Varg Vikernes: Sang Pangeran Kegelapan dari Neraka

  • By: OGP
  • Senin, 15 October 2018
  • 958 Views
  • 1 Likes
  • 0 Shares

Di dalam lanskap musik cadas, tentu tak ada yang bisa menandingi elemen pekat melebihi kancah black metal. Sampai detik ini, black metal kerap identikkan dengan hal-hal berbau satanisme dan okultisme. Selama masa eksistensinya dari dekade 80-an sampai sekarang, selalu dipenuhi dengan beragam kontroversi di dalamnya. Mulai dari pembunuhan, rasisme, sampai pembakaran tempat ibadah, tak ayal musik cadas ini cukup memicu protes keras dari masyarakat awam.

Berbicara tentang black metal, tak sah rasanya jika tak menyebut nama Varg Vikernes alias Count Grishnackh ke dalam salah satu daftar musisi paling mengerikan. Ia adalah salah satu sosok paling populer dalam pergerakan black metal regional Norwegia. Berbagai polemik sempat mengitari hidupnya, tak heran jika pria penggemar berat J. R. R. Tolkien itu sering bolak balik mendekam di penjara lantaran terlibat kasus-kasus kontroversial yang dilakukan semasa hidupnya.

Kristian Vikernes lahir di Bergen, Norwegia pada 11 Februari 1973. Sedari remaja ia mulai menaruh minat ke musik, dan mulai mendengarkan karya-karya deretan elit metal seperti Iron Maiden, Kreator, Celtic Frost, Bathory, Megadeth, sampai Slayer. Ia pun sempat membentuk band pertamanya bernama Kalashnikov.

Selain menggilai musik, Varg juga begitu menyenangi buku fantasi ciptakan J. R. R. Tolkien, The Lord of the Rings. Nama panggung Grishnackh sendiri didapatinya dari karakter dalam novel seri kedua The Two Towers. Bahkan bandnya kelak yang bernama Burzum pun diambil dari kamus bahasa fiksi Tolkien yang berarti ‘kegelapan’.

Di usia yang tergolong masih remaja, Varg sempat tergabung dalam Old Funeral sebagai gitaris, sebelum akhirnya ia membentuk proyek solo ambisius Burzum. Setelah merekam dua demo, ia pun jadi bagian dari kancah black metal Norwegia, serta tertarik pada musik dan ideologinya. Sembari menjalankan proyek musiknya, Varg ternyata menarik perhatian  Øystein ‘Euronymous’ Aarseth (Mayhem) dan menawarinya kontrak dengan label yang kala itu baru dibuat, Deathlike Silence Productions.

Pada tahun 1992, Varg akhirnya mencoba peruntungan dengan bergabung bersama band black metal kontroversial Mayhem. Ini berlangsung pasca setahun kematian tragis Dead, eks vokalis Mayhem, yang memutuskan menembakkan kepalanya sendiri dengan senapan pada 8 April 1991. Kemunculan Varg tentu jadi babak baru bagi Mayhem. Dan dari sini pula kegilaan itu pun dimulai.

Tak cukup sekadar bermain musik, di masa itu Varg tercatat telah membakar sejumlah tempat ibadah, bahkan penampakannya turut diabadikan menjadi sampul album mini Burzum bertajuk Aske. Varg Vikernes, Øystein ‘Euronymous’ Aarseth, dan komplotan para pembakar tempat ibadah merupakan penganut paganisme dan mitologi Nordik — sebuah kepercayaan yang banyak dianut masyarakat Skandinavia sebelum persebaran agama Kristen masuk ke Norwegia.

Pihak kepolisian pun lalu meringkus dirinya, dan wajahnya sempat menghiasi berbagai halaman media setempat. Namun karena pengaruhnya di komunitas black metal vital, tak ada seorang pun yang berani buka mulut dan akhirnya Varg dinyatakan bebas karena tak cukup memiliki bukti kuat.

Kontroversi di kubu black metal pun makin dibuat geger. Pada 10 Agustus 1993, Varg akhirnya ditangkap oleh yang berwajib karena terbukti telah membunuh Euronymous. Tubuhnya Euronymous ditemukan sudah tak bernyawa akibat 23 tikaman pisau yang dihujamkan Varg. Ditengarai pembunuhan terjadi karena masalah seteru antar personel dan konflik album rekaman.

Diakui oleh Varg pula bahwa ia tak sengaja membunuh Euronymous karena upayanya membela diri. Ia mengaku Euronymous-lah yang menyerangnya lebih dulu. Akibat perbuatannya, Varg akhirnya divonis hukuman 21 tahun penjara atas tuduhan pencurian dan pemilikan 125 kg Dinamit dan 26 kg Glynite, pembakaran empat tempat ibadah, perampokan, dan pembunuhan tingkat satu.

Varg Vikernes sempat mendekam di beberapa penjara di Norwegia, meliputi Bergen, Tønsberg, Ringerike, Trondheim, dan Tromsø. Selama masa kurungan, ia aktif menulis sebuah buku berjudul Vargsmål (Varg's Speech). Buku ini bercerita tentang curhatnya tentang isolasi, kemarahan, serta kebohongan media yang dialamatkan kepadanya. Buku Vargsmål kemudian rilis pada tahun 1997 oleh sebuah penerbit di Norwegia.

Selain menulis buku, Varg juga produktif menelurkan karya musik di masa-masa kurungannya. Tercatat ia telah menghasilkan dua album, di antaranya Dauði Baldrs, direkam pada 1994–1995 rilis di bulan Oktober 1997 dan Hliðskjálf, direkam pada 1998 dilepas pada April 1999. Saat pembuatan lagu, Varg tak diperbolehkan menggunakan gitar listrik, bass, atau drum dan terkecuali menggunakan synthesizer. Di tahun 2000, Varg mengakhiri proyek musikal Burzum.

Pada bulan Maret 2009, Varg Vikernes akhirnya resmi dibebaskan. Sebelumnya ia divonis 21 tahun, namun berkat keputusan baru dari pengadilan ia jadinya menerima kurungan selama 15 tahun. Setelah lepas dari penjara, Varg kembali produktif menelurkan karya musik dengan moniker Burzum. Tak tanggung-tanggung ia berhasil mencetak tiga album, yakni Belus (2010), Fallen (2011), dan Umskiptar (2012).

Belum lama menghirup udara segar, Varg kembali ditangkap bersama istrinya, Marie Chacet di Perancis. Ia diduga tengah mempersiapkan aksi teroris dan pembantaian lantaran dicurigai telah membeli empat buah senapan, yang ternyata Chacet adalah seorang anggota klub menembak. Beberapa hari kemudian mereka pun dibebaskan.

Kendati telah melakukan beragam kontroversi, Varg Vikernes selalu menolak jika ia selalu dikaitkan dengan Anton LaVey, yang merupakan pendiri ‘Church of Satan’. Baginya ajaran LaVey sungguhlah konyol dan tanpa makna berarti. Ia mengaku semata-mata melakukan pembakaran tempat ibadah karena atas dasar ajaran leluhurnya yang telah lama berkembang di Norwegia.

0 COMMENTS

Info Terkait