Deadsquad - Horror Vision

10 Tahun ‘Horror Vision’: Sebuah Napak Tilas

Ya, Horror Vision menginjak satu dekade pada 9 maret 2019. Sebagai selebrasi momen yang menentukan unit technical death metal yang telah terbentuk dari 2006 ini, diadakanlah konser Horror Vision Reunited pada 10 maret 2019 di Bulungan, Jakarta Selatan. Dengan formasi yang sama dengan album tersebut, memainkan keseluruhan lagu album itu, plus beberapa nomor dari album kedua, Profanatik.

Mari kita napak tilas ke 10 tahun yang lalu, mengenai album yang sempat dirilis dua kali—pertama oleh Rottevore Recs dan versi reissue-remastered oleh Armstrech Recs beberapa tahun kemudian dengan artwork sampul album yang berbeda.  Album ini menghabiskan sekitar hampir 20 shift untuk proses rekaman semua instrumen termasuk vokal. Direkam di sebuah studio berbentuk rumah di bilangan Bintaro, Tangerang Selatan. Hanya berjarak sekitar 500 meter dari rumah Stevi.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

A blast from the past @deadsquad.official #HorrorVision10thAnniversary

A post shared by DAniel MArdhany G (@possessedtomerch) on

Deadsquad memutuskan untuk merekam album perdananya setelah mendapatkan kabar bahwa kami menjadi opening Lamb of God pada 9 maret 2009. Mulai awal Februari kami mulai workshop intens di rumah Coki dan juga studio milik keluarga Stevi di bilangan Pancoran, lalu merekam album pada akhir bulan itu. Tidak semua materi sudah benar-benar matang, contohnya lagu pamungkas di konser-konser Deadsquad, "Manufaktur Replika Baptis". Dulu kami memberi nama lagu di handphone karena memang waktu itu kami hanya bermodal rekaman latihan via telepon selular.

Lagu "Bangsat Kuasa" akhirnya diaransemen ulang dan saya ganti liriknya menjadi "Sermon of Deception". Sampai saat ini tidak sedikit orang yang ngeh akan hal itu dan berteriak dari barisan penonton untuk kami membawakan "Bangsat Kuasa" yang liriknya ditulis oleh Babal, vokalis awal DS era single “Horror Vision” dan “Destroyed Mind”. Lagu “Horror Vision” adalah satu-satunya lirik peninggalan Babal yang akhirnya saya tambahkan atau sedikit saya ubah. Selain “Horror Vision”, “Dominasi Belati” dan “Hiperbola Dogma Monoteis” mungkin adalah lagu yang paling siap kami rekam pada saat itu. Kami semua mengira lagu itu akan menjadi lagu paling hits dari album yang dirilis Rottrevore Recs dengan modal kepercayaan itu. 

Rekaman dimulai dengan Andyan Gorust merekam drum yang memakan waktu sekitar 3 hari dan 4 shift. Dilanjutkan dengan proses rekaman gitar Stevi dan Coki yang menghabiskan total sekitar 8-9 shift. Banyak riff-riff/lead yang tercipta secara spontan pada proses rekaman, contohnya adalah part akhir "Dimensi Keterasingan" yang merupakan ide dadakan Coki. Lead pada lagu “Manufaktur Replika Baptis” juga dibuat di studio. Bahkan 70% aransemen lagu ini akhirnya jadi pas dalam sesi rekaman.

Sebelumnya memasuki studio rekaman, kami hanya bermodal guide gitar Stevi dan Coki yang direkam di ruangan workshop DS pada saat itu, yaitu rumah Coki. Andyan lalu mempelajari riff-riff mereka dan mulai mengisi isian drum pas dengan riff lagu tersebut. Saya sendiri di departemen vokal harus menunggu isian drum Andyan rampung untuk mencari dan mengisi pattern/susunan vokal yang pas. Tugas saya adalah membuat lagu yang terdengar rumit menjadi mudah dicerna dan liriknya bisa dinyanyikan kembali oleh audiens saat kami manggung layaknya band hardcore /punk.

Saya ingat sekali pada saat merekam vokal, berbarengan dengan UTS kampus, jadi otak saya terbagi dua antara akademis dan band, dan saya ingin dua-duanya lancar. Pada saat saya merekam vokal di hari pertama, Boni bolos ngantor demi menggawangi sesi rekaman vokal yang dimulai siang hari setelah saya balik ngampus hinggu larut malam, dan besok paginya saya harus ke kampus lagi karena memang lagi UTS.

Boni di sini merupakan sosok yang paling intens dalam merekam bagian frekuensi rendah. Bassis gundul eksentrik itu merekam part bass 20 jam nonstop hingga hari berganti dan ditutup dengan fogging demam berdarah di daerah tersebut. Bayangkan mata udah sepet merekam bass selama 20 jam, pas udah kelar mau balik disambut dengan fogging DBD yang cukup meriah, haha. Riff-riff dasar album ini banyak diciptakan Stevi lalu dikembangkan oleh Coki, lalu diaransemen bersama. Ada juga yang dimulai dengan isian drum Andyan lalu riff gitar mengikuti isian drum.

Untuk membayar atau tepatnya mengurangi beban biaya rekaman, kami sampai menjual barang pribadi kami. Andyan sampai menjual HP baru miliknya. Saya menjual koleksi-koleksi pribadi, pernak-pernik band impor seperti kaus dan hoodie serta beberapa CD. Stevi berkontribusi sangat besar untuk "nalangin" dulu mayoritas biaya rekaman ini, haha. Ini merupakan album pertama Stevi dengan band yang benar-benar dia dirikan dari awal, setelah sebelumnya sempat bergabung juga dengan Stepforward dan merekam beberapa single, juga sempat mengisi sebagai musisi pengiring/gitaris additional untuk album-album Iwa K, Dewa, dan beberapa musisi/band lainya.

Proses mixing dan mastering dilakukan di sebuah studio di Jakarta Selatan oleh “personel keenam” kami, Miko Valent, yang sudah berperan dalam setiap panggung DS dari sebelum album rilis. Proses mixing dan mastering-nya bisa dibilang cukup ekspres, hanya memakan waktu 2 hari karena kami dikejar deadline harus rilis album saat menjadi opening Lamb of God. Sebuah momen yang tidak boleh kami sia-siakan. Kapan lagi sebuah band baru bisa rilis album bareng bareng band dari US yang sedang berada di puncak kariernya? Oh iya, di tengah proses mixing mastering, Miko juga harus membagi waktunya untuk memoles tata suara album pertama Afgan di studio yang sama, hehe.

Artwork dan layout album ini digarap oleh Andyan Gorust, karena dari kami semua hanya dia yang punya kemampuan itu dan akan memakan proses lama jika harus memesan artwork untuk sampul album. Belum lagi kami harus menunggu proses duplicating dan packaging yang memakan waktu cukup lama jika dibandingkan dengan saat ini. Pihak Rottrevore melakukan semua itu hanya dibantu oleh satu karyawan freelance, Acong Zalim alias Robokop. "Pegawai" Rottrevore semata wayang itu yang bertanggung jawab atas distribusi hingga duplikasi rilisan label extreme metal no. 1 di negeri ini pada saat itu.

Almarhum Dwinanda alias Rio Genduts adalah satu-satunya orang yang berani dan bernyali merilis album Horror Vision pada saat itu walaupun dia sendiri baru mendengar 1/4 materi album tersebut. Itupun pas sesi rekaman sudah berjalan. Istilahnya mungkin seperti idiom "Beli kucing dalam karung", dia percaya akan kapasitas kami dan kami pun percaya dengan kekuatan magis Rottrevore Recs untuk membawa band-band "unknown" ataupun baru ke tingkatan yang lebih tinggi. Beliau salah satu orang yang paling berjasa dalam perjalanan karier Deadsquad selain Andri Katob, manajer DS pada saat itu yang cukup giat mempromokan band ini.

Logo Rottrevore Recs yang berwarna hijau dan menyerupai kelelawar sering menjadikan ornaman label yang owner-nya memang seorang nokturnal ini sering juga disebut dengan nama "kalong ijo rekot" . Oh iya label ini selalu memakai tagline "The sale of this cd only for waco killers.” Kalo kata sang empunya label ini semacam "pesugihan" untuk berjualan rilisan fisik .

2009 adalah tahun di mana penjualan musik fisik lagi anjlok-anjloknya karena dibantai oleh mudahnya mengunduh album secara ilegal. Menjual 300-an CD dalam hitungan jam di booth merch DS pada event Lamb of God pertama kali manggung di Indonesia adalah semacam mukjizat yang menjadi kenyataan. Baik pihak label dan band tidak menyangka CD yang dibanderol dengan harga Rp 50 ribu terjual dengan kuantitas sebanyak itu.

Ajaibnya lagi, jewel case CD rilisan awal Horror Vision ada logo Universal, hingga banyak orang yang mengira kalau kami telah bergabung dengan major label sekelas Universal. Hanya segelintir orang yang tahu kenapa dan mengapa Rottrevore memakai casing Universal Recs dan hal tersebut sama sekali tidak ada hubungannya dengan faktor promosi album ataupun gimmick, hehe. 

Persiapan reuni formasi Horror Vision sendiri hanya memakan empat kali latihan di studio. Selain di studio, para member formasi ini--yang sudah lama tidak memainkan lagu yang dulu sering mereka mainkan, tetap berlatih di rumah masing-masing untuk me-refresh memori mereka.

Untuk saya dan Stevi, ini merupakan repertoar terpanjang dalam sejarah panggung Deadsquad. Total lagu yang akan dibawakan sekitar 15 lagu, hampir sama dengan total setlist show Cannibal Corpse atau Deicide, haha. We always push the limitation of being human! See u in wild pit ! 10 Maret 2019, Bulungan, Jakarta.

1 COMMENTS
  • dephythreehandoko

    PASUKAN MATI

Info Terkait

supernoize
1215 views
superbuzz
406 views
supernoize
1470 views
superbuzz
502 views