the weeknd

The Weeknd: Starboy yang Terus Meroket

  • By: NND
  • Senin, 23 March 2020
  • 2017 Views
  • 3 Likes
  • 2 Shares

Bagi kalian yang menggeluti kancah musik pop mainstream, tentu sudah tidak asing dengan nama The Weeknd. Namun, sebelum ia meledak sebagai salah satu nama yang paling prominen dalam kancah musik pop top 40, ia merintis karirnya dari celah-celah gelap R&B. Ya, sebelum karya-karyanya hinggap di tangga lagu kenamaan lintas dunia, The Weeknd--yang merupakan moniker dari seorang Abel Tesfaye--hadir dengan musik R&B yang emosional; musik yang mendalam, gelap, dan cukup eerie.

Didukung oleh rapper Drake pada awal kariernya di tahun 2011, ia merilis tiga keping mixtape yang menyajikan musik-musik ballad R&B yang tidak memiliki resep mainstream di dalamnya Namun, hanya dalam beberapa tahun, ia berhasil menjadi nama besar dalam kancah arus utama. Itu bisa dibuktikan melalui beberapa lagu top ten yang berhasil ia rilis; seperti "Love Me Harder" dengan Ariana Grande, "Earned It" yang menjadi sensasi bersamaan dengan film Fifty Shades of Grey, hingga gubahan disco-funk kontemporer di "I Can't feel My Face" bersama Max Martin. Adapula "Starboy" yang hadir bersama produksi apik ciri khas Daft Punk.

Secara garis besar, Tesfaye baru menjajah kancah mainstream melalui album nomor dua dan tiga miliknya. Terbukti kedua album tersebut berhasil merajai tangga lagu Billboard 200, juga menyabet dua penghargaan Grammy untuk kategori Best Urban Contemporary Album. Di penghujung dekade 2010-an, ia menambahkan jumlah lagu top ten-nya dengan dua single dari album terbarunya, After Hours, yang mendarat awal tahun 2020 ini.

Abel Tesfaye sendiri lahir di Toronto, Kanada sebagai seorang imigran asal Ethiopia. Debutnya sebagai The Weeknd hadir di tahun 2010 melalui tiga lagu yang ia unggah ke YouTube. Tiga lagu tersebut digarap bersama produser Jeremy Rose, berfungsi sebagai prelude untuk menyambut tiga mixtape yang ia rilis secara independen dan bisa di-download secara cuma-cuma di tahun 2011. House of Balloons adalah mixtape pertamanya, mengemas di dalamnya lagu-lagu R&B kontemporer yang berbumbu kekirian dengan nuansa progresif yang synthetized.

Selanjutnya ,adalah Thursday yang hadir dengan feel serupa seperti mixtape pertama. Mixtape ini dirilis tidak lama sebelum ia ikut didapuk masuk ke dalam album Take Care milik Drake. Melalui mixtape nomor dua ini, Tesfaye juga sempat mendaur ulang track "Dirty Diana" milik the king of pop, MJ. Mixtape ketiganya, Echoes of Silence, hadir menutup tahun 2011, melengkapi trilogi mixtape-nya secara kuat dengan lagu macam "Montreal" dan "Same Old Song".

Beberapa bulan selepas rampung menggarap trilogi mixtape-nya, lagu "Crew Love" yang ia garap dan masuk dalam album Take Care milik Drake itu berhasil mendarat di sepuluh besar tanggal lagu Billboard's Hot R&B/Hip-Hop, menjadi salah satu batu loncatannya menuju pasar yang lebih luas. Terbukti demikian karena beberapa bulan selepas lagu itu viral, lagunya bersama dengan Wiz Khalifa, "Remember You" juga menyusul menjadi single yang berlau bagi di tangga lagu.

Kariernya hanya akan terus meroket, dan Tesfaye pun mengamankan kontrak dengan Universal Republic. Darinya, ketiga mixtape The Weeknd pun di-remastered dan dirilis ulang dengan tiga lagu baru sebagai sebuah rilisan utuh bertajuk Trilogy di akhir tahun 2012. Meskipun didominasi oleh lagu-lagu yang sudah dirilis secara gratis, ia berlaku baik di tangga lagu, mengamankan posisi keempat di Billboard 200. Tiba di bulan April 2013, Tesfaye juga berhasil memenangkan Juno Awards untuk kategori Breakthrough Artist of the Year dan R&B /Soul Recording of the Year. Trilogy juga mendapatkan kategori platinum di bulan Mei mendatang.

Berikutnya adalah sebuah album yang ia rilis setelah mencicipi ketenaran; di bulan September 2013, The Weeknd hadir dengan album baru bertajuk Kiss Land. Album ini mengemas nuansa yang jauh lebih gelap ketimbang single-single yang sudah ia rilis. Alhasil, hanya track "Live For" yang mampu menembus tangga lagu. Masuk ke tahun 2014, Tesfaye lebih sukses beredar melalui deretan single lepas yang ia rilis; seperti "Often" yang hingga di sepuluh besar RnB/Hip-Hop Hit, "Love Me Harder" bersama Ariana Grande yang juga sama, dan berhasil mengamankan kategori platinum di Amerika, juga "Earned It" yang berlaku sama. Gaya rambutnya yang unik juga jadi sorotan.

Di tahun 2015, diskografi The Weeknd dilanjutkan dengan lagu "The Hills," ballad gelap yang di garap dengan Illangelo sebagai co-produser. Adapula "Can't Feel My Face" bersama Max Martin. Kedua track ini menjadi single pembuka untuk album Beauty Behind the Madness yang kemudian rilis di bulan Agustus. Berbeda nasib, kedua lagu ini berhasil merajai tangga lagu Hot 100, dan dalam gelaran Grammy ke-58, albumnya berhasil memenangkan kategori best R&B Performance.

Langkah baik juga terus disambung saat ia menapak masuk ke tahun 2015 dan 2016; seperti dengan "In The Night" yang bersama Disclosure, "FML" dengan Kanye West, "Love Life" bersama Future, serta "6 Inch" milik Beyoncé. "Starboy" yang diproduksi bersama dengan Daft Punk juga rilis di bulan September 2016, selaku single dari album berikut The Weeknd dengan judul yang sama.

Single "Starboy" berhasil mendarat di posisi puncah tanggal lagu Billboard 200, albumnya pun turut disokong dengan single kedua, yang kembali menghadirkan kolaborasi bersama Daft Punk, bertajuk "I Feel It Coming".

Sederet single bersama Nav, Lana Del Rey, dan French Montana mengisi diksografi tahun 2017. Setahun kemudian, Tesfaye hadir dengan lagu "Pray for Me" selaku soundtrack dari Black Panther yang digarap bersama rapper kawakan Kendrick Lamar. Maret 2019, ia merilis EP secara mendadak, bertajuk My Dear Melancholy.--sebuah EP yang memproyeksikan arahan artistik ala tiga mixtape pertamanya. Lagi-lagi, rilisan ini berhasil merajai Billboard 200, mendorong track macam "Call Out My Name".

Abel juga disibukkan dengan label besutannya, XO, yang menaungi nama-nama seperti NAV, Belly, 88Glam, dan Black Atlass.

Di akhir tahun 2019, setelah ia merilis beberapa kolaborasi dalam bentuk single dan soundtrack, ia meluncurkan dua single dari album keempatnya. "Heatless," yang digarap bersama Illangelo dan Metro Boomin sebagai co-produser, dan "Blinding Lights" yang kembali merangkul Max Martin. Keduanya pun berlaku baik di tangga lagu, sebelum akhirnya album nomor empat, After Hours, mendarat di Maret 2020.

0 COMMENTS

Info Terkait