Tom Morello

Tom Morello: Gitaris Berkarakter, Aktivis Bernyali

  • By: NND
  • Senin, 6 May 2019
  • 468 Views
  • 0 Likes
  • 67 Shares

Melalui aksi-aksi gemuruh berisik yang liar, permainan gitar eksploratif, hingga musik yang menyuarakan keresahan masyarakat, Tom Morello bukan sosok asing bagi para pecinta musik keras.

Rage Against the Machine, Audioslave, The Nightwatchman, hingga Prophet of Rage adalah beberapa proyek musik Morello. Sebagai seorang gitaris dan aktivis, Morello sering menggunakan musiknya sebagai pesan untuk melawan tatanan, memperkuat yang lemah, dan memberikan asupan tenaga untuk terus berjuang.

Mari telisik lebih dalam kehidupan Morello melalui Supericon kali ini bersama SUPERMUSIC.

Sekolah, Kuliah, Striptease dan Politik

Lahir pada 30 Mei 1964 di Harlem, New York, Tom dikandung oleh seorang ibu Amerika keturunan Irlandia-Italia dan ayah dari Kenya. Kedua orang tuanya bertemu pada sebuah demonstrasi pro-demokrasi di Nairobi, Kenya.

Saat ibunya hamil, dia kembali ke New York bersama dan menikah menuju kelahiran Morello. Ketika umurnya masih 16 bulan, ayahnya angkat koper dan pulang ke Kenya—menolak kewajibannya mengurus anak. Ibunya, yang adalah seorang guru bahasa Inggris, membesarkannya sendiri di Libertyville, Illinois.

Di umur ke-13, Morello mendirikan band pertamanya bernama Nebula, sebuah band cover lagu-lagu Led Zeppelin, Steve Miller Band, dan lain sebagainya. Saat ini jugalah masa dimana dia memperoleh gitar pertamanya.

Mengemban pendidikan hingga SMA di Libertyville, ibunya merupakan seorang guru sejarah dan wali kelas dari Tom dan sahabatnya, Adam Jones—yang kita kenal sebagai personil Tool. Morello sudah aktif bermusik sedari masih belajar di sekolah.  Proses ini membentuk kesadaran dan pemahaman politiknya.

Lulus dari sekolah dengan nilai baik, dia melanjutkan studi ke Harvard dan lulus dengan sarjana seni jurusan ilmu sosial. Pada awal perkuliahannya, dia mulai serius menekuni instrumen gitar. Morello sempat membentuk band bersama Adam dan mulai menulis lirik yang “politis”.

Musiknya mengambil pengaruh sound Run-DMC dan Jam Master Jay, sehingga solo gitarnya dibuat menyerupai sebuah scratch dari seorang DJ—inilah titik kelahiran style permainan yang menjadi ciri khas Morello.

Usai menamatkan perkuliahan, dia merantau ke Los Angeles seorang diri untuk mengejar mimpinya. Tanpa sokongan dari siapapun, dia mengemban pekerjaan sebagai seorang penari striptease untuk bertahan hidup seorang diri di kota para malaikat.

Morello juga sempat bekerja sebagai seorang staff  senator Alan Cranston dari kubu Partai Demokrat dari California selama setahun. Setelah menghabiskan satu tahun di lingkungan politik kepartaian, Morello enggan lagi bekerja dalam di sana karena lingkungan yang dia anggap “kotor”.

Kelahiran Ujung Tombak Rap Rock 90-an

Tahun 1991, Tom ingin membentuk band baru ketika bandnya bernama Lock Up bubar. Saat itu, dia terpukau melihat kemampuan rap seorang Zach de la Rocha saat sedang freestyle—maka langsunglah ia sapa dan ajak bergabung dalam band barunya. Zach tertarik, sehingga ditariklah Brad Wilk—drummer yang dia kenal saat Lock Up membuka audisi untuk mencari penggebuk drum. Setelah itu, Zach juga turut merangkul sahabat bernama Tim Commerford, seorang bassis. Terbentuklah band legendaris yang kita kenal dengan nama Rage Against the Machine.

Sepanjang era kejayaannya, RATM telah melepas empat studio album. Selama aktif bersama RAtM, seluruh album mereka diterima dengan baik oleh khalayak umum dan kritikus. Album pertama mereka, Rage Against the Machine (1992) langsung duduk di nomor satu pada tangga album, Evil Empire (1996) pun sama.

Sementara, album ketiga The Battle of Los Angeles (1999) diangkat menjadi album terbaik oleh TIME dan Rolling Stone. Rilisan keempat mereka merupakan album cover karya musisi lain seperti Bob Dylan, Minor Threat, MC5, Cypress Hill, dan lain sebagainya. Album ini dirilis dua bulan setelah Rage Against the Machine bubar dan berhasil mencapai kategori platinum hanya dalam beberapa bulan.

Menggandeng Chris Cornell

Selepas kepergian Zach dari RAtM, Morello, Wilk serta Commerford membentuk band baru, kali ini mereka menggandeng Chris Cornell, eks-vokalis Soundgarden. Mereka akhirnya membentuk Audioslave di tahun 2001. Aktif hingga 2007, Audioslave berhasil merangkum tiga album yang kembali memaparkan skill dan style Morello yang lebih halus pada dunia.

Album pertama mereka berjudul Audioslave (2002), menghadirkan beberapa hits seperti “Cochise”, “Like a Stone” dan “Show Me How to Live”, serta berhasil mengamankan predikat tiga kali platinum.

Berikutnya ablum Out of Exile berhasil menyabet  posisi nomor satu dalam tangga nada Billboard Top 200. Beberapa lagu seperti “Be Yourself” dan “Out of Exile”, menunjukkan bahwa album kedua mereka tidak kalah bertenaga. Di album kedua, mereka benar-benar sudah menemukan karakter Audioslave, tidak lagi tercampur-campur dengan peninggalan RAtM dan Soundgarden.

Sementara itu rilisan terakhir berjudul Revelations (2006), lebih dibumbui dengan aksen funk dan soul. Meski tidak diterima sebaik kedua album sebelumnya, Revelations masih direspon dengan baik, terutama hits seperti “Revelations” dan “Original Fire”. Tak lama setelah album ini dirilis, Chris Cornell hengkang dan Audioslave pun bubar.

Alter Ego Politis

Mengingat ketertarikannya pada aktivisme sosial, Morello pun membentuk sebuah alter ego/proyek solo yang diberi nama The Nightwatchman. Mengusung folk yang melepas lagu-lagu politis berisikan kritik dan protes, proyeknya menjadi sarana untuk terus memperjuangkan padangan dan posisi teguhnya.

Berusaha memperjuangkan keadilan umum, kebebasan, kesetaraan upah, dan berbagai macam hal lain yang sejalan dengan padangannya, Morello menabiskan alunan-alunan lagu folk yang tak jarang berkolaborasi dengan sejumlah musisi lain. Melalui The Nightwatchman, Morello juga kerap ikut serta dalam tur-tur penggalangan dana, promosi agenda-agenda positif, dan sejumlah aktifitas yang terus mendorong kebebasan serta keadilan sosial.

Supergroup Rap dan Rock Masa Kini

Terhitung semenjak tahun 2016, Morello kembali bergabung bersama Wilk dan Commerford. Kali ini, mereka kembali menggebrak kancah musik rock dan rap dengan bantuan nama-nama kawakan. Bersama Chuck D dan DJ Lord dari Public Enemy, serta B-Real dari Cypress Hill, mereka menyajikan materi RAtM, Public Enemy, Cypress Hill dan materi orisinal atas nama Prophet of Rage yang diambil dari serpihan lirik Public Enemy.

Pada tahun 2017 lalu, Prophet of Rage berhasil merilis album perdana yang diberi judul sama nama yang mereka sandang, setelah sebelumnya melepas EP The Party’s Over ditahun sebelumnya. Melalui album baru ini, mereka menyuguhkan 12 nomor pedas dengan sound galak.

Di Luar Dunia Musik

Sebagai seorang musisi dan aktivis, Morello tidak hanya menyerahkan keutuhan hidupnya hanya pada bermusik. Lepas dari aksi gilanya bermain gitar dengan yang unik itu, Morello aktif menulis, tampil di film, hingga aktif dalam gerakan masyarakat.

Morello sempah menulis novel grafis berdurasi 12 edisi berjudul Orchid. Diterbitkan oleh Dark Horse Comics, Orchid mengangkat cerita tentang seorang pekerja seks berusia remaja di dunia post-apocalypse. Saat diterbitkan pada Oktober 2011, Morello turut menyertakan soundtrack setiap perilisan seri barunya hingga tamat.

Sebagai seorang aktivis, Morello tergabung kedalam serikat buruh Industrial Workers of the World. Tahun 2009, mereka bahkan sempat menuntut Amerika Serikat dengan tuduhan mereka pelanggaran Hak Asasi Manusia dalam penyiksaan di penjara Guantanamo Bay.

Morello juga aktif dalam gerakan Occupy—sebuah demonstrasi protes yang digarap diberbagai daerah di Amerika dan Inggris, dimana yang paling terkenal adalah Occupy Wallstreet. Tentu ini tidak semua, masih banyak lagi agenda-agenda aktivisme lain yang dilakukan Morello.

Tom Morello juga pernah tampil berakting dalam film. Dia beberapa kali terlihat dalam film-film dokumenter seperti Sounds Like a Revolution, Iron Maiden: Flight 666, dan juga Chevolution—sebuah expose tentang Che Guevara yang ternama itu.

Demikian adalah segelintir kehidupan dari Morello, seroang yang handal dalam bermain gitar, yang terkenal dengan suara-suara gitar yang unik dan menggunakan feedback, sekaligus aktif dalam memperjuangkan keadilan dan kebebasan.

Dalam musik dan dalam dunia aktivis, Morello merupakan seorang yang sudah tidak asing lagi. Berbekal kepintaran, kesadaran, dan kerendahan hati—hadirlah sosok Tom Morello yang sebagaimana kita kenal. Tulisan Arm the Homeless atau Soul Power yang kerap terpajang di badan gitarnya tentu tidak main-main, dan bukan hanya sekedar slogan.

0 COMMENTS

Info Terkait

supergears
711 views
superbuzz
370 views
superbuzz
352 views
superbuzz
436 views
superbuzz
425 views