travis scott supericon

Travis Scott: Simbol Hip-Hop Masa Kini yang Berapi-Api

  • By: NND
  • Rabu, 22 January 2020
  • 667 Views
  • 5 Likes
  • 5 Shares

Sebagai rapper/produser hip-hop kelahiran Houston yang berafiliasi dengan label GOOD Music besutan Kanye dan Grand Hustle milik T.I., Travis Scott mulai dikenal pada awal dekade 2010-an dengan auto-tune kental dan flow "setengah bernyanyi-setengah rap."

Selama tujuh tahun, ia berhasil menjadi nama besar dalam industri hip-hop global. Kesuksesannya berawal dari rilisan pertamanya dalam kompilasi Curel Summer (2012) milik Kanye. Tak tanggung-tanggung, Scott didapuk sebagai co-produser dan turut menyumbang lagi di album tersebut.

Tak butuh waktu lama, Scott berhasil mengantongi single berpredikat platinum, termasuk empat single berurutan saat merilis album debut Rodeo (2015). Sejak saat itu, namanya terus melambung tinggi. Ini terbukti melalui albumnya yang direspons sangat positif oleh berbagai media dan hip-hopheads dunia, yaitu Birds in the Trap Sing McKnight (2016) dan Astroworld (2018).

Kolaborasi high level pun kerap ia garap, inilah sumber berbagai pencapaiannya yang impresif. Contoh saja keterlibatannya dalam "Bitch Better Have My Money" bersama Rihana, "Love Galore" bersama SZA, "Portland" dengan Drake, atau saat menggarap Huncho Jack bersama Quavo (Migos), sampai "No Sense" milik Justin Bieber. Apapun posisinya, supporting atau lead, Scott dan musiknya tak bisa diremehkan. Karyanya konsisten berkarater, dan pastinya, sedap di telinga.

Terlahir dengan nama lengkap Jacques Webster, Travis Scott besar di pinggir kota Houston, Texas. Ia mulai menggeluti dunia musik sejak usia remaja. Saat itu, ia membentuk sebuah duo bernama Graduates bersama Chris Holloway, yang sempat merilis EP di tahun 2009.

Setahun berlalu, Scott pun membentuk duo baru bernama the Classmates berama OG Chess. Scott turun tangan jadi produser untuk dua album duo barunya itu, Buddy Rich dan Cruis'n USA, walau akhirnya bubar di akhir 2011.

Setelah putus kuliah, ia pun angkat koper dan pindah ke Los Angeles lalu mulai merekam musiknya seorang diri. Pertemuannya dengan T.I. dan Kanye West berbuah positif--mengamankannya posisi sebagai in-house producer di GOOD Music. Setelahnya, ia pun berhasil mendarat di album kompilasi Cruel Summer.

Meski debut Rodeo baru hadir di tahun 2015, Scott pertama kali melantangkan musiknya rapper/produser di mixtape berjudul Owl Pharaoh (2013). Mixtape tersebut memuat sederet nama besar seperti T.I. dan 2 Chaniz, serta Toro y Moi dan Justin Vernon (Bon Iver). Owl Pharaoh berhasil memenangi penghargaan Best Mixtape di ajang BET Hip-Hop Awards 2013.

Langkah berikutnya bagi seorang Travis Scott adalah album debut. Proses penggarapan album itu bahkan melahirkan mixtape baru, Days Before Rodeo. Scott berhasil memanaskan kancah hip-hop dengan single macam "Mamacita," dan "Don't Play." Akhirnya, pada Maret 2015, ia menggelar tur album bersama Young Thung dan Metro Boomin sebagai nama-nama pendukung.

Di bulan tersebut juga track kolaborasinya dengan Rihanna, "Bitch Better Have My Money" juga dirilis. Sementara, "3500" dan "Antidote" menyusul sebagai single kedua serta ketiga. Tiba di September 2015, Rodeo, pun resmi mengudara. Di akhir 2015, single "Antidote" berhasil duduk di nomor 16 dalam tangga lagu Hot 100 dan menjadi single platinum pertama Travis Scott.

Rumor terkait album susulan Rodeo mulai beredar pada 2016, tapi Scott kembali mematangkan eksistensinya melalui berbagai kolaborasi. Contohnya adalah "Bake Sale" yang ia garap bersama Wiz Khalifa, atau "Woo", kolaborasi keduanya bersama Rihanna. Hadir juga lagu "FML" (Life of Pablo) bersama Kanye dan kolaborasi tiga arah Young Thug dan Quavo, "Pick Up the Phone," yang mendarat di pertengahan tahun sebagai hit album JEFFERY karya Thugger.

Tiga bulan kemudian, barulah album kedua Scott mendarat. Rilisan berjudul Birds in the Trap Sing McKnight tersebut memuat kontribusi dari André 3000, Kid Cudi, hingga Kendrick Lamar. Saat dirilis, album ini langsung mendarat di posisi nomor satu tangga lagu Billboard 200.

Kemudian, menuju album ketiga, Scott kembali bekerja bersama musisi lain. Ia terlibat dalam penggarapan "Love Galore" bersama SZA, "Portland" dengan Drake, "Sky Walker" milik Miguel, "4 AM" bersama 2 Chainz, dan "Dark Knight Dummo" milik Trippie Redd. Trek terbaru Scott, "Butterfly Effect" hadir pada Mei 2017, dan kembali mencapai platinum. Berikutnya, Huncho Jack, Jack Huncho, album kolaborasi Scott dengan Quavo, tiba tujuh bulan kemudian dan mendarat di nomor tiga tangga lagu Billboard 200.

Setelah album terbarunya rilis, single "Watch" mendarat pada Mei 2018. Sebagai sebuah lagu non-album, ia melibatkan kontribusi dari Kanye West dan Lil Uzi Vert. Tepat tiga bulan setelah merilis lagu tersebut, tepatnya pada  Agustus 2018, hadirlah album ketiga Travis Scott, Astroworld.

Astroworld turut serta memuat "Butterfly Effect" dan hits single kedua, "Sicko Mode." Sementara dua single lainnya seperti "Yosemite" dan "Wake Up" turut mengisi 17 nomor di dalamnya. Album tersebut diterima secara baik oleh kritikus musik dan penikmat musik global, serta berhasil menempati posisi teratas dalam beberapa daftar Album of the Year dari berbagai media musik.

Selepas Astroworld, Scott menutup 2018 dengan kontribusinya di album Not All Heroes Wear Capes karya Metro Boomin. Ia juga kembali berkolaborasi dengan Young Thung dan J.Cole di tahun 2019 dalam menggarap "The London," juga tampil dalam track mega-bintang pop Ed Sheeran, "Antisocial." Terakhir dari Scott, adalah single anyar "Highest in the Room" serta perilisan album JACKBOYS milik kolektif/label rekamannya, Cactus Jack di awal tahun 2020. Baca informasi lengkap tentang album tersebut, di sini!

0 COMMENTS