, sejak milenium baru ia dikritik sebagai biang loudness war. Ia seringkali menekan dan memangkas dynamic range untuk meningkatkan tingkat kebisingan suatu album.

Formula tersebut, sekaligus keberanian membawa musisi ke luar zona nyaman dan menulis lagu yang tak lekang oleh waktu, adalah kunci keberhasilan Rubin. Setelah ia setuju menggarap suatu album, Rubin akan membongkar detail materi lagu yang mereka sodorkan.

“Saya mencoba mendorong mereka untuk menulis lagu yang awet, tidak hanya untuk satu album saja. Mereka memperdengarkan lagu-lagu itu pada saya. Entah mengapa setelah menulis sepuluh lagu, mereka merasa itu sudah cukup. Namun saat saya mendengarkan lagu-lagu itu, hanya dua lagu yang bagus. Saya akan menyuruh mereka untuk menulis delapan lagu lagi dengan kualitas serupa.”

“Hal paling penting harus kita lakukan saat ini adalah menciptakan sebuah karya seni. Banyak keputusan yang diambil perusahaan rekaman tidak didasarkan pada kualitas musiknya. Alasan mereka mengontrak artis biasanya salah, mungkin karena artis ini tengah diperebutkan atau karena mereka harus kejar tayang tenggat perilisan album. Itu cara lama, tapi untungnya ketakutan membuat arogansi perusahaan rekaman berkurang. Sekarang mereka lebih terbuka dengan ide-ide segar. Jadi, yang penting sekarang adalah mencari musik yang tak akan dimakan zaman. Saya masih percaya jika suatu artis bisa meraih kepercayaan penggemar, maka apapun bisa terjadi,” papar Rubin dalam profil New York Times tahun 2007.

Contohnya adalah album keempat RHCP, Blood Sugar Sex Magik (1991), Rubin membantu mereka berganti kulit dengan memasukkan lebih banyak melodi. Ia membelokkan inti musik RHCP, funk rock dan rap, menjadi alternative rock dengan struktur lagu pop. Rubin juga mengaku tak menguasai aspek teknis rekaman, keunggulannya terletak di selera musiknya, keputusan kreatif dan visi artistik suatu album.

Tak hanya dengan musisi dan grup potensial, Rubin juga pernah merekonstruksi seorang musisi legendaris, Johnny Cash. Ia perlahan menyarankan Cash membawakan lagu-lagu seperti "Hurt" (Nine Inch Nails), "Personal Jesus" (Depeche Mode) dan "Rusty Cage" (Soundgarden). Rubin juga merekrut Cash dalam American Recordings, serta terlibat secara mendalam dari pemilihan lagu, aransemen, hingga video klip. Selama digawangi Rubin, Cash merilis lima album dalam waktu sepuluh tahun. Misi Rubin untuk membuat Cash menjadi relevan bagi generasi muda, tercapai sudah.

Kemudian, Rubin juga mulai bereksperimen dengan raksasa lain, perusahaan rekaman Columbia Records. Pada 2007, ia direkrut sebagai salah satu kepala (co-head) untuk membangun ulang kekuatan label ini. Rubin bersedia mengambil pekerjaan ini dengan syarat ia tidak wajib pergi ke kantor Columbia atau Sony (pemilik label ini) di cabang manapun.

“Dulu, saya selalu melindungi artis dari label, dan sekarang saya harus melindungi label dari diri mereka sendiri. Banyak keputusan yang mereka ambil tidak berdasarkan kualitas musik. Mereka picik dan putus asa. Mereka memegang kontrol untuk waktu yang lama. Namun sekarang monopoli itu sudah berakhir, mereka tidak tahu harus bagaimana. Saya pikir ini adalah tantangan yang menarik.”

“Saya membayangkan banyak orang bisa mengembangkan ide kreatif dan brilian di perusahaan ini. Namun Sony harus setuju akan hal ini. Saya tidak yakin mereka sadar tengah menjajakan karya seni. Padahal mereka bisa menjual produk lainnya. Itulah sebabnya mereka harus berkembang, kita ada dalam bisnis seni,” imbuh Rubin.

Rubin mengklaim ia menerima tawaran Columbia karena ia menyukai tawaran tersebut, ia merasa bisa menanam selera musik dan visi artistiknya ke dalam sebuah perusahaan rekaman multinasional. Ia tetap berpegang pada kemampuannya mendengarkan musik dan mengembangkan musisi untuk mencapai kemampuan terbaik mereka, dari perspektif seorang penggemar musik.

“Di tiap fase karir saya, selalu ada orang-orang yang melarang saya melakukan sesuatu. Saya selalu fokus pada elemen kreatif.”

“Saya hidup di dunia itu dan mematok keputusan bisnis berdasarkan keputusan kreatif. Saya diminta Columbia untuk mengisi posisi kreatif, jadi di situlah hati kecil saya benar-benar hidup. Saya berusaha keras tidak mencampuri urusan bisnis dan membiarkannya diurus orang-orang label. Selalu begitu sejak awal karir saya di Def Jam hingga sekarang. Tidak banyak yang berubah,” ujar Rubin saat diwawancara Billboard saat ia keluar dari Columbia di tahun 2012.

Pria berumur 54 tahun ini menganggap pekerjaannya di Columbia serupa dengan kesibukannya sebagai produser. Kecintaan Rubin akan musik adalah keahlian terbaik yang ia miliki, kemampuannya menemukan musisi dan grup berkualitas datang dari faktor ini.

“Pekerjaan saya di (Columbia) sama dengan peran saya sebagai produser di studio; untuk berbagi opini secara jujur dan terus terang.”

“Pada akhirnya saya adalah seorang pelatih. Sang artis tetap melakukan apa yang mereka inginkan. Sementara perusahaan rekaman juga akhirnya menentukan apa yang mereka mau. Saya mencoba menjadi pihak kreatif yang positif dan penenengah. Seringkali pihak lain menginginkan hal yang berbeda. It’s all cool.”

“Inilah keajaiban bisnis musik. Semuanya terasa muram dan kelam, tapi ketika kita menonton band seperti Gossip atau mendengarkan lagu Neil (Diamond) di studio, kamu akan mengingat bahwa musik tidak akan mati karena terlalu banyak orang yang memainkan dan mencintai musik. Musik tidak akan pernah punah. Musik akan bertahan jauh lebih lama dari kita semua,” pungkas Rubin.

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    LEGEND