SYD BARRETT BERLIAN SINTING YANG TERUS BERSINAR

  • By: SS
  • Jumat, 25 December 2015
  • 9764 Views
  • 2 Likes
  • 1 Shares

Selain disebut sebagai penulis lirik yang jenius dan orisinil, Syd Barrett juga dianggap seorang gitaris yang inovatif. Ia termasuk pelopor dalam hal memainkan sound yang sonikal serta mengembangkan bunyi distorsi, feedback dan echo machine. Ia juga turut memasukkan layer-layer bernada noise dan ambience pada setiap komposisi musik Pink Floyd.

Gaya khas Syd Barrett di panggung adalah menggesekkan korek api Zippo pada fret gitar Fender Esquire-nya, sehingga menimbulkan bunyi sound yang aneh dan misterius, serta menjadi karakter musik Pink Floyd di jamannya.

Salah satu permainan gitarnya yang istimewa terdapat dalam lagu “Interstellar Overdrive”. Karya yang diyakini para kritikus musik sebagai adaptasi kord atas karya Burt Bacharach dan Hal David, “My Little Red Book”. Nomor itu ia mainkan dalam struktur sound gitar yang mengawang dalam durasi hampir 10 menit.

Pengaruh musik Syd Barrett terhadap generasi musisi sejak era 60-an bisa dikatakan cukup besar. Paul McCartney dan Pete Townsend termasuk dua orang fans-nya sejak awal – selain Jimmy Page, David Bowie, dan Brian Eno. Pete Townsend sendiri sangat mengagumi Syd Barret dan menyebutnya sebagai (gitaris) legendaris. Pentolan band The Who itu malah pernah meyakinkan Eric Clapton untuk menyimak aksi frontman band Pink Floyd tersebut. 

Tumbang di era neurotik

Di saat popularitas Pink Floyd sedang menanjak, kondisi mental Syd Barrett mulai terganggu akibat konsumsi drugs (acid) yang berlebihan. Efek dari pemakaian obat-obatan jenis psikotropika (LSD) itu bikin aksinya pada setiap pertunjukan Pink Floyd menjadi berantakan. Tingkahnya menjadi tidak terkontrol dan susah dikendalikan. Perilakunya itu mulai membuat cemas rekan-rekannya, serta berpengaruh pada kelangsungan karir Pink Floyd.

Sebenarnya ada banyak spekulasi mengenai kondisi mental Syd Barrett saat itu. Beberapa percaya bahwa ia mengidap gangguan semacam skizofrenia. Sebagian lagi mengatakan ia terkena Asperger’s Syndrome, sebuah penyakit yang erat kaitannya dengan autis. Namun pada dasarnya, kebiasaan Syd Barrett yang sejak awal ’60-an sudah mengkonsumsi drugs itulah yang diyakini sebagai sumber utama dari semua itu.

Kondisi Syd Barrett yang labil dan kontra-produktif itu akhirnya tidak bisa didiamkan lagi oleh teman-temannya di band. Akhirnya pada bulan Maret 1968, Roger Waters dkk dengan sangat terpaksa menghentikan segala perannya – baik untuk sesi studio maupun konser. Itu sekaligus menjadi sebuah statemen resmi mengenai akhir karir Syd Barret bersama Pink Floyd.

Tetap membayangi Pink Floyd

Sekian tahun selanjutnya, ada fakta yang tidak dapat disembunyikan kalau sosok Syd Barrett terus mengusik benak Roger Waters dkk, serta memberi pengaruh yang kuat pada penciptaan karya Pink Floyd berikutnya.

Sosoknya yang unik, kejeniusan bermusiknya, beserta gangguan mentalnya diakui oleh para personil yang lain menjadi inspirasi utama pada materi tiga album tersukses Pink Floyd, Dark Side of The Moon (1973), Wish You Were Here (1975) dan The Wall (1979).

Roger Waters mengambil sisi neurotik dan kondisi mental Syd Barrett sebagai inspirasi utama ketika menggarap Dark Side of The Moon. Bahkan album Wish You Were Here memang dibuat khusus sebagai penghargaan dan rasa rindu mereka terhadap Syd Barrett.

Lagu “Shine On You Crazy Diamond” yang jadi track pembuka dan penutup di album Wish You Were Here merupakan syair yang mengingatkan Roger Waters dkk kepada talenta mantan leader mereka. Begitu juga dalam video The Wall (1982), karakter utama Pink juga diakui Roger Waters banyak diadaptasi dari perilaku dan kepribadian Syd Barrett ketika masih bersama di Pink Floyd. 

Mewariskan spirit yang abadi

Pada hari Jumat, 7 Juli 2006, mendadak muncul kabar bahwa Syd Barrett meninggal dunia akibat komplikasi diabetes di usia 60 tahun. Hari itu menjadi akhir hidup dari seorang pria yang ikut melahirkan bahkan memberi nama Pink Floyd, salah satu grup band sekaligus brand terhebat dalam sejarah musik rock dunia.

Jika kita mau menyadari, sebenarnya dunia sudah sekian lama kehilangan seorang Syd Barrett. Tepatnya sejak tahun 1973, ketika Syd Barrett memilih untuk menjauh dari kehidupan bermusik, mengasingkan diri, serta tidak mau berbicara lagi kepada publik.

Ini persis seperti yang ditulis dalam salah satu artikel kematian Syd Barrett, “In truth, he was gone long ago. Still, Barrett's death feels like another significant nail in the coffin of rock & roll's free-spiritedness – a loss that transcends his actual recorded output.”

Setelah berita kematian Syd Barrett, seorang penyiar BBC Radio 2, Bob Harris, berujar singkat, “Saya selalu percaya semangat Syd akan selalu hidup dalam Pink Floyd, dan pada apapun yang dilakukan oleh personilnya sekarang.”

Sedangkan musisi Graham Coxon sempat menuliskan komentarnya untuk album kompilasi yang dirilis sebagai penghargaan bagi Syd Barrett. “Ada sebagian (sifat) dari Syd di dalam diri setiap orang…” Ujar gitaris Blur tersebut. “Yaitu perasan sensitif dan keterbukaannya..."

Seorang aktor kawakan Johnny Depp memiliki obsesi yang pernah ia sampaikan dalam sebuah wawancara di tahun 2005, “Ketika saya remaja, saya bermimpi ingin menjadi seorang gitaris rock n’ roll. Dan untuk saat ini, saya rasa sebuah film tentang kisah Syd Barrett akan menjadi ide yang baik!”

Penghormatan untuk Syd

Semua orang mungkin tidak akan pernah melupakan satu-satunya konser reuni Pink Floyd di era milenium – yang mungkin tidak akan pernah terjadi lagi. Hari itu, 2 Juli 2005, untuk pertama kalinya setelah 24 tahun, kubu Roger Waters dan kubu Pink Floyd (David Gilmour dkk) mau rujuk dan tampil bersama dalam Live 8 Concert di Hyde Parks London.

Dalam konser bersejarah itu, sesaat sebelum menyanyikan lagu “Wish You Were Here”, Roger Waters berjalan pelan mendekati microphone dan berkata kepada ribuan penonton yang hadir, “Sangat emosional sekali bisa berdiri di lapangan ini bersama ketiga rekan saya setelah sekian lama. Anyway, kami melakukannya untuk orang-orang yang sedang tidak berada di tempat ini, dan tentunya…untuk Syd.”

Foto: Pink Floyd / Syd Barrett / BBC

1 COMMENTS
  • rikysubagza31

    Penulis lirik yang jenius dan gitaris yang inofatif yang keren, mengembankan nada nada yang indah di dengar

Info Terkait

supericon
31 views

Chuck D: Public Enemy Number One

supericon
31 views

Chuck D: Public Enemy Number One

supericon
31 views

Chuck D: Public Enemy Number One

supericon
31 views

Chuck D: Public Enemy Number One

supericon
31 views

Chuck D: Public Enemy Number One

supericon
31 views

Chuck D: Public Enemy Number One