INSPIRING ALBUMS: 5 Album Sederhana Yang Menginspirasi Pilihan Alvin Yunata

  • By: Alvin Yunata
  • Rabu, 16 November 2016
  • 4843 Views
  • 2 Likes
  • 0 Shares

Mungkin tulisan ini adalah bagian dari apa yang telah saya rasakan dan alami ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Bisa jadi tulisan ini didedikasikan kepada segelintir anak muda yang memiliki kartakter yang kurang lebih sama dengan saya. Musik adalah kendaraan yang paling kasual dalam lingkup seni dimana di ranah hiburan musik lebih mudah untuk dicerna, semua orang dengan mudah menikmatinya.

Kita kembali ke awal tahun 90an ketika akhirnya saya berada di titik ingin mengapresiasi musik secara lebih lagi. Mungkin keadaan yang saya alami bisa jadi merepresentasikan beberapa gerombolan anak-anak muda lainnya hari ini. Tidak terlalu mencolok dalam mata pelajaran apapun, semua serba tengah-tengah, keahlian dalam lingkup olah raga pun sangat rata-rata, tidak pula dikaruniai wajah tampan menawan. Keterbatasan ketrampilan merupakan hambatan utama disamping finansial yang kurang mendukung.

,Kala itu kami sedang diserang oleh hingar bingar rock dengan ketrampilan tingkat tinggi. Band-band dengan segudang talenta berkeliaran dalam keterbatasan pengetahuan, maklum jaman itu di Indonesia internet masih jauh di awang-awang. Hanya beberapa anak beruntung saja yang memiliki akses musik super luas yang bisa mereka dapati dari luar negeri.

Oke yang ada kala itu kebanyakan dikuasai oleh band-band dengan talenta super dalam bermain instrumen. Lick gitar solo yang menyeruak seakan membuat saya bingung betapa cepat dan lincahnya jari jemari sang gitaris ternama itu. Seringkali mencoba untuk mengikuti mereka namun rasanya selalu gagal, mungkin karena memang saya tidak memiliki bakat atau saya seorang pemalas. Namun permainan gitar seperti musisi hebat itu membuat tangan saya sakit dan pegal dan membuat saya tidak nyaman akan hal ini. Apakah benar bermusik harus sesulit ini?

 

Saya Harus Bagaimana?

Jiwa muda adalah pemberontakan, musik-musik keras adalah pilihan yang tepat bagi jiwa yang haus akan adrenalin. Metal adalah salah satu genre tertua di Indonesia sejak saya menginjakkan kaki di Sekolah Menengah Pertama semua kaum adam di area sekolah menyukai musik metal. Saya pun ingin ikut senang dan mencoba membiasakan diri, mencoba bermain namun saya masih mendapatkan kesulitan dalam teknisnya dan pada akhirnya saya menyerah dan menyadari kalau metal pun butuh skill tingkat tinggi dengan kecepatan permainan jari jemarinya. Akhirnya bersandiwara seakan-akan saya suka padahal jujur saya sangat letih.

Mungkin saya tidak sendiri atau bahkan saya memang seorang pemalas yang tidak punya teman dalam visi bermusik. Saya tetap sulit untuk berekspresi dan berpura-pura hingga saya duduk di bangu Sekolah Menengah Atas. Mungkin di penghujung bangku SMP tanda-tanda pencerahan sudah mulai sedikit terbuka, ada satu yang membuat saya tertegun ketika saya dan teman-teman saya pertama kali mendengarkan Sex Pistols dan Ramones. Eureka ini pencerahan! Ini hal lain! Dua band yang selalu membuat saya sulit tidur kadang riff riff gitar yang seadanya selalu harid dan hadir lagi dalam mimpi. Ini sederhana tapi ini indah. Sejak itu saya melepaskan semua atribut poser metal saya secara tiba-tiba dan sering mengunjungi panggung musik mingguan di sebuah gelanggang olah raga.

Ternyata saya cinta kesederhanaan mungkin karena itu karakter saya yang pada awalnya merasa keberatan untuk mengikuti permainan musik rock proggresive ataupun metal sekalipun. Saya kira ada segelintir anak-anak yang memiliki ketertarikan akan hal-hal yang sederhana saja. Jujur kecintaan saya pada musik punk rock bukan karena ideology namun hanya karena kesederhanaan yang mampu membuat output yang begitu menggila nan hebat.

 

"All Punk is is copying The Ramones"-Joe Strummer (The Clash).

 

"We stink. You don't have to be good, just get out there and play" – Johnny Ramone.

 

Pada tanggal 4 Juli 1976 Ramones mengadakan panggung pertama kalinya di Inggris, mereka menyempatkan diri untuk hang out bersama beberapa fans nya yang kemudian dikenal sebagai band Sex Pistols dan The Clash.

 

Solusi

Betul ini solusi, tiga sampai empat grip gitar sederhana dan Ramones mengubah dunia, effortless namun memiliki output raksasa, cocok bagi si pemalas yang penuh akan keterbatasan ini. Kemasan lengkap dengan penuh keterbatasan saya bisa memuaskan libido ini, esensi yang sangat luar biasa. Hingga terus dari tahun ke tahun dengan lingkar pertemanan yang semakin luas saya mendapatkan pengetahuan yang makin menggunung, siapa sajakah eksponen penting yang harus saya ikuti dan dijadikan teladan.

Oke kalau dibahas dari era lawas tentunya tulisan ini akan seperti makalah beratus atau beribu halaman yang menjemukan. Tentu kita bisa memulai dari The Stooges dengan karyanya yang fenomenal liar dan sederhana ataupun. Atau eksponen 60an lainnya yaitu The Velvet Underground yang penjualan album perdananya bisa dikatakan tidak laku.

Brian Eno: "While only a few thousand people bought the first Velvet Underground record upon its release, almost every single one of them was inspired to start a band.". Sangat mengispirasi bukan? Nyatanya The Velvet Underground baru bisa diterima di generasi berikutnya. Oke kita hentikan saja obrolan kita di tahun 60an ini bagaimana kalau kita membedah dan memilih 5 album yang nyatanya sederhana di era 80an namun mampu menghimpun energi kita si kaum pemalas untuk memulai sebuah band. (List yang saya buat adalah acak dan spontan. Mengapa dipilih tahun 80an? Saya pun tidak tahu karena saya pikir banyak band bagus yang tertutup oleh kemilau trend new wave di kala itu. Saya tidak akan menjabarkan lebih panjang lagi mengenai album-album di bawah ini, langsung dengarkan saja).

 

Here Comes The Albums

 

The Vaselines – Dum Dum (1989)

Siapa mereka? Mengapa Kurt Cobain begitu menggilai mereka? Band asal Glasgow Skotlandia yang awalnya digawangi oleh duo Eugene Kelly dan Frances McKee berdiri di tahun 1986. Kesan lo-fi, kasar namun memesona.

 

 

 

Violent Femmes – Violent Femmes (1983)

Album debut yang brilliant dari trio asal Milwaukee Wisconsin dimana pemainan dari Gordon Gano ini memukau hanya dengan gitar akustik dan band post punk ini terdengar istimewa!

 

 

ESG – Come Away With ESG (1983)

Ini sinting banyak kalangan jurnalis melabeli mereka sebagai “An art-funk ensemble from the South Bronx, ESG (Emerald Sapphire & Gold)”. ESG didirikan oleh sekumpulan saudari Renee (vocals), Valerie (drums), Deborah (bass) and Marie (congas, vocals) and friend Tito Libran (congas, vocals). Musik mereka unik kadang mereka out of beat, kadang mereka hanya menggunakan sample dari musik RnB 60an, mereka sangat hebat!

 

 

Beat Happening – Beat Happening (1985)

Dikepalai oleh Calvin Johnson orang gila dibalik ini semua. Metode rekaman yang orthodok membuat mereka disebut sebagai salah satu eksponen lo-fi. Sebuah manifesto indie rock terbaik di eranya. Saya yakin kita si kaum pemalas menyukai akan selalu rekaman ini.

 

 

 

Pussy Galore – Exile On Main St (1986)

Seperti menertawai atau entah ekspresi bebas kekaguman Jon Spencer cs terhadap album Rolling Stones yang rilis di tahun 1972. Album perdana penuh yang dirilis pertama kali dalam format kaset ini begitu menggoda. Kebisingan dan kesederhanaan membuat ini seperti album terkeren yang pernah ada. 

 

.

1 COMMENTS
  • linggabima

    Terus berkaryaaaa

Info Terkait

supernoize
1874 views
supernoize
6597 views
supernoize
4085 views
supernoize
3812 views
supernoize
9267 views