Trent Reznor: Sang Mastermind Rock Elektronik

  • By: OGP
  • Selasa, 1 May 2018
  • 1426 Views
  • 1 Likes
  • 2 Shares

Trent Reznor mungkin adalah satu dari sekian banyak musisi yang menyandang gelar ‘jenius’ di bidangnya. Di lanskap rock agresif, tak jarang karya-karya musik berkualitas muncul dari tangan dingin seorang musisi perfeksionis nan ambisius itu. Dialah seorang mastermind sejati, si musisi multi instrumentalis yang menciptakan karyanya sendiri dari titik awal hingga akhir, dan dialah dalang di balik aliansi rock berbahaya bernama Nine Inch Nails.

Michael Trent Reznor lahir di Mercer, Pennsylvania, AS pada 17 Mei 1965. Kecintaannya terhadap dunia musik mulai terendus sedari remaja ketika ia mampu mendentingkan instrumen piano dengan lihai. Saat bekerja sebagai tukang bersih-bersih di sebuah studio, Reznor sering mencuri-curi kesempatan untuk menulis materi musiknya sendiri, yang kelak akan menjadi materi album perdana Pretty Hate Machine

Di masa pencarian jati dirinya, Reznor kerap beberapa kali membentuk proyek iseng, mulai dari The Urge hingga berlabuh di unit rock bernama Exotic Birds, sampai ia akhirnya memutuskan mendirikan Nine Inch Nails (NIN). 

Di awal kariernya bersama Nine Inch Nails, Reznor mengakui kalau ia cukup kesulitan menemukan rekan band yang mengerti akan segala kemauannya. Reznor juga mengungkapkan bahwa musisi serba bisa, Prince, turut andil dalam pembentukan musikal dirinya. Sejak dari itu, Reznor memutukan untuk memainkan semua instrumen musik seorang diri, terkecuali drum. Hal tersebut cukup membuatnya untuk betah berlama-lama di dalam studio musik selama berhari-hari.

Setelah sempat didapuk menjadi band pembuka Skinny Puppy, yang juga grup idola Reznor, Nine Inch Nails akhirnya merilis album debut menjanjikan berjudul Pretty Hate Machine (1989). Tak disangka album ini cukup meraih kesuksesan komersial di pasar internasional. Deretan single jagoan macam “Head Like a Hole”, “Down in It”, dan “Sin” berhasil mencuri perhatian penggemar musik rock kala itu.

Namun di tengah ketatnya tekanan dari pihak label, pasca merilis Pretty Hate Machine, diam-diam Trent Reznor menggencarkan karya baru tanpa diketahui pihak label yang menaungi Nine Inch Nails. Hal ini dilakukannya untuk menghindari campur tangan pihak label atas karya anyarnya itu. Hasilnya, double album mini NIN akhirnya lahir, yakni Broken dan Fixed yang rilis hampir berbarengan pada 1992.

Nasib mujur memang tak lari kemana. Meski kala itu masih tergolong hijau di ranah musik, bersama Nine Inch Nails, Trent Reznor sukses diganjar penghargaan di ajang bergengsi Grammy Award 1993, untuk kategori ‘Best Metal Performance’. Single andalan mereka “Wish”, mampu mengungguli karya-karya milik elit rock seperti Megadeth, Ministry, Soundgarden, sampai Helmet. Ini adalah bukti nyata bahwa Trent Reznor siap untuk  mengomandoi jagat rock dengan sentuhan lebih modern, liar, dan provokatif.

Maju ke tahun 1994. Mungkin ini adalah momen historikal bagi Trent Reznor. Segala pencapaian tertingginya sukses ia tuangkan lewat katalog ambisius nan sempurna bertajuk The Downward Spiral. Beragam media musik dan kritikus musik pun tak segan untuk menyematkan mahakarya ini sebagai salah satu album terbaik di tahunnya. Lewat The Downward Spiral pula, kancah industrial rock mengalami klimaks puncak kejayaan di dekade 90-an dan tentunya menempatkan Nine Inch Nails sebagai band pendatang baru yang cukup berpengaruh di era itu.

Formulasi racikan musikalnya meleburkan elemen elektronik, rock industrial dan metal padu jadi satu. The Downward Spiral menawarkan pengalaman berbeda di tiap track-nya. Selalu ada nuansa unik dan kelam yang akan ditemui. Sebuah peleburan maut antara kekacauan, destruktif, emosi dan disonansi saling bergelut satu sama lain. Trent Reznor mendobrak tatanan batas dengan eksplorasi musikalnya yang mengagumkan serta eklektik tentunya.   

Uniknya, di sela-sela prosesi pembuatan album masterpiece tersebut, Reznor sengaja untuk menyewa sebuah rumah bekas ‘jagal’ yang disulap menjadi tempat studio rekaman. Hunian yang ia sewa diketahui juga sebagai tempat kasus pembunuhan kejam yang melibatkan aktris Sharon Tate, istri sutradara terkenal Roman Polanski, yang dibunuh secara keji oleh orang suruhan sang dalang pembunuhan, Charles Manson. Dua track NIN yakni, “Piggy“ dan “March of the Pigs” adalah lagu yang terinspirasi dari sosok biadab Charles Manson.

Lepas era kejayaan The Downward Spiral, tanpa disadari Trent Reznor mulai perlahan ‘tenggelam’ dalam kehidupannya sendiri. Reznor mengalami masa depresi berkepanjangan. Di periode intens ini, Reznor makin tenggelam dalam depresi dengan mengonsumsi obat-obat terlarang dan alkohol sebagai jalan pintas pelarian hidupnya. Maka pada waktu yang cukup lama, kemudian lahir album tergelap NIN, The Fragile (1999). Meski tak sesukses masif layaknya The Downward Spiral, album tersebut setidaknya masih dipuji para kritikus musik.

Masa-masa kelam Trent Reznor perlahan memudar. Kini ia tetap produktif dalam menelurkan karya-karya musik bersama Nine Inch Nails. Sejauh ini ia telah sukses melepaskan delapan album studio. Selain itu dirinya juga aktif terlibat sebagai kolaborator dengan sejumlah musisi-musisi tenar. Di tengah-tengan periode ‘hibernasi’ dengan NIN, Trent Reznor membentuk proyek ambient bernama How to Destroy Angels bersama sang istri, Mariqueen Maandig.

Memang dasar Reznor jenius di bidang musik, kini ia mulai merambah ke dunia film. Beberapa film bahkan telah menggunakan jasanya sebagai komposer musik. Debut perdananya sebagai komposer dimulai saat ia dipercaya David Fincher untuk mengisi scoring pada The Social Network, film biopik Mark Zuckerberg sang pendiri Facebook. Dalam tempo singkat ia pun berhasil mendulang penghargaan di ajang prestisius Academy Awards, untuk kategori ‘Best Original Scoring’ di tahun 2011. Karier komposer Reznor pun berlanjut di film The Girl with the Dragon Tattoo dan Gone Girl.

Memang tak bisa dipungkiri bahwa Trent Reznor adalah salah satu musisi jenius di generasinya. Inovasi dan optimismenya selalu ia tuangkan ke dalam karya-karya musikalnya yang kompleks. Tak peduli seberapa takaran sukses diterima, yang pasti ia telah mengekspansi jagat rock seorang diri dengan tangan dinginnya. Jiwa petualang seorang Reznor seolah tak pernah berhenti di satu tempat. Ia yang selalu menantang dirinya, serta melibas batasan dengan eksplorasinya. Dan memang seperti itulah definisi sesungguhnya dari seorang mastermind.

1 COMMENTS
  • rocknroel

    nice info

Info Terkait

superbuzz
185 views
superbuzz
185 views
superbuzz
180 views
superbuzz
422 views
superbuzz
494 views
superbuzz
770 views