musik Indonesia 2019

Adit 'SATCF': Musik (Pop) Indonesia yang Tak Lagi 'Pop' di 2019

  • By: Adit 'SATCF'
  • Minggu, 29 December 2019
  • 909 Views
  • 7 Likes
  • 6 Shares

Gelaran berskala nasional untuk musisi dalam negeri Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards sudah tuntas dihelat pada 27 November lalu. Dari 50 kategori, menarik melihat bagaimana nama-nama yang muncul sebagai pemenang tidak datang dari naungan label mayor.

Mantra Mantra dari Kunto Aji dinobatkan menjadi Album Terbaik Terbaik. Selain itu, Ramengvrl, Pee Wee Gaskins, Kelompok Penerbang Roket, sampai Ardhito Pramono juga muncul ke permukaan. Mereka ini adalah nama-nama yang besar berkat platform digital, seperti YouTube dan Instagram. 

Industri musik Indonesia telah berubah. Hingga beberapa tahun lalu, AMI Awards masih didominasi oleh Gigi, Nidji, Yovie and Nuno, dan tentu, NOAH. Waktu itu, gerakan bawah tanah hanya keren untuk beberapa kelompok. Berkebalikan dengan hari ini, di mana semua orang mendadak hobi menyesap kopi sambil menatap senja.

Gak bisa dipungkiri platform digital berperan besar, seiring kemudahan mengakses internet. Artinya, ada lebih banyak pilihan. Evolusi selalu menawarkan hal baru. Toko kaset bangkrut, ada Spotify. Gambar dan artikel di majalah sebagai sumber informasi tergilas video-video YouTube. Untuk membentuk dan menjaga citra, ada berbagai fitur yang dimiliki Instagram yang membuat penggemar merasa dekat dengan idola.

Dulu, audio saja sudah cukup. Lantunan lagu di radio sudah bisa membuat orang tersenyum sendiri. Sekarang, musisi harus memikirkan banyak hal lain, terutama kemasan diri. Musisi tak hanya bertanggung jawab atas karyanya, tapi juga perilaku, tutur kata, dan image sebagai sebuah kesatuan aset. Semua bisa diolah dan dibentuk sesuka hati atau sesuai konsep, dengan catatan membutuhkan upaya tak sedikit untuk konsisten bertahan. 

Pengalaman baru mendengarkan musik seperti ini yang didapat oleh generasi millenial, yang kemudian terimbas pada festival-festival musik. Gengsi menonton We The Fest atau festival semacamnya yang menampilkan banyak performer luar negeri sama terasa sama seperti ketika menonton Synchronize yang memiliki booth minuman jamu sendiri, di mana penonton rela mengular antri demi sebotol anggur merah yang sebenarnya mudah didapat di luar venue.

Para penghuni gerakan bawah tanah telah mendapatkan posisinya sendiri. Ini momen mereka untuk menunjukkan kemerdekaan berkarya dan betapa menyenangkannya untuk menjadi 'kekirian'. Yang disebut sebagai musik 'indie' sekarang sudah tak se-indie dulu. Pekerjaan rumah yang tersisa adalah tetap mempertahankan rasa kebebasan itu tanpa kehilangan jati diri. 

Achmad Pratama, yang dikenal sebagai Toma sang bassist Mocca sepakat dengan hal itu. Pria yang juga seorang penulis lagu, produser musik, dan jingle maker ini menyatakan interaksi langsung memang diperlukan. Gak cuma dengan penggemar, tapi juga dengan komunitas musik.

"Tetap bikin karya dan jangan lupa untuk build dan masuk ke dalam ekosistemnya. Walau sudah dipermudah dengan adanya teknologi, tapi kita jangan lupakan interaksi langsung dengan komunitas musik yang ada biar terjalin silahturaminya," kata Toma.

Toma 'Mocca' (foto: dokumentasi penulis)

Toma menyebut pandangan orang terhadap musik sudah bergeser jauh dari sebelumnya. Ia memberi contoh musik elektronik sebagai genre yang mengalami perkembangan pesat, yang ia nilai sebagai perubahan baik. Belakangan, elektronik memang seperti menjadi salah satu elemen penting di industri, terlebih genre itu kerap diracik dengan genre lain seperti pop sampai hip hop.

"Genre elektronik sangat mendominasi di chart musik yang ada saat ini. Hampir seluruh genre dipengaruhi elektronik musik, dari mulai pop sampai rock," katanya lagi.

1 COMMENTS
  • cimoloriginal@gmail.com

    Suksessss