2020 SEBENARNYA GAK BURUK-BURUK AMAT UNTUK METALHEAD

2020 SEBENARNYA GAK BURUK-BURUK AMAT UNTUK METALHEAD

Tidak terasa kurang dari sebulan lagi tahun 2020 akan berlalu. Tahun yang aneh, tidak masuk akal dan diluar perkiraan. Tahun yang akan dikenang sebagai salah satu yang terburuk dalam 50 tahun terakhir? Ya, bisa dikatakan begitu. Meski kita juga belum tahu bagaimana nanti di tahun 2021. Apakah masih begini- begini saja, membaik atau semakin buruk. Tapi harapan pasti selalu ada.

Sebagai metalhead yang soleh, saya akan bicara dalam ranah musik keras saja. Daripada saya membicarakan hal lain yang tidak saya ketahui. Bukan berarti juga kalau membicarakan musik keras ini saya tahu segalanya. Tapi setidaknya kesoktahuan saya lebih bisa dipertanggungjawabkan. Oke? Sepakat ya.. sikaaaat!

Pasti akan banyak sekali yang bisa disebutkan kalau bicara yang buruk saja. Bagaimana kalau membicarakan hal baik dan menyenangkan saja di tahun yang menyebalkan ini? Tenang… ini bukan toxic positivity kok, hanya sekedar berusaha sedikit bersenang-senang agar membuat tahun 2020 gak buruk-buruk amat. 

Ternyata pandemi ini banyak hikmahnya juga. Ditundanya jadwal festival dan konser membuat banyak musisi mempunyai waktu luang untuk melakukan hal- hal lain yang berfaedah, meski ini bersifat subjektif. Berfaedah buat saya belum tentu untuk kalian, demikian juga sebaliknya. Tapi yang pasti selama pandemi di tahun ini banyak kreativitas muncul di ranah musik keras. Band yang biasanya disibukkan dengan jadwal manggung yang padat jadi mempunyai banyak waktu luang untuk menggarap materi baru baik untuk single maupun album dan melakukan hal lain yang kadang belum terpikirkan sebelumnya. 

Salah satu kejutan yang paling menyenangkan di tahun ini adalah AC/DC merilis album baru dengan formasi klasik! Yeaaaahhh.. setelah simpang siur dengan berbagai rumor tidak jelas, kemudian dimulai dengan gimmick seru dihapus nya semua postingan di akun Instagram band, kemudian mengunggah video singkat simbol petir ikonik dan munculnya poster misterius bertuliskan “Are You Ready? SYD PWR UP” di luar gedung sekolah Angus Young di Sydney Australia. Akhirnya di awal Oktober, band yang terbentuk di tahun 1973 ini kembali merilis single “Shot In The Dark” yang kemudian disusul seminggu kemudian dengan album “Power Up”. Ini menjadi luar biasa dengan kembalinya Brian Johnson sang vokalis, setelah sempat absen cukup lama dari tur karena masalah pendengaran dan digantikan Axl Rose dari Guns N’ Roses. Dia kembali bermain bersama kompatriotnya, Angus Young dan Stevie Young, drummer Phil Rudd dan bassist Cliff Williams. Apalagi setelah meninggalnya pendiri band, Malcolm Young, pada tahun 2017 lalu, masa depan AC/DC menjadi tanda tanya besar. Tapi di tahun ini semua terjawab sudah semua keraguan itu. Tentu saja kembalinya salah satu band rock terbesar sepanjang masa ini disambut gegap gempita tidak hanya oleh penggemar rock tapi juga seluruh pecinta musik. Terbukti album ke-17 band rock asal Australia, yang berisi 12 lagu ini, langsung merajai tangga lagu dan menjadi album terlaris juga di puluhan negara di dunia. Siapa yang bilang tidak ada lagi yang mendengarkan musik rock? Hah!

Sebulan setelah itu kejutan kembali datang, System of A Down tiba-tiba merilis 2 single baru sekaligus. 6 November kemarin, mereka merilis “Protect The Land” dan “Genocidal Humanoid”. Hasil penjualan kedua lagu itu disumbangkan untuk kegiatan kemanusian di Armenia. Band yang memang keturunan Armenia ini langsung masuk studio rekaman setelah melihat konflik perang Armenia dengan Azerbaijan pada September lalu. Ada seloroh, sepertinya butuh perang agar System Of A Down merilis karya baru. Ini adalah karya terbaru mereka setelah 15 tahun tidak mengeluarkan karya apapun. Akhirnya System Of Down masih ada, karena rumor tentang bubarnya mereka selalu berhembus. Apalagi berita tentang mereka sebelumnya adalah pertikaian perbedaan pendapat pandangan politik antara vokalis Serj Tankian dan drummer John Dalmayan. Tapi syukurlah kedua single baru itu memupus kekhawatiran bubarnya System of A Down. Semoga segera disusul dengan karya baru lagi dari mereka, Oh ya, video “Chop Suey!” milik mereka juga menjadi video lagu metal pertama yang ditonton lebih dari 1 milyar di YouTube. 

Ngobrolin tentang album baru memang tahun ini ternyata cukup menyenangkan. Metallica juga kembali merilis album “S & M2” di tahun ini, kelanjutan dari kesuksesan seri pertama yang dirilis tahun 1999. Sebuah album live kolaborasi musik metal dengan orkestra yang kemudian banyak diikuti band-band metal lainnya di seluruh dunia. Beberapa album keren yang membuat tahun 2020 tidak buruk-buruk amat lagi adalah album “Ohms” dari Deftones yang memang sudah ditunggu penggemar, “Post Human: Survival Horror” milik Bring Me The Horizon, album “self titled” nya Lamb Of God dengan drummer baru Art Cruz yang sangar, Hatebreed dengan album “Weight Of The False Self” yang semakin mengukuhkan hegemoni mereka di kancah hardcore dunia, Napalm Death merilis album keren “Throes of Joy in The Jaws of Defeatism” dan masih banyak lagi album keren sepanjang tahun yang buruk ini. Belum lagi beberapa single keren seperti “Another World” milik Gojira, “Fallen Torches” nya Mastodon dan lainnya. 

Memang hampir semua festival dan konser langsung dibatalkan karena pandemi Covid-19, tapi itu tidak membuat geliat musik keras meredup. Berbagai inovasi dan kreasi dibikin untuk berkompromi dengan keadaan. Konser virtual cukup marak dibikin. Dari yang sederhana sampai yang megah disuguhkan. Wacken Open Air, salah satu festival metal terbesar di dunia, terpaksa membatalkan festival yang seharusnya diadakan di pertengahan tahun, kemudian membuat festival virtual bertajuk “Wacken World Wide 2020”. Program streaming ini dikerjakan sangat serius, band yang tampil syuting di studio dengan set seperti festivalnya dengan seolah-olah manggung di festival didepan puluhan ribu penonton yang dikemas dengan grafik animasi yang menarik. Nama-nama kondang seperti Kreator, Heaven Shall Burn, Blind Guardian dan lainnya tampil di program ini yang bisa ditonton gratis di channel YouTube Wacken TV. Selain Wacken, beberapa festival besar lainnya seperti Hellfest, Ressurection Fest, dan Full Force Festival, juga mengunggah video festival tahun-tahun sebelumnya untuk menghibur para metalhead yang pasti merindukan keseruan dan gegap gempita festival musim panas. Lumayan nonton festival gratis meski secara virtual.

Tidak mau kalah dengan festival-festival tersebut, banyak juga band yang membuat konser virtual. Ada yang dengan konsep quarantine atau karantina, karena biasanya mereka tinggal terpisah jauh, bahkan antar negara dan benua. Seperti yang dilakukan Sepultura, Metallica, Killswitch Engage, Sick Of It All, Goldfinger dan banyak lagi. Ada konser virtual yang dikemas sangat ekslusif dan super keren seperti yang dilakukan Behemoth dengan konser “In Absentia Dei’. Sesuai judulnya konser ini dibikin di sebuah gedung yang diset menjadi gereja atau mungkin memang gereja sungguhan? Tentu dengan tanpa kehadiran Tuhan! Sadis memang band asal Polandia ini. Neck Deep juga gak mau kalah bikin konser menyambut Halloween dengan mencover lagu-lagu Slipknot dan berubah menjadi SlipNeck lengkap dengan topeng dan seragamnya. Meski ini sudah mereka lakukan juga tahun 2019 lalu tapi ini sungguh menjadi hiburan tersendiri. NOFX membuat lebih sederhana yaitu dengan membuat konser di halaman belakang rumah mereka. Seru juga sih.

Adaptasi dan inovasi lain adalah semakin maraknya podcast dan semacamnya. Memang sebelumnya ini sudah mulai sejak beberapa tahun lalu tapi di tahun 2020 ini beberapa musisi metal kondang juga melakukannya, mungkin untuk mengisi waktu luang. Dari Jamey Jasta, vokalis Hatebreed, sampai M. Shawn “Clown” Craham dari Slipknot membuat program talkshow dengan tamu-tamu musisi metal dunia. Kemajuan teknologi dan dunia digital memang membuat ruang kreasi tanpa batas. 

Musik keras ini juga butuh regenerasi. Tahun ini industri rock/ metal internasional dikejutkan dengan kehadiran Poppy. Sebenarnya dia sudah memulai karir sejak 2011 tapi baru sekarang benar-benar mencuri perhatian dengan album “I Disagree” , dirilis awal tahun 2020 oleh Sumerian Records, yang mengantarkannya menjadi nominator di Grammy Awards 2021 untuk kategori Best Metal Perfomance, bersaing dengan nama-nama lama yang sudah dikenal seperti In This Moment, Body Counts, Power Trip dan Code Orange. Ini sebuah anugerah atau malah musibah bagi dunia musik keras? Karena Poppy menjadi polemik dan perdebatan di metalhead di dunia. Kehadirannya sama saat Baby Metal muncul, memancing reaksi keras meski kemudian perlahan diterima oleh metalhead. Meski saya pribadi tidak terlalu bisa menikmati musiknya, sama hal dengan musiknya Poppy. Mungkin saya yang terlalu kolot.

Membicarakan Poppy memang cukup menarik. Tidak terduga.. tiba-tiba muncul dan langsung menyeruak di permukaan. Kita sudah sangat terbiasa dengan ranah musik rock/ metal yang didominasi oleh cowok-cowok macho bertato dengan brewok lebat dan banyak yang memakai celana pendek camo untuk manggung, belum lagi gitar dengan body tajam yang menjadi suatu keharusan bagi semua gitaris metal. Metal telah melalui banyak pilihan transformasi dan arah dalam beberapa tahun terakhir. Dari kebangkitan raja-raja nu-metal seperti Korn, Deftones dan Limp Bizkit, hingga pendatang baru post metalcore yang dibawa oleh band-band Inggris seperti Architects dan Bring Me The Horizon, semua itu sudah cukup terasa basi bagi industri, meski tidak ada kata basi bagi saya dan mungkin kalian para pecinta musik keras. Gerombolan Slipknot dengan topeng dan seragam menyeramkannya, Jonathan Davis yang mengenakan kilt, dan Fred Dust dengan topi baseball merah, bahkan meskipun Oli Sykes telah mencoba menjauhkan diri dari citra metal tradisional dengan mengenakan celana hipster dan kemeja bunga-bunga yang aneh, tapi tidak ada yang benar-benar mengejutkan seperti Poppy. Poppy adalah darah segar yang dibutuhkan oleh skena rock/metal. Kita butuh darah segar!

Masih banyak hal menarik dan menyenangkan lain tentunya yang luput saya tulis. Ya, bagi saya setiap masa pasti memiliki dua sisi kebaikan dan keburukan, kesenangan dan kesedihan, tinggal bagaimana kita menyikapinya. Sedih, marah, mengeluh, sebal itu wajar dan boleh banget kok dalam menghadapi tahun 2020 yang brengsek ini. 

Wah ternyata sudah 4 halaman ya tulisan saya ini. Waduh maaf kalau kalian bosan. Tambahan nih... tahun ini saya makin rajin menulis juga hehehe.. meski ya tulisan saya tidak bagus-bagus amat tapi setidaknya tidak buruk-buruk amat. Seperti tahun ini. Cheers!

 

Jakarta, 4 Desember 2020. 

Stephanus Adjie

0 COMMENTS