Champion Sound: J Dilla dan Kehidupan Beat Hip-Hop

J Dilla: Sang Beatmaker Hip-Hop Legendaris

  • By: NTP
  • Jumat, 28 February 2020
  • 2110 Views
  • 4 Likes
  • 2 Shares

Pernahkah saat kalian bersantai dengan livestream lo-fi hip-hop dan terpikir, “Siapa sih yang pertama bikin musik kayak gini?” Biasanya, ada tiga nama yang keluar: Madlib, Nujabes dan J Dilla. Sementara Madlib alias Otis Jackson Jr. masih sehat, Nujabes/Jun Seba dan J “Dewitt Yancey” Dilla sudah tutup usia (di Februari 2006 dan 2010). Dari ketiganya, kontribusi Dilla dianggap signfikan sampai ada istilah “post-Dilla” dan gear miliknya, Akai MPC 3000, duduk manis di museum Smithsonian, Washington DC.

Jadi, siapa itu J Dilla?

Seperti banyak musisi berbakat Amerika Serikat dari Aretha Franklin, Eminem, George Clinton, Eminem, Juan Atkins, Jack White sampai Stevie Wonder, Dilla lahir dan besar di Detroit, Michigan. Menghabiskan masa sekolah di Conant Garden, ia dibesarkan di keluarga musisi. Ibu dan ayahnya tergabung di grup acapella, sementara ia dan adiknya, Illa J, adalah fanatik musik.

Sudah aktif bermusik dan mendengarkan musik sejak kecil, Dilla baru menekuni minatnya di usia SMA saat ia bertemu tetangganya, Joseph “Amp” Fiddler. Nantinya, ia adalah kibordis, komposer dan produser yang sempat aktif menjadi personel tur musisi legendaris George Clinton dan P-Funk All-Stars. Studio rumahannya, Camp Amp adalah ruang latihan bagi anak komplek yang hobi bermusik.

“Ia selalu tampil sebagai DJ di sekolah, tampil di banyak pesta dan resepsi pernikahan sejak remaja,” ujar ibunya, Maureen “Ma Duke” Yancey.

Pribadi pendiam yang dikenal akrab dengan para tetangga dan teman sekelasnya ini berteman dengan figur penting di kancah hip-hop independen Detroit. Nama-nama seperti Ronnie Watts (Phat Kat), Humberto Andres Hernandez (DJ Dez) dan kolektif Ghost Town jadi tongkrongan andalan Dilla.

Bahkan, gudang rumah produser yang akrab disapa Jay Dee ini pun sempat jadi markas besar kancah hip-hop/neo-soul Detroit. Pada periode 1992 hingga 1997 beberapa musisi yang kini dikenal sebagai megabintang seperti Common, Pete Rock, Q-Tip, D’Angelo, Jazzy Jeff, Erykah Badu, Mos Def, Talib Kweli, Bilal, Jill Scott serta Slum Village adalah penghuni semi-tetap ruangan tersebut.

Di luar lingkungan rumah dan sekolahnya, Dee juga sempat akrab dengan MC legendaris DeShaun Holton “Big Proof” (D12 dan hype man Eminem) di duo Funky Cowboys. Bersama Proof, instrumentasinya yang sederhana tapi mematikan, Akai MPC60, E-mu SP-12, Akai S950 drum machine/sampler mulai jadi senjata utamanya. Dikenal sebagai pribadi yang hangat, akhirnya pertemanan Dee pula yang membawanya ke banyak telinga. Tetangganya, Fiddler yang tampil bersama P-Funk di tur Lollapalooza 1994 mengenalkan Dilla ke salah satu figur hip-hop terpenting di era awal 90-an: Q-Tip.

Sejak saat itulah, berkat kecocokan musik dan insting produser keduanya, Dilla menggarap trek berbagai kru dan MC terbaik saat itu. Bersama Q-Tip, ia membentuk kolektif The Ummah, sementara The Pharcyde, De La Soul, Busta Rhymes, A Tribe Called Quest bahkan Janet Jackson pun pernah mencicipi beat garapan Dilla. Busta pernah bahkan pernah menyebut Dee sebagai “produser terbaik” favoritnya. Walau demikian, ia tetap ingin hidup di belakang layar dan menjauhi politik industri hip-hop saat itu.

“Dia bukan seorang anti-sosial, tapi ia memang pendiam. Kepribadian seperti itu adalah turunan dari ayah kami. Buat dia fokus utamanya adalah karya, ia tidak peduli soal-soal lain di luar itu,” jelas Illa J.

Setelah fokus menggarap dua album A Tribe Called Quest bersama kolektif The Ummah, Dee menggelar tur terakhir kalinya bersama Slum Village pada 1998. Dua tahun setelahnya, album kedua Fantastic, Vol. 2 akhirnya rilis dan ia mulai fokus menjadi produser lepasan. Sebelum meninggalkan Slum Village, Dilla bahkan sempat bergabung dengan raksasan soul D’Angelo, James Poyser dan beberapa personil The Roots dengan nama The Soulquarians.

Walau Dilla pada awal dekade 2000 sempat mengisi banyak dapur musisi dan album hip-hop teratas, rumahnya memang selalu di bawah. Sound khas Dee memang tak punya habitat di industri musik; beat abstrak, bass lines kotor, sample mengawang, potongan vokal aneh jadi menu andalan yang tak pernah membosankan di lagu-lagunya. Semuanya berdiri di atas fondasi beat patah-patah yang sangat sulit ditiru.

Dilla memulai dekade 2000 dengan hijrah ke Los Angeles, tepatnya untuk berkolaborasi dengan Stones Throw Records. Label hip-hop independen itu adalah rumah weird genius lain bernama Madlib. Keduanya bahkan sempat menggarap satu album dengan nama Jaylib, Champion Sound (2003). Pada periode ini pula Dee melepas album debut solo yang sudah ditunggu-tunggu hiphopheads AS, Welcome 2 Detroit (2003).

Medio pertengahan 2000 memang jadi kandang Dilla. Album yang dirilis setelah ia meninggal pada 2006, Donuts, kerap disebut sebagai titik nol lo-fi hip-hop bahkan menghidupkan lagi sound instrumental yang sempat loyo. Dirancang, sengaja atau tidak, dalam alur berputar kembali setelah lagu terakhir (seperti donat), album ini dikenang sebagai karya inovatif dan melampaui zamannya.

Donuts terdiri dari 31 (!) trek dan komposisi ear-candy yang gampang nyangkut, sample nomor-nomor soul lawas dari piringan hitam (Dilla cerdik menggunakan suara kasar dan bocoran musik analog) berdurasi maksimum dua menit. Salah satu dampak terpenting Donuts adalah kembali mengenalkan soulful-jazzy hip-hop di tengah dominasi trap Selatan atau clean production Dr. Dre. Melankoli yang dihasilkan sampling jazz-soul di atas beat boom bap patah-patah ternyata bisa hidup di jutaan telinga.

“(Dilla) merasa bahwa hip-hop seharusnya didengarkan seperti caranya mendengarkan hip-hop; dengan penuh ketidaksempurnaan, pengalaman audio lo-fi,” ujar drummer/produser The Roots, Questlove.

Teknik beatmaking Dilla tanpa quantization (mengoreksi beat secara otomatis) di MPC-nya, saat ini kentara di beberapa nama produser seperti Knxwledge, bsd.u, and Mndsgn. Saat meninggalkan opsi mesin tersebut, secara “tak sengaja” Dee menciptakan sound drum yang terdengar “manusiawi” (karena sering melewati time signature dan grid tempo). Teknik ini jadi salah satu warisan terpenting setelah ia meninggal tiga hari setelah Donuts dirilis.

Dee memang meninggal tiba-tiba, walau tidak begitu bagi orang-orang terdekatnya. Setelah menyelesaikan tur Eropa EP Ruff Draft pada Januari 2003, ia mulai sakit. Awalnya, ia diduga menderita kelelahan dan malnutrisi, tapi diagnosa lebih lanjut menyatakan Dee menderita kondisi darah thrombotic thrombocytopenic purpura (TTP).Karibnya, Common menyarankan agar Dilla berpindah ke Los Angeles demi berobat sekaligus menggarap musik. Ibunya, Maureen baru ikut berpindah pada 2004 setelah di penghujung tahun penyakit Dee semakin serius.

Akhirnya, diagnosa terbarunya menyatakan bahwa produser ini menderita Lupus. Penyakit itu berujung pada kegagalan ginjal, tapi hal ini tidak menghalanginya untuk bermain musik. Di ujung usia, ia masih sempat melepas karya terbaiknya, Donuts, pada 7 Februari 2006 sebelum meninggal di tanggal 10 saat berumur 32 tahun. Jadi, saat kalian melihat ada frasa prod. by J Dilla, sekelebat melihat sampul kompilasi The Diary atau sedang menelusuri lo-fi hip-hop di Soundcloud; ingatlah kalau Jay Dee selalu ada di tiap ketukan dan melankoli di dalamnya.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
33 views
superbuzz
1843 views
superbuzz
2535 views
supericon
2164 views