Portal Music

mac demarco

Mac DeMarco: Slacker Rock Revivalist

  • By: NND
  • Jumat, 31 January 2020
  • 3211 Views
  • 2 Likes
  • 2 Shares

Dikenal melalui persona publiknya yang “pemalas” dan carefree, serta gaya penulisan lagu dan produksi sound yang unik dan penuh karakter, Mac DeMarco—musisi indie asal Kanada—merupakan salah satu ikon musik independen yang cukup prominen dalam dekade lalu. Tampilan slacker yang ia miliki seolah turut masuk dan berkelindan dengan musik-musiknya; membuat karyanya, yang tak jarang membahas topik-topik mendalam, menjadi cukup mudah untuk didengarkan.

Narasi “serius” dalam lagu-lagunya bak diangkat dengan style anti-serius yang sangat lo-fi, melahirkan karakteristik yang unik dari paduan musik pop, jazz, soft rock, dan glam. “Slacker rock,” beberapa orang menyebutnya, dan kami rasa penamaan itu serasi dengan musik Mac Demarco; seorang revivalist? Bisa jadi. Intinya, ia berhasil mengubah wajah indie rock kala namanya mulai melantang, atau dalam konteks ini, menggema—menggema melalui reverb yang lembab.

Mac DeMarco terlahir dengan nama lengkap Vernor Winfield MacBriare Smith IV di tahun 1990. Tumbuh dan besar di Edmonton, Alberta, ia mulai menyelami musik-musik “kekirian” ketika mulai mengemban moniker Makeout Videotape. Lulus SMA di tahun 2008, Mac pindah dari kampung halamannya menuju Vancouver dan berhasil merilis Heat Wave, kumpulan lagu-lagu yang ia tulis sendiri sewaktu bosan. Rilisnya yang hanya dalam jumlah terbatas pun langsung habis terjual, Melaluinya, Makeout Videotape pun berhasil mengamankan panggung untuk tampil live, di mana ia menggaet Alex Calder dan Jen Clement sebagai additional-nya. Mulai dikenal di daerah mereka tinggal, label rekaman Unfamilliar Records pun menggaet Makeout Videotape masuk ke dalam rosternya. Mereka sempat menggarap tur bersama Japandroids di tahun 2009.

Makeout Videotape terus melanjutkan aksi-aksi panggung mereka lintas kota, adapula lagu-lagu baru yang mereka sajikan dalam beberapa tahun setelah itu. Di saat-saat ini, Mac mulai terlihat sibuk mengerjakan video-video berkonsep psikadelia yang aneh, kerap membuat bingung teman-teman bandnya. Di tahun 2011, ia banting stir dan angkat koper ke Montreal. Pergi meninggalkan bandnya untuk mengejar karir sebagai solois, setahun setelahnya, ia berhasil mengamankan kontrak dengan label indie asal Brooklyn, Captured Tracks.

Hanya dalam kurun waktu yang singkat, ia juga merilis mini album debutnya sebagai Mac DeMarco, bertajuk Rock and Roll Night Club. EP ini masih membawa unsur-unsur jangly yang ada di musik Makeout Videotape, namun dikemas dengan spektrum yang lebih gelap. Bahasannya mendalam, tentang kesendiriaan tengah malam, identitas gender, dan lain sebagainya, yang mulai menampilkan sisi “goofy” ala slacker sebagaimana ia dikenal sekarang.

Lepas beberapa bulan dari perilisan Rock n Roll Night Club, Mac DeMarco kembali hadir dan merilis studio album perdananya, bertajuk 2. Album ini menampilkan karakter musik dan persona yang lebih matang dari EP sebelumnya. Kalanya dirilis, ia diterima baik oleh kritik dan publik, keunikan musik dan interpretasinya yang khas menjadi titik terangnya. Mac DeMarco pun mengisi satu tahun berikutnya dengan jadwal tur yang cukup pada.

Tiba di tahun 2014, album sophomore-nya, bertajuk Salad Days, resmi mengudara. Salad Days menjadi pemantapan ciri khas yang sudah ia bangun dari beberapa rilisan solo karirnya; memberikan gambaran Mac sebagai seorang yang pemalas, namun perasa. Carefree, namun sensitif. Mungkin semua itu bisa juga bisa dirasakan di album-album solonya sejauh ini, namun di Salad Days, Mac seperti terjun dengan bekal yang matang. Ia tahu apa yang harus disorot dan apa yang tidak. Permainan gitar menjadi signature yang ciamik, sound yang mellow darinya kerap menyayat halus di antara susunan repertoarnya yang tak bisa diam; dari nuansa sendu ke jenaka tanpa jarak namun tetap terasa pas. Perihal produksi, sebagai musisi lo-fi, album ini memeluk kualitas yang cukup mumpuni—sebuah tren yang akan terus berjalan hingga album teranyarnya.

Popularitasnya meledak kala dua album itu dirilis. 2 dan Salad Days mampu mendefinisikan ulang apa itu indie rock/pop, kembali memberikan kesan “malas-malas”-an yang terbilang hip dan “keren” ke dalamnya. Usai menggarap tur untuk Salad Days, DeMarco kembali ke rumahnya di daerah Queens untuk merekam sebuah EP baru. Adalah Another One, yang mendarat di bulan Agustus 2015. Seperti beberapa rilisan sebelumnya, perilisan EP ini pun langsung ia susul dengan materi baru; namun, bukan sebuah album, justru sebuah instrumental bertajuk “BBQ Soundtrack.”

Mac DeMarco kembali memutuskan untuk berpindah, dan kali ini, Los Angeles menjadi destinasinya.Tinggal di sana, musik dari Mac pun turut serta berubah. Itu semua nampak dari album studio ketiganya yang diberi judul This Old Dog. Album tersebut resmi rilis di tahun 2017, dan memuat 15 nomor di dalamnya. Musiknya pun disetir ke arah yang lebih senyap, lebih minimalis. Sesuai dengan judulnya, tema dan bahasan luas dari album ini lebih difokuskan terhadap pendewasaan dan menyikapi kehidupan orang dewasa. Segi produksi pun digarap semakin tajam, suara-suaranya tidak lagi nampak seburam album-album sebelumnya. Di tahun berikutnya, Versi demo dari album ini menyusul setahun setelahnya, yang menjadi rilisan terakhirnya dengan label Captured Tracks.

Album teranyar Mac DeMarco meluncur di bulan Mei 2019 kemarin dan dirilis oleh label rekaman miliknya pribadi, Mac's Record Label. Berjudul Here Comes the Cowboy, ia tak menggati arahan dari album sebelumnya,  justru lebih memperdalam gubahan musik minimalis itu. Musik disusun lebih terus terang tanpa banyak distraksi, suara-suara dibelakang tak lagi seramai album-album awalnya, adapula ketajaman ekstra dalam halaman produksinya. Album ini semakin menjauh dari sosok lo-fi yang dulunya diemban.

Melalui karya-karyanya, Mac DeMarco mampu mendorong ulang suara-suara slacker rock kembali ke radar musik dunia. Bahkan, ia mampu menyihir industri independen secara global dengan musik dan personanya yang ringan dan menawan. Apa album favorit Mac DeMarco kalian? Suarakan di kolom komentar, di bawah ini!

0 COMMENTS