Adit 'SATCF': 5 Album yang Jadi Inspirasi Album Terbaru SATCF

  • By: Adit 'SATCF'
  • Sabtu, 31 March 2018
  • 4124 Views
  • 1 Likes
  • 9 Shares

SATCF adalah singkatan dari Snickers And The Chicken Fighter. Band ini lahir di penghujung tahun 1999 di kota Malang, Jawa Timur. Beranggotakan 5 orang dan membawakan musik melodic punk sebagai benang merah musiknya.

Retorika adalah album kedua dari SATCF yang rilis di pertengahan tahun 2017. Sebelumnya, di tahun 2011 band ini pernah mengeluarkan album pertama dengan judul self titled. Dalam penggarapan album ini, kami mendengarkan banyak genre musik yang memperkuat beberapa lini track di album pertama kami.

Kalau  kalian mendengarkan band ini, mungkin nuansa musik yang didengar tidak melulu dentuman punk rock saja, tapi banyak unsur yang dapat kalian dengar, seperti ska punk, hardcore, blues dan lain-lain.

Saya  adalah music maker di dalam band ini. Most of all saya banyak menulis dan mengaransemen dari 90% lagu yang ada di album SATCF. Menurut saya pribadi, genre melodic punk / pop punk ini adalah media yang sangat versatile, bebas dan tanpa batas. Jenis musik ini dapat berevolusi menjadi beberapa subgenre yang lain, bahkan genre musik ini juga adalah successor dari genre punk rock itu sendiri, dinamis dan tanpa batas.

Pada akhir 90-an, saya sering mengorelasikan musik melodic punk dan ska punk adalah dua saudara kembar tapi berbeda warna dan atribut. Dengan beat dan distorsi yang pas, diyakini akan memacu adrenalin pendengar untuk memunculkan kembali jiwa remaja mereka yang bersifat no boundaries, raw, naive, impulsive, dan nakal.

Banyak band yang meng-influence saya dalam bermusik pada saat itu, seperti NOFX, The Mighty Mighty Bosstones, Rancid, Useless ID, Hepcat, Kemuri, Sublime, Beastie Boys, dll. Itu untuk sisi sidestream, tapi mostly saya juga mendengarkan beberapa black music seperti hip-hop dan reggae di saat yang bersamaan, jadi kombinasi antara musik yang dinamis dan influential terbentuk dari jiwa kami sejak dini.

Kalau kalian mendengarkan album pertama SATCF mungkin kalian akan paham maksud saya, that’s the music that influenced us, when we were younger back then, even we’re still not getting old enough now, hehe.

Di album kedua ini, mungkin proses transisi dari SATCF menjadi boys to men cukup terasa, banyak perubahan di sana-sini, termasuk current listening para personel masing-masing. Kami cenderung ingin bermain lebih nyaman dengan beberapa musik yang tidak terlalu up beat.  Nevertheless, di bawah saya akan membeberkan beberapa album esensial yang menjadi referensi saya dalam menulis lagu untuk album yang kedua ini.

1. RX Bandits - And The Battle Begun (2006)

Band ska asal Orange County, California ini adalah salah satu all-time favorit saya. Dengan beat yang cukup unik, band ini menjadi diferensiasi untuk beberapa band-band ska lain yang terdengar cukup stereotipe di kuping kita. Dengan campuran dari beberapa nuansa post-rock, di-combine dengan beat yang cukup atraktif dari sang drummer. Saya langsung jatuh cinta pada lagu pertama yang saya dengar pada tahun 2000, “Analog Boy”, saat mereka masih di bawah naungan Drive Thru Records, di mana semua band yang diusung di Drive Thru Records pada saat itu adalah band emo.

Band ini selalu akan ada di playlist saya, whenever and wherever i go. Their music is quite a game changer for me personally. Saya masih mendengarkan mereka sampai saat ini.

2. Sublime - Second-Hand Smoke (1997)

Why Sublime? It will always be. Saya nggak punya alasan spesifik mengapa, mungkin kalau pun ada, band dub ska asal Long Beach ini mengajarkan saya akan komposisi menarik antara beat hip-hop dan ska punk, dibalut dengan melodi blues, licking kental ala Bradley Nowell yang cukup responsif. Bradley sang vokalis secara subliminal mengajarkan kita how to sing from your heart about your life, pain and stuffs. Sangat inspiratif! Beberapa band dari Long Beach memiliki sebuah pattern yang cukup similar untuk sound drum mereka. If you are listening to 311, No Doubt, dan Sublime, mungkin kamu tahu maksud saya.

3. Copeland - Beneath The Medicine Tree (2003)

Copeland is quite piece of band yang menurut saya cukup influential. Yes influential! Beneath The Medicine Tree adalah one of all–time favourite album for me. Aaron Marsh berhasil untuk men-deliver musik Copeland menjadi sebuah komposisi musik yang tidak bosan untuk didengar di telinga saya. Aaron’s soft voice di-combine dengan pattern musik pop rock yang ciamik. Sayang banget dulu mereka mengumumkan untuk bubar dan having their last concert here in Indonesia, tepatnya di Bandung. Yes, in 2018 i still listen to them.

4. Resonators - Wah 45 compilation

Band reggae dub asal UK ini mencuri perhatian saya saat mendengarkan single “Sweet Love Affair” di kompilasi reggae Wah 45, di salah satu channel Youtube pada tahun 2014. These two female singers are pretty attractive, permainan musik mereka are quite soulful dan cukup next level buat saya. Mereka selalu ada di playlist saya 24/7, saat kami sedang memproduksi beberapa lagu untuk album kedua kami. Check them out here.

5. Katchafire - On The Road Again (2010)

Band reggae New Zealand ini pernah datang ke Indonesia, tepatnya di Bandung dua tahun yang lalu. Saya datang untuk melihat live performance mereka. And they sounds so freaking awesome!! Beberapa tahun belakangan saya sering mendengarkan beberapa band Australia, seperti Sticky Fingers, Violent Soho, Thirsty Merc, Katchafire, Fat Freddys Drop, dll. When you hear they sing is completely different bila dibandingkan dengan band-band asal US dan UK, and it’s quite catchy. Katchafire adalah salah satu Top 3 saya untuk band Australia/NZ. Band ini isinya player multi talenta semua, hampir dari seluruh player-nya mampu bernyanyi  dengan baik dan benar. Dan ajaibnya di album mereka nggak ada lagu yang nggak enak, semuanya enak.

Well kelima album di atas ini cukup mewakili dari beberapa track di album kedua SATCF. Banyak beberapa warna musik lain yang kita coba untuk explore di album kedua ini, tapi lima album di atas sudah cukup mewakili dari apa yang ada di album kedua. Menurut saya pribadi cukup susah untuk menjaga benang merah musik yang kita bawa, dan chemistry antara pemain pada khususnya. Pada akhirnya toleransi lah yang berbicara.

Good music for me is like a good scars, it will last forever and still remains to have their own stories. Feel free untuk mendengarkan album kami di digital store favorit kalian, dan stick with our updates on akun Instagram @SATCFPUNK.

0 COMMENTS

Info Terkait

superbuzz
154 views
superbuzz
377 views
superbuzz
686 views
superbuzz
452 views
supertapes
889 views

Supertapes: Coldiac

superbuzz
687 views